Barista Bertato (5)

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 16 Juni 2017
Barista Bertato (5)

Seperti sudah saya duga, pada akhirnya usaha nasi uduk Lalan pun bangkrut.

Sejak awal saya merasa usaha ini tidak akan berjalan dengan baik karena dikelola oleh istri dan mertuanya sebagai usaha bersama. Mertua Lalan bertugas belanja dan memasak, istrinya bertugas memasak dan menjual. Di sana ada dua pihak yang saling menopang, baik urusan modal maupun operasionalnya. Ketika satu pihak goncang, dalam model usaha seperti ini, pihak lainnya tak akan bisa menyangga bisnis itu sendirian. Dan karena modal harus diputar setiap hari, sebab belum ada dana cadangan operasional, usaha model ini benar-benar bergantung pada orang yang menjalankannya.

“Sejak istri melahirkan, konsentrasi sepenuhnya ke Qia. Sekarang susah jualan nasi uduk…” Cerita Lalan.

“Mertua nggak bisa jalanin sendirian?”

“Repot, A. Mungkin harus ada orang satu lagi, tapi kalau bayar orang nggak mungkin. Modal juga pas-pasan. Untungnya dipake buat kehidupan sehari-hari.”

“Jadi sekarang gimana?” 

“Istirahat dulu.” Jawabnya, “Insya Allah suatu saat lanjut lagi.”

Saya mengangguk. “Usaha itu memang nggak mudah. Harus menciptakan sistem yang benar.”

“Iya, A.” Ujarnya, “Sekarang belajar dulu.”

“Tapi, proyek yang sedang kamu kerjakan sekarang sebentar lagi selesai, To. Minggu depan udah terakhir. Apa rencana kamu berikutnya?”

Dia tahu keterlibatannya di kantor saya bersifat sementara. Ketika jangka waktu pengerjaannya selesai, kontraknya pun akan selesai.

Ia terlihat merenung.

“Usaha lagi?” Kejar saya.

“Belum siap, A.” Jawabnya, “Pengennya tetep kerja dulu. Apalagi dengan kondisi sekarang. Istri baru melahirkan, anak perlu susu, kacau…”

“Tapi, kerja apa?” Saya memotong, “Masalahnya kamu nggak punya skill yang bisa bersaing di dunia kerja. Masih perlu banyak belajar dan belum siap pakai.”

Ia menunduk.

“Kerja di mana?” Tanya saya lagi.

Ia terdiam. Saya tahu ia masih berharap bisa bekerja di tempat saya. Masalahnya, saya tak sedang membutuhkan karyawan baru. Jika saya memaksakannya, tentu akan jadi masalah bukan hanya untuk perusahaan tetapi juga untuk Lalan sendiri—dia akan terseok-seok di tengah ritme kerja yang pasti tak dapat ia ikuti.

“Masak nato lagi, A?” Ujarnya. “Meski dari nato kadang-kadang dapet lumayan, tapi udah terlanjur janji nggak akan nato lagi…”

“Iya, dong. Jangan… Udah bagus berhenti.”

“Paling cari-cari proyek sablon, A. Ada temen punya konveksi, biasanya ada yang pesen ke Lalan. Lumayan kalau ngerjain desainnya suka dapet lebihan.”

“Itu bagus.”

“Iya, tapi nggak bisa ngandelin cuma itu, A. Kacau.” Ia nyengir.

Saya berpikir sejenak. Mencari cara dan kemungkinan lain untuk bisa memberinya jalan.

“Beri saya waktu sehari,” ujar saya akhirnya.

“Siap.” Sahutnya.

***

Konon, ada cara terbaik untuk mempercepat rejeki: Membuka keran rejeki orang lain.

Saya mendapatkan pelajaran itu dari mentor bisnis saya yang masih menjadi tempat saya ‘bertanya’ hingga sekarang. Katanya, rejeki kita akan terus mengalir karena kita membuka saluran-saluran di dalam diri kita untuk mengeluarkannya demi kebaikan sebanyak mungkin. Jika kita berhasil menciptakan saluran-saluran itu, aliran rejeki tak akan habis-habis dan diri kita jadi tempat mengalirnya aneka rejeki—meski tak semuanya adalah hak kita.

Malam itu, saya bertanya pada istri saya, “Kalau kita buka tempat usaha untuk orang lain, kamu keberatan nggak?”

“Maksudnya gimana?” Tanya Rizqa.

“Kita buka tempat usaha baru, tapi usaha itu sebenarnya bukan untuk kita.”

“Terus untuk siapa?”

Saya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Sadar bahwa pernyataan saya berbelit-belit. “Kita pernah punya rencana mau buka usaha barbershop. Gimana kalau kita jalankan rencana itu. Tapi nggak cuma barbershop aja. Ada cafenya. Gimana?”

Rizqa mengerutkan dahi. “Weird!” Katanya, “Tapi asyik juga.”

Saya tersenyum.

“Tapi, bukannya kita udah ada café? Dan masih banyak PR di café itu?” Kejar Rizqa.

“Iya, sih. Tapi, siapa tahu ini lebih baik.”

Rizqa menggigit bibir bagian bawahnya. “Aku sih ikut aja. Terserah kamu.”

“Oke.” Ujar saya.

“Tapi, tadi maksudnya gimana mau buka usaha tapi bukan buat kita?”

“Emmm… Enggak sih. Ya pasti buat kita… Tapi ada niat lain di dalamnya. Sambil memberdayakan orang.”

“Oh… Bagus atuh kalau gitu.”

Saya mengangkat jempol saya. Dalam hati, saya punya rencana yang ‘belum matang’. Jadi belum bisa saya ceritakan semuanya, belum tentu juga akan dieksekusi…

***

Keesokan harinya saya bertemu Lalan lagi. Dia sudah stand by di kantor saya sejak pagi.

“Jadi gini, To. Setelah kamu selesai kontrak yang sekarang. Kamu saya kasih tugas…”

“Siap, A.” 

“Tugasnya, kamu belajar.”

Dia mengerutkan dahi. “Belajar apa, A?”

“Belajar bikin kopi.”

“Bikin kopi?”

“Iya, jadi barista.”

Ia terdiam. Bingung.

“Gimana?”

“Siap, A.”

“Oke, mulai minggu depan kamu belajar sama Ghilman di kafe Ruang Tengah. Kamu belajar sebulan sama dia. Sampai bisa. Sampai jago. Sampai bisa bikin semua jenis kopi. Nanti saya tes hasilnya.”

“Wah, deg-degan, A. Bisa nggak ya saya?”

“Harus bisa. Biar kamu sungguh-sungguh, coba cek sendiri berapa harga sekolah jadi barista. Sekarang kamu bisa belajar semua itu gratis, juga sambil dibayar jadi staff di Ruang Tengah untuk bantu-bantu Ghilman. Kalau kamu berhasil, paling tidak, saya bisa membekali kamu dengan sebuah skill…”

Ia mengangguk penuh semangat. Saya belum menceritakan rencana saya kepadanya. Saya perlu melihat dulu seberapa mempu dia menjalankan tugas ini dengan baik… Kita lihat saja nanti.

(Bersambung)

 

Ciputat, 21 Ramadan 1438 H

FAHD PAHDEPIE


PS. Tulisan ini adalah bagian kelima dari serial tulisan saya tentang hijrah Bang Tato:

Menghakimi Tato, Mengadili Masa Lalu (1)

Hijrah Bang Tato (2)

Langkah Baru Bang Tato (3)

Kerinduan Ayah Tato (4)