Kawan, Maafkan Jika Soal ini Kita Tak Bersilang Jalan

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Renungan
dipublikasikan 06 November 2016
Kawan, Maafkan Jika Soal ini Kita Tak Bersilang Jalan

Barangkali kita seagama, tetapi mungkin kita tidak seiman. Agama adalah apa yang kita anut, apa yang melekat pada identitas kita, yang membuat kita merasa berbeda dengan yang lain. Agama adalah atribut, identitas, institusi. Tetapi iman adalah perkara lainnya. Jika agama adalah SARA, iman adalah RASA.

Iman tak bisa ditebak, tak bisa dikalkukasi, tak bisa diobjektifikasi. Bayangkan ada seseorang yang berjalan jauh sekali, jauh sekali... Kadang mendaki, kadang menurun, kadang tertatih-tatih, kadang diteriaki melakukan tindakan bodoh yang sia-sia, kadang dihina, dirisak atau dilecehkan… Tetapi ia tetap berjalan menuju sebuah rumah untuk berusaha menemui pemilik rumah itu, padahal si pejalan tak pernah sekalipun melihat rumah itu dan tak pernah bertatap muka dengan pemilik rumah secara langsung. Itulah iman. 

Imanlah yang membuat Abu Bakar Ash-Shiddiq rela menemani Rasulullah berjalan berpuluh kilo di atas padang pasir, melarikan diri dari kejaran musuh berkuda dan bersenjata, bersembunyi di dalam gua dan hanya bisa berteriak tanpa suara ketika sesuatu menggigit kakinya agar tak membangunkan Rasulullah yang tengah lelap dalam lelahnya. Imanlah yang membuat Utsman bin Affan, juga Abdurrahman bin Auf, rela menyerahkan seluruh hartanya untuk berdakwah. Imanlah yang membuat Umar bin Khattab dianggap gila oleh suadara-saudaranya saat menyatakan diri masuk Islam. Iman pulalah yang membuat Ali bin Abi Thalib menjadi anak kecil pertama yang mempercayai nubuat Muhammad.

Iman adalah sesuatu yang absurd bagi mereka yang tak berada di frekuensi yang sama. Iman adalah sesuatu yang seringkali tak masuk akal. Bagaimana Anda percaya bahwa Al-Quran itu suci padahal ia hanya sekumpulan teks dalam lembaran-lembaran kertas belaka? Bagaimana Anda percaya pada hari akhir, juga kehidupan setelah mati, padahal tak ada satupun bukti ilmiah tentangnya? Mengapa harus mengikuti ajaran yang dianggap sudah tak relevan dengan kemajuan zaman? Imanlah yang membedakan jawaban satu orang dengan orang lainnya. Imanlah yang membuat seseorang punya posisinya sendiri, keberpihakannya sendiri, ghirah perjuangannya sendiri.

Iman adalah sebuah pengalaman yang sangat personal. Ia tak bisa digeneralisasi dan dipaksakan kepada pihak lain. Seseorang tak punya hak untuk mengintervensi iman orang lain. Itulah sebabnya dalam Al-Quran ditegaskan bahwa setiap orang memiliki domain keimanannya masing-masing, tak bisa dipaksakan satu sama lain. Siapapun tak berhak menghakimi iman orang lain, tak boleh menilai-nilai iman orang lain apalagi menghina dan melecehkannya. 

Jadi untuk apa masih takut kepada manusia jika kita punya iman di dalam hati? Untuk apa masih khawatir dihina, dilecehkan, direndahkan, atau dicacimaki orang lain karena kita teguh dengan iman kita sendiri? Mengapa kita masih takut kepada sesama manusia? Mengapa kita mengkhawatirkan komentar-komentar buruk atau cacimaki manusia yang berusaha menghakimi iman kita? Imanlah yang akan menguji apakah kita lebih peduli pada penilaian manusia atau Allah yang kita imani.

Demikianlah, mereka yang beriman selalu ditakdirkan memiliki keberanian ekstra dan sikap keras kepala yang berlebihan. Mungkin itulah yang membuat orang lain jengah—atau cemburu. Imanlah yang membuat mereka yang memilikinya terlihat menjadi asing di tengah orang-orang yang ragu, bukan? Benar belaka sabda Sang Nabi, pada mulanya Islam itu asing dan kelak akan menjadi asing.

Barangkali kita seagama, tetapi mungkin saja kita tidak seiman. Mau bagaimana lagi? Maafkan. Maafkan aku. Olehmu mungkin ini terbaca SARA, tetapi sesungguhnya semua ini soal RASA. Maafkan jika soal ini kita tak bersilang jalan. Itu saja.

  

Jakarta, 6 November 2016

Dari sahabatmu,

FAHD PAHDEPIE