Tak Perlu Ragu, Bila Tuhan Bersamamu...

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 11 November 2016
Tak Perlu Ragu, Bila Tuhan Bersamamu...

Adakah nama Tuhan dalam setiap keputusan-keputusan dan pilihan sikap yang kita buat? Jika kamu sedang ragu, apakah kamu tahu Allah bersamamu?

Sudah lama aku tidak mendatangi rumah Kiai Husain. Tiba di halaman rumahnya, ada perasaan asing yang menyelinap ke dalam hati. 

Rumah ini selalu sama. Ada sesuatu entah apa yang membuat rumah ini begitu ‘megah’. Bukan tampilan fisiknya.

Rumah Kiai Husain sebenarnya sederhana: Cat putih yang terlihat sudah lama tetapi tak kotor, pepohonan di pekarangan yang meneduhkan, daun pintu serta jendela kayu yang menyiratkan usia di serat-serat dan warnanya.

Setiap kali memandang rumah ini, ada perasaan teduh sekaligus segan dan malu. Ada sesuatu yang selalu membuat kaki tertahan untuk berjalan. Ada energi yang memaksaku untuk memeriksa diri sekali lagi.

Setelah membulatkan tekad, aku melangkah mendekat menuju pintu. Aku mengetuk pintu kayu itu perlahan. Lalu mengucapkan salam dengan suara yang sedikit tertahan di ujung tenggorokan.

“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” Rupanya Kiai Husain ada di rumah. Mendengar jawaban salamnya, perasaan-perasaan yang menggumpal tadi seketika mencair. Suara Kiai Husain selalu membuatku merasa diterima dengan baik di rumah ini.

Pintu terbuka. Aku buru-buru mengambil tangan Kiai Husain dan menciumnya. Kiai Husain menepuk pundakku dua kali. “Sudah lama kamu tidak datang,” ujarnya, “Semoga kamu baik-baik saja.”

“Maafkan saya, Kiai. Berbulan-bulan saya tidak berkunjung.” Aku sebenarnya ingin menceritakan kesibukan-kesibukanku. Tapi, rasanya belum tepat waktunya.

Kiai Husain mempersilakanku duduk di bale-bale di depan rumahnya. Kami berdua lantas duduk di sana dan mengobrol tentang banyak hal. Aku rindu dengan percakapan bersahaja semacam ini. Aku rindu suasana seperti ini. Aku rindu menjadi anak kecil yang tak berusaha sok pintar dan sok tahu tentang banyak hal yang sebenarnya aku tak memiliki pengetahuan apa-apa tentangnya. Aku rindu menjadi seseorang yang hanya duduk bersila dan mendengarkan apa saja yang baik… Yang manfaat… Yang menenangkan hati. Sampailah aku pada pertanyaan itu—

“Kiai, belakangan ini saya sering merasa bimbang dan ragu.” 

“Dalam soal apa?” Kejar Kiai Husain.

“Dalam banyak soal. Bahkan tak jarang berlawanan dengan orang-orang yang selama ini dekat dengan saya. Teman, sahabat, bahkan keluarga. Saya sering berdebat dan berbeda pendapat dengan mereka. Kadang saya membenci mereka. Memaki mereka. Hingga melampaui batas. Tapi di ujung, saya sendiri ragu pada semua ini…. Semua ini membuat saya tak tenang.”

“Carilah Tuhan di antara pendirian dan keraguan-keraguanmu.” Ujarnya.

Aku mengerutkan dahi. Belum begitu mengerti maksud kalimat Kiai Husain terakhir.

“Maksudnya apa, Kiai?”

Kiai Husain menyeruput teh di hadapannya yang sejak beberapa menit lalu disajikan Ibu Nyai. Aku mengikutinya.

“Kita sering melupakan di mana Tuhan ketika kita mempertentangkan berbagai hal. Kita sering tak berusaha menemukan Tuhan di dalam kekacauan-kekacauan. Padahal Allah selalu ada di sana.” Kiai Husain mulai menjelaskan.

Aku mengerutkan dahi, masih belum mengerti.

“Saat kamu berdebat dengan orang lain, misalnya. Sampai kapanpun kamu tak akan pernah mau dikalahkan. Egomu akan terus lapar dan mengatakan bahwa kamulah yang benar dan tak ada sedikitpun kebenaran pada orang lain. Kamu akan mengabaikan suara-suara kecil yang datang dari dalam hati dan perasaanmu, seraya mencari pembenaran-pembenaran yang bisa membangun benteng pertahanan argumen sekaligus menghunuskan tombak-panah alasan untuk serangan-seranganmu berikutnya. Di saat seperti itu, bahkan kamu menjadi orang lain bagi dirimu sendiri. Bahkan kamu tak bisa melihat dirimu sendiri secara jernih, bagaimana mungkin kamu bisa memandang orang lain secara objektif?”

Gambar pikiran Kiai Husain makin jelas dalam pikiranku. Aku mengangguk-angguk.

“Tapi, kadang perdebatan-perdebatan itu sudah antara benar dan salah, Kiai. Sudah antara kebenaran dan keburukan. Antara hak dan batil. Antara setan dan Tuhan.” Aku berusaha memperjelas konteks pembicaraan.

Kiai Husain terkekeh. “Kamu selalu terlalu bersemangat… Bagus, tapi kami harus berhati-hati.” Ujar Kiai Husain, “Jika dalam sebuah pertengkaran kamu merasa seperti itu, jangan lupa orang lain juga memiliki perasaan yang sama tetapi dari sisi arena pertandingan yang berbeda.”

Aku mengangguk. “Apakah artinya di saat seperti itu saya harus sedikit meragukan pendirian saya?”

Kiai Husain terdiam. “Kita tak boleh ragu jika kita memiliki keyakinan. Tetapi kita tak boleh memiliki pikiran bahwa tak ada sedikitpun kebenaran pada orang lain. Kita harus memberi ruang dalam diri kita bagi orang lain untuk menyimpan kekeliruan-kekeliruan mereka. Ruang itu pulalah yang kelak sekaligus akan menjadi tempat kita menyimpan kekhilafan-kekhilafan kita.”

“Sebenarnya, dalam situasi semacam itu, saya juga sering ragu, Kiai.”

“Tidak perlu ragu jika kamu tahu Allah bersamamu.”

Aku tertidam. Kemudian mengangguk perlahan.

“Maka,” sambung Kiai Husain, “Saat kamu ragu, cari tahulah Tuhan ada di mana. Allah tak pernah berada di pihak yang keliru. Cari dan ikutilah di mana Allah berpihak. Saat semua logika tak bisa memecahkan persoalan, saat orang-orang berakrobat dengan semua permainan mereka untuk mengaburkan batas antara benar dan salah, pakailah rasamu… Temukan Allah ada di mana. 

“Tapi, Kiai. Di tengah situasi semacam ini, kadang sulit untuk memastikan Tuhan ada di mana. Kadang sulit untuk mengetahui apa yang Allah ridhoi…”

Kiai Husain terkekeh.

“Kamu akan sulit memastikan Tuhan ada di mana jika selama ini kamu menjauhiNya. Kamu tak akan pernah tahu Allah ada di pihak mana jika kamu terus berlari memunggungiNya. Kamu tak akan tahu apa yang Allah ridhoi jika kamu tak pernah dekat dengan kalam dan petunjukNya…”

Aku terdiam cukup lama. Ada badai yang tak bisa kutolak, memporak-porandakan bangunan logika dan benteng-benteng egoku.

“Jika selama ini kamu merasa jauh dari Allah… Tanyakanlah pada dirimu, siapa yang selama ini menjauh? Dalam semua urusan, kamu tak perlu ragu, dan tak akan pernah ragu, jika ada Allah dalam hatimu.”

Tiba-tiba aku mengecil. Mengecil. Mengecil sekali hingga aku merasa menjadi tiada di rumah itu… Dan tidak di hadapan Kiai Husain.

 

Jakarta, 11 November 2016

 

FAHD PAHDEPIE