Sekalipun Setan-setan Dibelenggu...

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Agama
dipublikasikan 11 Juni 2017
Sekalipun Setan-setan Dibelenggu...

“Kiai, bukankah di bulan puasa setan-setan diikat?” Aku mengajukan pertanyaan itu setelah jamaah kuliah subuh hari ini bubar. 

Kiai Husain sedang mengemasi kitab-kitab yang selepas subuh tadi kami bahas bersama. Aku buru-buru mengambil alih kitab-kita tebal itu ketika Kiai Husain mengangkat wajahnya dan menatapku.

“Apakah kau meragukannya?” Tanya Kiai Husain.

“Eu… Eu… tidak sama sekali, Kiai. Hanya heran saja. Jika di bulan puasa setan-setan diikat, mengapa masih banyak saja kemaksiatan dan aneka kejahatan terjadi? Kriminalitas tak surut, kekerasan tetap merajalela, korupsi jalan terus, kemaksiatan di mana-mana.” Aku menggaruk kepala yang tidak gatal dengan tangan kiriku. Tangan kananku menggamit kitab-kitab milik Kiai Husain. 

Kiai Husain terkekeh. “Bukankah manusia yang melakukan kemaksiatan dan kejahatan-kejahatan itu?” Ujar Kiai Husain.

“Memang, Kiai. Tapi…" 

“Apakah kau pikir selama ini semua kejahatan dan kemaksiatan yang dilakukan manusia selalu mensyaratkan kehadiran setan?”

Aku mengangguk. Tawa Kiai Husain semakin keras.

“Nak, cobalah buka surat An-Nas. Tempo hari aku sudah mengajarkannya kepadamu. Tetapi tak apa, pelajarilah sekali lagi.”

“Aku ingat, Kiai. Di sana dikatakan bahwa setan berbisik di hati manusia agar manusia mengikutinya, bukan? Agar manusia tak taat pada perintah Allah dan justru melaksanakan apa yang dilarangNya?”

Kiai Husain menggelengkan kepala. “Setan tak berbisik di hati manusia,” ujar Kiai Husian, “Setan berbisik di rongga dada manusia, fii shuduurin-naas,” Kiai Husain menunjuk rongga dadanya.

Aku berusaha menyimak penjelasan Kiai Husain. “Setan tak bisa memasuki hatimu. Ia hanya punya kekuatan untuk ebrada di sekelilingnya saja, di rongga dadamu. Jika hatimu sebuah rumah, setan tak akan memasuki hatimu kecuali kau mengizinkannya.”

“Maksud Kiai?”

“Setan hanya bisa menjadi pengganggu di sekeliling rumahmu. Setan hanya bisa berbisik-bisik di dinding, jendela, atau di puntu rumahmu. Kadang-kadang ia menyalakan kembang api di luar, memainkan musik yang indah, atau melakukan apa saja agar kau melongok keluar dari rumahmu itu dan ia bisa membuat bisikan-bisikannya lebih meyakinkan lagi. Tetapi ia tak bertanggung jawab pada apapun tindakanmu di dalam rumah...”

“Jadi, semua tindakan buruk dan maksiat sepenuhnya kepetusan manusia, Kiai?”

Kiai Husain mengangguk. “Jika kau tergoda oleh bisikan-bisikan setan di sekeliling rumahmu, kau sendiri yang akan membuka pintu rumahmu untuknya. Ia tak punya kuasa apapun untuk melakukannya. Namun, sekali pintu rumahmu terbuka, ia bisa masuk karena kau mempersilakannya masuk. Dan saat ia masuk, ia bisa semakin meyakinkanmu untuk mengubah seluruh dekorasi rumah itu dengan apa yang ia mau…”

“Itukah penyakit hati?”

“Kau bisa menyebutnya begitu. Tetapi sebenarnya kaulah yang mengubah dekorasi rumah hatimu sendiri.”

Aku menarik nafas panjang. “Tetapi, di bulan puasa, Kiai. Apakah setan tetap bisa melakukan semua itu?”

Kiai Husain terkekeh. “Setelah dekorasi rumahmu berubah, ia akan mengubah perilakumu secara alami. Setan tak perlu bekerja apa-apa lagi di sana. Dia sudah menjalankan tugasnya untuk meyakinkanmu di awal… Sisanya, engkau yang memutuskan sendiri.”

“Jadi, maksud Kiai, setan absen saat bulan puasa tetapi manusia tetap bisa melakukan kejahatan dan kemaksiatan karena itu sudah menjadi watak dirinya?”

“Bisa jadi,” jawab Kiai Husain, “Lagipula, untuk membisiki, setan tak memerlukan tangan dan kaki. Seandainya tangan, kaki, dan lehernya semuanya terbelenggu, ia tetap bisa berbisik, bukan?”

Aku mengangguk.

“Lagi pula, tahukah kau bagaimana setan membisiki manusia? Ia menggunakan perantara manusia dan jin yang sudah memiliki watak dan karakter setan di di rumah hatinya… alladzi yuwaswisu fii shudurin-naas, minal jinnati wan-naas. Sementara para manusia dan jin berwatak setan itu tak pernah dibelenggu sekalipun di bulan puasa, bukan?”

“Ah, sekarang saya mengerti, Kiai." 

Kiai Husain tersenyum. “Sekarang, tahu apa yang mesti kau lakukan untuk menghindari bisikan setan dari golongan jin dan manusia?”

Aku menggelengkan kepala. “Beri tahu saya, Kiai.”

“Katakanlah kau berlindung dengan kekuatan rab-nya manusia, qul a’udzu bi rabbin-naas. Jika ada yang mengajakmu berbuat jahat atau berbuat maksiat, tolaklah dengan sifat ‘rabb’… Yang memelihara. Di sini, barangkali kau bisa berkelit, menghindar, menolak dengan halus, mencari cara agar hubunganmu dengan manusia lain tak terganggung. Karena kau ingin memelihara, menjaga keseimbangan. Semoga godaan mereka berhenti saat kau melakukan cara ini…”

“Jika tidak berhasil, berlindunglah dengan kekuatan Tuhannya manusia, Maalikin-naas. Jadilah raja untuk dirimu sendiri. Kaulah yang paling berkuasa dan paling berdaulat untuk dirimu sendiri. Bisikan apapun tak ada artinya di hadapan seorang raja, kau bisa katakan tidak dengan penuh amarah jika ada orang yang memaksamu untuk melakukan sesuatu yang tidak kau inginkan… Sebab kau adalah raja.”

“Jika tidak berhasil, Kiai?”

“Jika terpaksa, pakailah Ilahin-naas. Di hadapan Ilaahin-naas, Tuhan Manusia, semua bisikan setan akan terbakar dan menjadi debu yang tak berarti. Tak ada yang bisa melawannya lagi."

“Bagaimana caranya agar saya bisa punya sedikit saja kekuatan semacam itu, Kiai?” 

Kiai Husain tersenyum. “Anakku, kekuatan semacam itu hanya milik Allah… Dan hanya Ia pinjamkan kepada orang-orang yang dekat dan terus-menerus mendekat untuk mendapatkan ridha-Nya saja.”

Entah mengapa, seketika, aku merasa jarak antara diriku dengan Rab Manusia, Raja Manusia, Tuhan manusia, terasa jauh… Sementara bisikan-bisikan setan begitu dekat.

 

Ciputat, 16 Ramadan 1438 H

FAHD PAHDEPIE

  • view 987