Anak-anak dan Dunia Tanpa Ayah

Anak-anak dan Dunia Tanpa Ayah

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 01 Mei 2017
Anak-anak dan Dunia Tanpa Ayah

Suatu ketika saat masih duduk di bangku SD saya menyaksikan tayangan serial Kera Sakti di ANTV. Di salah satu episode serial tersebut, Sun Go Kong dan kawan-kawan tiba di sebuah negeri di mana seluruh penghuninya adalah perempuan. Tak ada satupun laki-laki dewasa di sana. Konon, seluruh penduduk laki-laki harus pergi berperang dan anak-anak laki-laki, pada titik tertentu, diwajibkan untuk merantau.

Menariknya, di negeri tersebut seluruh kehidupan tetap dijalankan dengan sistem dan mekanisme sosial sebagaimana mestinya. Meski tak ada laki-laki, semua tugas dan struktur sosial yang membutuhkan peran laki-laki tetap dijaga. Misalnya, dalam satu keluarga, anak perempuan tertua diposisikan seperti ibu, sementara ibu mereka berperan menjadi ayah. Pemimpin kelompok di negeri itu pun dianggap sebagai laki-laki, bersikap dan berperan seperti laki-laki, meski sebenarnya diisi oleh seorang perempuan.

Dulu saya menyaksikan tayangan tersebut dengan keheranan yang mengasyikkan. Imajinasi saya berkelana mencari negeri semacam itu sambil bertanya-tanya, “Bagaimana, ya, jadinya jika di sebuan negeri tak ada satupun laki-laki?” Kini, mengingat episode Kera Sakti tersebut saya bisa mendiskusikan banyak tema di dalam kepala. Pikiran saya menggeliat-geliat menyodorkan aneka konsep dan riset mengenai partriarki, feminisme, teori identitas, peradaban manusia yang terlalu maskulin, dan seterusnya. Tetapi batin saya berhenti pada sebuah term yang belakangan menguat, “a fatherless society”. Masyarakat tanpa ayah. 

***

Apa jadinya jika sebuah masyarakat kehilangan peran ayah di dalamnya? Apa jadinya jika dalam satu keluarga seorang ayah absen di dalam hampir seluruh dinamika kehidupan keluarga tersebut?

Seperti yang digambarkan dalam sebuah episode serial Kera Sakti yang saya ceritakan di atas, rasanya masyarakat kita akhir-akhir ini perlahan berubah menjadi masyarakat tanpa para ayah di dalamnya. Tidak dalam pengertian sesungguhnya, sebab para laki-laki—yang sebenarnya juga ayah—mungkin masih ada di tengah-tengah kita, namun mereka terlalu sibuk mengurusi urusannya sendiri-sendiri, mementingkan diri mereka sendiri. Mungkin mereka pergi ‘berperang’ mencari nafkah untuk keluarga, tetapi mereka lupa nafkah bukan cuma soal materi dan uang… Nafkah juga soal kebahagiaan, kehangatan, dan kasih sayang.

Di sebuah talkshow radio suatu kali saya mencuri dengar seorang ibu yang ‘curhat’ pada narasumber di acara tersebut… Konon, suami si ibu ini terlalu sibuk bekerja sehingga tak terkesan peduli lagi pada anak-anaknya. Ketika dikorek oleh narasumber radioshow tadi, apakah benar sang suami tak peduli dan tak punya waktu lagi untuk keluarga, si ibu menidakkan. Sebenarnya suaminya masih ada di tengah-tengah keluarga, pulang kerja seperti biasa, kadang pergi keluar dan jalan-jalan juga, tetapi ia merasa sang suami tak berperan sebagai ayah untuk anak-anaknya—

Untuk urusan pendidikan, semua diserahkan pada mekanisme sekolah. Untuk bermain, anak-anak hanya dititipkan di tempat permainan. Bahkan untuk mengobrol dan bertukar cerita, hampir tak pernah dilakukan karena anak-anak disibukkan dengan gadget dan sang ayah sibuk dengan handphone-nya.

Mendengar kasus ibu ini, saya segera introspeksi diri. Jangan-jangan, sebagai ayah, saya juga sudah melupakan banyak peran saya untuk Kalky dan Kemi. Lalu saya runut satu-satu: Apakah semua urusan pendidikan saya serahkan pada sekolah? Apakah saya punya waktu bermain khusus dengan mereka? Apakah saya bisa asyik menghabiskan waktu untuk mengobrol dan bertukar cerita dengan mereka? Apakah saya sudah benar-benar hadir di samping mereka, menatap mata mereka, memerhatikan gerak bibir mereka, menangkap semua celotah mereka dengan telinga yang jernih—tanpa gadget dan handphone?

Rupanya, saya sendiri pun perlahan tidak menjadi ayah bagi anak-anak saya. Dengan aneka kesibukan dan waktu yang terpakai untuk kepentingan sendiri, saya kehilangan banyak momen berharga dengan anak-anak. Padahal, momen berharga bersama ayah adalah kenangan paling penting yang akan membentuk fondasi kepribadian dan karakter anak-anak. Jika ayah ada di samping mereka, mereka akan cenderung tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri. Saat mereka tahu ada peran ayah dalam hidup mereka, anak-anak tumbuh dengan kualitas mental dan psikologis yang lebih stabil.

Lalu, apa jadinya jika anak-anak tumbuh tanpa peran ayah di dalamnya? Bisa kita lihat dari karakter anak-anak yang ‘dewasa sebelum waktunya’ di lingkungan terdekat kita. Anak-anak yang dicap ‘nakal’ karena melakukan hal-hal yang seharusnya tidak atau belum saatnya mereka lakukan: Mulai dari merokok, minum minuman kerasa, melakukan hubungan seks, menyalahgunakan narkoba, atau tindakan-tindakan lain yang cenderung represif dan tidak bertanggung jawab.

Pada skala yang lebih besar, seiring waktu fenomena ini kemudian menjadi kebiasaan, menjadi budaya, menjadi karakter. Anak-anak semacam itu tumbuh dengan mental yang sakit dan batin yang terluka. Maka seks bebas menjadi hal yang dianggap biasa, peredaran video porno anak-anak remaja tak dilakukan di bawah tanah lagi, tawuran yang menghilangkan nyawa jadi lazim, perkelahian hingga saling menghabisi menjadi tradisi. Kelak, saat anak-anak ini dewasa, mereka pun tak akan menjadi ayah bagi anak-anaknya… Mereka akan sibuk mencari kebahagiaan mereka sendiri dengan cara-cara yang mengabaikan kasih sayang, empati, dan tanggung jawab di dalamnya. Lalu, apa jadinya jika masyarakat kita dipenuhi orang-orang semacam itu nantinya?

Menjadi ayah sepertinya hal yang sepele, tetapi ternyata tidak. Saya sudah membuktikannya sendiri. Setiap laki-laki bisa menjadi ayah bagi anak yang dilahirkan istrinya, tetapi hanya laki-laki yang bertanggung jawab yang bisa ‘berperan’ sebagai ayah untuk anak-anak mereka. Semua orang perlu belajar sungguh-sungguh untuk bisa mengemban tanggung jawab semacam itu.

***

Semua hal yang saya kemukakan di atas membuat saya merenung: Mungkin sudah banyak juga yang berpikir seperti saya, tetapi kita harus memulainya dengan tindakan nyata. Harus ada langkah konkret untuk memfungsikan lagi peran ayah di tengah masyarakat kita. Para ayah harus diajak untuk kembali menjalankan perannya di tengah tumbuh kembang anak mereka. Mungkin, para ayah harus 'dipaksa' menghabiskan waktu bersama buah hati mereka agar kebersamaan itu menjadi momen idah yang menjadi asupan positif untuk keseimbangan mental dan psikologi anak-anaknya. 

Lantas, apa yang saya lakukan? Pertama, karena saya penulis, saya akan banyak menulis tentang tema ini. Kedua, saya sedang membuat sebuah eksperimen sosial. Sejak dua bulan terakhir, saya dan seorang teman dosen di Binus University, Gatot Soepriyanto namanya, membuat sebuah barbershop (tempat cukur) yang didedikasikan untuk ayah dan anak. Awalnya ini ide bisnis biasa, tetapi kami pikir, kalau kita bisa menyediakan tempat di mana orang-orang bisa merayakan momen "ayah dan anak" rasanya akan sangat menarik dan berguna. 

Maka dibuatkan Father & Son Barberspace. Kami mendirikannya di BSD City, Tangerang Selatan, tepatnya di kompleks Ruko Paris Square. Di sini, kami mendesain sebuah tempat di mana ayah dan anak bisa duduk berdampingan, berbai cerita atau bermain game bersama, sambil menikmati momen bercukur rambut. Sementara sang ibu bisa mengabadikan momen kebersamaan itu melalui kamera ponselnya... Bercukur, atau mengantar anak bercukur, mungkin hanya membutuhkan waktu 30 menit. Tetapi kami percaya 30 menit itu bisa menjadi kenangan berharga yang berefek luar biasa bagi hubungan seorang ayah dan anak.

Mungkin ini langkah kecil. Tetapi saya percaya, jika semua orang mengubah kegelisahan mereka tentang 'fatherless society' menjadi tindakan nyata, meskipun sederhana, perlahan kita bisa memperpendek jarak antara para ayah dengan anak-anaknya dan mengikat kembali ikatan luar biasa di antara mereka. Semoga.

Malang, 1 Mei 2017 

FAHD PAHDEPIE

 

Father & Son Barberspace - Ruko Paris Square, Jl. Letnan Sutopo Blok B2 No.17, Lengkong Gudang Tim., Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten 15310  - Reservasi:+62 822-8220-9784 (Mr. Lalan)