Saya terima nikahnya...

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 28 September 2016
Kata, Rasa, Tanya

Kata, Rasa, Tanya


Sekumpulan tulisan lepas Fahd Pahdepie di berbagai media online.

Kategori Spiritual

154.3 K Hak Cipta Terlindungi
Saya terima nikahnya...

Saya terima nikahnya…

50 tahun kemudian, kau mengunyah makanan dua atau tiga kali lebih lama dari saat aku pertama kali memerhatikan caramu mengunyah di kencan pertama kita. Rambutmu yang perak, dagumu yang berlipat tiga, keningmu yang mengerut meski kau tak sedang murung atau memikirkan sesuatu… Matamu yang tak lagi awas.

“Bisakah kau ambilkan aku minum?” Pintaku.

Kau menoleh perlahan. Berhenti mengunyah. Lalu menggerakkan tanganmu untuk mengambil sebuah gelas yang hanya setengahnya saja terisi di jangkauanmu. Kau mengangkatnya perlahan, kemudian menyerahkannya kepadaku… Dengan tangan yang gemetar…

Saya terima nikahnya…

Selepas ijab qabul kita, beberapa detik kemudian, kau tersenyum sambil melirik ke arahku. Aku membalas senyummu. Dan kita menjadi sepasang kekasih paling bahagia di dunia… 

“Apakah kau menyesal?” Kau menggodaku waktu itu.

Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Tentu saja,” aku balik menggodamu.

Kau tertawa kecil sambil mencubit lenganku.

Saya terima nikahnya… 

Kau membanting pintu dengan keras. Perdebatan kita tak jelas siapa pemenangnya. Aku tidak merasa kalah. Tetapi merasa bersalah. Kuketuk pintu kamar kita yang kau kunci dari dalam. Ah, suara tangismu membuat dadaku jadi lemah.

“Maafin aku,” bisikku. Aku menumpukan kening kepalaku di daun pintu.

“Beri aku waktu,” suaramu bergetar. “Aku pengin sendiri dulu.”

Saya terima nikahnya…. 

Kemudian aku memacu mobilku sekencang-kencangnya. Klaksonnya menyalak berusaha menyingkirkan apa saja. Sementara aku begitu gelisah, kakimu menekan-nekan dashboard dan tanganmu mengelus-elus perut buncitmu.

“Sabar, Nak.” Aku berusaha bernegosiasi dengan bayi kita yang sepertinya sudah tak sabar lagi ingin menghirup udara dunia.

“Cepetan, dong!” Teriakmu dengan pita suara yang gemetar, setengah memarahiku, “Aku udah nggak kuat lagi!”

Saya terima nikahnya…

Di hari ketika anak kita diwisuda, kau tampak begitu bahagia. Tak berhenti kau menyeka air mata. Anak kita sudah besar. Ia lebih mirip kamu dibanding aku. Tapi aku sudah tak mempedulikan siapa di antara kita yang cintanya paling besar jika anak kita lebih mirip ibunya daripada ayahnya. Dulu, kita sering berdebat soal itu: Aku ingin kau tahu bahwa cintaku lebih besar dari cintamu kepadaku… Tapi rasanya hebat saja jika aku tahu bahwa kau lebih mencintaiku daripada aku mencintaimu. Cinta kita selalu beberapa tahun lebih muda dari seharusnya. Tapi kau tak mau punya anak lagi!

Saya terima nikahnya…

Kita mengumpulkan gambar-gambar rumah impian kita. Kita mengunjungi semua perumahan yang kita anggap ideal sebagai tempat tinggal. Kita kumpulkan brosur-brosur iklan. Kita telepon berbagai agen properti. Kita datangi semua tempat yang kita bayang-bayangkan akan menjadi rumah tempat kita pulang.

Namun perjalanan dan pencarian kita berakhir di bank. Aku bubuhkan tandatanganku dan kaububuhkan tandatanganmu. Keputusan yang kemudian kita sesali bersama. Sampai hari ketika kita bisa melunasi semuanya dan merasa menjadi budak yang merdeka. Apakah semua orang memang dikutuk untuk tak bisa mendapatkan impiannya dengan cara yang mudah?

Saya terima nikahnya…

Kita tahu setiap pernikahan akan diwarnai dengan suka dan duka. Tetapi tak selalu begitu. Pernikahan kita adalah tentang suka, suka, dan suka.

Ya, aku belum selesai...

Lalu duka, duka, duka, duka, duka, duka… Hei, mengapa lebih banyak duka daripada suka dalam setiap kisah hidup manusia?

Saya terima nikahnya…

Lalu aku membelikanmu mesin jahit, kompor gas, jam tangan, dan krim pelembab wajah. Apapun yang bisa membahagiakanmu akan bisa membahagiakanku.

Saya terima nikahnya… 

Apakah kita sudah memiliki alasan yang besar untuk hidup bahagia selama-lamanya, sehingga alasan-alasan kecil tak perlu kita risaukan lagi akan mengacaukan pernikahan indah kita?

Saya terima nikahnya…

Semua indah pada waktunya, selama kita selalu punya banyak cinta untuk menjalani semuanya.

 

FAHD PAHDEPIE