Pemimpin Jakarta: Luka dan Rasa Kalah Rakyatnya

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Politik
dipublikasikan 01 November 2016
Pemimpin Jakarta: Luka dan Rasa Kalah Rakyatnya

Ibu kota, sebagaimana seorang ibu, memiliki anak-anak yang beragam. Anak-anak itu memiliki beragam identitas, kemampuan yang bebeda-beda, minat yang tak sama, keyakinan masing-masing, dan aneka hal lainnya yang memberi jarak antara satu anak dengan lainnya. Bagi ibu kota, anak-anak itu adalah rakyatnya.

Ibu kota, selayaknya seorang ibu, semestinya bisa mengayomi anak-anak yang berbeda-beda ini. Kasih sayang dan perhatiannya tak boleh pilih-pilih. Cintanya harus ada bagi semua: Bukan hanya untuk mereka yang pintar saja, bukan untuk mereka yang memiliki kemampuan lebih saja, untuk mereka yang perangai dan sikapnya lebih mirip dengan sang ibu saja… Kepada anak-anaknya, ibu kota harus memiliki cinta yang sama besar, sayang yang seimbang, tak membeda-bedakan dan tak pilih-pilih.

Bagi ibu kota, anak-anak itu adalah rakyat. Jika ada rakyat yang miskin, jangan dihakimi bahwa mereka miskin karena tak mampu dan tak memiliki kapasitas untuk menjalani kehidupan ini. Ibu yang baik akan membantunya untuk lepas dari kemiskinan itu, bukan semakin melukai hati anak itu dengan cara-cara yang kasar—yang melukai.

Bagi saya, ibu kota harus dipimpin oleh seseorang yang mengerti betul makna mengayomi, makna memimpin, makna memberi teladan, makna menjadi pelindung bagi siapapun saja anak-anaknya. Bagi saya, memang, Jakarta membutuhkan pemimpin yang berkomitmen untuk membangun dan memajukan kota ini dengan visi, integritas dan kerja keras yang luar biasa… Tetapi lebih dari itu, pemimpin Jakarta harus memiliki hati yang cukup lapang, pikiran yang bijaksana, dan teladan yang kaya untuk memastikan tak boleh ada rakyat yang terluka dan merasa kalah.

Luka dan rasa kalah di hati rakyat adalah racun yang paling berbahaya bagi sebuah kota. Luka dan rasa kalah inilah yang akan memicu pertentangan, gesekan-gesekan sosial, bahkan pertengkaran-pertengkaran. Luka dan rasa kalah ini boleh jadi tidak terlihat, tetapi luka dan rasa kalah inilah yang akan memicu kecemburuan. Dan kecemburuan manapun akan menyulut amarah. Sedangkan amarah kadang-kadang tak bisa dibendung dan mungkin menghasilkan sesuatu yang ongkos sosialnya terlalu mahal untuk dibayar.

Apa yang terjadi akhir-akhir ini sudah memberi kita contoh yang nyata. Betapa jika rakyat terluka hatinya oleh pemimpin, jika sebagaian merasa dikalahkan, jika sebagaian merasa terhina, gelombang kemarahan itu menjadi-jadi. Tak usah heran dan bertanya-tanya mengapa mereka bisa marah dan terhina, sebab luka dan rasa kalah adalah sesuatu yang tak bisa disamakan antara satu dan lainnya, bukan?

Untuk itulah, bagi saya, kelak Jakarta membutuhkan pemimpin yang peduli pada luka dan rasa kalah rakyatnya. Jakarta butuh seseorang yang bisa memimpin perubahan dan kemajuan kota ini dengan kepekaan yang tinggi, rasa empati di atas rata-rata, dan sikap mengayomi tanpa membeda-bedakan suku, ras, agama, dan antargolongan.

Demi Jakarta, demi ibu kota, demi luka dan rasa kalah rakyat yang selama ini tak terperhatikan dan tak tersentuh, kita butuh sosok pemimpin baru… Pemimpin masa depan. Dan bagi saya, sampai saat ini, pemimpin itu adalah Agus Harimurti Yudhoyono.

Saya melihat sosok pemimpin Jakarta masa depan ada pada diri Agus Harimurti Yudhoyono. Banyak orang meragukannya karena tak punya pengalaman dalam memimpin birokrasi, tetapi jika segalanya tentang pengalaman spesifik dalam satu hal saja, Filippo Inzaghi yang dulunya akuntan tak akan pernah mencoba bermain sepakbola untuk kemudian menjadi legenda AC Milan. Kolonel Sanders yang tak punya pengalaman apa-apa di bisnis kuliner tak akan membuat resep ayam goreng a la Kentucky yang pada gilirannya menjadi bisnis multidolar Amerika.

Pada diri AHY ada kecerdasan, ketangguhan, daya juang, integritas, sekaligus kematangan emosi. Ia buka tipe boss yang memerintah, melemparkan kesalahan ke pihak luar, atau mengambil kredit dari hasil kerja keras bawahan-bawahannya. Ia adalah tipe pemimpin yang berada di garda depan untuk menginspirasi sipapun yang dipimpinnya sekaligus siap menerima semua konsekuensi buruk paling duluan. Ia sosok yang di luar semua kapasitas dan kapabilitasnya sebagai seorang pemimpin, memiliki komitmen untuk mengayomi—untuk peduli pada luka dan rasa kalah orang-orang yang dipimpinnya.

Dalam memilih pemimpin, tentu saja Anda memiliki pertimbangan masing-masing. Apapun pertimbangan itu dan pilihan itu, semoga kita tetap bersatu.



Jakarta, 1 November 2016

FAHD PAHDEPIE

*Dukungan ini merupakan dukungan pribadi.