Indonesia Bukan Ahok!

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Politik
dipublikasikan 10 Mei 2017
Indonesia Bukan Ahok!

Pasca-putusan pengadilan mengenai kasus yang menimpa Ahok, bangsa kita makin terbelah. Indonesia seolah terbagi ke dalam dua kubu ekstrem yang sama-sama keras kepala:

Kubu pertama, sebut saja mereka yang pro-Ahok, menganggap Indonesia dipenuhi kaum bigot dan bodoh. Tak kurang-kurang, kubu ini menganggap apa yang menimpa Ahok adalah buah dari ketololan para penentang Ahok yang mereka sebut ‘sok suci’ karena berlindung di balik jubah agama. Di media sosial, mereka merasa seolah Indonesia akan di-Suriah-kan, dengan tendensi yang agak nyinyir terhadap Islam dan muslim, juga lidah yang begitu ringan untuk tega mencela para ulama. 

Kubu kedua, mereka yang senang Ahok dihukum karena kasus penistaan agama, yang entah mengapa dipenuhi rasa takut berlebihan bahwa Islam sedang dalam bahaya, yang menganggap kubu yang berlawanan dengan mereka—yang mendukung Ahok—sebagai kelompok yang hanya pantas tinggal di kerak neraka. Kubu ini tak kalah menggelikan, sebenarnya, merasa seolah semua orang, termasuk Jokowi tentu saja, dan semua kelompok di luar mereka sedang berkonspirasi menghancurkan Islam… Sedang mereka adalah korban yang teraniaya. Mereka menggalang kekuatan dalam festival berjilid-jilid, merasa bahwa kubu mereka selama ini sudah dizalimi dan dikriminalisasi.

Apakah Indonesia terlanjur terbelah se-ekstrem ini? Jika menengok linimasa media sosial kita, rasanya iya. Kita seolah diseret pada kenyataan yang mempertontonkan seteru antara dua kubu, yang keduanya merasa benar sendiri dan ingin menang sendiri. 

Kepada keduanya, aku ingin ungkapkan kemuakanku! 

Kepada kubu pertama: Indonesia tidak runtuh setelah kasus Ahok ini! Tak usah overacting. Berhentilah menganggap bahwa kalian paling mengerti Pancasila dan merasa bahwa kalian paling paham Bhinneka Tunggal Ika. Berhentilah merasa bahwa kalianlah yang paling toleran, pluralis, dan mengerti demokrasi. Bagiku, sungguh kalian tak lebih dari kelompok yang merasa paling toleran tetapi sekaligus bersikap paling diskriminatif pada yang tak sepaham dengan kalian.

Berhentilah mengatakan pada orang lain ‘bigot’ sambil nyinyir memandangi mereka yang berusaha menaruh iman pada agamanya. Jika kalian ingin dihormati sebagai seorang demokrat sejati, berhentilan menganggap kaum Muslim yang menjalankan syariat sebagai kaum onta yang ingin men-Timur-Tengah-kan Indonesia. Berhentilah merasa paling pintar sambil secara serampangan menganggap semua yang berbeda dengan kalian sebagai ‘kaum bumi datar’. Berhentilah merasa paling modern, paling hebat, paling Indonesia, paling Pancasila, paling Bhinneka Tunggal Ika, dengan cara membentur-menturkan NU dengan kelompok Islam lainnya, Banser dengan FPI, sambil memaki-maki para ulama atau habaib yang hanya kalian lihat cela-nya saja.

Jika kalian Muslim, tak usah merasa paling Islam padahal masih ‘fatwa shopping’, memilih dan memilah fatwa yang hanya kalian suka saja. Berhentilah membuli ulama padahal kalian tahu Indonesia ini dulu juga diperjuangkan oleh para ulama hingga ia merdeka! Kalian ini mau ke mana merasa bangga saat sesama saudara Muslim dihina dan dicela? Kalian ini mau dibilang apa saat kalian lebih bangga berasyik-masyuk dengan kelompok yang senang saat agama kalian dilecehkan? Ada apa dengan kalian? Kesetanan apa selama ini?

Kepada kubu kedua: Berhetilah jadi katak dalam tempurung digital! Keluarlah lihat dunia nyata: Orang-orang yang kalian curigai sedang menghancurkan agama kalian itu mungkin saja hanya bagian dari imajinasi kalian yang cengeng dan inferior. Berhentilah merasa bahwa Tuhan hanya milik kalian dan kebaikan hanya ada di pihak kalian. Sadarlah bahwa tafsirmu terhadap sesuatu tak mesti dipaksakan untuk menindas tafsir orang lain yang berbeda tentang hal yang sama. Tak usah merasa benar sendiri, tak usah merasa surga seluruhnya sudah dikavling hanya untuk kelompok kalian saja.

Indonesia ini terdiri dari berbagai suku, etnis, agama, bahasa, golongan, dan seterusnya. Tak usah punya mimpi untuk menyeragamkan semuanya. Tak usah bermimpi untuk bisa mengkonversi semuanya agar mengingkari takdir negeri ini untuk bhinneka. Kalau kalian mau taat beragama, mau menjadi orang yang bertakwa, mau menjalankan syariat selengkap-lengkapnya, silakan, itu hak kalian dan tentu bagus saja untuk kalian… Tetapi jangan memandang sinis orang lain yang berbeda dengan kalian, dong! Jangan mengkafir-kafirkan, menuduh munafik, menunjuk hidung orang lain sebagai pendosa, hanya gara-gara kalian punya imajinasi politik yang berbeda tentang negeri ini. Asal kalian tahu, negara ini tidak didesain untuk menjadi negara agama yang mengandaikan semua penduduknya seragam paham dan keyakinannya.

Ini juga tak kalah penting. Berhentilah mengira bahwa pemimpin yang kebetulan tidak kalian pilih sedang berusaha menzalimi kalian dan mengkriminalisasi idola-idola kalian. Berhentilan berimajinasi bahwa negara ini sedang diazab Tuhan hanya gara-gara yang sedang berkuasa tidak sesuai selera kalian. Dalam politik, bargain utama semua pihak yang bermain di dalamnya adalah kepentingan… Maka semua yang masuk ke dalam arena politik tak suci dan bebas dari semua itu: Ketahuilah semua yang kalian anggap suci telah melakukan dosa bagi kelompok yang berlawanan dengan mereka… dan semua yang kalian anggap pendosa telah berjasa bagi kelompok yang hak-haknya mereka bela. Itulah politik.

Untuk kalian berdua: Inilah Indonesia. Indonesia ini bukan Ahok! Indonesia ini bukan Habib Rizieq! Indonesia ini bukan Jokowi, Megawati, SBY, Prabowo, Wiranto, Gatot Nurmantyo, Anies Baswedan, atau siapapun saja. Indonesia ini bukan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, atau agama apapun saja. Indonesia bukan golongan atau etnis tertentu saja. Indonesia adalah semuanya. Indonesia adalah sintesis dan gabungan dari hal-hal yang kita benci dan kita cintai. Indonesia tumbuh dari berkah dan kebaikan penduduknya, sekaligus dari najis dan dosa mereka yang beranak-pinak di atas tanah dan airnya.

Berhentilah berdebat. Berhentilah berselisih. Berhentilah merasa benar sendiri. Berhentilah ingin menang sendiri. Indonesia ini hancur bukan karena satu kubu sedang berusaha menindas kubu yang lain atau satu kubu dizalimi kubu yang lain. Indonesia ini hancur karena kubu-kubu yang merasa paling layak meng-klaim sebagai Indonesia terus-menerus saling menggerus dan menghancurkan.

Ahok adalah aktor politik. Ia dikalahkan dalam sebuah pertarungan politik, oleh aktor-aktor politik yang kebetulan sedang menjadi lawannya saja. Dan kita semua? Kita semua hanyalah figuran dan pendukung yang disulut emosinya, diobrak-abrik kesadarannya, diadudombakan, dibentur-benturkan psikologi dan mentalnya, untuk kepentingan politik lainnya… Yang direkayasa oleh aktor-aktor politik lainnya. Jika kita ingin keluar dari lingkaran setan politik ini: Sudahlah, tak usah ramaikan panggung sandiwara yang memuakkan ini. Tak usah membentuk solidaritas apapun. Tak usah ‘overacting’.

Untuk kalian semua, tak usah takut tak masuk kubu apapun yang sedang nge-trend akhir-akhir ini, tak usah takut menjadi diri sendiri bahkan jika harus sendirian. Kelak ketika kita mati, kita dikubur sendiri-sendiri di lubang masing-masing.

Aku menuliskan semua ini dengan kesiapan untuk dikatakan apapun, dikomentari apapun, dirisak bagaimanapun. Jika kalian merasakan hal yang sama denganku, silakan disebarkan. Jika kalian tak setuju, hujani aku dengan apa saja yang kalian suka. Terserah saja!

 

FAHD PAHDEPIE


  • Farid Al-Fernass
    Farid Al-Fernass
    2 bulan yang lalu.
    kereen

  • Noni Rosliyani
    Noni Rosliyani
    2 bulan yang lalu.
    Maaf ya Mas Fahd yg sy selama ini sy suka buku2nya. Kali ini sy kok enggak sepakat dgn kalimat "enggak usah overacting".

    Kenapa kami menurut Anda "overacting"? Karena kami ingin dunia tahu bahwa Indonesia ini bukan kaum2 radikal yg selalu menggaung2kan negara khalifah. Sebenarnya jumlah penduduk Indonesia yg pro NKRI jauh lebih banyak drpd orng2 yg fanatis "kaum bumi datar". Tapi kenapa terkesan Indonesia dipenuhi org2 tersebut? Karena kaum majority ini tidak bersuara,takut bersuara, dsb.

    Kalau sudah begini. Inilah saatnya kita bersuara. Menunjukkan bahwa Indonesia itu didominasi org2 NKRI. Terserah dibilang lebay atau overacting. Sekalipun mungkin Indonesia dibilang tidak akan jatuh pasca-Ahok dipenjara. Tapi kalau kasus intoleransi dan ketidakadilan hukum ini tidak disuarakan, bisa jadi suatu saat akan jatuh juga.

  • Am Bend Am Rint
    Am Bend Am Rint
    2 bulan yang lalu.
    Umat islam pun sebenarnya tidak akan membeli jika tidak ada penjual yg memulai lebih dulu.. jika kalian sudah merasa resah dengan kami yg melayani ulah kalian, maka segera berhentilah dari segala ulah kalian ahoker. Untuk ahoker dan jokower.. KALIAN JUAL, KAMI BELI. INGAT ITU!

  • Yudha Capah
    Yudha Capah
    2 bulan yang lalu.
    lebay ah.. gak gitu juga kali mas

  • Abby P
    Abby P
    2 bulan yang lalu.
    Kalau muak dengan pihak-pihak yg ada sekarang kenapa judul tulisan Anda malah mengarah untuk memprovokasi secara negatif kepada salah satu pihak tersebut? Menurut saya Anda pun sudah tidak netral melihat dari pilihan judul untuk artikel Anda. Mengapa tidak ditulis: "Indonesia bukan Ahok, bukan Habib Rizieq, bukan juga Jokowi"? Dari judul artikel Anda ini, isi artikel Anda yang seharusnya mungkin dapat membantu pihak-pihak yang ada mencoba berpikir lebih kritis, malah dapat membuat salah satu pihak menjadi tersulut.
    Salah satu komentator di sini menyebutkan sakit saat Bapak Basuki menggunakan salah satu ayat dari kitab suci agamanya disebut sebagai alat yang dipakai untuk pembodohan; bagaimana dengan agama lain yang selama ini kitab sucinya diolok, diinjak, dibakar, pengikutnya difitnah, dihina, dicemooh, bahkan rumah ibadahnya dihancurkan dan dibom? Saat ini semua pihak sama-sama sakit hati, namun agama seharusnya mengajarkan kasih dan membuat setiap pengikutnya juga penuh dengan kasih, bukan dijadikan propaganda negatif. Yang terutama, seharusnya agama tidak disangkutpautkan dengan segala hal berbau politik.