Bulan Suci, Bulan Sibuk Mencintai

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Renungan
dipublikasikan 27 Mei 2017
Bulan Suci, Bulan Sibuk Mencintai

Bulan Ramadan adalah bulan cinta. Di bulan suci ini, dari sahur hingga sahur lagi, semua wajah cinta diperlihatkan dengan cara luar biasa.

Di tengah kumparan energi negatif yang belakangan seolah menguasai negeri ini, baik rasanya jika di bulan ini kita lakukan ikhtiar pembersihan. Di bulan ini mari kita curahkan semua energi untuk sibuk mencintai… dan berhenti membenci.

Jika kita menyadari, semua momen di bulan puasa adalah cara Allah mengajarkan kita untuk sibuk dengan rasa cinta: Kepada diri sendiri, kepada keluarga, kepada sesama, kepada agama, yang semua itu kelak akan menjadi bukti bahwa kita mencintai Allah di atas segala-galanya. 

Sahur adalah wajah cinta yang pertama. Dalam sahur terdapat begitu banyak cinta: Kita bisa melihat seorang hamba yang bangun dari tidur lelapnya dan mempersiapkan diri untuk menjalankan puasa—sebagai bukti ketaatannya kepada Allah. Kita bisa melihat seorang ibu atau seorang istri yang rela bangun jauh lebih dulu dari anggota keluarga yang lain untuk memperiapkan santap sahur yang terbaik. Kita bisa melihat seorang ayah yang membagunkan anaknya dengan lembut agar belajar untuk bersungguh-sungguh menjalankan puasa. Kita bisa melihat seorang suami yang sebelum tidur memasang alarm lalu terjaga lebih dulu untuk membangunkan istrinya agar bisa memasak—meski setelah itu sebentar ia tidur lagi. Bukankah kita melihat banyak cinta di sana?

Jika kita keluar rumah, di jam-jam menjelang sahur itu, seorang marbot masjid atau anggota DKM rela bangun lebih dulu agar bisa membangunkan warga di sekitar masjidnya supaya tak terlewat bersahur. Kelihatannya sederhana, tetapi sebenarnya ia melakukan semua itu bukan karena tugas semata: Di dalamnya ada kecintaannya pada Allah, keinginannya untuk menjaga ruh puasa di tengah masyarakat, kepeduliannya kepada para tetangga. Bukankah di sana terdapat banyak cinta?

Siang hari Ramadan adalah saat-saat di mana cinta bertebaran di udara. Di bulan ini, Allah mencurahkan semua cintanya dengan memberikan pahala berlipat ganda bagi semua perbuatan baik dan ibadah yang dilakukan hambaNya. Jika Anda beribadah karena cinta kepada Allah, apapun bentuknya, mulai dari yang wajib hingga yang sunnah, pahalanya berkali-kali lipat. Jika Anda bersedekah atau berbagi kepada sesama, termasuk memberikan makanan berbuka bagi fakir miskin dan anak yatim, Allah menghargai rasa cinta Anda itu dengan cinta lain dariNya yang lebih besar lagi—lebih besar dari yang sanggup Anda bayangkan tentangnya.

Katakan kepada saya, apa yang bukan cinta di bulan penuh berkah ini? Saat Anda berpuasa, apalagi jika puasa itu hanya untuk Allah semata, cinta Allah tak habis-habis tercurah untuk Anda. Ketika Anda membaca Al-Quran, setiap huruf-hurufnya menawarkan pahala berlipat ganda. Bahkan ketika Anda tidur sekalipun, Allah dengan penuh cinta menghargai tidur seorang yang berpuasa sebagai ibadah.

Saat waktu berbuka sudah dekat, kita melihat banyak cinta berseliweran di sekeliling kita. Anak-anak yang tengah belajar berpuasa, bergembira karena sebentar lagi mereka akan melepas lapar dan haus. Di tangan mereka sudah tergenggam aneka makanan dan minuman yang mereka kumpulkan sedari siang. Para ayah bergegas pulang cepat dari tempat kerja untuk berbuka bersama keluarganya… Bayangkan seorang suami yang berhenti sejenak di sebuah warung atau pusat jajanan, membeli beberapa makanan atau minuman istimewa, sambil membayangkan bahwa ia akan membawa makanan paling spesial untuk menemani santap berbuka keluarganya. Tidakkah Anda merasakan cinta yang besar di sana?

Lalu di rumah, saat seorang ibu atau seorang istri berusaha memasak makanan terbaik untuk keluarganya. Meski dengan perasaan waswas takut masakannya kurang bumbu atau bahkan tak enak… Ia menyiapkan semua itu sebagai bentuk rasa cintanya kepada keluarga, yang pada hakikatnya juga rasa cintanya kepada Allah.

Dan tibalah kita di waktu berbuka. Azan berkumandang dengan syahdu. Sang muazin melantunkan azan itu seolah cinta keluar dari kerongkongannya, memberikan kabar gembira kepada sesama. Rumah-rumah menjadi riuh, masjid-masjid yang menggelar aneka takjil bergerak dengan cinta yang tumpah ruah, aneka tempat yang menggelar buka bersama diwarnai kegembiraan. Di bulan ini, azan begitu berharga. Betapa terasa cinta menyibukkan kita semua.

Hingga tiba malam Ramadan. Cinta tak kunjung habis. Menjelma barisan shaf-shaf tarawih. Menjelma tawa riang kanak-kanak yang berlarian di malam Ramadan dengan penuh keceriaan. Menjelma tadarus-tadarus Al-Quran. Menjelma obrolan-obrolan santai penuh keakraban.

Betapa luar biasa bulan ini. Bulan yang suci. Bulan penuh cinta. Bahkan cinta itu bukan hanya milik umat Muslim saja, bukan hanya untuk mereka yang berpuasa saja, tetapi untuk semua. Semua umat manusia bisa ikut merasakan betapa besar, betapa hebat, dan betapa luar biasa energi cinta yang dibawa oleh bulan Ramadan… Hingga saatnya Idul Fitri tiba. Momen semua rasa cinta tercurah dan terkumpul lebih dahsyat lagi.

Dengan semua ini, semoga kita tahu, semoga mengerti, tak ada pilihan lain untuk mengisi bulan ini kecuali dengan cinta. Dari sahur hingga sahur lagi, dari awal Ramadan hingga Idul Fitri, mari kita menjadi pribadi yang sibuk mencintai dan berhenti membenci.

Semoga setelah Ramadan, energi bangsa menjadi postif lagi. Semoga kita menjadi bangsa yang sibuk mencintai dan tak punya waktu untuk saling membenci.

 

1 Ramadan 1438 H 

FAHD PAHDEPIE