Bagian 11: Persiapan

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Project
dipublikasikan 28 September 2016
Rahim: Semesta Sebelum Dunia

Rahim: Semesta Sebelum Dunia


Novel ini pernah diterbitkan oleh GoodFaith (2009), juga pernah diterbitkan dengan judul 'Semesta Sebelum Dunia' (NouraBooks, 2013). Cover: Ragillia Rachmayuni Ilustrasi: Adrianne Yuanita

Kategori Fiksi Umum

28.2 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian 11: Persiapan

Kini, rahim suci ibumu terasa lebih sesak. Ini karena kau bayi yang besar. Karena itu, belakangan kau mungkin memang agak sulit bergerak. Kau meringkuk rapat di rahim ibumu karena ruang untuk siku dan lututmu memang sudah benar-benar terbatas. Sebagian kecil bayi berada pada posisi pantat di bawah pada awal bulan ini, tapi kau seperti bayi pada umumnya: kepalamu sudah berada di bawah.

Ini minggu ke-34 sejak kau berada di Alam Rahim… Artinya, modal waktumu akan segera habis dan kau akan segera melakukan perjalanan peralihan ke Alam Dunia. Itu disebut persalinan. Ya, saat kau dilahirkan Ibumu ke Alam Dunia.

Dalam masa persiapan seperti sekarang ini, beberapa bayi mungkin telah dalam posisi kepala di bawah sepertimu, tapi sebenarnya masih cukup banyak waktu—kebanyakan bayi menempatkan diri dalam posisi masuk ke jalan lahir hingga usia 36 minggu. Beberapa bayi, seperti kubilang tadi, mungkin akan tetap pada posisi pantat di bawah hingga saatnya lahir, meski kebanyakan bayi akan berputar dengan sendirinya.

Lalu, mengapa kau memilih untuk berputar dan menempatkan posisi kepalamu di bawah?

Ini soal penghormatan. Perjalanan dari Alam Rahim ke Alam Dunia adalah perjalanan suci yang benar-benar melibatkan campur-tangan Raja Semesta. Ini memang masih menjadi perdebatan di beberapa kalangan cendekiawan di Alam Rahim—sebab sesungguhnya kami tak benar-benar tahu. Ini benar-benar sudah di luar kuasa dan pengetahuan siapa pun yang berada di Alam Rahim. Dan ini masih merupakan sebuah misteri yang besar. Tapi, seperti aku, beberapa di antara mereka yakin, Raja Semesta terlibat langsung dalam proses ini—atau paling tidak, langsung mengawasinya bila beberapa malaikat membantu mengerjakannya. Dan para bayi menghormati altar agung yang ia saksikan terbentang di hadapannya—lalu mebalikkan badannya dari posisinya yang semula.

Semacam penghormatan, saat kau bertemu seseorang yang benar-benar istimewa. Mungkin seperti saat kau bertemu seorang Presiden atau Perdana Menteri dan kau membungkukkan badanmu setengah, menahan wajahmu agar tak terlihat begitu lancang. Tapi ini lebih dari itu, kau bahkan memutar seluruh tubuhmu hingga kepalamu benar-benar berada di bawah dan pantatmu di atas—sebab yang kau hormati lebih besar dan lebih agung dari sekadar Presiden atau Perdana Menteri, ini pernghormatan pada Raja Semesta!

Mengapa sebagian bayi yang lain tidak melakukan hal yang sama? Hanya sebagian kecil saja sebenarnya. Itu pun bukan berarti mereka tidak menghormati Raja Semesta, biasanya mereka tetap menghormati—hanya caranya saja yang berbeda. Ada sih sebagian kecil yang tidak menghormati, tapi sedikit sekali, dan biasanya sangat dipengaruhi oleh faktor apakah si ibu yang mengandung mereka menghormati Raja Semesta atau tidak. Lagi pula, terhadap gerakan penghormatan semacam ini, yang juga menjadi perdebatan di kalangan sebagian cendekiawan Alam Rahim, beberapa bayi hanya melakukannya sebagai formalitas saja. Semacam kewajiban atau tradisi, mereka tidak melakukannya karena kebutuhan, kerinduan, atau cinta yang meluap-luap. Tanpa penghayatan kesyahduan rasa hormat sesungguhnya.

Ya, kau benar. Gerakan ini tentu saja hanya perlambang. Semacam pengakuan bahwa di hadapan keagungan Raja Semesta kau bukanlah apa-apa. Bukanlah siapa-siapa. Kesempurnaan wajahmu yang kaupikir lebih baik daripada seluruh bagian tubuh yang kaumiliki bahkan bukan apa-apa bila dibandingkan keagungan dan kesempurnaan Raja Semesta. Atau dalam makna lain, kau harus membenamkan egomu hingga benar-benar berada di titik paling rendah. Kepala adalah simbol ego dan pantat adalah simbol kepasrahan—seperti kau tahu.

Kau tidak tahu? Bukankah pantatmu selalu rela menjadi bagian yang terburuk di antara semuanya? Saat kau duduk, dialah yang menopang tubuhmu dan menjadi bagian paling menderita. Bahkan saat kau buang air besar, ia menjadi satu-satunya bagian tubuhmu yang dengan rela mengerjakan semuanya. Bayangkan kalau tugas itu harus dikerjakan oleh tangan, dada atau kepalamu, saat kau harus buang air besar dari sana, pasti kau tak mau! Tapi pantatmu adalah simbol kerelaan dan kepasrahan total yang luar biasa rendah hati.

Maka inilah yang kau lakukan: memutar tubuhmu hingga kepalamu benar-benar berada di bawah dan pantatmu benar-benar berada di atas. Rasakanlah kesyahduan penghormatan yang benar-benar pasrah… Kau tahu, Raja Semestalah yang memberimu napas, gerak, detak, hidup, semuanya. Mungkin kalau Dia tak ada, kau juga tak ada. Tetapi kalau kau tak ada, Dia tetap ada.

Ini memang semacam iman. Tapi, jangan salah kira, iman bukanlah semacam kepercayaan yang tolol dan buta. Atau kemurnian yang kosong. Iman lebih kaya daripada kemurnian. Tapi, daripada jadi perdebatan baru, para cendekiawan Alam Rahim lebih senang menyebutnya spiritualitas. Mungkin istilah itu lebih tepat: Spiritualitas. Semacam rasa penghormatan otomatis terhadap kebesaran yang lebih agung, keluhuran yang lebih abadi daripada apa pun yang “ada”.

 

***

 

Di usiamu yang ke-34 minggu di rahim ibumu, hari-harimu adalah hari-hari penuh penghormatan yang takzim. Hingga pada suatu hari kau mendengar suara itu…

            “Selamat siang,” Seseorang dengan wajah yang begitu tampan dan bersih mendekati dan menyapamu. “Bangunlah.” Katanya ramah.

Kau terkaget, matamu terbelalak. “Eh, aku sulit untuk bangun, Yang Mulia. Di sini sempit sekali!” katamu. Entah kenapa tiba-tiba kau memanggilnya ’Yang Mulia’.

“Panggil saja aku Vatar.” Kata lelaki dengan wajah yang begitu tampan dan bersih itu.

“Apakah kau Raja Semesta?” Kaupikir lelaki ini Raja Semesta. Akupun berpikir begitu. Ia benar-benar tampak berwibawa dan agung. Ada perasaan aneh ketika ia mendekatimu, bukan? Akupun merasa begitu. Apalagi ketika ia menyapamu. Tiba-tiba, seolah muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Sesuatu yang membuat dirimu merasa lega dan tenang. Hatimu seperti tahu bahwa yang kauhadapi bukanlah seseorang yang biasa. Tidak seperti Kucing yang Bisa Berbicara, Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki, Amadeus, atau Aynu si Penunjuk Jalan atau yang lainnya. Ini berbeda. Tepatnya, benar-benar berbeda.

“Tidak, tidak,” katanya agak terkaget. “Aku bukan Raja Semesta. Perkenalkan, namaku Mahavatara. Kau boleh memanggilku Vatar.”

“Eh, Baik. Tuan Vatar, apakah Anda juga berasal dari Alam Rahim?”

“Benar. Aku berasal dari suatu tempat di Alam Rahim.” Katanya sambil tersenyum ramah. Wajahnya berseri-seri dan bercahaya, kulitnya bersih, badannya tidak kurus juga tidak gemuk, wajahnya rupawan, bola matanya hitam, bulu matanya lentik, alis matanya panjang bertautan.

“Ada apa Tuan mendatangi saya?” Kau agak rikuh berhadapan dengan Vatar. Ada sesuatu yang aneh pada dirinya yang membedakannya dengan orang-orang pada umumnya yang pernah kau temui. Jika ia diam, tampaklah kharismanya. Jika sedang berbicara, ia tampak agung dan santun. Ucapannya menyejukkan hati—kaupikir, tentu ada yang tak biasa dengan getar suaranya.

“Tidak ada apa-apa.” Vatar adalah lelaki yang selalu tersenyum, setidaknya itu kesimpulanmu setelah beberapa saat bersamanya. “Aku diutus untuk mendatangi semua bayi yang sebentar lagi akan dilahirkan.” Katanya kemudian.

“Diutus? Siapa yang mengutusmu?”

“Kira-kira, siapa menurutmu?”

“Aku tidak tahu. Tidak ada ide.” Kau menjawabnya sambil tersenyum. Baru beberapa saat saja bersamanya, kau sudah mulai merasa akrab dengan Vatar.

“Yang mengutusku adalah yang memberikan detak jantung untukmu, yang menguasai waktu, yang memberikan kehidupan bagimu.”

Kau berpikir sejenak, sampai kau menyadari kata-katanya soal menguasasi waktu, lalu kau ingat apa yang pernah dikatakan Profesor Waktu dan berkata, “Wow! Kau utusan Raja Semesta? Itu keren!”

Sekali lagi, ia hanya tersenyum. “Sebuah kehormatan bagiku.” Katanya kemudian.

“Mengapa Raja Semesta mengutusmu?”

“Aku diutus untuk mengajarkan hal-hal baik dan mengingatkan setiap bayi yang akan dilahirkan untuk menjauhi hal-hal buruk. Aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti. Belakangan, orang-orang bersikap begitu buruk, kejahatan dan kebencian di mana-mana. Maka aku diutus Raja Semesta untuk menyempurnakan budi pekerti.”

“Wow! Itu kedengarannya tugas yang penting. Tapi, budi pekerti itu apa? Maaf, aku masih bayi.” Katamu.

Vatar tersenyum. “Budi pekerti adalah segala yang kau pikirkan, kau rasakan, kau ucapkan, dan kau lakukan. Semacam gambaran dirimu. Kalau kau memikirkan hal-hal yang baik, mengucapkan hal-hal baik, dan melakukan hal-hal baik. Itu gambaran dirimu. Berarti kau orang baik—yang akan dicintai dan dikasihi semua manusia, seluruh alam dan penghuninya, dan juga Raja Semesta. Begitu juga sebaliknya, bila gambaran dirimu buruk, semua orang, seluruh alam dan penghuninya, juga Raja Semesta tidak akan menyukaimu. Dan itu sangat tidak menguntungkan!”

“Dan kau diutus untuk menyempurnakan ’budi pekerti’ itu? Maksudnya membuat semua orang menjadi baik?”

Vatar hanya tersenyum. Ia mengangguk dengan anggun. Ia tak mengatakan apa-apa, tapi itu cukup menjawab pertanyaanmu.

“Tapi, bagaimana caranya?” Katamu kemudian.

“Tidak ada caranya.” Jawab Vatar.

“Maksudmu tidak ada caranya?”

“Setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri untuk menjadi baik. Aku hanya memberitahu bahwa yang baik itu baik dan yang buruk itu buruk, kadang memberikan contoh-contoh juga. Tapi setiap orang boleh berbuat baik dengan caranya sendiri-sendiri, seperti mereka boleh menjauhi hal-hal buruk dengan caranya sendiri-sendiri.”

“Apa yang terpenting dari membiarkan mereka melakukannya dengan cara mereka sendiri-sendiri?”

“Niat, kebebasan, dan perbuatan.”

“Aku tak mengerti. Tolong dijelaskan.”

“Pada mulanya segala sesuatu adalah niat. Semacam benih yang tumbuh dari dalam hatimu. Pada saat seseorang berniat melakukan hal yang baik dan berniat menjauhi hal buruk; itu sudah satu kebaikan. Pada saat mereka membiarkan diri mereka menimbang niat itu dengan kebebasan yang mereka miliki—menggunakan akal pikiran mereka, perasaan mereka, dan seterusnya—kemudian tahu dan mengerti bahwa yang baik itu baik dan yang buruk itu buruk, itu dua kebaikan. Dan pada saat mereka melakukannya, mengerjakan hal yang baik dan menolak hal yang buruk, itu kebaikan yang bahkan lebih besar daripada seisi semesta!”

“Wow! Itu keren! Jadi apa yang harus kulakukan?”

“Menabung kebaikan.”

“Untuk apa?”

“Bila satu kebaikan yang kau kerjakan bernilai lebih besar daripada seisi semesta, bukankah menabung kebaikan artinya menciptakan semesta-semesta baru yang dipenuhi nilai-nilai kebaikan? Misalnya membuat orang-orang tersenyum bahagia, menolong yang lemah, atau menyayangi sesama manusia. Bayangkan kebaikan-kebaikan itu mengisi semesta—dan terus menerus menciptakan semesta-semesta baru yang indah, bukankah hidup akan jadi lebih baik dan indah? Itulah surga, semesta kebaikan yang kau ciptakan sendiri dan membuatmu bahagia.”

“Bila aku melakukan hal yang buruk?”

“Santai saja. Sesekali tidak masalah kau melakukan hal yang buruk. Kadang-kadang itu penting juga untuk membuatmu tahu dan mengerti betapa tidak menguntungkannya mengerjakan hal-hal buruk dan betapa membahagiakannya mengerjakan hal-hal yang baik. Kadang-kadang, aku berharap bahwa orang-orang memiliki kemampuan tak terbatas untuk melakukan keburukan, sehingga mereka mungkin juga akan memiliki kemampuan tak terbatas untuk melakukan kebaikan…”

“Wow! Kau benar, Tuan Vatar! Raja Semesta tak salah memilihmu sebagai utusan!”

Vatar tersenyum padamu. Dan kau pun membalas senyumnya. “Ingatlah pesanku, yang terpenting adalah melakukan segala hal yang baik dan berusaha menjauhi segala hal yang buruk. Itu lebih baik daripada semesta dan seisinya. Lakukanlah dengan hati dan pikiran yang terbuka, lakukanlah karena kau ingin melakukannya. Raja Semesta akan bangga pada anak-anak yang melakukan kebaikan-kebaikan dan menjauhi segala keburukan. Lakukanlah seolah-olah Dia selalu berada di sampingmu. Dan meskipun kau tak bisa melihatnya, sesungguhnya dia selalu bersamamu—melihatmu dengan rasa bangga yang tak terkira.”

“Aku tak akan mengecewakanmu yang sudah jauh-jauh diutus Raja Semesta. Aku juga tak akan mengecewakan Raja Semesta.” katamu.

“Terima kasih. Maukah kau menjadi sahabatku?”

“Wow! Tentu saja mau!” Tawaran itu tentu saja tak akan kau biarkan lewat begitu saja. Lagi pula, siapa yang tak mau bersahabat dengan seorang utusan Raja Semesta?

“Sahabatku,” katanya dengan lembut, “Kelak kau akan terlahir ke Alam Dunia dan hidup di sana. Jadilah orang baik yang terus menabung kebaikan dan terus-menerus menyebarkan kebaikan. Dan, emmm... baiklah, aku sudah selesai dan kita harus berpisah.”

“Eh, kenapa buru-buru, sahabatku?” Kau agak kecewa mendengarnya akan segera pergi.

Tetapi, sebelum dia menjawab pertanyaanmu, dia sudah menghilang dari pandanganmu. Dan kau tak sempat melihat jejak terakhirnya. Baru saja dia pergi, tetapi kau tahu rasa rindu diam-diam mengintip dari balik hatimu. Hanya tinggal wangi parfumnya yang tertinggal. Wangi parfum yang entah bagaimana membuat perasaan dan pikiranmu terasa tenang.

Kau masih ingat kejadian itu? Kau masih ingat semua yang ia katakan kepadamu? Kau ingat janjimu pada Mahavatara tentang tak akan mengecewakannya dan tak akan mengecewakan Raja Semesta?

Semoga kau masih ingat...

*** 

Organ-organ tubuhmu saat ini hampir matang, kecuali paru-parumu yang belum berkembang sempurna—meskipun tetap membuat surfaktan dalam jumlah yang sangat banyak. Kau masih ingat cairan ini? Surfaktan adalah cairan yang mencegah kegagalan fungsi paru saat kau menghirup udara untuk pertama kalinya—kelak ketika kau lahir ke Alam Dunia.

Sejak bulan ini, lapisan plasentamu mulai menipis. Untuk membuat estrogen, plasenta mengubah sejenis hormon mirip testosteron yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal bayi. Pada bulan ini, asal kau tahu, kelenjar tersebut sebesar kelenjar pada seorang remaja, dan setiap hari menghasilkan hormon sepuluh kali lebih banyak daripada kelenjar adrenal orang dewasa. Dan kelenjar ini akan mengerut dengan cepat setelah kau lahir.

Tali umblikalmu semakin besar, kuat, dan kokoh. Zat padat yang kenyal mengelilingi pembuluh darah dan ini mencegah terbentuknya gumpalan yang dapat mempengaruhi suplai darah ke tubuhmu. Kau semakin siap untuk dilahirkan ke Alam Dunia.

Inilah bulan-bulan terakhirmu berada di Alam Rahim. Bulan-bulan terpenting yang benar-benar harus kau persiapkan menuju masa peralihan—masa persalinanmu dari Alam Rahim ke Alam Dunia.

(Bersambung)