Istriku, Maafkan Jika Jilbabmu Tidak Halal

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Februari 2016
Kata, Rasa, Tanya

Kata, Rasa, Tanya


Sekumpulan tulisan lepas Fahd Pahdepie di berbagai media online.

Kategori Spiritual

154.2 K Hak Cipta Terlindungi
Istriku, Maafkan Jika Jilbabmu Tidak Halal

Istriku, belakangan marak berita mengenai jilbab yang halal. Aku menatap sebuah pesan kiriman seorang teman di layar ponselku, sebuah gambar yang tertulis kalimat tanya di dalamnya, ?Yakin hijab yang kita gunakan halal?? Sebuah pertanyaan provokatif yang berhasil mengguncang ketenanganku siang itu.?

Kemudian aku berpikir tentang jilbabmu, jilbab yang telah kau kenakan sejak SMP. Aku jadi bertanya-tanya, jika pertanyaan itu sampai kepadamu, akan seperti apa reaksimu??

Meski kita sudah enam tahun menikah, untuk yang satu ini aku tak bisa menduga akan seperti apa reaksimu: Buatku, selama enam tahun pernikahan kita, kamu lebih sering tak terduga. Kamu selalu menjadi pribadi yang penuh kejutan. Sedangkan aku adalah lelaki paling beruntung sedunia, sebab kejutan-kejutan itu selalu membuatku menjadi suami yang lebih berbahagia setiap harinya.

Hari itu aku pulang ke rumah dengan pertanyaan yang menggantung di pikiran. Dan aku tak sabar menunggu kejutan apa yang akan kamu tunjukkan ketika aku mengajukan pertanyaan yang sama buatmu.

Setibanya di rumah, kamu membuka pintu, seperti biasa. Senyummu mengucapkan selamat datang, seperti biasa. Tapi kali ini tatapanku tertahan di jilbab cokelatmu, tidak seperti biasa. Pertanyaan tadi masih menggangguku. Hingga aku tak bisa menahan diri untuk mengajukan pertanyaan itu, ?Mi, yakin jilbab yang kamu kenakan selama ini halal?? Tanyaku.

Kita terdiam beberapa saat. Es mencair dalam pikiran. Dan kamu tiba-tiba tertawa, sesaat setelah menyebutkan sebuah merek hijab yang tak pernah kamu beli itu.

Aku ikut tertawa ketika kamu mengibaskan lengan kananmu. Kamu memang mengejutkan. Aku tak mengantisipasi kemungkinan ini, bahwa kamu hanya akan tertawa ketika mendengar petanyaanku. Tapi aku masih penasaran. Aku belum tahu jawabanmu. ?Kenapa tertawa?? Tanyaku.

?Mahal.? Jawabmu, pendek.?

Kini aku tahu mengapa kamu tertawa.

Kita berdua memasuki rumah. Aku berjalan di belakangmu. Menutup pintu rumah dan mengikuti langkah-langkah kakimu yang jenjang. Tapi, lagi-lagi tatapanku tertahan di lambai kain kerudungmu.

Istriku, apakah jilbab yang kamu kenakan selama ini halal? Pertanyaan itu kini meneror ke dalam batinku: Suami macam apa aku jika selama ini aku membiarkanmu memakai hijab yang tak halal??

Tak lama, kita duduk berdua di atas sofa. TV di hadapan kita tidak menyala. Dan kamu terus bercerita tentang apa saja: Anak-anak, tetangga, kecoa di kamar mandi, juga rencana belanja bulanan malam nanti. Tapi, bagaimana jika jilbab yang kau kenakan tidak halal? Pertanyaan itu benar-benar menggangguku.

Aku jadi punya rencana membelikanmu hijab yang halal itu, yang sudah diberi sertifikat halal oleh Majelis Ulama Indonesia. Rencana itu sedikit membuatku tenang. Tapi, tiba-tiba muncul pertanyaan lain yang membuatku lebih gelisah lagi: Seandainya aku membelikanmu jilbab yang halal, bagaimana jika uang yang kupakai untuk membelinya tidak sepenuhnya halal? Masihkan jilbab itu akan menjadi jilbab yang halal?

Istriku, suami macam aka aku jika selama ini menafkahimu dengan cara yang tidak halal? Suami macam apa aku jika selama ini membiarkanmu membelanjakan dan menggunakan harta yang haram?

Di antara semua pertanyaan yang bermunculan dalam kepala, di antara segala yang menggelisahkanku sore itu, hanya kalimat almarhum guruku yang cukup menenangkanku. Sebuah kalimat yang ia ambil dari sebuah prinsip ushul fiqh, ?Segala sesuatu di dunia ini halal,? katanya, ?Kecuali yang diharamkan oleh Allah.?

Aku menghela nafas panjang.

?Kamu capek banget, ya?? Tanyamu waktu itu, ?Kok dari tadi diem aja?? Lalu kamu berdiri dan berjalan ke arah dapur.

?Enggak, kok,? Jawabku, pendek. ?Lagi banyak pikiran aja,? sambungku.

?Gaya!? Aku suka responsmu. Aku suka caramu mengakhiri kata itu dengan tawa renyah di belakangnya.

Aku ikut tertawa.

?Minum apa?? Tanyamu.

?Air dingin aja.?

Kamu mengangguk dengan lengkung senyum di wajahmu. Kerudungmu menyentuh lenganmu?

Istriku, maafkan aku jika jilbabmu tidak halal. Tentu itu bukan salahmu? tetapi aku. Maka bila Tuhan tak berkenan karenanya, biarkanlah aku yang menebus semuanya.

?

Ciputat, 4 Februari 2016

FAHD PAHDEPIE


  • ghunkz zaputra
    ghunkz zaputra
    1 tahun yang lalu.
    keren nih...

  • Dedy Rahmat
    Dedy Rahmat
    1 tahun yang lalu.
    Sangat menginspirasi. Hidup harus jujur dan bersih sehingga apapun yg kita gunakan, dan makan menjadi halal. Saya mudeng segini aja....

  • IZzati Ruba'ie
    IZzati Ruba'ie
    1 tahun yang lalu.
    lalu bagaimana dengan semua perempuan yang berjilbab dengan tidak memakai kerudung halal tersebut???ikut resah kang..krna kami juga berjilbab dan tidak semua memakai jilbab yang kata MUI tu halal

  • Dewi Tara
    Dewi Tara
    1 tahun yang lalu.
    Sungguh sangat aneh mengatakan jilbab tidak halal karena materialnya, yang beredar dimedia sosial itu meresahkan masyarakat. Dalam proses tekstil memang hampir semua kain akan di gelatin dengan zat yang biasanya mengandung minyak babi, setelah itu kain mengalami proses pemasakan dan pencucian sehingga bersih dari zat zat tersebut. Dan kita hidup tak berdasar pada fatwa MUI tapi pada Al-Quran dan Al-Hadist. Kalau memang MUI mau bener dtg tuh ke pasar tasik thamcit. Tutup semua yang jualan kerudung krn klaim tidak halal.Its funny thing. hhmm. Sama hal nya ketika kita kena liur anjing dan sudah membersihkannya tetapi masih ragu sudah bersih atau belum sah atau tidak dpake shalat, akhirnya krn ragu jadi ga shalat. At the end orang nanti enggan pakai kerudung. Maaf bang fahd jad tsurhat, abis kesel banget sama reklame produk itu. hehe

  • Eka Augustina
    Eka Augustina
    1 tahun yang lalu.
    Sebenernya dibilang halal dari mananya ya????