Ayah: Dendam dan Rindu Itu

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 12 November 2016
Ayah: Dendam dan Rindu Itu

There will always be a special bond between father and son...

Ketika kecil, saya punya sebuah jurus rahasia. Jika ibu tak mengizinkan saya untuk membeli sesuatu, saya akan mendatangi ayah; Membujuknya dengan mengatakan bahwa anak-anak lain sudah memiliki apa yang saya inginkan.

Tidak seperti ibu yang penuh pertimbangan dalam membeli sesuatu, ayah akan segera mengizinkan: Mengeluarkan dompet, memberi saya uang, dan... “Pergilah! Beli dua kalau perlu!” Katanya.

Menginjak usia remaja, semua tentang ayah menjadi menyebalkan. Seperti anak laki-laki kebanyakan, saya dan ayah banyak berselisih paham. Bagi saya, ayah selalu terlalu kolot untuk hidup di zaman modern. Bagi ayah, saya selalu terlalu kecil dan manja. Kenyataannya, dalam kepala saya yang terlalu besar, bayangan tentang ayah selalu tentang sindiran, ketidakpuasan, tuntutan, dan apa saja yang menyebalkan. 

Demikianlah, ketika itu saya telah melupakan semua jurus rahasia saya untuk ayah, “Pergilah! Tumbuhlah menjadi dewasa!” Bentak ayah.

Hingga saatnya saya harus pergi dengan sisa dendam di hati. Tetapi memang harus diakui, saya akan pergi dengan uang yang diberikan ayah: Bekal yang cukup, telepon genggam, sikat gigi, barang-barang yang terlanjur saya akui sebagai milik saya sendiri. Tiba-tiba kepala saya yang terlalu besar, mengempis dan membuat saya menangis.

Dendam saya mencair. Tinggal ayah berdiri di muka pintu, “Pergilah! Nanti ayah akan menengokmu!” Bisiknya.

Di hari kelulusan saya dari universitas, ayah menepuk-tepuk pundak saya. “Perjuangan baru saja dimulai,” katanya. Ketika itu, saya tidak merasa terlalu bangga dengan kelulusan saya. Saya melihat setelan ayah yang rapi, perhiasan ibu, mobil yang mengantar kami ke gedung tempat wisuda, dan saya sendiri yang berdiri gagah dengan toga. Ayah sudah sejauh ini menjalani hidup, memberi sesuatu yang sangat berharga untuk orang-orang tercinta di sekelilingnya, pikir saya.

 Seketika, saya merasa setuju dengan semua yang dikatakannya beberapa saat yang lalu, ‘perjuangan baru saja dimulai’. Dan, tiba-tiba, apa yang telah dicapai ayah menjadi model kesuskesan saya di masa depan. Minimal aku harus bisa seperti ayah, demikian batin saya.

 Tapi... “Pergilah! Pergilah yang jauh. Jangan menjadi seperti ayah, jadilah lebih hebat. Jadilah dirimu sendiri. Ayah akan selalu mendoakanmu!” Kata ayah.

Pada saatnya, saya membawa seorang gadis untuk saya nikahi. Saya meminta pendapat ayah dan ayah menyetujuinya. Saya memeluknya dan berterima kasih. Lalu ayah menjadi sibuk dengan persiapan-persiapan: Gedung, undangan, catering, dan lainnya. Telepon genggamnya tak pernah berhenti berdering.

Ketika mematut diri di depan cermin, mencoba jas baru, dan bersiap menuju lokasi pemotretan pranikah, saya terdiam mendengar percakapan Ayah yang sedang meminjam sejumlah uang untuk melengkapi persiapan pernikahan saya. Saya mendatanginya dengan wajah yang sedih dan murung. Tapi, sepertinya ayah mengerti rasa bersalah apa yang berkecamuk di dalam kepala saya... “Pergilah!” Katanya, “Serahkan semuanya pada ayah. Ayah bahagia untuk membuatmu bahagia!” Saya sepenuhnya kehilangan kata-kata.

Di hari pernikahan, saya memerhatikan ayah yang jadi pendiam. Ribuan pertanyaan berkecamuk di kepala: Bisakah saya menjadi laki-laki tanpa dirinya? Bisakah saya menjadi suami yang bertanggung jawab seperti dirinya? Bisakah saya menjadi ayah yang bertanggung jawab seperti dirinya? Bisakah saya membangun hidup saya sendiri tanpa dirinya? Tapi... “Pergilah! Sampai kapanpun, ayah tetap menjadi ayahmu!” Katanya.

Kini, saya memandangi ayah yang sedang bermain bersama anak-anak saya—cucu-cucunya, Kalky dan Kemi.

Tiba-tiba terasa, semua yang pernah dan terus ia berikan sebagai ayah, kini ‘ada’ dan membentuk diri saya. Tiba-tiba, semua kenangan antara saya dan ayah menyerang saya dari dalam: Mainan pertama, seragam sekolah pertama, sepeda motor pertama, pukulan pertama, pelukan pertama, dan segala hal yang telah membangun batu-bata kehidupan sayamengantarkan saya menjadi dewasa.

Demikianlah, akan selalu ada ikatan khusus antara seorang ayah dan anak: Tentang ayah... Dialah ayah saya ketika kecil, remaja, dewasa, dan tetap akan menjadi ayah saya untuk selama-lamanya...

 Selamat hari ayah nasional untuk ayah-ayah hebat di Indonesia. Untuk ayahku...

 

FAHD PAHDEPIE

(Tulisan ini pernah dimuat di buku Perjalanan Rasa, 2013)