Bangsa yang Tuli Pada Panggilan Azan

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 03 Juni 2017
Bangsa yang Tuli Pada Panggilan Azan

“Bagiku, semua kekacauan di negeri ini terjadi karena orang-orang sudah tak lagi mendengarkan azan!” Langkah Kiai Husain bertambah cepat ketika aku menanyakan pendapatnya mengenai berbagai kegaduhan yang belakangan ini terjadi.

Suara azan dhuhur dari langgar sudah sampai di lafadzh ‘hayya ‘alasshalaah’.

“Masalahnya, Kiai, mengapa yang Muslim merasa paling Islam dan mengapa begitu banyak orang yang terlihat tidak suka pada sesama suadara Muslimnya, padahal mereka juga beragama Islam?” Aku berusaha mengimbangi langkah Kiai Husain yang kian cepat, “Aku merasa ketidaksukaan terhadap Islam semakin menguat saja, tetapi di saat bersamaan kecintaan terhadap Islam juga terasa berlebihan.”

Kiai Husain berhenti. Ia menatap tajam ke arahku. Bibirnya masih sibuk merapalkan sesuatu, beberapa saat kemudian berhanti diakhiri usapan dua tangan di wajahnya. “Nak, kau bahkan tak memberiku kesempatan untuk menjawab azan? Apalagi berdoa setelah azan?” Intoasi Kiai Husain meninggi. Wajahnya menggeleng-gelang. Azan baru saja berhenti beberapa saat yang lalu. Tampaknya Kiai Husain benar-benar marah kepadaku.

Aku menundukkan kepala. “Maafkan saya, Kiai.” 

“Apakah kau lupa menjawab azan?” Kiai Husain melontarkan pertanyaan yang tiba-tiba saja membuatku gagap, “Apakah kau tak punya waktu lagi membaca doa setelah azan?” Aku semakin gagap, “Jangan-jangan sejak tadi kau tak mendengarkan azan?” Cecarnya.

Aku hanya bisa terdiam. Lalu perlahan mengangguk. “Maafkan saya, Kiai.” Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku.

Kiai Husain menghela nafas. Wajahnya menggeleng-geleng. “Aku akan menjawab semua pertanyaanmu selepas shalat. Kini, bacalah doa setelah azan. Semoga kau masih mengingatnya.”

*** 

Seusai shalat, Aku dan Kiai Husain tinggal berdua dan duduk berhadap-hadapan. Semua orang sudah kembali ke ladang, tempat usaha, atau ke rumahnya masing-masing. Langgar kecil ini kembali sepi.

“Sudah kubilang,” Ujar Kiai Husain, “Semua masalah yang kau kemukakan tadi. Atau masalah apapun yang kini menimpa umat Muslim di negeri ini... Patut dicurigai tersebab mereka sudah tak lagi mendengarkan panggilan azan.”

“Mengapa bisa begitu, Kiai? Apakah azan sepenting itu sehingga bisa mempengaruhi berbagai sendi kehidupan?”

“Perhatikan lafadzh azan yang pertama,” Kiai Husain membuang pandangannya ke jendela, “Apakah setiap hari kau sudah menemukan ketakjuban-ketakjuban dalam dirimu bahwa segala sesuatu di dunia ini terjadi karena kebesaran Allah?”

“Tentu saja, Kiai,” jawabku sekenanya. Padahal aku sendiri ragu apakah aku sudah menemukan ketakjuban-ketakjuban semacam itu dalam keseharianku?

Kiai Husain kembali menatapku, “Seandainya semua orang mengisi hari-harinya dengan kekaguman kepada kebesaran Allah. Mereka tak akan lagi punya waktu untuk membenci. Mereka akan sibuk mencintai. Hidup ini setiap harinya harus dimulai dengan ‘Allahu Akbar!’, Nak. Itulah sebabnya azan dimulai dengan kalimat takbir itu.”

“Allahu akbar bukanlah kemarahan, Allahu akbar bukanlah ketakberdayaan, Allahu akbar adalah ketakjuban dan kekaguman. Allah menunjukkan kebesaranNya melalui berbagai hal di semesta ini yang hanya akan membuat manusia takjub dan kagum pada kebesarannya, tak berkutik di hadapanNya. Nafasmu, kedip matamu, degup jantungmu, aliran darahmu, denyut nadimu, getar pita suaramu, semua itu tak akan ada tanpa izin Allah kepadamu. Seandainya engkau tahu, takjubmu tak akan usai. Tak sampai-sampai! Jika hidupmu dipenuhi ketakjuban-ketakjuban semacam itu, masihkan engkau, kalian, punya waktu untuk sedikit saja sombong pada apapun saja?”

“Tidak, Kiai.” Jawabku, perlahan.

“Jika kau sudah menyadari semua kebesaran Allah, kau perlu menunjukkannya dalam sikap-hidupmu. Kau diminta bersaksi. Persaksian bahwa seorang hamba rela mengalahkan tuhan-tuhan kecil dalam hidupnya, apapun itu, hanya untuk menyembah Satu Tuhan saja yang tiada sekutu bagiNya. Maka setelah ‘Allahu Akbar’, azan dilanjutkan dengan kalimat tauhid yang mendaftarkan dirimu menjadi seorang Muslim, syahadat pertama. Asyhadu alla ilaha illallah.”

Astaghfirullah al-’adzhim, pantas saja saya harus menjawab seruan itu, Kiai?”

Kiai Husain mengangguk, kemudian melanjutkan penjelasannya, “Namun, syahadat pertama akan omong kosong saja tanpa kesanggupanmu untuk meneladani kekasih Tuhan, Muhammad Rasulullah. Maka persaksian atas Allah itu harus diikuti dengan persaksian atas kekasih-Nya. Kau harus meneguhkan komitmen diri untuk menjadi pelayan sekaligus pengikut Baginda Rasul. Maka Azan dilanjutkan dengan Syahadat kedua, asyhadu anna muhammada rasulullah. Semacam syarat administratif agak kau sah menjadi Muslim seutuhnya.”

Aku mengangguk-angguk.

“Kemudian sampailah engkau pada hayya ‘alas-shalah. Ajakan untuk bersama-sama mendirikan shalat. Di sini, shalat dilihat sebagai tindakan komunal. Ia bisa dilakukan sendirian, tetapi tak sekuat jika ia dilakukan bersama-sama. Menjadi seorang Muslim adalah menjadi individu yang mendirikan, menyelenggarakan, dan menggerakkan shalat ke seluruh semesta. Ikhtiar yang tak bisa individualistis belaka.

“Shalat harus menjadi kesadaran komunal. Di mana ketundukkan kepada Yang Maha Menguasai Segala Sesuatu harus dibuktikan dengan dua hal. Pertama, pengagungan dan ketundukkan kepada Tuhan sebagai upaya untuk menyucikan diri, kita menyebutnya takbiratul ihram. Dan kedua, komitmen untuk menyebarkan kasih sayang dan perdamaian kepada seluruh semesta, assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Bukankah shalat diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam?”

Tiba-tiba ada yang menggelegak di dalam diriku. Mengapa selama ini aku tak menyadari azan itu seindah dan sepenting ini? 

“Hanya jika orang-orang sudah melaksanakan shalat yang berorientasi pada ketundukkan dan komitmen menjadi rahmat bagi semesta itulah, maka kemenangan umat Muslim bisa disongsong. Momen kemenangan semacam ini adalah momen yang kita andaikan dan kita rindukan… Jika seroang muslim sudah menjadi muslim yang ‘falah’, maka ia menjadi muslim yang mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jika muslim sudah ‘falah’, maka ia bisa memenangkan semua medan pertempuran peradaban. Itulah sebabnya Azan dilanjutkan dengan kalimat ‘Hayya alal-falaah’, ajakan untuk menuju kepada kemenangan.”

“Kini saya sadar, Kiai, mengapa azan sepenting ini.”

Kiai Husain mengangguk-angguk, sebelum ia menutup penjelasannya, “Namun, bagaimanapun kemenangan itu bukanlah milik masing-masing individu. Bukan akibat siapapun. Kemenangan sejati adalah milik Allah. Dan hanya karena izin Allah. Semua kemenangan harus dikembalikan kepada Allah saja yang Maha Besar. Ia harus berporos pada kesungguhan hati untuk mengalahkan aneka tuhan kecil dan tunduk-patuh-taat hanya kepada Allah semata. Itulah sebabnya di akhir azan, kau harus mencapai Allahu Akbar yang kedua, seiring dengan penegasan tauhid bahwa tak ada yang pantas menjadi ilah di dunia ini kecuali Allah.”

Aku tertegun mendengarkan penjelasan Kiai Husain tentang azan ini. Mengapa selama ini aku tak menyadarinya? Mengapa selama ini aku mengabaikan azan, tak menjawabnya, bahkan tak memenuhi panggilannya?

“Jadi, apakah selama ini kau sudah ber-azan?” Tanya Kiai Husain, “Apakah masyarakat kita selama ini sudah menjawab azan?”

Ada yang tercekat di kerongkonganku. Membuat lidahku kelu.

Kiai Husain tersenyum. “Waktu Ashar hampir tiba, azanlah di langgar ini. Panggil semua orang. Semoga mereka mendengarkan…”

Aku baru saja tiba di Allahu Akbar yang pertama.

 

Bandung, 8 Ramadan 2017

FAHD PAHDEPIE