Kemi, Selamat Ulang Tahun yang Kedua

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 16 November 2016
Kemi, Selamat Ulang Tahun yang Kedua

Alkemia,
 
Aku menamaimu Alkemia. Sejak pertama kali membaca novel Paulo Coelho berjudul The Alchemist belasan tahun lalu, aku jatuh cinta pada perjalanan seorang bocah gembala bernama Santiago yang melakukan perjalanan bersama Sang Alkemis untuk menemukan Batu Filsafat (the philosopher stone, elixir of life) dan Jiwa Buana (the soul of the world).
 
Konon, jika Santiago berhasil mendapatkan dua hal itu, hidupnya akan bahagia. Ia akan mencatatkan legenda personalnya sendiri. Setelahnya, ia tak membutuhkan apapun lagi dalam hidupnya—tak kekayaan, tak ketampanan, atau apapun saja.
 
Aku ingin kau seperti Santiago yang berjalan bersama Sang Alkemis di sepanjang hidupnya. Aku ingin kau berhasil menemukan Batu Filsafat dan Jiwa Buana itu. Aku ingin kau menuliskan legenda personalmu sendiri.
 
Batu Filsafat akan menempamu dengan kerasnya hidup. Di lain waktu, batu itu juga akan menjadi kerikil tajam atau halang terjal yang menyulitkanmu. Tapi, di ujung perjalanan, segalanya akan membuatmu lebih dewasa—lebih bijaksana. Dengan batu itu di genggamanmu, kau tak akan pernah menjadi tua. Sebab kebijaksanaan tak mengenal usia. Kau pun akan bisa menyembuhkan semua jenis penyakit… Sebab penyakit adalah wajah dari penderitaan dan semua penderitaan berasal dari hilangnya kebijaksanaan.
 
Maka, temukanlah batu itu. Sebab bahkan dengan batu itu, kau bisa melelehkan metal apapun! Besi, baja, perak, emas, apapun saja!
 
Tapi, anakku, memiliki Batu Filsafat saja tidaklah cukup. Kau juga harus berhasil menemukan Jiwa Buana. Inti dari kehidupan ini.
 
Apa itu Jiwa Buana? Mari kuberitahu pelan-pelan… Ia adalah sesuatu yang membuat segala hal di dunia ini terhubung. Sebuah alasan yang membuat Tuhan menciptakan segala yang hidup di atas bumi. Sesuatu yang wajib kau miliki untuk selalu punya daya hidup untuk menghadapi apapun. Jika Batu Filsafat bisa melelehkan metal apapun… Jiwa Buana bahkan bisa melelehkan Batu Filsafat! Selama ini, barangkali kau mengenal Jiwa Buana dengan nama lainnya… Cinta.
 
Temukanlah dua hal itu, Alkemia. Temukanlah kimia-kimiah kebahagiaan itu.
 
Malaky,
 
Aku memberimu nama Malaky. Dalam bahasa Arab, nama itu terbentuk dari empat huruf mim-lam-kaf-ya. Komposisi huruf-huruf itulah yang menyusun kata ‘malik’, atau ‘raja’ dalam Bahasa Indonesia.
 
Ya, aku ingin kau menjadi raja bagi dirimu sendiri… Tuan yang menentukan semua keputusan dalam hidupmu. Jadilah raja yang bijaksana, Anakku. Jadilah raja yang punya banyak cinta untuk menjalankan semua kekuasaannya.
 
Terbentuk dari komposisi huruf-huruf yang sama, ia bisa juga menyusun kata ‘malakay’, malaikat. Aku ingin kau menjadi penolong bagi orang lain. Aku ingin kau memiliki ketaatan dan ketundukkan yang penuh kepada Tuhanmu. Aku ingin kau memiliki hati yang suci.
 
Pahdepie,
 
Aku memberimu namaku. Kau adalah bagian dari diriku dan untukmu akan kuberikan segalanya yang kupunya. Aku ingin kau mewarisi semua yang sudah kucapai dalam hidup ini… Aku ingin kau melanjutkannya. Tapi, tak perlu kau ambil apa-apa yang buruk dari diriku. Kau tak perlu melanjutkan apa-apa yang memalukan yang pernah kulakukan.
 
Dengan memberimu namaku, aku telah menyerahkan segalanya… Dan kau tumbuhlah lebih hebat dari apapun yang pernah kubuat. Jadilah lebih besar dari apapun yang pernah kujajal. Jadilah lebih baik dari versi terbaik yang bisa kucapai. Namun, lebih dari semua itu, jadilah dirimu sendiri…
 
Jadilah Alkemia Malaky Pahdepie.
 
Demikianlah caraku mematri doaku dalam dirimu, anakku. Doa yang meski tak kubaca, tak akan pernah lepas dari dirimu.
 
Selamat ulang tahun yang kedua. Tumbuhlah dengan cara yang luar biasa.
 
 
Jakarta, 16 November 2016.
 
Dengan segala yang kupunya.
 
Papimu,
 
 
FAHD PAHDEPIE