Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Politik 1 Februari 2016   18:11 WIB
(Wakil) Rakyat Indonesia dan Budaya Merendahkan Perempuan

Cerita seorang anggota DPR yang menganiaya staff perempuannya kini sedang ramai menjadi perbincangan publik. Konon, anggota dewan yang terhormat itu memukul mata bagian kiri korbannya hingga memar!

Ada banyak versi mengenai kasus ini, baik yang dikeluarkan korban maupun terduga pelakunya. Terlepas dari versi mana yang benar, saya tak ingin masuk ke dalam perdebatan kasus tersebut. Saya ingin membahas hal lainnya: Tentang betapa budaya ?merendahkan perempuan? begitu mendarah-daging dalam masyarakat kita?bahkan ditunjukkan oleh para wakil rakyatnya di gedung dewan.

Suatu siang di gedung perlemen yang mulia, saya duduk di ruang tunggu sebelum tiba giliran saya masuk ke ruangan seorang anggota dewan. Siang itu saya diagendakan rapat dengan seorang anggota parlemen yang tertarik dengan ide saya mengenai pemberdayaan anak muda. Di ruang tunggu, saya duduk dengan tiga orang lainnya yang konon sedang menunggu ?Abang? mereka. Mereka datang jauh-jauh dari daerah untuk ?mencairkan? sebuah proposal kegiatan. Mereka tampak sudah terbiasa dengan suasana gedung parlemen.

?Lagi mau ketemu siapa, Mas?? Tanya salah seorang di antara mereka. Pertanyaan yang layak diajukan seorang yang sudah merasa ?orang sini? kepada seorang laki-laki kikuk yang tampak rikuh.

Saya agak ragu untuk menjawab pertanyaan itu, sebenarnya. Tapi akhirnya saya menyebut nama orang yang akan saya temui.

?Ah, satu partai kita!? Tukas seorang pemuda berperawakan subur di antara tiga orang di hadapan saya.

Saya tersenyum sambil menggelengkan kepala. ?Saya bukan orang partai, kok,? jawab saya, ?Ini cuma ketemuan aja. Ngobrol-ngobrol.? Sambung saya. Mereka maklum.

Waktu itu kami menunggu cukup lama sehingga bisa mengobrol satu sama lain. Saya jadi banyak tahu tentang ?kebiasaan orang parlemen? dari tiga orang aktivis tersebut. Mereka menceritakan banyak hal. Namun yang paling menarik perhatian sekaligus mengganggu saya dalam waktu bersamaan adalah saat mereka menceritakan soal ?perempuan?.

Waktu itu seorang perempuan cantik berjalan melenggang di koridor gedung. Parfumnya menguar di seluruh ruangan, meneror penciuman saya. Hak sepatunya mengetuk-ketuk lantai.

Tiga orang pemuda di hadapan saya cekikikan. ?Mas, tebak itu siapa?? Tanya salah seorang di antara mereka, setengah berbisik.?

Saya menggelengkan kepala. Karena saya memang tidak tahu.

?Staff ahliii!? Sergah seseorang yang lain. Mereka bertiga cekikikan lagi. ?Ahli banget dalam segala hal! Semua bisa dilakukan untuk membuat Bapak tetap senang dan bahagia. Bebas mau pilih gaya apa saja?? Semuanya terawa.

Obrolan kami terus berlanjut hingga membicarakan sebuah rumor tentang saluran pembuangan air di gedung dewan yang mampet gara-gara tersumbat kondom. Meski tak ingin menggeneralisir dan menyederhanakan persoalan, meski tak ingin menuduh siapa-siapa, rumor itu jelas menjijikan sekaligus memprihatinkan. Jika benar, ia menunjukkan sebuah fakta mengenai moralitas anggota dewan yang menyedihkan. Jika ternyata tidak benar, itu menunjukkan fakta lainnya juga yang bikin miris: Bahwa perempuan sudah biasa menjadi objek pembicaraan negatif di lingkungan ini.

Tentu saja ini tidak hanya terjadi di gedung parlemen. Obrolan-obrolah khas kaum lelaki yang merendahkan perempuan, apalagi dalam konteks menjadikan perempuan sebagai objek seks dalam obrolan yang ngeres, terjadi di mana-mana; Di kantor, di warteg, di terminal, bahkan di dalam tempat ibadah! Saya paling benci dengan penceramah atau pemuka agama yang menyelipkan jokes?ngeres di dalam materi cemah mereka?seolah semua wajar saja ketika menempatkan perempuan sebagai golongan yang memang diciptakan untuk ?melayani?, ?di bawah?, dan ?direndahkan? laki-laki. Tapi paling menjengkelkan tentu saja adalah hadirin dalam acara itu yang tertawa? Mudah-mudahan mereka tertawa karena sedang melihat si penceramah yang begitu bodoh dan tetap merasa suci meski kerap merendahkan perempuan. Mudah-mudahan.

Kembali ke cerita tadi, meski implisit, saya bisa melihat dan merasakan dengan jelas kebiasaan (jika tak ingin menyebutnya budaya) ?merendahkan? perempuan yang akut di lingkungan wakil rakyat. Saya ingat dalam sebuah sidang resmi seorang pimpinan DPR berusaha menggoda anggota dewan perempuan yang hendak memberikan interupsi. Mungkin dengan memberikan rayuan-rayuan norak, sang pimpinan merasa dirinya ?keren? ketika memperlakukan perempuan dengan cara demikian. Ah, tentu kita juga tak lupa soal dagelan rok mini di DPR, sebuah ironi yang dengan jelas menunjukkan bahwa betapa yang salah bukan rok yang dikenakan perempuan di lingkungan gedung dewan, tapi isi kepala penghuni parlemen yang mini. Bah!

Cara berpikir yang menempatkan perempuan di posisi yang ?direndahkan? baik sebagai objek percakapan ngeres?maupun sebagai pihak yang memang disubordinasi secara fisik, menurut saya sudah berada di taraf yang sangat memprihatinkan. Pasti bukan pertama kali Anda mendengar rumor soal anggota DPR atau pejabat yang doyan ?main perempuan?, kan? Di level bawah, di tingkat masyarakat biasa, bahkan di sekolah-sekolah, perempuan juga sering menjadi pihak yang ?direndahkan? dengan beragam cara?baik secara verbal, fisik, maupun psikis. Juga apa kabar dengan kasus-kasus KDRT yang kerap menempatkan posisi perempuan sebagai korban??

Maka, bagi saya, kasus penganiayaan seorang staff ahli perempuan oleh seorang anggota DPR bukan sesuatu yang mengejutkan. Peristiwa itu hanyalah sebuah penanda bagi jelas dan nyatanya budaya patrimonialistik yang penuh kekerasaan di tengah masyarakat kita.

Perlukah membuktikan siapa yang bersalah dalam kasus itu? Saya tidak peduli. Sebab sesuatu sudah jelas bagi saya: Laki-laki manapun yang merendahkan bahkan melukai perempuan dengan cara apapun jelas menjijikan dan memuakkannya!

??

Jakarta, 1 Februari 2015

FAHD PAHDEPIE


*Gambar diambil dari sini.

Karya : Fahd Pahdepie