Menghakimi Tato, Mengadili Masa Lalu (1)

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 12 Juni 2017
Menghakimi Tato, Mengadili Masa Lalu (1)

Dengan berbagai macam kemungkinan takdir yang dimilikinya, pada satu titik hidup mempertemukan saya dengan Lalan. Orang memanggilnya Bang Tato. Sederhana saja, karena tubuhnya dipenuhi dengan tato.

Saat pertama kali bertemu dengannya di sebuah event lokal di Tangerang Selatan, saya melihat Lalan sebagai sosok yang penuh percaya diri. Ia bercerita tentang band metal yang ia pimpin, pengalamannya mendirikan dan mengelola sebuah distro sukses di Bandung, hingga inisiasinya tentang berbagai inisiatif lokal yang punya dampak bagi masyarakat banyak di sekitar tempat ia tinggal. Kesimpulan saya waktu itu, ia adalah seorang musisi idealis yang sedang berusaha membuktikan sesuatu. 

Satu bulan kemudian sejak pertemuan itu, ia datang kepada saya membawa sebuah proposal. Seorang teman saya yang lain merekomendasikannya untuk bertemu saya. Saya ingat kami duduk berdua di kafe komunitas yang saya dirikan di Ciputat, Ruang Tengah namanya, ketika ia mulai bercerita tentang dirinya lebih dalam—

Ternyata ia sedang berusaha mengembalikan usaha lamanya di bidang kuliner. Konon usahanya ini pernah jaya beberapa tahun sebelumnya. Namanya ‘Indomie Moshing’. Racikan indomie rebus yang diberi toping sambal spesial yang saking pedasnya bisa bikin orang sampai moshing—ekspresi membentur-benturkan tubuh, berteriak-teriak, atau hal ekspresif lainnya di tengah kerumunan orang-orang yang menonton konser musik beraliran keras.

Ia menjelaskan rencana bisnisnya dengan penuh percaya diri. Ketika saya tanya, “Apakah akan laku?” Ia mengangguk mantap. Katanya, teman-temannya sesama anak band, para ‘fans’ dari band-band itu, serta anak-anak gaul lainnya sudah menunggu-nunggu Indomie Moshing ini. Karena sudah dikenal sebelumnya, ia memastikan usahanya ini akan laku.

Apakah saya percaya? Tidak semudah itu, tentu saja. Proposal yang dibawanya, meski didesain dengan sangat ‘niat’, sama sekali tak membuat saya tertarik. Satu-satunya yang membuat saya tertarik untuk bertanya lebih jauh lagi adalah passion-nya pada gagasan yang dibawanya. Itulah yang membuat saya bertanya lebih jauh lagi tentang banyak hal: Mengapa bisnis yang konon sebelumnya sukses ini pada akhirnya bangkrut, siapa yang memasak, bagaimana nanti ia dikelola, dan seterusnya.

Singkat cerita, ia menyerah dengan semua pertanyaan yang saya ajukan. Bagi saya, ia memang belum mengerti bagaimana cara mengelola bisnisnya sendiri. Hingga sampailah ia pada kisah paling jujur di balik semua yang tengah ia upayakan saat itu: Ia ingin membuktikan sesuatu.

***

Lalan bercerita bahwa ia beruntung bisa menikahi putri seorang ustadz. Dengan seluruh tato yang terlanjur menempel di tubuhnya, sang ustadz tak mempermasalahkan semua itu. Setelah ia mantap ‘berhijrah’, ia melamar putri sang ustadz bermodal honor nge-band sebesar satu setengah juta rupiah. Tak dinyana, karena putri ustadz tersebut menerima lamarannya, mereka berdua pun dinikahkan. 

Setelah menikah, karena dorongan istri dan keinginan untuk berhijrah, Lalan berniat untuk mengubah jalan hidupnya yang ia sebut sendiri sebagai ‘dunia kegelapan’. Ia mulai semuanya dari awal lagi. Konon, ia ingin berhenti main band, berhenti menjadi tattoo artist, untuk fokus menjadi suami dan ayah yang baik. Sesuatu yang tidak mudah, tentu saja. 

Saat itu istrinya sedang hamil. Mertuanya, ustadz baik hati itu, secara sangat menusiawi, lama-lama kesal juga karena Lalan tak punya penghasilan tetap yang bisa menghidupi putri kesayangannya. Tetangga-tetangga mencibirnya. Ia berkali-kali diusir dari kontrakkan dan harus berjuang mendapatkan kontrakkan baru di tengah segala kesangsian yang ditunjukkan banyak juragan kos setelah melihat tato di tubuhnya. Tentang proposal Indomie Moshing yang ia ceritakan sejak tadi, rupanya keinginan terdalamnya begitu sederhana: Ia ingin punya penghasilan yang bisa membiayai ‘hidup baru’-nya. Juga anaknya kelak.

Setelah mendengar semua ceritanya. Ada satu bagian di otak saya yang mengatakan bahwa saya harus membantunya. Dan saya memberinya modal usaha. Meski saat itu saya tahu betul usaha itu akan bangkrut lagi. Saya ingat apa yang saya katakan kepadanya, saya bilang, “Saya tidak mau jadi investor. Karena saya tahu usaha ini tidak akan berhasil. Tapi, kamu coba aja dulu.”

Ketika saya memberinya uang modal, ia masih terus meyakinkan saya bahwa usahanya akan berhasil. Jujur saja, waktu itu saya sudah tak peduli. Bagian otak saya yang lain mengatakan bahwa usaha ini pasti gagal. 

***

Dengan modal usaha yang kini dimilikinya, Lalan bersemangat membangun bisnisnya lagi. Hampir setiap hari ia melaporkan semuanya. Belanja barang, belanja bahan, semua ia laporkan lengkap dengan foto-foto. Ia juga mengundang saya untuk datang di acara launching warungnya itu yang dimeriahkan band-band dan musisi lokal. Sayang saya tak bisa menghadirinya. 

Sebulan, dua bulan, tiga bulan, usahanya berjalan. Saya tanya bagaimana perkembangannya, ia masih optimistis. Baru di bulan keempat atau kelima, ia mulai bercerita bahwa ternyata semua tak seindah yang ia bayangkan. Bulan keenam, ia tak sanggup membayar kontrakan warungnya, istrinya tak bisa membantu lagi karena kandungan semakin besar, sering sakit-sakitan, pemasukan dan pengeluaran bisnisnya jauh tak berimbang.

Saya sudah tahu sejak awal bahwa ini akan terjadi. Ia memulai bisnis ini untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Saya tahu sulit mengepulkan dua dapur sekaligus, dengan satu tungku yang sama.

Waktu itu ia menemui saya untuk kesekian kalinya. Bedanya, kali ini wajahnya agak murung. Ia merasa bahwa hidup telah mengalahkannya sekali lagi.

“Jadi, sekarang gimana?” Tanya saya.

Ia menggelengkan kepala. Meski tetap berusaha tersenyum.

“Sekarang nggak tahu harus bagaimana lagi. Bingung. Istri sudah mau melahirkan. Usaha nggak mudah. Kerja nggak ada orang yang mau terima.” Katanya, “Terakhir diterima kerja jadi tukang panggul beras. Pas sudah sampai gudang, diusir lagi karena tatoan,” sambungnya. Nyengir. 

Ada bagian dari otak saya tidak menerima pernyataannya itu. Ada sisi hati saya yang berontak. Saya tak ingin ia menyerah. 

***

Di tengah masyarakat yang menganggap tato sebagai sebuah kejahatan, atau paling tidak tanda bagi kejahatan, tak mudah memang menjalani hidup seperti Lalan. Meski ia sudah bertekad untuk berubah. Karena cenderung melihat apa yang permukaan, orang luput memeriksa apa yang ada di dalam: Tak peduli bahwa ia sudah berhijrah, bertaubat dari masa lalunya yang ia sendiri sesali.

Bahkan ketika ia masuk masjid dan shalat Jumat, semua orang memandangnya curiga. Seolah orang bertato tak boleh shalat dan masuk masjid. Dalam Islam, tato memang dianggap dosa besar. Menurut saya, orang yang bertaubat darinya penuh keberanian. Bagaimana tidak? Berbeda dengan pembunuh, pejudi, pezina, bahkan koruptor yang dosanya barangkali lebih besar, mereka yang taubat dari tato ditampakkan kepada dunia setiap hari ‘dosa’ itu. Lalan berusaha menutupi tato yang dimilikinya, meski tak semua bisa disembunyikan.

Saya menceritakan kisah ini karena miris melihat masyarakat yang nyinyir terhadap tato di balik jubah dan peci putih seorang anggota FPI (Front Pembela Islam). Foto itu disebarkan kemana-mana seolah orang bertato tak layak mengenakan pakaian putih atau peci—memiliki identitas sebagai seorang Muslim. Padahal, apakah tidak mungkin seseorang memiliki masa lalu dan memulai hal baru di kesempatan kedua dalam hidupnya?

Saya banyak tidak sepaham dan tidak setuju dengan FPI. Tapi saya lebih tak senang dengan mereka yang menilai segala sesuatu hanya dari apa yang terlihat… Apalagi jika harus mengadili masa lalunya.

(Bersambung)

 

Ciputat, 17 Ramadan 1438 H

FAHD PAHDEPIE

 

*Foto: Lalan sedang belajar menjadi barista di kafe Ruang Tengah.