Langkah Baru Bang Tato (3)

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 04 Juni 2017
Hijrah Bang Tato (Edisi Snackbook)

Hijrah Bang Tato (Edisi Snackbook)


Versi snackbook Hijrah Bang Tato ini adalah 10 tulisan yang saya tulis selama bulan Ramadan 2017 tentang Bang Tato. Kini 10 tulisan itu sudah menjadi bagian dari versi yang lebih panjang dari novel terbaru saya berjudul Hijrah Bang Tato (Oktober, 2017). Versi buku berisi 25 bab.

Kategori Roman

22 K Hak Cipta Terlindungi
Langkah Baru Bang Tato (3)

Tulisan ini adalah bagian ketiga dari serial Hijrah Bang Tato (2)  yang saya unggah sebelumnya. Tuhan itu Maha Adil. Semua kebaikan yang kita lakukan, sekecil apapun, akan bertemu dengan jodohnya: Kebaikan lainnya. Begitu juga semua hal buruk yang pernah kita lakukan— 

“Dulu hidup saya kacau, A. Hampir semua hal buruk mungkin pernah saya lakukan. Kacau lah, pokoknya. Dipenjara juga pernah.” Lalan menceritakan semua itu seolah sesuatu yang mudah saja ia ungkapkan, seolah tak ada beban.

Saya menyimak ceritanya baik-baik. “Waktu itu kenapa dipenjara?” Tanya saya.

“Tawuran.” Jawabnya. “Saya nggak salah apa-apa sih, A. Cuma tawuran.” 

“Ya, tawuran itu salah lah.” Ujar saya. 

“Oh iya.” Timpalnya. Nyengir.

Saya meletakkan gelas kopi saya di meja setelah menghisap cairan pekat itu, “Terus, sekarang udah nggak kacau?” Saya berusaha menggali cerita lebih dalam.

“Masih, sih. Tapi beda kacaunya. Sekarang masalah ekonomi. Insya Allah suatu saat bisa hijrah juga.”

Saya tersenyum. “Sepanjang hidup ini, kapan sih kondisi ekonomi terbaik yang pernah kamu punya?”

“Waktu kecil sih biasa aja. Ayah tentara…” Dia baru saja mulai bercerita ketika saya tak bisa menahan sebuah pertanyaan—

“Lho, ayahmu tentara? Biasanya kalau bapaknya tentara, anaknya juga dimasukkin sekolah tentara?” Tanya saya.

“Dulu sih mau dimasukkin Akmil. Cuma saya bandel, nggak mau. Lebih seneng main.” Dia tertawa mengenang masa lalunya, “Pas ketahuan nggak mau masuk Akmil, disiksa. Tapi Lalan kabur… Ya, jadinya gini.”

“Nyesel?”

“Nyesel juga. Tapi, mau gimana lagi?”

Saya mengangguk-angguk.

“Sempet ngerantau ke lampung, jadi tukang serut kayu. Sempet jadi tukang tawuran. Tapi pernah lumayan juga, A. Waktu di Bandung bikin distro sama temen-temen dan sukses. Wah, kaya waktu itu. Sempet ngasih motor ke kakek segala. Cuman, ya, habis buat hal-hal yang nggak jelas aja… Sekarang nggak bersisa.” 

Saya menangkap penyesalan di matanya. “Jadi, sekarang masih kacau.” Saya meledeknya.

Ia garuk-garuk kepala. Nyengir.

***

Saya selalu percaya bahwa hal-hal yang saya dapatkan dalam hidup ini, sejumlah keberuntungan, kadang-kadang tidak berasal dari usaha yang saya lakukan. Pun bukan dari doa yang saya panjatkan. Saya percaya bahwa ada beberapa nikmat dalam hidup saya, datang karena doa-doa orang lain… Barangkali, sejumlah hal baik yang saya peroleh dalam hidup ini, adalah cara Tuhan mengabulkan ‘amin’ dari doa-doa orang tertentu.

Hari itu saya menandatangani sebuah kontrak proyek dengan satu perusahaan. Digitroops, perusahaan digital marketing yang saya pimpin, mendapatkan pekerjaan untuk melakukan kampanye media sosial untuk sebuah brand baru yang ingin diperkenalkan ke publik. Dan karena pekerjaan besar tersebut harus diselesaikan dalam waktu singkat, sementara tim inti saya sedang mengerjakan proyek lain, mau tak mau saya harus membentuk sebuah tim ad hoc yang akan bekerja selama beberapa bulan. Dan tiba-tiba nama Tato berada di pikiran saya. Ini rejeki dia, saya pikir.

Saat mendengar kabar ini dan mendapatkan tawaran kerja, dia melonjak girang. “Alhamdulillah, rejeki buat bayi saya, A.” Katanya. Saya hanya bisa tersenyum saja.

“Nanti kerjanya bagaimana, A?”

“Ya, kerja di kantor.” Jawab saya, “Gampang, kok. Bisa pakai Facebook, Twitter dan Instagram, kan?”

Dia mengangguk. Masih dengan kebingungan.

“Nanti kamu jadi admin media sosial. Diminta untuk posting sesuai jadwal, komentar, dan lainnya. Bahannya udah ada yang nyiapin." 

“Kerjanya main Facebook?” Tanyanya, polos.

Saya mengangguk. Saya tahu ini akan asing baginya. Mungkin bagi orang lain juga—

Ia garuk-garuk kepala. 

“Siap?” Tanya saya.

“Siap!” Jawabnya. 

***

Apa yang Anda bayangkan ketika seorang anak band metal yang menganggur untuk waktu yang lama, bekerja hanya serabutan, terjebak dalan stigma masyarakat tentang preman bertato, tiba-tiba harus bekerja kantoran?

Tepat sekali! Lalan tak punya ‘perlengkapan’ apapun untuk melakukan itu. Ia tak punya hal-hal yang membuatnya merasa cukup pantas pergi bekerja keesokan hari. Meskipun bekerja tak perlu selalu pakai kemeja. Paling tidak, ia tak punya tas atau sepatu! Bahkan ia tak punya ongkos angkutan untuk tiba di kantor tepat waktu. 

Ternyata memberinya pekerjaan saja tak cukup. Dan, tentu saja yang Anda pikirkan sama seperti yang saya pikirkan waktu itu: I still have more things to do if I really want to help this man. Saya masih harus melakukan beberapa hal lagi jika saya benar-benar ingin membantunya. 

“Bagaimana kalau saya pinjamkan motor?” Tanya saya. Kebetulan di rumah ada motor menganggur yang biasa dipakai asisten rumah tangga saya, sementara ia baru saja membeli motor baru.

Lalan melonjak. “Serius, A?”

“Ya, tapi itu pinjaman aja. Jangan dijual!” Canda saya.

Ia mengangguk. Nyengir. 

“Baju dan sepatu, nggak keberatan kalau pakai baju bekas dulu?” Tanya saya.

“Siap!” Jawabnya.

Malam harinya saya mengajaknya ke rumah. Untuk kemudian ia pulang membawa motor lengkap dengan ‘baju kerja’.

*** 

Keesokan harinya, ia tiba di kantor dengan hampir seluruh staff saya memandangnya. Mungkin mereka merasa mengenal kemeja yang ia kenakan—kemeja yang beberapa bulan sebelumnya biasa saya pakai.

Saat bertemu saya, ia bersalaman dengan gugup. Potongan rambutnya baru. Tak seperti biasanya. Keningnya berkeringat… Matanya merah. 

“Kamu kenapa, To?” Tanya saya.

“Nervous.” Jawabnya gugup, “Semalam juga nggak bisa tidur…”

Saya tertawa. “Kenapa?”

“Mikirin besok gimana di kantor.” Sahutnya. “Istri juga nggak bisa tidur, besok suaminya gimana…" 

Saya percaya, dalam hidup ini, setiap orang akan berjalan dengan caranya masing-masing. Semua orang yang kita temui dalam hidup ini akan memberi makna pada setiap langkah yang diambil. Hari ini, Tato baru saja mengambil langkah baru ke sebuah jalan yang belum ia tempuh sebelumnya… Dan babak baru baru saja dimulai.

 (Bersambung)

 

Ciputat, 19 Ramadan 1438 H

FAHD PAHDEPIE