Kerinduan Ayah Tato (4)

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 05 Juni 2017
Hijrah Bang Tato (Edisi Snackbook)

Hijrah Bang Tato (Edisi Snackbook)


Versi snackbook Hijrah Bang Tato ini adalah 10 tulisan yang saya tulis selama bulan Ramadan 2017 tentang Bang Tato. Kini 10 tulisan itu sudah menjadi bagian dari versi yang lebih panjang dari novel terbaru saya berjudul Hijrah Bang Tato (Oktober, 2017). Versi buku berisi 25 bab.

Kategori Roman

20.3 K Hak Cipta Terlindungi
Kerinduan Ayah Tato (4)

Tulisan ini adalah bagian keempat dari kisah-kisah Lalan Tato yang saya bagikan sejak beberapa hari yang lalu. Tiga tulisan sebelumnya bisa dibaca di blog saya inspirasi.co/fahdpahdepie (di sini, di sini, dan di sini). Mulai banyak yang bertanya apakah kisah ini nyata atau tidak? Apakah foto-foto yang saya sertakan di setiap tulisan adalah sosok Lalan atau bukan? Untuk kedua pertanyaan itu, saya jawab secara singkat: Ya. 

Waktu itu, Lalan sudah bekerja sekitar satu bulan di kantor saya. Ada perubahan mencolok yang terlihat dari penampilannya. Kini, ia berusaha tak mengumbar tato di tubuhnya. Hampir setiap hari mengenakan baju lengan panjang atau jaket. Ia juga terlihat bersemangat dan ingin belajar. Sayangnya, ia kerap datang terlambat.

Meski di kantor saya menerapkan sistem flexi time di mana karyawan bisa datang terlambat untuk memenuhi kebutuhan tertentu, seperti mengantar anak sekolah, membantu pekerjaan rumah, atau lainnya, selama jumlah waktu keterlambatan itu diganti di jam kepulangan, namun kebiasaan Tato yang kerap terlambat menurut saya kurang baik. Di masa ketika dia harus membuktikan sesuatu, seharusnya ia bisa datang tepat waktu atau bahkan datang lebih dulu. 

Di jam istirahat, saya memanggilnya untuk berbicara. Saya menegurnya agar lebih bisa memperlihatkan kesungguhannya dalam bekerja, ditunjukkan dengan kedisiplinan. Ia meminta maaf, tentu saja. Namun, ternyata ada kisah menarik dari keterlambatan-keterlambatannya selama ini.

***

“Sekarang saya jualan nasi uduk, A. Bantu-bantu istri. Persiapan untuk biaya melahirkan…” Ia mulai bercerita.

“Nggak takut bangkrut lagi?” Tanya saya, spontan. Entah mengapa saya punya feeling bahwa bisnis nasi uduk ini akan karam juga pada waktunya. Nanti akan saya ceritakan.

“Yang ini enggak, Insya Allah.” Ia optimistis.

“Memangnya punya modal?” Kejar saya.

“Ini join sama mertua, A. Ibu mertua sama istri kebetulan jago masak. Lalan ikut ngemodal nyisihin dari gaji pertama kemarin. 

Saya mengangguk-angguk. Bagus juga dari gaji pertama bisa menyisihkan sedikit uang untuk modal usaha, pikir saya. “Enak nasi uduknya?” 

“Enak, A!” Dia mengangkat dua jempolnya, antusias.

“Laku?”

“Kemarin belanja 200 ribu, dapat 500 ribu.” Dia berusaha menjawab dengan bukti, “Malam minggu bawa motor ke taman jajan, satu kantong kerek besar habis.” Sambungnya, penuh percaya diri.

“Syukur deh kalau begitu,” ujar saya.

“Mau coba nasi uduknya, A?” Ia menantang saya.

“Boleh.” Jawab saya.

“Siap!” Sahutnya.

Keesokan harinya ketika saya tiba di kantor, sepiring nasi uduk lengkap dengan telur balado, bihun, tempe goreng, dan kerupuk sudah tersedia di meja saya. Dan terus begitu sampai hari-hari berikutnya. Saya sampai bilang pada istri saya untuk sarapan roti saja di rumah. Pasalnya, di kantor selalu ada nasi uduk yang harus diselesaikan. ‘Hati-hati jadi mirip nasi uduk, Pi...’ Canda istri saya.

***

Pada waktunya, informasi tentang nasi uduk ini mulai menyebar di seantero kantor. Banyak karyawan lain yang memesan untuk sarapan. Lalan jadi makin bersemangat. Setiap pagi ia membawa satu keresek besar nasi uduk, untuk kemudian ia siapkan di beberapa meja karyawan lainnya. Di jam istirahat, ia tinggal menagih pembayarannya.

Suatu hari di kantor ada acara yang memerlukan catering. Saat membahas apa menunya dan mau memesan di catering mana, di rapat saya katakan, ‘Kenapa nggak nasi uduk aja?’ Semua orang setuju dengan usul itu. Bisa karena memang mereka setuju… Atau karena mereka tak berani menolak usul saya. Hehehe. Namun, apapun alasannya, hari itu bisnis nasi uduk Lalan mendapatkan pesanan yang cukup besar.

Nama Lalan Tato pun kini berubah menjadi Lalan Uduk yang terkenal ke setiap penjuru ruangan kantor.

***

Tak terasa Lalan sudah bekerja di bulan ketiga di kantor saya. Buat saya, merekrutnya menjadi pengalaman tersendiri yang menyenangkan. Saya bukan hanya menyaksikan transformasi seorang karyawan, tetapi transformasi seorang manusia. Bukan hanya penampilan luarnya yang kini berubah, saya juga mulai menangkap ada perubahan gaya bicara, pilihan-pilihan kata, dan lainnya dari sosok Tato. Sesuatu yang positif, tentu saja.

“Mohon doanya, A. Istri minggu ini akan kelihatannya akan melahirkan,” ujarnya.

“Semoga lancar persalinannya,” jawab saya, “Semua persiapannya aman?”

“Insya Allah,” Ia tampak yakin.

“Sekarang sudah punya untuk biaya melahirkan? Nggak kacau lagi?”

Dia nyengir. “Belum stabil. Tapi aman. Untuk melahirkan Alahmdulillah ada dari gaji dan nasi uduk,” katanya.

Saat itu saya sedang bersiap berangkat umrah, “Waktu anakmu lahir, mungkin saya masih di Makkah,” ujar saya, “Tapi kalau kamu butuh apa-apa, bilang aja.”

Ia tersenyum. “Terima kasih, A. Insya Allah aman. Doaian aja.”

Saya mengangguk. “Ok. Semoga anakmu lahir nggak tatoan.” Canda saya. 

Dia nyengir.

Saya masih menyediakan ruang dalam diri saya jika pada saatnya ternyata ia memerlukan bantuan. Meski rencana persalinannya normal, saya tahu ia tak mempunyai persiapan apa-apa jika menghadapi keadaan luar biasa untuk proses persalinan istrinya.

***

Di Makkah, saya mendapatkan pesan WhatsApp dari Lalan yang berisi hanya satu huruf dengan tiga titik di belakangnya: A…

Pesan itu muncul di bagian notifikasi layar handphone saya. Dalam hati, saya sudah menghitung banyak kemungkinan. Saya tahu ini pasti tentang persalinan istrinya. Pikiran saya menebak-nebak apa yang terjadi. Ada ruang dalam hati saya yang mengatakan bahwa ia memerlukan bantuan.

Ya?’ Saya jawab pesan itu singkat juga.

Minta bantua, A…’ Balasnya.

Saya menghela nafas. ‘Gimana?’ Tanya saya.

Alhamdulillah anak saya sudah lahir. Perempuan. Saya mau A Fahd yang memberi nama…

Deg! Ternyata dugaan saya salah. Pikiran saya gagal menghitung. Tiba-tiba ada perasaan asing yang menyeruak dalam dada saya. Antara senang dan menyesal. Ada haru yang tak bisa saya jelaskan.

Kenapa harus saya yang menamai?’ Tanya saya.

Udah niat, A.

Saya berpikir beberapa jenak. Mencari sejumlah nama dalam pikiran saya. Saya mengenang sebuah momen perbincangan ketika Lalan menceritakan bahwa ia sangat menunggu kelahiran puterinya ini… Sesuatu yang sangat ia rindukan. Katanya, ada banyak momen berat yang ia lalui dalam hidupnya. Yang kasar dan ganas. Tetapi momen ketika mengetahui istrinya hamil, waktu-waktu ketika menunggu istrinya melahirkan, adalah yang paling mengalahkannya secara telak.

Saya mengingat waktu ketika pertama kali saya melihat anak pertama saya, Kalky, lahir ke dunia. Sesuatu yang tiba-tiba mengalahkan semua keangkuhan saya sebagai seorang lak-laki. Sesuatu yang menyeruak dan tak terelakkan untuk membuat seorang pria ganas menjadi lebih jinak.

Saya menamai anak itu Syauqia.’

(Bersambung)

 

Ciputat, 20 Ramadan 1438 H

FAHD PAHDEPIE