Hidup untuk Membantu Sebanyak Mungkin Orang

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 04 April 2017
Hidup untuk Membantu Sebanyak Mungkin Orang

Suatu ketika saya berada di tengah situasi yang sangat berat. Waktu itu saya berpikir apakah Tuhan setega ini memberi soal ujian yang tak bisa saya selesaikan? Pikiran saya fokus pada masalah yang saya hadapi. Dengan cara apapun saya melihatnya, masalah itu tetap ada, tetap besar, dan tak bergeser sedikit pun! Kemudian saya terantuk pada sebuah pertanyaan kecil: Bagaimana jika saya bukan diri saya sendiri?

Pertanyaan itu membuat saya terdiam, mengalihkan fokus saya dari masalah yang hampir menutupi semua jalan pikiran saya sebelumnya. Jika saya bukan diri saya, apakah masalah itu tetap ada? Dan saya sampai pada sebuah jawaban yang tak pernah saya rencanakan sebelumnya: Jika saya bukan diri saya, masalah itu mungkin masih ada, tetapi cara saya melihatnya akan berbeda.

Situasi itu membawa saya pada sebuah pemahaman baru, bahwa besar atau kecil sebuah masalah, terasa mungkin diselesaikan atau terasa mustahil dilewati, semua bergantung pada cara kita memandangnya… Dan ternyata cara pandang kita sangat ditentukan oleh di mana tempat kita berdiri.

Jika kita berdiri di satu tempat dan ada masalah sebesar gunung tepat satu centimeter di hadapan kita, mungkin kita merasa seolah jarak pandang kita terbatas. Kemanapun kita melihat, masalah itu seolah hampir menutupi semuanya. Tetapi kita lupa satu hal, kita bisa melangkah mundur dan mendapatkan jarak pandang yang baru, kan? Cara melihat masalah itu dari sudut pandang yang baru.

***

Salah satu pelajaran penting yang paling mengubah hidup saya adalah sebuah episode dalam serial anak-anak Dora the Explorer. Ketika itu Dora sedang berdebat dengan teman keranya yang ia ajak kemanapun pergi, Boots namanya. Boots bertanya kepada Dora apakah anak perempuan itu bisa melompat lebih tinggi dari gunung? Dengan enteng Dora menganggukkan kepala dan menjawab ‘bisa’. Boots tentu saja keheranan, bagaimana caranya seseorang bisa melompat lebih tinggi dari gunung? Ia berusaha menjelaskan kepada Dora bahwa itu tak mungkin dilakukan.

Mendengarkan argumen Boots, Dora hanya tersenyum. Lalu tanpa banyak bicara ia mengajak Boots untuk melompat. Sambil masih merasa heran Boots mengikuti Dora yang melompat. “Lihat, kan?” Kata Dora setelah melompat, “Kita bisa melompat lebih tinggi dari gunung manapun!” Boots mengernyitkan dahi, “Kok bisa?” Tanya Boots. “Tentu saja bisa,” Jawab Dora, “Sebab gunung tak bisa melompat!

Episode itu memberi saya pencerahan terbaik tentang cara melihat masalah dari sudut pandang yang lain. Kini, jika saya mengatakan bahwa saya bisa memindahkan gunung dari sisi kiri saya ke sisi kanan saya, mungkin akan ada orang yang menyebut saya gila. Namun, mereka mungkin luput pada satu hal: Saya memang tak mungkin memindahkan gunung itu dengan cara apapun, tetapi saya bisa melangkah atau berjalan atau berlari dari tempat saya berdiri ke sisi gunung yang lainnya. Misalnya semula gunung itu terdapat di posisi pandang sebelah kanan saya, saya bisa bergerak dan memindahkannya ke posisi pandang sebelah kiri saya, kan?

Dengan cara berpikir seperti itulah saya meloloskan diri dari satu masalah ke masalah lain. Ada sebagian teman yang menganggap hidup saya baik-baik saja dan tanpa masalah, katanya kelihatannya saya bisa menghadapi semua masalah dalam hidup saya dengan mudah… Mereka mungkin tak tahu saja. Saya juga menghadapi masalah yang bahkan mungkin lebih berat daripada orang lain. Bedanya, kini saya punya cara pandang baru dalam melihat hampir semua masalah.

***

Bagaimana jika saya bukan diri saya sendiri? Pertanyaan itu mendatangi saya untuk kali kedua. Kali ini saya melihat banyak orang yang menghadapi masalah besar dalam hidupnya. Masalah yang menurut mereka seolah menghantam mereka dengan cara paling mengerikan… Masalah yang membuat mereka punya pertanyaan yang sama dengan saya dulu: Mengapa Tuhan setega itu memberi soal ujian tanpa kisi-kisi jawaban?

Berbekal itu saya membuat tekad baru. Saya ingin membantu sebanyak mungkin orang untuk mencari sudut pandang baru dalam melihat masalah mereka. Lebih jauh, mudah-mudahan saya bisa turut memberikan solusi atau jalan keluar untuk memecahkan batu permasalahan yang membebani orang-orang di sekeliling saya itu.

Untuk itulah saya menulis, untuk itulah saya membuka banyak usaha, untuk itulah saya datang dari satu seminar ke seminar lain, dari satu talkshow ke talkshow lain, untuk itulah saya berusaha membantu orang lain dengan cara apapun yang saya bisa. Saya ingin membantu sebanyak mungkin orang untuk menemukan sudut pandang baru dalam hidupnya. Yang saya lakukan mungkin sederhana saja, bukan hal yang hebat-hebat, bukan bantuan yang wah, tetapi mudah-mudahan dengan semua yang saya lakukan itu saya bisa memberi sedikit lubang kecil dalam hidup orang lain yang dianggap sudah pengap dan sempit. Dengan lubang itu, saya akan bahagia jika mereka memiliki harapan baru, optimisme baru…

Saya percaya hidup kita akan semakin berat jika kita hanya mementingkan diri kita sendiri… dan akan lebih ringan jika kita berusaha meluaskan jaungkauan kita untuk membantu sebanyak mungkin orang. Konon, di situlah berkah berada. Di sanalah rejeki-rejeki terbesar milik Tuhan bersemayam. Jika rejeki adalah sesuatu yang masuk ke dalam dan keluar dari dalam diri kita, maka kita tak bisa hanya mengandaikan sesuatu masuk sebanyak-banyaknya ke dalam diri kita tanpa kita punya saluran sebanyak-banyaknya untuk mengeluarkannya dari dalam diri kita. Make sense, kan?

Kita mungkin tak bisa jadi superhero, kita tak punya kekuatan hebat untuk menyelamatkan dunia. Tetapi, kita bisa menjadi manusia biasa, yang menapak ke bumi dan membutuhkan waktu untuk memotong kuku, tetapi punya kelebihan untuk membuat hidup kita berharga: Dengan membantu sebanyak mungkin orang lain.

***

Di akhir tulisan yang agak panjang ini saya ingin memberikan satu ilustrasi terakhir: Saat kita melihat seekor semut berjalan menuju garis kapur ajaib yang kita guratkan di lantai, kita sudah tahu hidup semut itu akan berakhir sebentar lagi. Tetapi si semut sama sekali tidak tahu, ia hanya terus berjalan mendekati garis kematiannya.

Apa yang membedakan kita dengan semut tadi? Kita berada di dimensi yang lebih tinggi. Kita memiliki pengetahuan lebih luas. Kita memiliki cara pandang yang melampaui batas-batas cara pandang semut terhadap kenyataannya.

Jadi, saat kita punya niat dan keinginan untuk membantu orang lain, apakah kita harus kaya dulu? Apakah kita harus punya uang yang melebihi batas kebutuhan kita dulu? Apakah kita harus punya jabatan, koneksi, atau previledge lainnya? Menurut saya tidak. Kita bisa memulai dengan menawarkan cara pandang yang segar, mengajak orang untuk mengalami dimensi yang lebih tinggi, atau memberinya sedikit suntikan semangat dan pelajaran yang tak menggurui apalagi menghakimi.

Mudah-mudahan itu cukup untuk mengkonversi diri kita menjadi penolong sebanyak mungkin orang. Dengan cara apapun yang kita bisa. Untuk itulah tulisan ini dibuat. Hidup ini terlalu berharga untuk dijalani demi kepentingan-kepentingan kita sendiri, terlalu sayang untuk dihabis-habiskan dengan debat tak bermutu di media sosial… Mudah-mudahan Anda tertarik bergabung dengan saya di gerakan ini… Tanpa uang pendaftaran, tanpa deposit. 

 

Ciputat, 4 April 2017 

FAHD PAHDEPIE