Ketika Seorang Ulama Meninggal Dunia...

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Renungan
dipublikasikan 16 Maret 2017
Ketika Seorang Ulama Meninggal Dunia...

“Kiai, mengapa Anda begitu murung?” Akhirnya aku tak tahan juga. Sudah hampir tiga puluh menit aku duduk berhadap-hadapan dengan Kiai Husain, tetapi ia tak banyak bicara. Cenderung murung. Ia hanya menjawab pendek beberapa pertanyaan yang kuajukan.

“Nanti kau akan tahu sendiri,” jawabnya. Ringkas. “Hari ini semesta sedang berduka.”

Aku menarik diri, meski sebenarnya ingin mengungkapkan kebingunganku. “Baik, Kiai…” Suaraku melandai.

Aku bisa membaca gerak bibir Kiai Husain yang mengucapkan istigfar secara berulang-ulang, sementara wajahnya begitu murung, gelisah sekaligus sedih.

“Maaf Kiai… Apakah ini tentang kabar duka meninggalnya Kiai besar itu?” Aku teringat sebuah berita yang baru saja kubaca pagi tadi. Tapi dari mana Kiai Husain tahu? Aku belum memberitahunya. Ia tak punya handphone, tak juga membaca koran. Bukankah selama ini ia mengetahui berita-berita terkini dariku saja?

Kiai Husain terkesiap, menatapku sejenak, lalu menarik nafas panjang. “Ketika seorang Kiai pergi meninggalkan kita, semesta diliputi kesedihan. Nanti kau akan tahu sendiri, kau akan merasakannya…”

Aku sadar, sepertinya ini sesuatu di luar pemahamanku. Tetapi aku harus belajar bersabar. Kiai Husain tak suka didesak dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Mari kita bacakan Al-Fatihah dan berdoa untuk beliau,” ujar Kiai Husain. Aku menatapnya, lalu buru-buru mengangguk, “Tak ada yang paling diinginkan oleh mereka yang mengerti tentang kehidupan setelah kematian kecuali pergi dengan penutup yang baik, husnul khotimah.” Sambung Kiai Husain.

Kiai Husain sudah memulai Fatihahnya, saat aku sadar sudah tertinggal dua ayat. Kemudian aku lekas mengejarnya.

Usai membacakan sejumlah doa, Kiai Husain mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Aku menunggu sesuatu yang akan ia katakan kemudian—

“Nak,” Gumamnya. Sudah kuduga Kiai Husain akan mengatakan sesuatu. Aku sudah mengenalnya cukup lama.

“Iya, Kiai… Saya mendengarkan.” Jawabku.

“Ketika seorang ulama meninggal dunia, kita tidak hanya kehilangan tubuhnya, kehadirannya, suaranya, senyumnya… Yang paling membuat sedih dari kepergiannya adalah karena kita kehilangan ilmu dan teladannya.”

“Maaf, Kiai,” aku memotong Kiai Husain, “Bukankah ilmu seroang ulama itu tetap bisa diajarkan? Bukankah ilmu itu akan tetap abadi? Dan teladan, bukankah teladannya akan tetap bisa diceritakan?”

Kiai Husain tersenyum. Lalu menggelengkan kepalanya. “Kita tak punya lagi tempat bertanya. Kita kehilangan kompas untuk mengatur sikap dan memantaskan akhlak,” jawabnya.

Aku terdiam.

“Seseorang menjadi ulama bukan karena ia memiliki pesantren atau santri yang banyak. Seseorang menjadi Kiai bukan karena ia sudah tua dan kebetulan menghafal beberapa dalil agama. Seseorang menjadi ulama, menjadi kiai, karena ia diamanahi Allah untuk menjadi ‘sales marketing’-nya Allah… Coba kau tengok perusahaan-perusahaan besar, para ‘sales marketing’ adalah mereka yang benar-benar dipilih secara hati-hati karena merepresentasikan citra dan wajah perusahaan itu, bukan? Mereka mungkin sesekali dihina atau direndahkan orang lain, tetapi perusahaan begitu menyayangi mereka karena baik atau buruknya perusahaan di mata banyak orang tergantung pengetahuan, pengalaman, dan sikap yang mereka miliki…”

Aku masih berusaha memahami arah pembicaraan Kiai Husain.

“Maaf kalau kali ini aku agak melantur.” Kiai Husain tampaknya menyadari ada sesuatu yang mungkin belum pas ia jelaskan, “Aku hanya ingin mengatakan bahwa ketika seorang ulama, seorang Kiai meninggal dunia, kita telah kehilangan mereka yang menjadi perantara untuk memahami agama Allah.”

“Saya mengerti, Kiai.” Ujarku.

“Ketika seorang ulama meninggal dunia, para malaikat bingung apakah mereka harus berbahagia atau bersedih.”

“Kenapa begitu, Kiai?”

Kiai Husain mendehem, membersihkan sesuatu yang mengganggu di tenggorokannya, “Di satu sisi mereka berbahagia karena mereka akan menyambut ruh orang saleh yang akan membersamai mereka. Tetapi di sisi lain, mereka bersedih karena dunia kehilangan satu pelita… Mereka bersedih karena mereka tahu cara Tuhan memadamkan cahaya dunia dengan mematikan para ulama.”

Aku terbengong mendengarkan penjelasan Kiai Husain ini. Ternyata betapa besarnya kehilangan seorang ulama. Betapa rugi.

“Hari ini kau pulanglah, Nak.” Ujar Kiai Husain. Aku mengangguk. “Pulanglah. Ambil wudhu. Baca al-Quran. Bertaubatlah kepada Allah. Pelajari lebih serius lagi ilmu dan agama Allah. Sebab jika kita tidak berusaha menghidupkan lagi cahaya dunia dengan cara semacam itu, dunia ini akan gelap…”

Aku terdiam. “Apakah orang biasa yang penuh maksiat seperti saya bisa menggantikan seorang ulama, Kiai?”

Kiai Husain terdiam. “Hanya Allah yang tahu. Allah memilih wakilnya sendiri. Allah menentukan ‘sales marketing’-nya sendiri…” Ujar Kiai Husain, “Tapi, ketika Allah memanggil pulang seroang ulama, itu adalah momen ketika seorang hamba dijemput tuannya… Momen ketika seorang kekasih diminta pulang oleh Yang Menyayanginya.”

Kiai Husain terdiam beberapa saat, kini suaranya bergetar, “Kita tak tahu apakah bisa menggantikan seorang ulama atau tidak. Tetapi kita bisa bertaubat dan berusaha untuk menjadi seorang hamba yang taat, menjadi kekasih yang ingin dicintai Allah-nya…”

Tiba-tiba, ada perasaan asing yang menyeruak dalam dadaku. Rasa sedih yang mengguncangkan. Rasa sedih yang tak bisa kujelaskan. Seolah-olah semesta ini diliputi kesedihan. Seolah-olah udara menjadi dingin dan biru… Apakah suasana ini yang tadi dimaksud Kiai Husain?

Entahlah. Aku hanya bisa tercenung saat menyadari Kiai Husain tengah menatap ke kejauhan. Air mukanya semakin sedih, “Suatu hari, akan tiba giliranku meninggalkan semua ini….” Ujarnya.

… Selamat jalan KH. Hasyim Muzadi. Terima kasih telah menjadi salah satu pelita yang menerangi dunia.

 

Ciputat, 16 Maret 2017

FAHD PAHDEPIE