Jika Anda Ingin Bertemu Lalan Tato (7)

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 18 Juni 2017
Jika Anda Ingin Bertemu Lalan Tato (7)

Jika Anda ingin bertemu Lalan Tato, pergilah ke BSD, Tangerang Selatan. Anda akan dengan mudah menemukan tempatnya ‘bersembunyi’. Jika Anda bertanya dengan benar atau memanfaatkan navigasi digital dengan baik, rasanya tak akan sulit bagi Anda untuk menemukan Polsek Serpong. 

Namun, tenang saja, Lalan tidak di sana, meski ia sering shalat Jumat di sana sambil ditatap sinis oleh jamaah lain, termasuk para polisi. Pernah suatu hari ia bercerita pulang Jumatan dengan perasaan yang kalah karena hampir semua mata terasa menghakiminya.

“Kenapa rasanya orang bertato nggak boleh masuk masjid ya, A?” katanya.

“Mungkin itu perasaan kamu saja, To,” jawab saya.

Berdiri di depan Polsek Serpong, atau orang juga mengenalnya sebagai Polsek BSD, di arah timur laut, arah pukul dua, Anda akan melihat sebuah kompleks ruko bernama Paris Square. Masuklah ke sana dan carilah sebuah tempat berlantai dua dan bercat hitam-hijau, Namanya Father & Son Barberspace. Maka jika Anda masuk ke tempat itu, orang pertama yang akan menyapa Anda sambil tersenyum adalah Lalan.

Saya mempercayakan tempat itu kepada Lalan. Ia menjadi kasir sekaligus barista di sana. Ia adalah tuan rumah yang pertama kali akan menyapa Anda saat datang, dan melepas Anda dengan lambaian saat pergi.

Hampir semua orang bertanya kepada saya mengapa saya mempercayakan posisi semacam itu justru kepada seseorang dengan stigma negatif di mata masyarakat? Apakah saya tak takut kehilangan pelanggan? Apalagi ini tempat yang didedikasikan untuk keluarga, untuk ayah dan anak. Kepada mereka saya katakan, saya ingin publik mulai melihat apa yang ada di balik kulit dan daging—tak melulu terjebak pada apa yang terlihat di permukaan.

Di masa kecil, saya punya kenangan indah yang membekas tentang ini.

***

Sewaktu kecil saya ingat ayah saya mempekerjakan seorang sopir yang ‘aneh’, yang ketika pertama kali diperkenalkan kepada Ii (ibu saya) dan kami anak-anaknya, kami semua terkaget-kaget. Pasalnya, lengannya dipenuhi tato. Mang Ileung, namanya.

Ii sempat heran bagaimana ayah saya bisa merekrut orang semacam itu? Ibu begitu khawatir tentang kami, anak-anaknya, jika harus dekat-dekat dengan orang semacam itu. Belum lagi ‘omongan tetangga’, kata ibu saya. “Ayah kan sering ceramah ke mana-mana, apa kata orang kalau sopirnya bertato?”

Tetapi, rupanya Ayah punya alasan lain. Ayah ingin memberi tahu kami bahwa ‘setiap orang punya masanya sendiri-sendiri’, begitu kata ayah. Boleh jadi dulu Mang Ileung punya masa kelam, tetapi saat ia ingin memperbaiki semuanya, ia sudah tiba di masa yang baru yang perlu dihargai—meski kenyataannya ia memang tak bisa mengubah semuanya, termasuk tato di lengannya.

“Dulu Mang Ileung itu preman di Cileunyi, se-Bandung Timur pasti tahu dia,” Saya ingat saat ayah menceritakan siapa Mang Ileung. “Semua orang di Cileunyi takut sama dia. Tukang ngarungin orang. Preman-preman gemetar kalau ketemu dia.” Sambung Ayah. Kata ‘ngarungin’ merujuk pada kebiasaan preman di zaman itu yang sering meringkus orang ke dalam karung.

Mendengar ayah saya menceritakan siapa dirinya kepada ibu saya dan kami semua, Mang Ileung hanya tersenyum simpul. “Eta mah kapungkur Pa Haji,” katanya, itu zaman dulu.

Ii melirik ke arah Mang Ileung dengan perasaan agak takut. Sementara kami, anak-anaknya, entah mengapa merasa cerita ayah sangat keren. Paling tidak, saya merasa Mang Ileung itu hebat. Hebat karena mau berubah.

Suatu hari mobil yang kami kendarai dihentikan preman dalam perjalanan dari Bandung ke Cianjur. Waktu itu kami sedang tertawa-tawa karena Mang Ileung menceritakan sesuatu yang lucu sekali. Saat sadar mobil kami dicegat preman-preman, Mang Ileung geleng-geleng kepala. Lalu ia turun… Saat ia turun, kami bisa melihat beberapa preman yang menghentikan mobil kami berubah air mukanya. Lalu tak lama semua mencium tangan Mang Ileung dan meminta maaf.

Di lain waktu, Mang Ileung pernah datang ke rumah dengan tangan dibalut perban.

Kunaon, Leung?” Tanya Ayah saya, ingin tahu apa yang terjadi.

Ia menjawab sambil meringis, “Habis ngilangin tato, Pa Haji. Susah.”

Dikumahakeun?” Ayah bertanya caranya.

“Disetrika, terus disiram pakai susu.”

Mendengar cerita itu, membayangkannya saja sudah sakit sekali. Apalagi melakukannya. Saya salut pada keberanian Mang Ileung. Meski akhirnya tak semua tato di tubuhnya terhapus. Ayah bilang, tak apa yang susah dihapus dibiarkan saja… karena cara yang ia pakai hanya akan menyakiti tubuhnya dan membahayakan bagi keselamatannya.

***

Dengan memori Mang Ileung di kepala saya, ketika bertemu Lalan untuk pertama kali, saya hanya tersenyum. Bagi saya, Tuhan mungkin sedang menguji seorang anak apakah bisa seperti ayahnya atau tidak. Maka saat memberikan kesempatan kepada Lalan, saya sebenarnya hanya mengamalkan ‘ilmu’ yang pernah diajarkan ayah kepada saya…

Pada saatnya, karena seperti kata ayah saya semua orang punya masanya masing-masing, masa Mang Ileung untuk bekerja bersama ayah saya pun harus berakhir. Ia kemudian menjadi pengusaha kain. Saya ingat Mang Ileung sering ke rumah dan bercerita bahwa usahanya berkembang. Saya ingat suatu hari Mang Ileung menghadiahi ibu saya kain sutera yang bagus sekalai—kain sutera asli yang tentu juga mahal sekali.

Jadi, saat orang-orang mengernyitkan dahi dan bertanya mengapa saya berani mempercayakan posisi kasir kepada orang seperti Lalan, saya hanya tersenyum… Saya tak punya jawaban yang pasti, mungkin juga tak punya jawaban yang tepat. Cara saya mengambil keputusan itu sangat dipengaruhi memori masa kecil saya tentang Mang Ileung. Itu saja. Tak lebih dan tak kurang.

***

Sejak pertama Father & Son Barberspace berdiri dan buka, praktis Lalan sudah bekerja dua bulan di sana. Bagi saya, tempat itu bukan sekadar tempat usaha, tetapi tempat bertumbuh orang-orang yang saya percayakan untuk bekerja di sana. Bukan hanya Lalan, tentu saja, tetapi juga yang lainnya… Ada Kang Aep, Kang Jajang, Hendi, dan Idham yang pada diri mereka masing-masing punya cerita dan impian besar yang ingin dicapai. Semoga keberkahan melingkupi kami semua.

Setiap kali datang berkunjung ke sana, saya akan duduk bersama dan mendengarkan cerita mereka satu per satu. Saya senang jika mereka bahagia. Saya turut sedih saat mereka berduka—seperti suatu siang ketika tiba-tiba saya melihat Lalan menangis dan bercerita dengan suara bergetar, “A, ibu saya meninggal…”

Nanti akan saya ceritakan momen ini lebih detail. Sekarang, saya hanya ingin memperkenalkan tempat ‘persembunyian’ Lalan. Tempat di mana Anda bisa mendengar semua cerita yang pernah saya tuliskan tentangnya selama ini, langsung dari Lalan sendiri…

(Bersambung)

 

Pamulang, 22 Ramadan 1438 H

FAHD PAHDEPIE

 

PS. Tulisan ini adalah bagian ketujuh dari serial tulisan saya tentang hijrah Bang Tato:

Menghakimi Tato, Mengadili Masa Lalu (1)

Hijrah Bang Tato (2)

Langkah Baru Bang Tato (3)

Kerinduan Ayah Tato (4)

Barista Bertato (5)

Tato Bisa Hilang dengan Tanah? (6)

Dilihat 1.5 K