Jika Anak-anakmu Tumbuh dengan Cara yang Berbeda

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 23 Oktober 2016
Kata, Rasa, Tanya

Kata, Rasa, Tanya


Sekumpulan tulisan lepas Fahd Pahdepie di berbagai media online.

Kategori Spiritual

151 K Hak Cipta Terlindungi
Jika Anak-anakmu Tumbuh dengan Cara yang Berbeda

Suatu hari istri saya, Rizqa, bercerita dengan penuh semangat tentang putra pertama kami, Kalky, yang mendapat pujian dari gurunya di sekolah. Bahwa Kalky anak yang cerdas. Bahwa ia selalu ceria. Bahwa ia selalu bersemangat untuk mempelajari hal-hal baru. Mendengar cerita itu, ada perasaan senang dan bangga dalah hati saya. Tentu saja. Orangtua mana yang tak bahagia jika anaknya dipuji orang lain? 

“Kamu seneng, Mi?” Tanya saya. Retoris.

“Ya, iyalah.” Rizqa mengibaskan tangan di depan wajahnya. Menganggap pertanyaan saya tadi tak perlu ditanyakan. Memang tak perlu.

Kami terdiam beberapa saat. Saya sibuk memainkan smartphone, scroll up dan scroll down, slide ke kiri dan kekanan: Tak tahu apa sebenarnya yang saya kerjakan. Kemudian Rizqa meneruskan ceritanya, kali ini tentang sekolah Kalky. Tentang betapa kami telah membuat keputusan yang tepat dengan menyekolahkan Kalky di sana. Sampai tiba Rizqa di kalimat itu—

“Nanti Kemi juga kita sekolahkan di sana ya, Pi.” Pinta Rizqa. Ia berharap anak kedua kami, Kemi, mengikuti jejak kakaknya. 

Saya berhenti memainkan jemari di layar smartphone. Kemudian meletakkan benda seukuran telapak tangan itu di atas meja.

“Enggak,” saya menggelengkan kepala.

Air muka Rizqa berubah. “Lho, kenapa? Kan sekolahnya bagus?”

“Kita cari sekolah lain aja,” jawab saya singkat. “Mudah-mudahan ada yang sama bagusnya atau lebih bagus lagi.”

“Kenapa nggak di sana aja? Kan, enak. Dekat rumah, fasilitasnya oke, guru-gurunya juga bagus.” Rizqa terus mendesak. Masih tak mengerti mengapa saya tak setuju dengan usulnya. 

“Kita lihat nanti saja, Mi.”

Kali ini Rizqa terdiam. Lalu menganggukkan kepala. “Tapi aku mau tahu kenapa?”

Saya menoleh ke arah Kalky dan Kemi yang sedang bermain bersama tak jauh dari tempat saya dan Rizqa duduk. Rizqa mengikuti saya. Kini kami memandangi anak-anak—

“Aku takut,” ujar saya, “Aku takut Kemi dibanding-bandingkan dengan Kalky. Aku takut jika ada hal-hal istimewa dari Kalky tetapi tak Kemi miliki. Atau sebaliknya. Aku nggak mau mereka berdua dibanding-bandingkan.”

Kali ini Rizqa tersenyum.

“Aku mau Kalky jadi yang terhebat. Orang lain harus tahu itu. Tapi aku juga mau Kemi jadi yang paling istimewa. Dan orang lain tak perlu membanding-bandingkannya dengan siapapun.”

Kali ini, Rizqa mengangguk. Tampaknya ia setuju.

Siang itu kami terus berbincang. Tentang harapan-harapan pada pada Kalky dan Kemi. Tentang sebagai orangtua betapa tak mau kami membanding-bandingkan anak-anak kami. Tetantang betapa besar, betapa istimewa, betapa berbeda-beda tetapi tetap penuh cara kami mencintai setiap satu dari mereka. 

 

Pamulang, 23 Oktober 2016

FAHD PAHDEPIE