Sudahlah, Jangan Bandingkan Istrimu dengan Orang Lain

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Lainnya
dipublikasikan 22 Oktober 2016
Kata, Rasa, Tanya

Kata, Rasa, Tanya


Sekumpulan tulisan lepas Fahd Pahdepie di berbagai media online.

Kategori Spiritual

153.4 K Hak Cipta Terlindungi
Sudahlah, Jangan Bandingkan Istrimu dengan Orang Lain

Entah apa yang membuatmu selalu kurang percaya diri untuk tampil sepenuhnya menjadi dirimu, yang paling ingin kau tunjukkan kepadaku, versi terbaik dan tercantik dari semua yang pernah kaucoba pamerkan untuk membuatku menyukai caramu berdandan.

Entah apa yang membuatmu malu-malu untuk mengenakan pakaian yang paling kamu suka, memakai sepatu yang paling kamu andalkan, memilih tas yang paling mewakili siapa dirimu yang sebenarnya… Atau menaburkan bedak, menyapukan kuas, mewarnai lengkung bibirmu dengan lipstick favoritmu. Entah apa yang selalu menahanmu? 

“Aku takut pada komentarmu.” Katamu suatu hari.

Aku terkekeh.

“Komentarmu jauh lebih mengerikan daripada mengetahui bahwa aku benar-benar tampil aneh. Aku nggak takut tampil jelek di hadapan orang lain. Tapi aku takut jelek di matamu.” Kamu mengerutkan dahi.

Aku mengerti perasaanmu.

“Apakah aku pernah mengejekmu?” Aku memeriksa diriku sendiri.

Kamu mengangkat bahu. “Nggak juga,” jawabmu. 

“Jadi, apa masalahnya?”

Kamu tersenyum. Mungkin malu sendiri. Lalu menggelengkan kepala. “Takut aja,” katamu, “Di hadapanmu, aku selalu takut salah.”

Aku terdiam. Merasa bersalah. 

Apakah aku pernah membanding-bandingkanmu dengan orang lain? Aku mulai bertanya-tanya pada diriku sendiri. Aku ingat pernah mengomentari paras cantik seorang bintang film luar negeri. Cantik banget. Ujarku waktu itu. Kamu langsung menggelengkan kepala. Nggak terima. Biasa aja. Katamu. Apakah kamu sedang cemburu? Apakah aku salah mengatakan sesuatu yang refleks dikatakan pikiranku. 

“Meski kamu hampir tak pernah membanding-bandingkan aku dengan orang lain. Aku paling takut kalau kamu memanding-bandingkanku dengan orang lain. Meski hanya dalam pikiran.”

Aku memerhatikanmu dengan serius.

“Aku selalu pengin jadi yang terbaik buatmu. Tapi di saat yang sama, aku takut tak bisa memenuhi semua itu. Aku selalu ingin tampil semaksimal mungkin. Bahkan aku selalu pengin tahu imajinasimu tentang perempuan cantik yang bikin kamu tertarik. Aku pengin jadi perempuan itu! Yang ada di imajinasimu.”

Aku menggelengkan kepala. “Kamu tak perlu repot-repot. Kamu selalu jadi yang terbaik dalam pikiran dan perasaanku. Aku tak pernah mengimajinasikan perempuan lain.” Aku tahu kalimatku yang terakhir agak berlebihan, setengah berbohong.

“Bohong kalau kamu nggak pernah mengagumi perempuan lain.” Air wajahmu tiba-tiba berubah.

Ketahuan juga.

Kamu terdiam.

Aku terdiam.

“Tapi apakah jika aku mengagumi perempuan lain otomatis berarti aku membandingkannya denganmu?”

“Enggak sih. Memang. Tapi, nggak suka aja kalau ada perempuan lain yang lebih kamu kagumi daripada aku. Meski dalam pikiran.”

“Aku minta maaf.” Entah mengapa aku mengucapkan kalimat itu.

“Nggak apa-apa. Aku aja yang lebay.” 

Aku tersenyum. Menggelengkan kepala. “Mungkin aku yang lebay. Mengharapkanmu tampil semaksimal mungkin, meski sebenarnya kamu tak perlu melakukannya…” 

“Aku bisa melakukannya,” Kamu memotong—

Aku tersenyum.

“Asal jangan komentar!” Katamu.

Entah apa yang membuatmu selalu kurang percaya diri tentang dirimu sendiri? Tunjukkanlah dirimu yang paling cantik di hadapanku. Lakukanlah apa saja yang membuatmu bahagia melakukannya. Kenakanlah apa saja. Pilihlah yang mana saja warnanya. Aku akan selalu mengagumimu. Aku akan selalu terpana dengan caramu berjalan, atau caramu bicara, atau caramu mengibaskan tangan kanan di depan wajahmu. Meski aku kadang tak bisa menahan diri untuk berkomentar… 

Sekadar mengingatkan diriku sendiri betapa beruntung aku memiliki kamu. Sekadar menutupi rasa tak percaya diriku karena bisa menjadi pendampingmu. Sekadar menipumu bahwa kamu tak benar-benar sempurna dan aku masih layak untuk tak kaucampakkan. 

Maafkan. Maafkan karena aku tak punya cara lainnya untuk mengatakan betapa cantik dirimu dengan segala yang bisa kautunjukkan untukmu. Kecuali dengan tulisan ini.

 

Ciputat, 22 Oktober 2016

FAHD PAHDEPIE