Jika Pernikahan adalah Sebuah Rumah

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 03 Desember 2016
Jika Pernikahan adalah Sebuah Rumah

Ibarat membangun sebuah rumah, pernikahan lebih sering tentang dua orang yang membawa puing-puing masa lalunya masing-masing.

Jangan membayangkan dua orang ini membawa seluruh material baru yang mereka siapkan sedemikian rupa, yang mereka beli dari toko-toko bangunan mewah, agar rumah mereka kelak menjadi indah dan sempurna… Sebab, seperti dalam kebanyakan kasus, dalam sebuah proyek pernikahan, yang akan mereka pertukarkan satu sama lain adalah apa-apa yang sudah ada dan melekat pada sejarah hidup mereka sendiri. Dan sejarah adalah tentang masa lalu: Bisa berupa monumen kemenangan, yang mungkin usang, atau reruntuhan-reruntuhan kekalahan.

Dari sana dan dengan semua itulah rumah pernikahan dibangun. Fondasinya digali dari luka-luka masa kecil atau masa remaja. Temboknya didirikan dari batu bata perasaan yang kadang sedih, gelisah, optimistis, bahagia, atau sesekali terlalu percaya diri. Jendela dan pintu-pintu dipasang dengan rasa takut atau rasa kesepian. Sementara atapnya disusun dari genteng-genteng yang mungkin retak karena pernah dikecewakan atau dikhianati. 

Di sanalah kalian akan tinggal. Menetap untuk waktu yang lama atau sebentar, tergantung kesabaran dan daya tahan masing-masing. Di sana kalian akan menentukan mana ruang tamu, mana ruang makan, mana dapur, mana tempat mencuci, bolehkah memakai sandal ke dalam rumah, siapa tamu yang boleh diundang, apakah boleh punya hewan peliharaan atau tidak, dan seterusnya. Di dalam rumah itulah kelak kebahagiaan kalian ditentukan. Dari hal-hal paling sederhana dan gratis sampai hal-hal paling tak masuk akal dan kelewat mahal. 

Memang, rumah yang kalian bangun dan dirikan bersama itu tak mungkin sempurna… Maka kerja berikutnya adalah tentang menyempurnakan dan mempercantik semuanya. Di luar maupun di dalam. Dengan apa atap rasa percaya yang bocor harus ditambal? Warna rasa apa yang kalian pilih untuk mengecat dindingnya? Siapa yang bertugas mengunci pintu rasa takut dan siapa yang membuka daun-daun jendela untuk membebaskan rasa kesepian? Dan seterusnya.

Setelah selesai menjawab semua pertanyaan itu, kerja perbaikan belumlah selesai… Dan memang tak akan selesai-selesai. Mungkin kalian masih perlu membeli sofa, jam dinding, mesin jahit, atau apa saja yang membuat kalian lebih merasa bangga dan nyaman tinggal di sana.

Suatu hari, jika kalian memutuskan untuk mempunyai anak-anak, tugas kalian akan bertambah lagi. Anak-anak memerlukan ruangannya sendiri. Anak-anak perlu diberitahu bahwa jika jendela dibuka, pintu harus ditutup. Jika cat diganti, interior rumah yang lain harus menyesuaikan. Jika atap dibongkar, seluruh anggota keluarga harus siap menerima semua konsekuensinya. Tetapi, di atas semua itu, anak-anak akan mengambil bagian-bagian tertentu dari rumah itu… Yang akan mereka sembunyikan di dalam diri mereka masing-masing, yang kelak menjadi bekal mereka untuk membangun rumahnya sendiri.

Begitulah, seperti kita juga yang menyembunyikan beberapa hal dari bagian-bagian rumah orangtua kita, pernikahan lebih sering tentang dua orang yang membawa puing-puing masa lalunya masing-masing, bukan?

Puing-puing itu tentu berasal dari material yang berbeda-beda… Yang kadang harus dihancurkan dulu bersama untuk bisa diubah menjadi pasir atau batu… Yang selalu membutuhkan air untuk menyatukan semuanya. Tahukah kau mengapa mendirikan sebuah bangunan selalu membutuhkan air? Sebab batu-batu yang keras itu, seperti juga pasir-pasir yang kering itu, selalu membutuhkan kelembutan air untuk menyatukan semuanya. 

Sekarang, terserah saja, setiap orang memiliki rumahnya masing-masing atau akan membangun rumahnya sendiri. Bayangkan saja, jika rumah itu rusak di salah satu bagiannya, apakah kalian harus meruntuhkan rumah itu? Meratakannya dengan tanah? Memulai lagi dari awal untuk membangun rumah baru yang lainnya? Dan jika rumah itu begitu bobrok, mungkin yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana selama ini kalian membangunnya? 

Sejak bersepakat menikah bersama istri saya, Rizqa, saya memberitahunya bahwa apa yang saya bawa adalah puing-puing yang saya ambil dari rumah orangtua saya. Tetapi hanya puing-puing yang terpilih saja—yang saya pikir bisa digunakan untuk membangun rumah kami berdua nantinya. Syukurlah ia mengerti. Katanya, iapun begitu: Puing-puing yang tak perlu kami pakai lagi di bangunan rumah kami nanti, sudah dia tinggalkan di jalan-jalan… Yang ia bawa ke dalam pernikahan kami hanya yang layak dipertahankan saja.

Di atas kesepakatan dan rasa saling mengerti itulah, kami mulai membangun… Dan terus membangun. Tak usai-usai…

 

Makassar, 3 Desember 2016

FAHD PAHDEPIE

 Penulis buku Rumah Tangga (2015), Jodoh (2016)dan Sehidup Sesurga (2016)