Mengasih, Mengasuh, Mengasah

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 23 Mei 2017
Mengasih, Mengasuh, Mengasah

Adakah cara yang paling tepat untuk mencintai anak-anak kita? Apakah memang ada cara yang paling benar untuk membesarkan mereka dengan benar? Bagaimanakah seharusnya rasa sayang diungkapkan—agar tak kurang tapi juga tak berlebihan?

Banyak di antara kita ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Kita baca buku-buku tentang ‘parenting’ dan psikologi perkembangan buah hati. Kita pelototi ratusan artikel internet tentang pola asuh yang paling teruji ampuh. Kita bertanya-tanya kepada banyak orang tips mereka yang paling jitu…

Namun, sering justru kita jadi bingung sendiri. Banyak dari yang selama ini lazim kita lakukan, bahkan sudah menjadi tradisi turun-temurun sejak zaman kakek-nenek kita, tiba-tiba disalahkan. Tak sedikit yang selama ini kita yakini benar, karena sesuai dengan budaya atau keyakinan yang kita anut, tiba-tiba dikacaukan oleh penemuan-penemuan baru yang kita sendiri sebenarnya masih ragu terhadapnya. Entah mengapa, semakin banyak kita ingin tahu tentang hal ini, semakin sering kita ‘dihakimi’ bahwa yang kita lakukan selama ini keliru-keliru. Tapi… Apa benar begitu?

Entah mengapa setiap kali membaca artikel Internet, buku-buku baru tentang pengasuhan anak, atau video-video penjelasan para psikolog, rasanya kapasitas kita sebagai orangtua tiba-tiba dilucuti begitu saja. Tiba-tiba kita jadi begitu bodoh karena ternyata selama ini kita tidak mendidik anak-anak kita “tidak dengan ilmunya”. Tapi, apakah kita memang harus mengikuti semua kelas parenting, seminar, workshop, bootcamp yang ditawarkan kemudian?

Entah mengapa saya mulai merasa bahwa cara kita mencintai dan menyayangi anak-anak kita mulai diseragamkan dengan pola-pola tertentu—yang bisa saja sebenarnya tak cocok dan tak relevan untuk diterapkan pada semua orang. Entah mengapa saya mulai merasa bahwa kita sedang digiring pada cara berpikir bahwa pola asuh kita pada anak kita akan dianggap benar jika anak kita menjadi seperti anak orang lain yang ‘sukses’ dalam ukuran-ukuran yang justru bersifat banal dan material belaka.

Katanya, jangan katakan “jangan” pada anak-anak. Tapi, bagaimana kita akan mengajari mereka tentang tegasnya batas antara yang boleh atau tak boleh. Katanya, jangan marahi anak sekalipun mereka melakukan kesalahan. Tapi, bagaimana kita memberitahu mereka bahwa kemarahan adalah salah satu alat tukar sosial manusia termasuk caranya mempertahankan diri? Katanya, jangan begini-jangan begitu, jangan lakukan ini-jangan lakukan itu. Tapi apakah semua teori itu meletakkan praksis pada konteks yang berbeda-beda?

Bukankah pada hakikatnya semua orangtua mencintai anaknya? Bukankah sejatinya semua ayah dan ibu ingin menyayangi anak-anak mereka dengan cara terbaik yang mereka bisa? Persoalan perbedaan cara mengeksekusi, peberdaan cara ekspresi, apakah serta merta membuat semua itu menjadi keliru? Rasanya tidak. Rasanya setiap orangtua harus diharga dan perlu mendapat kredit pada caranya mencintai dan menyayangi anak-anaknya—betatapun tak sesuai dengan apa yang orang-orang pelajari di bangku kuliahan.

Bagi saya, menjadi orangtua adalah tentang mengasih, mengasuh, dan mengasah. Anak-anak harus dibesarkan dengan kasih sayang yang terus tumbuh seiring diri kita yang juga kian dewasa. Mereka harus diasuh dengan kesadaran bahwa bagaimapun orangtuanya berada pada level tanggung jawab yang lebih tinggi dari mereka dan karenanya harus bisa bertanggung jawab pada hampir semua aspek tumbuh kembang mereka. Tak lupa, mereka pun harus diasah agar akal mereka tajam tetapi tak membuhun, hati mereka peka tetapi punya pendirian, mental mereka tangguh meski harus ditempa atau dibentuk dengan sesuatu yang keras dan tak menyenangkan.

 

Lombok, 23 Mei 2017 

FAHD PAHDEPIE