Ketika Agama dan Tuhan Saja Bisa Engkau Sepelekan…

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 19 Februari 2017
Ketika Agama dan Tuhan Saja Bisa Engkau Sepelekan…

“Baca lagi saja surat An-Naas.” Jawab Kiai Husain ketika aku bertanya tentang bagaimana menghadapi orang-orang yang kukira telah merendahkan para ulama, agama, bahkan Allah. 

Aku gelisah belakangan ini orang-orang begitu nyinyir kepada para ulama… Tak cukup sampai di situ, bahkan agama dan Allah pun bisa mereka anggap sebagai bahan olok-olok belaka.

Takbir yang sakral mereka anggap lelucon semata. Kecintaan umat kepada agama dan Al-Quran mereka anggap bagian dari kepura-puraan saja. Aku merasa harus bertanya pada guruku tentang semua ini… Apakah salah jika aku gelisah dan bertanya-tanya? Kata mereka, jangan bawa-bawa agama ke dalam urusan dan kepentingan dunia… Benarkah agama tak boleh ikut campur pada urusan dunia? Jika Tuhan telah bersemayam dalam hati, bagaimana caranya mengusirNya untuk tak terlibat dalam pilihan-pilihan yang tidak bisa tidak melibatkan hati? 

“Mereka harus membaca lagi surat An-Naas, Kiai?” Aku memastikannya sekali lagi.

Tetapi, Kiai Husain menggelengkan kepala, sambil tersenyum. “Kau yang baca, Nak.”

“Saya, Kiai?” Aku menunjuk hidungku sendiri. 

Kiai Husain mengangguk. “Kau akan mengerti setelah membacanya seratus kali.”

Ini tak masuk akal. Aku meminta pandangan dan nasihat Kiai Husain tentang orang-orang yang kubenci itu, mengapa kini aku yang harus membaca surat An-Naas seratus kali?

“Tapi… Tapi, Kiai…” 

Kiai Husain melangkah pergi, “Kembali lagi kepadaku setelah kau membacanya seratus kali.” Katanya.

Aku tertunduk lesu. Rasanya terlalu kurang ajar jika aku harus mempertanyakan lagi perintah ini kepada Kiai Husain. Rasanya tak sopan. Meski aku yakin Kiai Husain belum mengerti maksudku…

***

Keesokan harinya aku mendatangi Kiai Husain lagi. “Kiai, saya sudah membaca An-Naas sebanyak seratus kali. Apa yang istimewa dari membacanya seratus kali?”

“Sekarang, apakah kau sudah mengerti?” Tanya Kiai Husain. 

Apa yang aku mengerti? Bahkan perintah ini juga tak saya mengerti! Rasanya ingin melontarkan kalimat ini kepada Kiai Husain. Tapi aku tak punya cukup keberanian untuk mengucapkannya. Aku hanya menggelengkan kepala.

Kiai Husain terkekeh. Aku makin tak mengerti pada keinginan dan rencana Kiai Husain kepadaku.

“Kalau begitu, kau baca lagi seribu kali. Nanti datang lagi setelah kau membacanya seribu kali."

Hari itu, aku pulang dari rumah Kiai Husain dengan perasaan mangkel dan pikiran yang bingung. Aku pamit pada Kiai Husain sambil mencium tangannya dan berjalan gontai meninggalkan pekarangan.

***

Tiga hari kemudian aku datang lagi pada Kiai Husain. “Saya sudah membacanya seribu kali, Kiai!” Aku berkata dengan bangga.

Kiai Husain mengangguk-angguk, “Alhamdulillah,” gumamnya, “Kini, apakah kau sudah mengerti?”

“Jujur, Kiai, saya merasa lebih tenang setelah membacanya seribu kali. Tapi saya tak mengerti apa sebenarnya maksud Kiai meminta saya membacanya sampai seribu kali? Saya mulai curiga, jangan-jangan Kiai belum mengerti maksud pertanyaan saya?”

Kiai Husain terkekeh sambil meletakkan cangkir besar berisi teh pahit kesukaannya. Ia mengerlingkan matanya ke arahku, “Apakah aku perlu memintamu membaca lagi seratus ribu kali?” Tanyanya.

Aku mengangkat tangan, memberi gestur minta ampun. “Tidak, Kiai, cukup. Membaca seribu kali setelah sahalat saja aku harus membaginya ke dalam beberapa waktu shalat. Kalau seratus ribu kali, aku akan kehilangan banyak waktu untuk mengerjakan tugas-tugas yang lain!”

Kiai husain mengangguk-anggukkan kepala. “Baiklah,” katanya, “Kau tak perlu membacanya sampai seratus ribu kali. Tetapi kau harus mengerti…”

“Mengapa harus seratus kali, Kiai? Mengapa harus seribu dan seratus ribu? Apakah amalan ini ada petunjuknya dari Rasulullah?”

Kiai Husain menggelengkan kepala. “Tidak ada.”

“Lalu kenapa saya harus membacanya ribuan kali?”

“Apakah seratus kali itu lebih banyak dari satu kali?” Tanya Kiai Husain.

Aku mengangguk.

“Apakah seribu dan seratus ribu itu lebih banyak dari seratus?”

Aku mengangguk lagi. Masih belum mengerti.

“Nah, itulah.” Ujar Kiai Husain, enteng. “Aku hanya memintamu membacanya banyak-banyak. Angka-angka itu sebenarnya tak terlalu penting. Aku hanya ingin kau mengulang-ulangnya sampai paham dan mengerti!” Nada Kiai Husain mulai meninggi.

Aku mengangguk. Jika Kiai Husain sudah bicara dengan nada seperti ini, aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

“Lagipula, apakah kau sudah mengerti?” Kiai Husain terus mengejarku.

“Belum, Kiai…” Suaraku pelan dan nadanya melandai.

“Katakanlah aku berlindung kepada Rabb-nya seluruh manusia.” Ujar Kiai Husain. Aku mengerti itu terjemahan dari ayat pertama surat an-Naas. “Rabb itu pemelihara, Tuhan yang menyifati dirinya bukan sebagai Tuhan yang disembah belaka, tetepi Tuhan yang memiliki kemampuan, kehendak, kekayaan, dan seluruhnya untuk memelihara seluruh umat manusia. Manusia itu beragam, bentuknya, sufat-sikapnya, karakternya, latar belakangnya, sukunya, bangsanya, ketertarikannya, segalanya. Dan Allah memelihara mereka semua… Allah lah Tuhan mereka semua… Baik mereka beriman kepada Allah atau tidak, takut kepada Allah atau tidak, posisi Allah tak sedikitpun goyah atau tergeser… Allah tetaplah Tuhan semua manusia…”

Aku masih meraba-raba ke mana arah pembicaraan Kiai Husain ini. Tetapi mulai mendapatkan pencerahan dan pengetahuan…

Kiai Husain melanjutkan lagi, “Allah juga raja dari semua manusia itu. Allah penguasa yang tak terbatas kekuasaannya. Kau tersinggung pada mereka yang mengolok-olok agama Allah bahkan Allah sendiri? Itu bagus. Imanmu bekerja dengan baik. Rasa takwamu menunjukkan perbedaannya dengan orang lain. Tetapi, apakah dengan olok-olok dan tingkah laku mereka semua itu lantas Allah kehilangan kekuasaannya? Lantas Allah tidak lagi menjadi penguasa semua manusia? Tidak, Nak. Sama sekali tidak.” Kiai Husai menggeleng-gelengkan kepala, “Mereka hanya tidak mengerti. Mereka tidak tahu. Seandainya mereka tahu seperti apa kekuasaan Allah…”

Aku mengangguk-angguk.

“Allah adalah satu-satunya Tuhan yang harus dan layak disembah oleh semua manusia itu. Jika mereka tak takut kepada-Nya? Jika mereka tak memperlakukan-Nya sebagaimana mestinya? Yakinlah bahwa mereka sedang menciptakan penderitaan mereka sendiri, Anakku. Bukankah sombong dan menyepelekan manusia saja seseorang bisa berurusan dengan masalah serius? Bayakngkan jika mereka menyepelekan dan sombong kepada Allah! Kau tak usah gelisah. Kau tak usah khawatir. Gelisah dan khawatirlah kalau kau yang menyepelekan dan mengolok-olok Allah dan agama yang diturunkannya untuk manusia…”

Tiba-tiba, kalimat-kalimat Kiai Husain ini menampar-nampar batin kesadaranku.

Qul a’udzu bi rabbin-naas, maalikin-naas, ilaahin-naas, min syarril was wasil khannaas…” Suara Kiai Husain menjadi serak, “Katakanlah aku berlindung kepada Tuhan Manusia. Raja Manusia. Sembahan Manusia. Dari kejahatan, bisikan setan, yang tersembunyi…”

Aku menundukkan kepala. Mengapa selama ini aku luput dari kesadaran ini? Bukankah ini yang seharusnya aku lakukan? Mengapa aku tak pernah berdoa kepada Allah? Mengapa aku justru gelisah, kecewa, marah dan bertanya-tanya? 

“Tahukah kau apa bisikan setan dan kejahatan yang tersembuyi itu?” Kiai Husain bertanya lagi.

Aku menggelengkan kepala.

Al-ladzi yuwaswisu fii shuduurin-naas… Mereka yang membisikkan kejahatan itu ke dalam dada manusia, ke dalam dadamu…” Kiai Husain mengarahkan telunjuknya ke dadaku, “Minal jinnati wan-naas… Dari golongan jin dan manusia.”

Aku menarik nafas. 

“Mengapa Allah memilih kata ‘shudur’ yang artinya dada? Mengapa Allah tidak berfirman ‘fii qulubin-naas’ yang artinya hati manusia?” Kiai Husain bertanya lagi.

Aku menggelengkan kepala. 

“Dada adalah sebuah ruang. Rongga. Apa yang terdapat di ruang itu? Hati.” Kiai Husain menunjuk ke dadanya. “Hati itu ibarat rumah, dada itu lingkungannya. Setan tak memiliki kemampuan untuk memasuki hatimu, setan tak bisa berbisik di hatimu, setan tak bisa memasuki rumahmu… Ia hanya bisa berbisik-bisik di sekelilingnya saja, di dadamu saja. Tetapi, apakah kau bisa membuat setan masuk ke dalam hatimu? Ke dalam rumahmu? Bisa. Kau sendirilah yang membukakan pintu atau tidak membukakan pintu untuknya!”

“Setan akan mengetuk pintu rumahmu, merayumu, mengganggumu dengan hal-hal yang menjengkelkanmu, mengemis-ngemis agar kau membiarkannya masuk… Dengan apa? Dengan berita-berita. Dengan perdebatan-perdebatan yang panjang. Dengan olok-olok kepadamu, kepada agamamu, kepada Tuhanmu. Mereka menginginkamu membuka pintu rumahmu!” 

“Apa yang terjadi ketika kau membuka pintu rumah? Setan akan masuk dan tinggal di sana. Ia akan mendekorasi ulang rumahmu, mengganti catnya, mengatur ulang posisi-posisi perabotan di dalamnya. Saat kau membiarkan setan masuk ke hatimu, kau akan kehilangan kendali pada rumahmu sendiri. Itulah ketika hatimu menjadi sakit, fii quluubihim maradhun. Jika kau tak bisa segera menyembuhkan hati yang sakit itu, Allah akan menambah penyakit itu, fazaadahumullahu marardha…” 

“Jangan sampai bisikan itu, olok-olok itu, kenyinyiran-kenyinyiran itu, masuk dan menguasai hatimu! Sebab ia akan membuatmu terus merasa gelisah. Ia akan membuatmu mengumpat, menghina balik, atau bahkan melakukan tindakan-tindakan yang tidak kalah keji dan terhina dengan orang-orang yang sebelumnya kau benci itu. Maka berhati-hatilah… Berlindunglah kepada Allah dari bisikan-bisikan setan di dadamu. Jangan biarkan bisikan-bisikan itu masuk ke hatimu!” 

Aku tercengang mendengarkan penjelasan Kiai Husai. Pipi-pipi kesadaranku rasanya ditampar-tampar.

“Siapakah mereka yang berbisik-bisik di dada itu, Kiai?”

Kiai Husain terdiam sejenak, sebelum melanjutkan, “Minal jinnati wan-naas… Dari golongan jin dan manusia. Nak, setan itu bukan makhluk. Ia adalah sifat, karakter… Kau tahu sendiri maksudku.”

Aku mengangguk perlahan.

“Sebelum kau pulang, aku ingin menitipkanmu satu hal. Prinsipmu sudah kuat. Itu bagus. Sama sekali tak ada salahnya kau punya perasaan ingin membela agama, Al-Quran dan Allah. Teruslah punya perasaan semacam itu. Jika kau memutuskan atau memilih sesuatu karena Allah, memang itulah yang harus kau lakukan. Aku hanya ingin kau tak menjadi orang yang membiarkan bisikan setan memasuki hatimu…" 

“Saya mengerti, Kiai. Terima kasih banyak…”

Kiai Husain tersenyum. “Jika kau tak bisa bersama-sama para ulama dan orang-orang saleh untuk berbondong-bondong menjaga kesucian agama Allah… Bersatulah dengan para pendosa yang berlomba-lomba untuk bertaubat kepada Allah, yang tak rela Tuhan yang mereka kejar sambil berlari dan berderai air mata diolok-olok dan dihinakan!”

  

Bandung, 19 Februari 2017

 

FAHD PAHDEPIE

Penulis novel Angan Senja Senyum Pagi (Falcon Publishing, 2017)


  • Anggie Yulia
    Anggie Yulia
    5 bulan yang lalu.
    MasyaAllah, speechless..
    Kadang kita merasa sudah hijrah dengan pembelaan bermacam-macam kepada agama Allah, padahal syaitan mendekornya begitu, dan Qt masih disitu-situ saja tidak beranjak sedikitpun.

  • Maya Maztreeandi
    Maya Maztreeandi
    8 bulan yang lalu.
    Berdesir darah bacanya, Kang. Inilah penjelasan untk "hidupmu adalah hasil keputusanmu". Memang kitalah yang mengontrol hati kita. Mau merasa senang atau susah, kita yang menentukan. Bukan pihak lain. Gak ada gunanya menyalahkan orang lain.

  • like ermeisi mursid
    like ermeisi mursid
    8 bulan yang lalu.
    masyaallah..sampe menetes air mata baca nya..

  • andha mohammad
    andha mohammad
    8 bulan yang lalu.
    mashaAllah mas Fahd sangat menginspirasi... semoga semakin banyak manusia yang bisa membentengi "rumah" mereka dari "tamu yang tak diundang" itu, dan semakin cerdas dalam mengantisipasi isu dan masalah yang marak terjadi saat ini, khususnya perihal agama.