Agama Warisan, Warisan Agama

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Agama
dipublikasikan 06 Juni 2017
Agama Warisan, Warisan Agama

Tidak banyak di antara kita yang terlahir di tengah keluarga kaya yang jika orangtua kita meninggal mereka bisa mewariskan harta benda. Saya barangkali salah satu di antaranya. Namun, saya beruntung orangtua saya telah mewariskan sesuatu yang lain yang begitu berharga dalam hidup saya, melebihi harta benda dan apapun saja: Agama.

Bahkan ketika saya baru lahir, ketika orangtua saya masih hidup dan sehat, warisan itu sudah diturunkan kepada saya. Tak sayang-sayang, memang, mereka mewariskan semuanya kepada saya, apapun yang mereka tahu dari agama, semua yang terbaik yang bisa mereka ajarkan, justru karena begitu sayangnya mereka kepada saya.

Boleh dibilang sekarang saya menganut agama warisan. Apakah ada yang salah jika saya menganut agama warisan ini? Apakah menjadi kurang berharga jika saya menganut agama yang ‘diwariskan’ orangtua saya dan saya tidak menemukannya sendiri? Bagi saya, tidak sama sekali. Agama warisan ini tak berkurang sedikitpun nilai tukarnya, kemuliaan dan keagungannya, meski saya tak menemukannya sendirian di hutan belantara.

Wajarkah jika warisan ini saya jaga hak kepemilikannya, saya bela mati-matian ketika ada orang lain yang berusaha merusak atau menindasnya, saya pertahankan dengan segenap harga diri dan jiwa raga saya? Rasanya wajar saja. Sangat wajar. Bahkan jika suatu saat saya mendapatkan warisan berupa rumah atau tanah, yang bagi saya jelas jauh kurang berharga daripada warisan agama, saya akan menjaga, mempertahankan, membela hak-hak saya terhadap tanah itu jika ada orang-orang yang bersikap tidak adil kepadanya.

Saya heran, mengapa belakangan soal warisan agama dan keyakinan ini dipersoalkan? Seolah warisan berupa agama adalah sesuatu yang salah atau, paling tidak, kurang berharga. Padahal, bukankah justru agama adalah perangkat nilai paling berharga yang memang bisa diwariskan—bahkan harus diwariskan, berbeda dengan iman yang jelas tak bisa diturunkan ke anak-cucu?

Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana jadinya jika orang-orang justru teryakinkan bahwa warisan agama ini memang kurang berharga, ya? Meski tak langsung berhubungan, saya jadi ingat nasihat Karl Marx dalam Das Kapital, katanya, jika kita ingin meyakinkan sebuah masyarakat untuk melakukan sesuatu, ambil warisan yang mereka miliki. “Take away the heritage of a people and they easily persuaded”. Jika klaim ini benar, kita sedang dipersuasi untuk jadi bagaimana ya sehingga warisan agama mulai dicerabut nilai tukarnya dari hak kepemilikan kita?

Saya kira, kita yang diwarisi agama oleh orangtua kita semestinya berbangga. Kita sudah mendapatkan sesuatu yang tak berkurang sedikitpun nilai dan harganya meski ia dibagikan kepada sebanyak mungkin orang, berapapun jumlahnya. Sementara begitu banyak jenis warisan lain yang menimbulkan perkelahian bahkan perang karena ketika ia dibagi niscaya nilai tukar dan harganya berkurang.

Tapi, sebuah warisan adalah hak individual setiap orang yang diwarisi, ia tak bisa dipaksakan kepada pihak lain. Tak perlu diperbandingkan dan disombongkan kepada satu sama lain sehingga justru kita sibuk mengurusi warisan orang lain dan lupa menjaga dan memuliakan warisan yang kita miliki.

Memang, kita harus bangga pada warisan yang kita miliki, seraya tahu dan mengerti bahwa orang lain juga boleh bangga pada warisan yang mereka dapatkan dari orangtuanya masing-masing. Prinsip warisan seperti ini mungkin seperti slogan di depan sebuah rumah atau tanah milik pribadi: “private property, no trespassing”. Dalam bahasa agama Islam, slogan semacam itu seperti bunyi sebuah ayat: Bagiku agamaku, bagimu agamamu.

Tersebab saya bangga sekaligus bahagia mendapatkan warisan paling berharga dari orangtua saya, agama mereka, saya pun telah mewariskan hal yang sama kepada anak-anak saya. Saat ini memang mereka masih kecil, mungkin belum mengerti seberapa berharga warisan yang saya berikan itu, tetapi mudah-mudahan kelak mereka akan tahu.

Kelak ketika mereka dewasa, saya harap mereka akan menjadi orang paling kaya di dunia, yang telah dicukupkan agama baginya dan bisa mewariskan hal yang sama kepada anak cucu mereka. Mudah-mudahan mereka tak termasuk orang yang disebut Kahlil Gibran tak memiliki warisan apapun tersebab mereka menolaknya. “He who denies his heritage, has no heritage.”

 

Ciputat, 11 Ramadan 1438 H 

FAHD PAHDEPIE