Hijrah Bang Tato (2)

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 03 Juni 2017
Hijrah Bang Tato (Edisi Snackbook)

Hijrah Bang Tato (Edisi Snackbook)


Versi snackbook Hijrah Bang Tato ini adalah 10 tulisan yang saya tulis selama bulan Ramadan 2017 tentang Bang Tato. Kini 10 tulisan itu sudah menjadi bagian dari versi yang lebih panjang dari novel terbaru saya berjudul Hijrah Bang Tato (Oktober, 2017). Versi buku berisi 25 bab.

Kategori Roman

21 K Hak Cipta Terlindungi
Hijrah Bang Tato (2)

Tulisan ini adalah bagian kedua dari tulisan saya sebelumnya berjudul ‘Menghakimi Tato, Mengadili Masa Lalu (1)’. Kali ini saya berusaha mengais kembali sejumlah ingatan di masa-masa awal pertemuan saya dengan Lalan. 

“Istri hamil berapa bulan sekarang, To? Sehat-sehat kandungannya?” Tanya saya pada Lalan sore itu. Katanya, sudah hampir lima jam ia menunggu di Ruang Tengah untuk bisa mengobrol dengan saya. Hari hampir magrib.

“Sudah enam bulan, A.” Jawabnya. “Alhamdulillah, istri ngaji terus setiap hari.”

Ia kemudian menceritakan bagaimana akhirnya bisa menikahi puteri Pak Ustadz. Nurmah namanya. Konon, waktu itu ia baru saja berhijrah. Ia sering ikut pengajian Sang Ustadz di rumahnya dan Nurmah sering menyuguhi tamu dengan makanan atau minuman. Bermula dari sekilas saling pandang, pada satu titik Lalan memberanikan diri untuk melamar Nurmah kepada ayahnya.

“Emang sudah punya apa?” Tanya Pak Ustadz kepadanya. Agak sinis.

Lalan menggelengkan kepala. 

“Udah kerja?” Kejar Pak Ustadz lagi. “Sekarang ngapain?”

Ia menggelengkan kepala lagi. “Ngeband, Pak Haji.”

Ustadz itu menggelengkan-gelengkan kepala. Tapi ia panggil juga puterinya. Tak disangka ia mengatakan kepada Nurmah bahwa Bang Tato melamarnya. Mendengar kabar itu, puterinya kaget , tentu saja.

“Kamu udah mantep?” Tanya Pak Ustadz kepada Lalan. 

“Insya Allah, Pak Haji.” 

Ustadz itu kemudian bertanya kepada puterinya apakah bersedia dinikahi seorang pria di hadapannya. Pria yang mungkin belum ia kenal, baru bertemu beberapa kali saja. Meski murid ayahnya, lelaki itu dipenuhi tato di hampir seluruh tubuhnya.

Tak disangka, Nurmah menganggukkan kepala. Rupanya sejak lama ia juga menaruh hati pada Lalan yang kerap mengikuti pengajian ayahnya. Alasannya, Lalan berbeda dari murid-murid ayahnya kebanyakan. Juga, tentu saja, karena tato di tubuhnya Nurmah penasaran dan ingin mencari tahu siapa lelaki itu sejak pertama kali bertemu. Lama-lama ternyata ia suka.

“Tapi kamu harus tahu,” Nada suara Pak Ustadz tiba-tiba berubah. Seperti ingin menyampaikan sesuatu yang penting. Lalan membetulkan posisi duduknya dan berusaha mendengarkan secara saksama. “Puteri saya seorang janda dengan satu anak.” Sambung Pak Ustadz. 

Mendengar pernyataan itu, tentu saja Lalan kaget. Ia sama sekali tak menyangka. Sejenak ia berpikir tentang banyak hal. Hingga sampai pada kesimpulan: Memang, apa masalahnya? Bukankah saya punya masa lalu yang ribuan kali lebih buruk lagi? Toh menjadi janda bukanlah sebuah dosa. Pikirnya.

“Tidak apa-apa, Pak Haji. Bismillah…” Ujar Lalan. Ia sudah mantap dengan pilihannya.

Setelah malam itu, rencana pernikahan pun disiapkan. Mulai dari Lalan berusaha meyakinkan keluarga besarnya bahwa ia telah memilih perempuan yang tepat, meski banyak dari saudara-saudaranya tak setuju ia menikahi seorang janda—Kayak nggak ada perempuan lain aja, kata mereka. Ia pun bekerja keras untuk memenuhi satu syarat lain dari Pak Ustadz agar ia menyiapkan sejumlah uang untuk mahar dan biaya pernikahan. Tanpa pesta yang istimewa, tentu saja. Hingga akhirnya mereka menikah.

*** 

“Tapi, sekarang ternyata saya kurang bisa menafkahi istri dan anak saya, A.” Nada suara Lalan berubah. Saya bisa menangkap kecemasan sekaligus rasa sedih di hatinya.

“Ya, berusaha aja,” ujar saya, “Kalau kita punya niat baik akan ada jalannya.”

Ia mengangguk. “Iya, A. Alhamdulillah saya punya istri yang baik. Nggak banyak ngeluh. Dia bisa ngerti suaminya berusaha. Dia ngerti kalau menjalani semua ini nggak gampang. Tapi, yang bikin saya khawatir sekarang soal melahirkan. Kemarin ngobrol sama bidan, minta paket yang paling murah. Tapi, ternyata kacau juga!”

Saya berpikir beberapa jenak. Memutar-mutar cangkir kopi yang sejak tadi berada di hadapan saya. Dalam kepala saya terputar beberapa slide kenangan masa-masa awal saya menikah—termasuk ketika saya begitu cemas mempersiapkan kelahiran anak pertama saya. “Jadi, sekarang gimana?” Entah mengapa pertanyaan itu yang keluar dari mulut saya, “Menurut saya, kamu belum bisa usaha. Indomie Moshing juga gagal.”

Lalan tampak semakin bingung, beberapa saat ia terdiam. “Kalau ada kesempatan, saya mau kerja. Kerja apa aja saya mau.” Ujarnya.

“Jadi apa?”

“Apa aja, A. Jadi OB. Jadi tukang beberesih. Jadi security. Atau apa aja saya kerjain." 

Saat itu, saya tak sedang mencari karyawan. Tetapi salah satu bagian dari otak saya mengatakan bahwa saya perlu memberinya pekerjaan “apa saja” seperti yang ia maksud. “Bisa nyetir?” Tanya saya.

Ia menggelengkan kepala. “Cuma motor, A.” Suaranya melandai. 

“Skill kamu apa selain ngeband?” Kejar saya.

Ia tampak berpikir. “Nato, A.” Jawabnya polos.

Saya tertawa. “Mau saya tempatkan di mana tukang tato di kantor saya?” Tanya saya spontan.

Dia nyengir. 

***

Sejak hari itu, saya mulai memberinya pekerjaan yang sebenarnya tak penting. Tetapi sering juga penting—bukan untuknya, tapi untuk saya. Kadang saya memintanya menunggu seharian di depan kantor inspirasi.co untuk saya minta stand by kalau-kalau saya perlu bantuan (yang sebenarnya saya tak memerlukan bantuan siapa-siapa. Tapi, saya katakan saja kepadanya untuk stand by)… Kadang saya memintanya menemani saya saat saya pergi ke satu tempat dan membutuhkan tenaga untuk melakukan beberapa hal. Pernah juga saya beri satu pekerjaan aneh yang hampir mustahil mau dikerjakan orang lain… Tapi dia kerjakan juga.

Dari banyak ‘pekerjaan’ yang saya berikan kepadanya. Saya sampai pada satu kesimpulan bahwa orang ini memang sedang ingin membuktikan sesuatu dan ingin bekerja. Dia nggak banyak bertanya atau memberi excuse, apapun dia kerjakan… Meski, tentu saja, saya juga masih melihat beberapa hal kurang baik dari dirinya. Sesuatu yang masih harus ia ubah jika ingin berhasil dalam hidupnya.

Suatu hari, karena sering bersama saya atau sering berada di sekitar saya ketika saya di kantor atau di tempat lain. Orang-orang penasaran juga dan bertanya apa pekerjaannya. Tanpa pikir panjang ia mengatakan kepada orang-orang itu bahwa ia bodyguard saya. Saya tertawa ngakak ketika ia menceritakannya kepada saya.

“Saya nggak butuh bodyguard, To.” Ujar saya. “Saya nggak perlu takut kepada siapapun jika saya tak pernah berusaha melakukan hal buruk pada orang lain.”

Dia nyengir. “Habisnya bingung juga mau jawab apa?” Katanya.

Saya mengangguk-angguk. Memaklumi saja.

“Sekarang apa kata istri setelah tahu bahwa kamu mulai kerja?” Saya tahu sebenarnya ia belum ‘bekerja’ dalam pengertian formal. Tapi sejauh ini sudah lumayan ia punya aktivitas di luar dan bisa membawa sesuatu ke rumah untuk ia klaim sebagai sebuah pekerjaan. 

“Istri bangga, A.” 

“Dia tahunya kamu kerja apa, To?”

Bodyguard.” Dia nyengir.

Saya tertawa lagi. Rupanya dia serius dengan pekerjaan ‘bodyguard’ itu. 

Waktu itu hari sudah sore ketika saya bertanya kepadanya. “Kamu sudah makan siang?”

“Belum lapar, A.” Jawabnya.

“Oh,” saya hanya memberi respons sederhana, sebelum akhirnya saya penasaran bertanya lagi, “Emang jam berapa tadi makan?”

“Tadi pagi sebelum berangkat ke sini beli nasi uduk buat istri,” katanya, “Saya makan tiga gorengan.”

Saya kaget mendengar jawabannya. Saya curiga ia belum makan ‘berat’ sejak pagi. “Makanlah, pesen apa aja.” Ujar saya sambil menunjuk ke arah Kafe Ruang Tengah.

“Nanti aja bungkus buat makan di rumah sama istri.” Katanya. 

“Istri makannya gimana selama hamil ini?” Saya penasaran ingin bertanya lebih jauh lagi.

“Aman, A. Diusahakan cukup.” Katanya, “Istri sering ngaji biar nggak laper.” 

Deg! Seketika saya diserang gempa bumi di dalam diri saya sendiri. “Maksudnya?”

“Iya, A. Katanya kalau ngaji jadi ilang lapernya.”

Mendengar semua itu, seketika semua rasa bersalah menyerang saya. Saya mengatakan kepada diri saya sendiri bahwa saya harus segera mencarikan pekerjaan yang lebih baik untuknya. Apa saja. Syukur-syukur sebelum istrinya melahirkan.

Saya percaya bahwa pertemuan saya dengan Tato bukan sebuah peristiwa kebetulan. Ada sesuatu yang sedang dipersiapkan Tuhan untuk saya. Sebuah pelajaran berharga yang perlu saya hayati dalam-dalam: Bahwa setiap orang baik punya masa lalu dan setiap pendosa punya masa depan. Karenanya, semua orang berhak atas kesempatan kedua dalam hidupnya.

(Bersambung)

 

Ciputat, 18 Ramadan 1438 H

FAHD PAHDEPIE