Siapakah yang Membuat Demo 4 November Menjadi Rusuh?

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Politik
dipublikasikan 05 November 2016
Siapakah yang Membuat Demo 4 November Menjadi Rusuh?

Jelas sudah, demo 4 November 2016 berlangsung damai dan tertib. Sesuai agenda, hingga pukul 18.00 massa aksi Bela Islam II melakukan unjuk rasa dengan tenang dan teratur, meski hati mereka marah dan terluka. Jelas pula, ricuh yang terjadi setelah Isya di depan Istana Merdeka dimulai oleh tembakan (gas air mata atau peluru karet) aparat yang membubarkan kerumunan dengan paksa. Massa bereaksi dan rusuh tak terhindarkan.

Meski media-media mainstream memberitakan frame yang berbeda, bahwa ada di antara masa demo yang memprovokasi dan menyerang polisi. Tak bisa dimungkiri, video rekaman langsung yang diunggah massa aksi demo menunjukkan fakta sebaliknya. Saat mereka diminta duduk tenang dan menunggu, tembakan aparat melesat ke tengah kerumunan, suara letusan menyulut takbir, lalu gas air mata membubung. Beberapa orang, termasuk para ulama, terluka dan amarah massa Muslim tak bisa diredam lagi. Ricuh pecah diujung takbir, mereka tak terima guru-guru mereka terluka. Kemarahan mereka berlipat-lipat.

Seolah ada yang tak terima masa Muslim bisa menggelar unjuk rasa damai, seolah ada pihak-pihak yang menginginkan demo ini berakhir rusuh, situasi menjadi kacau. Tapi ternyata upaya itu tak berhasil. Amarah massa segera bisa diredam. Meski sakit hati para peserta aksi ini, ketika para pimpinan demo yang terdiri dari para ustad dan ulama memerintahkan mereka untuk mundur dan bergerak menuju Istiqlal, mereka pun menurut. Mereka bergerak tenang menuju masjid, meninggalkan sisa-sisa keurusuhan yang tak berhasil dibuat lebih lama—lebih kacau lagi. Para provokator dan perekayasa demonstrasi tak berkutik. Ini di luar kalkulasi mereka.

Semakin malam, wilayah lain bergejolak. Di Pluit dan Penjaringan, kerusuhan pecah. Sebuah minimarket dijarah. Mobil-mobil dicegat dan dihancurkan. Beberapa media berusaha menghubungkan kerusuhan ini dengan aksi Bela Islam II di sekitar istana, tetapi upaya itu menjadi tidak masuk akal. Massa rusuh di Penjaringan yang membawa sentimen anti-China sama sekali tak berhubungan dengan aksi sebelumnya. Bahkan dari segi atribut, isu yang dibangun di tengah massa, dan cara aksinya sama sekali tak identik dengan massa Muslim yang bergerak dari Istiqlal.

Upaya kedua ini tampaknya gagal lagi, masyarakat sudah semakin cerdas, teknologi sudah semakin maju di mana ponsel-ponsel pribadi bisa merekam kejadian dan seketika mengunggahnya ke media sosial. Media berusaha membuat frame baru bahwa aksi rusuh di Penjaringan, Pluit dan Kapuk digawangi massa korban gusuran, termasuk Luar Batang.

Di luar perdebatan apapun mengenai hukum, politik, operasi intelejen, dan bias media mengenai aksi Bela Islam II, 4 November 2016, lalu. Harus diakui bahwa demo tersebut berlangsung sukses. Massa Muslim dari berbagai daerah di Indonesia, digerakkan oleh ghirah agama, secara swadana bergerak ke Jakarta untuk mengemukakan kekecewaan dan aspirasi mereka. Demo pun berjalan simpatik dan mengundang decak kagum publik. Massa menunjukkan betapa mereka bisa menjaga ketertiban dan kebersihan… Betapa mereka bisa menunjukkan akhlak kaum Muslim.

Para ustad, ulama, dan habib pun menunjukkan kepemimpinan mereka secara luar biasa. Mereka tak henti-henti dan tak lelah meminta massa untuk menjaga diri, saling mengingatkan, menjaga ketertiban, dan tak melepas dzikir dari bibir. Bahkan saat ricuh yang tak terhindarkan terjadi, justru ketika sebagian ulama ini terluka sekalipun, mereka tetap meminta massa untuk tetap tenang dan tak terpancing provokasi pihak-pihak yang tak bertanggung jawab.

Ada dua hal yang membuat sedih terkait demo besar kemarin. Pertama, pihak-pihak yang tetap saja menghina aksi ini. Di media sosial dan pesan-pesan instan pribadi banjir komentar dan status yang menyatakan bahwa aksi ini sia-sialah, dimotori oleh kelompok radikal dan intoleran lah, seolah-olah kaum Muslim memang tak berhak terluka hatinya, marah, atau melakukan unjuk rasa terkait agama dan kayakinannya.

Bahkan hinaan-hinaan dan umpatan tak bisa dibendung, mengatakan mereka bigot, onta, pembeci, orang-orang terbelakang, dan seterusnya. Hati saya sakit luar biasa mendengar dan membaca komentar-komentar semacam itu. Seolah ingin berkata, “Jangan engkau hina saudara-saudaraku!” Hati saya sakit karena di tengah gelombang umat muslim yang begitu bersemangat membela agamanya, di tengah para ulama yang berusaha menjaga ghirah itu agar tak hilang dari bumi Indonesia… Orang-orang mengumpatnya, bahkan sesama Muslim sendiri. Mengeruhkan psikologi politik bangsa.

Kedua, jelas sekali bahwa demo kemarin ditunggangi pihak-pihak tak bertanggung jawab yang memiliki agenda politik tersendiri. Pihak-pihak ini ingin menggunakan ‘semangat’ ummat yang terluka hatinya agar menunjukkan kemarahan mereka hingga berakhir rusuh. Pihak-pihak ini entah siapa. Pihak-pihak yang disebut Presiden dalam pernyataan pers-nya dini hari tadi sebagai aktor-aktor politik. Entah siapa.

Siapakah, aktor-aktor yang Anda maksud itu, Tuan Presiden? Mengapa Anda memilih tak menemui rakyat yang datang ke halaman rumahmu?

Jakarta, 5 November 2016

FAHD PAHDEPIE