Rumah Tempat Pulang Bang Tato (8)

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 09 Juni 2017
Hijrah Bang Tato (Edisi Snackbook)

Hijrah Bang Tato (Edisi Snackbook)


Versi snackbook Hijrah Bang Tato ini adalah 10 tulisan yang saya tulis selama bulan Ramadan 2017 tentang Bang Tato. Kini 10 tulisan itu sudah menjadi bagian dari versi yang lebih panjang dari novel terbaru saya berjudul Hijrah Bang Tato (Oktober, 2017). Versi buku berisi 25 bab.

Kategori Roman

22.4 K Hak Cipta Terlindungi
Rumah Tempat Pulang Bang Tato (8)

Ada sebuah lagu dari grup band beraliran folk asal Surabaya, Silampukau, yang sangat saya sukai. Judulnya Lagu Rantau. Pertama kali mendengarkan lagu itu, sebelah bibir saya menyungging senyuman. Dalam hati, saya tertawa-tawa sambil mengeluarkan air mata, antara bahagia sekaligus miris menyumpahserapahi semua lirik lagu itu yang secara ajaib berhasil merangkum keping-keping perasaan mereka yang pernah susah ketika merantau—

Waktu memang jahanam
Kota kelewat kejam
Dan pekerjaan, menyita harapan 

Hari-hari berulang
Diriku kian hilang
Himpitan hutang, tagihan awal bulan

Oh demi Tuhan, atau demi setan
Sumpah aku ingin rumah untuk pulang!

Ketika sampai di bagian 'sumpah aku ingin rumah untuk pulang', saya selalu tertawa. Di bagian itu, Silampukau mempermainkan semacam ambiguitas. Bagi perantau, rumah untuk pulang bisa bermakna rumah tempat orangtua atau rumah dalam pengertian bangunan berdinding empat di mana kita bisa menyimpan mimpi-mimpi di laci sambil merancang masa depan di ranjang.

Namun, perasaan saya lebih condong kepada yang kedua. Di lirik itu entah mengapa saya kembali pada hari-hari ketika saya berjuang sebagai karyawan bergaji bulanan yang bermimpi punya rumah sendiri. Sambil berharap gaji naik sekadar cukup buat cicilan.

***

Ketika Lalan menceritakan keinginannya untuk punya rumah sendiri, saya teringat diri saya tujuh atau delapan tahun yang lalu. Dan sekarang Lagu Rantau milik Silampukau itu mungkin lebih menggambarkan situasinya... 

"Pengen banget punya rumah sendiri. Insya Allah suatu saat terwujud. Tapi sekarang mah udah lumayan, A. Sejak kerja tetap, Alhamdulillah bisa ngontrak rumah yang agak besar dan cukup untuk keluarga. Yang punyanya baik, mungkin karena Lalan bayarnya juga lancar..." Tato nyengir. 

"Dulu gimana, To?"

"Wah, dulu kerjaan pindah-pindah kontrakan. Kadang karena nggak kuat bayar, kadang karena nggak kuat diomongin terus sama tetangga." Katanya.

Saya tertawa.

"Ada yang lebih seru, A. Pernah suatu kali Lalan ngontrak, di bulan kedua nggak bisa bayar kontrakan. Tapi juragan kontrakannya takut nagih gara-gara Lalan tatoan. Mungkin serem kali... apalagi pas buka pintu Lalan punya pajangan golok." Dia tertawa-tawa.

"Terus akhirnya bayar nggak?"

"Mungkin karena kesel, akhirnya juragan kontrakannya memberanikan diri buat nagih. Tapi Lalan belum ada uang dan minta diberi waktu seminggu..."

Saya menyimak ceritanya dengan saksama.

"Seminggu kemudian, ternyata tetep nggak punya duit. Kacau." Dia nyengir.

"Akhirnya pindah?"

"Iya, akhirnya diusir. Tapi sempet debat dulu. Ribut kecil lah. Masalahnya dia memperlakukan istri saya secara kurang sopan. Masak nunjuk pake kaki, A? Meskipun kita bersalah belum bayar kontrakan, tapi Lalan nggak akan kabur buat nggak bayar kok..." katanya.

"Sekarang gimana?"

"Sekarang Alhamdulillah. Aman. Ini dapet rumah lumayan gede, A. Murah lagi."

"Kok bisa?"

Dia nyengir, "Hehehehe. Rumah angker, A. Nggak ada yang mau tinggal di situ. Makanya murah."

"Emang beneran angker?"

"Ya, paling malem-malem suka ada suara orang mandi. Biasa aja sih. Sering-sering dingajiin aja, A."

Saya tersenyum. 

Setelah punya pekerjaan 'tetap', perlahan kehidupannya mulai membaik. Masaah rumah kontrakan yang selama ini menjadi momok untuk istri dan anaknya, perlahan bisa diselesaikan. Stigma negatif masyarakat pun perlahan memudar. Karena setiap hari menggunakan pakaian rapi, kemeja lengan panjang, celana kain, sepatu kulit, ketika memanaskan motornya, kini tetangga-tetangga mulai menyapa dengan senyuman, "Mau berangkat kerja, Pak Lalan?" Dengan senyum mengembang, Lalan menceritakan semua itu. 

Di tempat kerjanya yang baru, Lalan juga bisa lebih bebas memperkenalkan dirinya yang baru. Bukan hanya karena ia bekerja di tempat baru dengan rekan kerja baru, tetapi juga karena setiap hari ia bertemu dengan orang-orang baru. Para pelanggan Father & Son Barberspace, menurutnya, memiliki cara pandang dan pikiran yang lebih terbuka. Berbeda dengan orang-orang di kampungnya dulu yang selalu mempermasalahkan tato dan penampilannya. 

"Sebenarnya, itu karena kamunya juga udah berubah, To. Nggak sadar aja..." Ujar saya.

"Oh gitu, A?"

"Iya, dong. Sekarang dunia kamu sudah berbeda, caramu memandang dunia juga ikut berbeda. Caramu bicara. Caramu menampilkan diri, sudah berbeda. Kalau orang tidak lagi membahas tatomu, bukan karena mereka berhenti membahas tatomu. Tetapi karena kamu tidak lagi membuat mereka fokus pada tatomu. Sekarang kamu menyembunyikannya, kan? Buktinya pakai lengan panjang terus. Orang kini melihat apa yang kamu kerjakan, apa yang kamu berikan kepada mereka." Saya berusaha memberinya pemahaman. 

Ia mengangguk-angguk.

***

Beberapa minggu bekerja di Father & Son Barberspace, Lalan tampak bahagia dan terus mempelajari hal-hal baru. Setiap kali saya berkunjung ke sana, ia kerap bercerita tentang bagaimana kini istrinya bangga kepadanya.  Bagaimana kini orang-orang mulai menghargainya. Bagaimana ia merasa menjadi manusia kembali. 

Hari itu saya membuat janji untuk bertemu dengan beberap teman di lantai dua Father & Son Barberspace yang sedang saya persiapkan sebagai co-working space. Sejak pagi saya menghubungi Lalan untuk menyiapkan ruang meeting di lantai dua. "Siap, A!" Katanya. Dan benar saja, ketika saya sampai, AC sudah menyala dan ruang meeting sudah bersih dan wangi. 

Saat beberap teman saya mulai berdatangan, Lalan menyambut mereka satu per satu dengan senyuman. Tentu saja, saya memperkenalkan Lalan kepada mereka. Ia tampak sedikit kaget ketika saya perkenalkan kepada teman-teman saya. "Ini Lalan, yang mengelola tempat ini." 

Ia menyalami teman saya, Ponco, sambil tersenyum. 

"Lalan, ini Mas Ponco, salah satu owner Umrah Leadership Series, selain saya dan lainnya." Ujar saya kepada Lalan, memperkenalkan Ponco. "Ini Mas Arih. Rekan saya di ULS juga. Trainer profesional." Sambung saya, memperkenalkan Arih. "Yang ini Mas Eko, Direktur ULS."

Lalan tersenyum kepada Arih dan Eko sambil menyalami mereka berdua. Kemudian mereka sedikit berbincang. 

Dari cara Lalan berbincang, saya menangkap bahwa kini ia mulai merasa nyaman dengan dunianya yang baru. Bukan hanya ia lebih percaya diri, tetapi ia tak sedikitpun menunjukkan dirinya dari dunia sebelumnya... Berbincang dengan teman-teman saya yang berasal dari dunia bisnis dan profesional, ia tampak bisa mengimbangi dengan baik.

Tak lama, saya, Ponco, Arih, dan Eko bergerak ke lantai dua. Kami meeting sekitar dua jam... untuk kemudian shalat Jumat di masjid terdekat. 

***

Usai shalat Jumat, sambil berjalan menuju parkiran, saya membuka handphone saya ketika di sana terdapat sebuah pesan asing di grup karyawan barber. Pesan itu dari Lalan. Pendek dan getir.

"Mohon doanya, ibu saya meninggal dunia." Tulisanya.

Saya bergegas mengirimnya pesan pribadi. "To, di mana?" 

"Sedang jalan ke barber, A. Saya mau minta izin..."

Merasa mengambil keputusan yang salah karena mengiriminya pesan chat, saya segera menelepon. Di telepon saya mendengar suaranya yang bergetar. "Jangan dulu pergi, ketemu saya dulu." Pesan saya. Dari balik telepon, ia mengiyakan. 

Saat saya tiba di Barber, Lalan sudah duduk di kursi depan dengan dua sikut menopang ke lutut. Wajahnya murung. Matanya sembab. Saya segera turun dari mobil dan duduk di sampingnya sambil menepuk-nepuk pundaknya, "Sabar, To. Ibumu kenapa? Sakit?"

Beberapa detik, ia tak bisa berkata-kata. Lalu beberapa bulir air mata lolos dari bendungan matanya. Ia segera menahan lagi du ujung matanya dengan telunjuk dan jempol, "Sakit, A. Gula." Suaranya parau, "Kemarin ada nanah di jantungnya. Komplikasi." Ia berusaha menjelaskan. Kepalanya menggeleng-geleng. Air mata jatuh di tebing pipinya.

Untuk seorang anak, kehilangan ibu adalah luka paling perih yang bisa ditanggung. Sekuat dan setegar apapun, pertahanan batin kita akan runtuh ketika ibunda meninggal dunia. Itulah kini yang bisa saya tangkap dari lelaki berpenampilan garang di hadapan saya. Setegar apapun ia berusaha kuat, hatinya tak akan sanggup. 

"Sekarang kamu pulang aja ke Bandung, To. Nggak usah mikirin apa-apa dulu. Ini saya nitip untuk kamu dan keluarga," saya menyelipkan sejumlah uang ke genggamannya. Saya tahu ia akan sangat membutuhkannya.

"Makasih, A." Ia mencium tangan saya. Ada basah air matanya di punggung tangan saya. 

Saya menepuk-nepuk pundaknya lagi.

Lalu ia berdiri pamit dan mengambil motor. Di atas motor, ia masih berusaha menahan tangisnya ketika saya akan melepasnya pergi.

"Yang bikin nyesel, Mama belum ketemu Si Qia, A. Kemarin dientar-entar mulu." Ia menggigit bibir bagian bawahnya.

Ada sedikit rasa bersalah di hati saya karena sejak kelahiran putrinya saya kerap membuatnya sibuk. Tetapi, pada akhirnya semua ini sudah suratan. Di antara kita tak ada yang bisa merancang dan tak ada yang bisa mengubah-ubah. 

Hari itu, bagi Lalan, Lagu Rantau berubah menjadi lagu sedih. Bukan tentang waktu yang jahanam, kota yang kelewat kejam, atau pekerjaan yang menyita harapan. Lebih dari itu, ia telah kehilangan 'rumah' tempatnya pulang... Untuk selama-lamanya.

(Bersambung)

 

Pamulang, 24 Ramadan 1438 H

FAHD PAHDEPIE

 

Bagian sebelumnya bisa dibaca di sini

  • view 2.1 K