Sebab Politik, Sudah Berapa Banyak Kau Kehilangan Teman?

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Politik
dipublikasikan 11 Mei 2017
Sebab Politik, Sudah Berapa Banyak Kau Kehilangan Teman?

(Part. 2 - lanjutan dari tulisan sebelumnya)

Seperti kukatakan dalam tulisanku yang pertama, aku siap dengan semua komentar dan cacimaki yang terlontar. Tetapi, maafkan, memang aku tak bisa menjawab semuanya satu per satu. Mudah-mudahan tulisan kedua ini bisa memberi klarifikasi terhadap beberap respons yang sempat terbaca.

Baiklah, kita mulai dengan sebuah kesepakatan sederhana: Kita semua punya titik pijak masing-masing tentang hiruk-pikuk perseteruan politik ini. Bahwa yang pro-Ahok punya pandangan tersendiri tentang apa yang diperjuangkannya. Bahwa yang anti-Ahok punya argumen kuat mengenai sesuatu yang sedang dibelanya. Dan bahwa yang tak ingin terlibat dalam semua perdebatan itu juga punya alasan yang sah saja adanya.

Apakah semuanya harus disamakan? Tentu tidak. Tetapi, sayangnya, kita semua memang punya tendensi untuk memaksakan pendapat kita kepada orang lain. Kita sering serampangan menduga bahwa orang lain punya perspektif dan sudut pandang yang identik dengan kita. Dan kita, yang dengan semua keterbatasan diri mencoba menafsirkan realitas yang sedikit-sedikit saja bersinggungan dengan kita, seringkali justru memperkosa penafsiran itu untuk ‘fit-in’ pada akal-pikiran orang lain.

Celakanya, kita punya persediaan ego dan rasa gengsi yang tak sebanding dengan persediaan rasa empati. Itulah sebabnya di linimasa media sosial, urat leher kita sering tiba-tiba tegang, jari-jari kita sibuk mengetik kemarahan dan ketidakterimaan kita pada cara orang lain melihat dunia… Celakanya, bahasa teks punya keterbatan soal ekspresi dan intonasi, bukan? Untuk itulah barangkali kita sering emosi, sambil lupa bahwa sebenarnya kita sedang terperangkap pada kesalahpahaman massal yang terus-menerus menjauh dari kebenaran sejatinya.

Pertanyaanku sekarang, benarkah apa yang kalian persangkakan pada orang lain yang berbeda paham dan pandangan politik denganmu itu sama seperti aslinya? Jangan-jangan, tidak. Kalian hanya tidak terima saja orang lain punya pandangan dan paham yang berbeda. Kalian mengandaikan dunia hanya diisi oleh orang orang yang sama isi hati dan kepalanya dengan kalian saja. Apa mungkin? Nggak, dong!

Ada kok di antara kalian yang ‘konon’ pro-kebhinnekaan dan pejuang toleransi, nyatanya doyan mencela kelompok lain dengan ungkapan-ungkapan yang menyakitkan hati bahkan terkesan anti-toleransi. Apa itu yang benar? Apa itu yang Pncasilais? Apa itu yang dikatakan ‘cerdas’ dan tak sesat dan terbelakang seperti orang-orang yang kalian tuduh ‘kaun bumi datar’, ‘bigot’, atau ‘onta Arab’?

Mau sampai kapan begini? Mau sampai kapan gagal paham bahwa politik adalah pertarungan kepentingan? Mau sampai kapan mengira bahwa sosok yang kalian bela dan idolakan begitu suci sementara yang lain penuh najis dan dosa? Mau sampai kapan menafsirkan sandiwara politik dari apa yang kalian lihat di permukaannya saja? Padahal di belakang layar aktor-aktor politik itu bersekongkol belaka dalam sebuah ‘grand-scenario’ yang sama-sama saja…

Kita ini terjebak dalam relativisme moral yang menggelikan. Kau bilang pada kelompok lain, “Jangan pakai isu agama dalam politik!” Tetapi di pertarungan yang sama kau pakai juga isu agama itu untuk menaikkan suara jagoanmu, mengagung-agungkan gelar haji, menyebar-nyebarkan gambar roadshow pengajian atau kunjungan keagamaan, membahas-bahas soal masjid atau jasa memberangkatkan penjaga makam ke tanah suci. Bukankah semua itu juga isu agama dalam politik? Dalam sejarah perkembangan politik di manapun, agama memang tak bisa dipisahkan dari politik, kok. Kau bilang ‘Jangan bawa-bawa agama ke dalam politik’? Bah!

“Makanya belajar politik lagi. Baca buku yang banyak. Get informed,” gayamu, seolah menganggap orang lain memang nggak sehebat dirimu, nggak sepintar dirimu… Dan saat kalian masuk pada sesi perdebatan sesungguhnya tentang tema-tema yang relevan: Tentang politik agama, tentang ‘hate-speech’, tentang ‘blasphemy law’, tentang demokrasi, tentang Pancasila, tentang bhinneka tunggal ika… Kalian menganggap perdebatan itu hanya harus dimenangkan, tanpa spirit untuk saling mencerdaskan, sehingga berujung pada kenyinyiran-kenyinyiran dan caci-maki yang lebih sadis lagi.

Di kelompok lain kita juga menyaksikan orang-orang yang entah mengapa selalu merasa menjadi panitia masuk surga. Orang-orang yang menganggap orang lain begitu kotor dan penuh dosa. Orang-orang yang merasa telah mempelajari agama lebih banyak dan lebih dalam dari orang lain…

Coba lihat pernyataan ini: “Makanya belajar agama lagi yang bener”. Bukankah di sana tersembunyi kesombongan bahwa dirinya sudah memahami agama lebih benar dan belajar lebih banyak dari orang lain? Apakah karena pandangan keagamaan orang lain berbeda denganmu lantas ia berarti jahil dalam urusan agama? Lihat juga pernyataan ini: “Kita memang seiman, tetapi tidak se-aqidah.” Siapa sih yang mempopulerkan kalimat ini? Iman dan aqidah diseret-seret ke ruang publik bahkan untuk sesuatu yang sebenarnya tak sepenuhnya berhubungan dengan keduanya.

Maka, dengan semua yang kau, kalian, kita lakukan ini… Dengan semua sikap keras kepala dan mau menang sendiri ini: Sudah berapa banyak kita kehilangan teman? Mau sebanyak apalagi kita memutuskan tali silaturahmi? Mau dengan cara apa lagi kita berusaha berkelompok dengan orang-orang asing agar kita dianggap pintar atau beriman, sementara kita menendang satu per satu teman, sahabat, keluarga yang punya pandangan politik berbeda dari sekitar kita.

Kenapa sih kita tak bisa memisahkan pandangan politik dengan kehidupan pribadi seseorang, dengan kepribadiannya. Mengapa kita tak bisa tetap berteman, tetap bersama, tetap bersaudara, meski setiap dari kita boleh jadi punya aspirasi dan ideologi politik yang tak sama?

Apakah memang politik telah menjadi panglima dalam kehidupan kita sehari-hari? Apakah politik memang telah menjadi cara kita menilai seseorang dan hanya karenanya kita melupakan semua kualitas kemanusiaan seseorang? Apakah kita akan gagal menjadi sebuah bangsa yang berbeda-beda (identitasnya, personalitasnya, pemahaman politiknya, dan seterusnya) tetapi tetap bisa hidup bersama untuk bahu-membahu saling membantu satu sama lain?

Entahlah. Mungkin, setelah ini, aku pun akan kehilangan beberapa teman… 

 

FAHD PAHDEPIE  


  • Arie Pratama
    Arie Pratama
    4 bulan yang lalu.
    Saya ijin menshare artikel ini bang Fahd, dengan harapan temen2, saudara2 saya di luar sana yang sekarang masih sibuk membenarkan diri dan menyalahkan org lain, bisa sadar..

  • Arie Pratama
    Arie Pratama
    4 bulan yang lalu.
    Jujur, ketika selesai membaca artikel sebelumnya dan artikel yang ini, saya tertegun, seolah setelah sekian lama mencari referensi baru sekarang di hadapkan pada cermin artikel kebenaran. Artikal Anda sangat luar biasa menyentuh sisi teradil di tengah gegap gempita dan kebingungan saya pada kubu-kubu yang beradu otot itu.
    Saya hanya bisa bilang, saya sangat suka dan sangat mengappresiasi kesederhanaan anda untuk jujur berada di tengah tanpa harus ikut tergilas satu kubu dan menggilas kubu lainnya.

    Sekali lagi saya sangat kagum dengan artikel anda, Bang Fahd!

  • Robby Wijaya
    Robby Wijaya
    4 bulan yang lalu.
    Ahok bagi sebagian orang sudah bagaikan Pahlawan dalam membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Hasil nyata Ahok sudah banyak, karena pencitraan tanpa hasil riil itu tak akan lama. Bagaimana bisa kita berteman dengan "teman" kita yang begitu bersemangatnya untuk memenjarakan Ahok? Jujur saya sebenarnya sedih lihat teman saya begitu, tapi bagaimana caranya? Apakah dengan mengiyakan pendapat dia bahwa Ahok adalah penista agama dan harus dipenjara, well hati nurani ini sangat tidak bisa terima.

    Ini sebenarnya semuanya hasil dari keserakahan elit politik, menggunakan politisasi agama untuk meraih kekuasaan. Sholat jum'at diisi dengan khotbah pemecah persatuan bangsa. Gerilya FPI door to door, dan PKS muslim cyber lewat fanspage facebook islam yang jauh dari keislamian. Taktik cuci otak yang sangat brilian. Masalah sudah jelas terpampang, tapi solusi... belum ada yang bisa kasih solusi nyata.