Tato Bisa Hilang dengan Tanah? (6)

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 17 Juni 2017
Tato Bisa Hilang dengan Tanah? (6)

Apakah dengan menugaskan Lalan belajar ilmu kopi dan memintanya menjadi waiter di Ruang Tengah saya hanya berniat untuk mengubahnya menjadi seorang barista? Tentu saja tidak. Menjadi barista hanya salah satu efek yang bisa ia dapatkan dari proses belajar tersebut… 

Bagi saya, kopi adalah sebuah gagasan. Ketika ia membuat kopi dengan seninya, ia sedang menerapkan sebuah gagasan pada sesuatu yang diraciknya. Mengapa kopi hitam yang diracik di warung berbeda dengan kopi hitam di café-café? Karena gagasan yang dibawanya berbeda. Pada kopi-kopi yang dijual di café, terdapat seni, imajinasi, dan passion pembuatnya. Dia harus bisa menangkap itu. Itulah yang dijual dalam bisnis. Nilai tambah.

Mengapa usaha Indomie Moshing milik Lalan gagal? Barangkali ia hanya dijual sebagai sajian indomie dengan toping sambal pedas belaka. Gagasan di balik Indomie Moshing tersebut gagal sampai kepada para pembelinya. Mengapa nasi uduk Lalan yang sebenarnya enak pada akhirnya bangkrut? Ia gagal mengkapitalisasi gagasan di balik usaha nasi uduk itu menjadi bahan marketing yang seharusnya bisa membuat nasi uduknya dua-tiga kali lebih laku. Ia gagal menceritakan gagasannya kepada publik… Seandainya ia tahu bahwa marketing adalah tentang ‘bercerita’, mungkin ceritanya akan berbeda.

Saat mempelajari ilmu kopi pada Ghilman di Ruang Tengah, saya harap Lalan tak sekadar melihatnya sebagai tugas mekanis yang bersifat pola dan urutan belaka. Bahwa membuat kopi yang baik itu harus dimulai dari A, lalu ke B, lalu ke C dan seterusnya. Bahwa cappuccino berbeda dengan latte, bahwa espresso berbeda dengan Americano. Ia harus bisa menangkap gagasan di balik semua itu. Ia harus bisa menjawab pertanyaan ‘mengapa’ semua itu harus berbeda jika ia ingin sukses sebagai barista di kemudian hari.

Lalu, soal menjadi waiter, menjadi pelayan. Itu bukan semata-mata tugas biasa untuk menyajikan kopi dan mengantarnya ke meja pelanggan. Di sana ada seni melayani. Dan melayani adalah tentang memberikan yang terbaik kepada orang yang kita hadapi. Di dalamnya ada sikap rendah hati, rasa hormat, dan dedikasi terhadap profesi. Saya harap ia bisa mempelajari semua itu.

***

Sore itu ia mengundang saya ke Ruang Tengah, setelah sebulan lebih belajar, konon ia sudah bisa membuat berbagai jenis kopi dengan baik.

“Udah lulus sekolahnya?” Tanya saya pada Ghilman, setengah bercanda.

Ghilman tersenyum. “Lumayan, Mas. Dalam proses. Belajarnya cepet juga.” 

“Bagus,” Ujar saya, “Mari kita coba.”

Lalan nyengir. Ia sudah siap dengan semua peralatan kopi di hadapannya.

“Mau kopi apa, A?” Tanyanya.

Saya berpikir sejenak. “Cappuccino,” jawab saya. Alasannya? Jika ingin menguji sebuah sajian kopi dan kemampuan baristanya, ujilah cappuccinno-nya?

“Siap,” Sahut Lalan. Meski saya masih melihat ia berusaha mengkonfirmasi beberapa hal kepada Ghilman—sambil bisik-bisik.

Saya memerhatikannya meracik kopi. Ia tampak serius dan sungguh-sungguh. Saya tersenyum ketika menyadari bahwa orang-orang di sekeliling saya sudah tak lagi peduli pada tato di tubuh Lalan ketika ia punya ‘kemampuan’ yang bisa diperlihatkan. Saya jadi berpikir, mengapa stigma negatif tentang tato terus tumbuh di tengah masyarakat kita, selain karena alasan agama, juga karena begitu banyak orang-orang bertato ini gagal menunjukkan skill-nya di ruang publik.

Menurut saya, jika mereka sudah punya ‘kemampuan’ yang diakui publik, yang melampuai tampilan fisiknya, toh publik juga akan mulai menghargai mereka terlepas dari tato yang mereka punya. Sudah banyak contohnya. Selebritis bahkan pejabat. Buat saya, ‘hijrah’ Lalan harus dilengkapi dengan itu. Hijrahnya tak cukup hanya dengan menjadi orang baik saja. Ia harus punya skill yang bisa membuat tato-nya ‘tak terlihat’ lagi. Skill yang membalikkan stigma. 

Tak lama ia menghampiri saya dengan secangkir cappuccino. Ia meletakkan cangkir tersebut di hadapan saya. Latte art-nya masih berantakan.

“Maaf, A. Latte art-nya gagal. Padahal biasanya berhasil. Nervous.” Ia menggaruk-garuk kepala.

Saya tersenyum. “Sayang sekali. Padahal itu sesuatu yang penting dari cappuccino. Tapi, saya coba dulu,” ujar saya.

“Siap.” Sahutnya, “Apa mau diganti yang baru?” Tanyanya.

“Nggak usah. Saya buru-buru. Habis ini harus pergi.

Ia tampak kecewa dan menyesal telah menyajikan cappuccino yang kurang sempurna.

Tapi, kopinya enak. Paling tidak, ia berhasil meracik ramuan yang pas antara espresso yang creamy dengan steamed milk dengan tingkat kehangatan yang cukup, tidak overheat.

“Enak,” Ujar saya.

Senyum mengembang di wajahnya.

“Apa yang kurang, A?” Tanyanya.

Saya senang ia sudah mulai memiliki passion yang cukup baik di bidang ini. Ia mulai menunjukkannya dengan membuka diri terhadap feedback. Keberanian untuk menerima kritik adalah satu hal yang istimewa.

“Nanti Ghilman yang ngasih tahu.” Ujar saya, “Mungkin espresso-nya bisa lebih baik lagi. Unsur kopinya nggak boleh kalah sama susu.”

“Siap.”

“Bulan depan, kamu siap-siap pindah ke BSD.” Ujar saya.

Ia tampak kaget. “Kenapa, A?”

“Saya bikin barbershop di sana. Nanti kamu saya tempatkan di sana.”

“Saya nggak bisa nyukur, A.” Ia tampak heran.

“Di barbershop itu ada café-nya. Kamu jadi barista di sana… Kalau lulus di sini.” Tantang saya.

“Siap.” Sahutnya.

“Makanya belajar yang serius. Ambil semua ilmu dari Ghilman. Nanti Ghilman juga yang memutuskan kamu udah bisa dilepas sendiri atau belum…” Saya melirik ke arah Ghilman. Ghilman tersenyum.

Lalan melirik ke arah Ghilman, “Siap, Guru.” Ujarnya pada Ghilman.

Ghilman tertawa.

***

Seperti rencana saya semula, akhirnya saya mengeksekusi niat untuk membuat barbershop di sekitar BSD. Namun, karena satu dan lain hal, saya melengkapinya dengan café juga. Waktu itu, akan buka satu bulan lagi. Setelah semua proses renovasi dan desain interior selesai.

Orang bilang ini ide yang cemerlang menyatukan barbershop dan café. Saya tersenyum saja ketika mendengar pujian-pujian itu. Ide itu tak akan ada seandainya tak ada Tato… Saya membuat café di barbershop itu agar Lalan bisa terlibat di dalamnya. Ya, sebagai barista. Saya menyebutnya barbercafe.

Nama tempat itu Father & Son Barberspace (IG: @fsbarberspace). Konsepnya untuk ayah dan anak, juga para ibu yang mengantarnya ke tempat itu. Nanti akan saya ceritakan lebih lanjut tentang tempat ini di bagian selanjutnya… Juga bagaimana Lalan mulai beraktivitas di sana.

Kini, masalahnya, apakakah tato Lalan akan bermasalah bagi para pelanggan saya yang datang dari kalangan ‘keluarga’, apalagi mereka membawa anak-anak?

“Tapi, To. Di sana nanti akan banyak anak-anak. Mereka takut nggak kalau lihat tato kamu?”

Lalan nyengir. “Mungkin takut, A.” Ujarnya, “Tapi nggak tahu juga, sih.”

“Gimana dong?”

“Saya akan pakai baju lengan panjang setiap hari, A. Biar nggak kelihatan.”

“Bagus.” Ujar saya. “Tapi yang di leher tetep sedikit kelihatan.”

“Iya, A. Susah…”

Saya terdiam. Lalan juga terdiam. Sebelum ia menyatakan sesuatu yang cukup mengguncangkan saya—

“Kata Pak Haji tato ini bisa hilang, A.”

“Oh ya? Gimana caranya?” Tanya saya.

“Pake tanah,” jawabnya, ringan.

“Masak sih, dilumuri tanah tatonya bisa hilang?”

“Bukan dilumuri, A.”

“Terus gimana?”

“Dikubur.” Jawabnya sambil nyengir.

Saya tertawa. Tawa yang getir, sebenarnya.

***

Sore itu saya berangkat menuju BSD untuk mengecek pekerjaan renovasi Father & Son Barberspace. Di perjalanan, saya sedang mengecek Facebook ketika melihat posting terbaru lalan: Foto cappuccino dengan latte art yang berhasil dibuatnya dengan sempurna. Saya tersenyum. Ternyata dia bisa. Tadi mungkin gugup saja. 

Saya mulai membayangkan, seperti apa nanti ia bekerja di tempat yang baru? Bisakah ia menerima tantangan berikutnya?

(Bersambung)

 

Pamulang, 22 Ramadan 1438 H

FAHD PAHDEPIE

 

PS. Tulisan ini adalah bagian keenam dari serial tulisan saya tentang hijrah Bang Tato:

Menghakimi Tato, Mengadili Masa Lalu (1)

Hijrah Bang Tato (2)

Langkah Baru Bang Tato (3)

Kerinduan Ayah Tato (4)

Barista Bertato (5)

Dilihat 1.8 K