Dilema Saat Teman Meminjam Uang

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 16 September 2016
Dilema Saat Teman Meminjam Uang

Dari banyak hal dilematis yang mungkin kita hadapi dalam hidup ini, bagi saya mengahadapi teman yang bermaksud meminjam uang adalah salah satu yang tersulit. Di sana saya selalu seolah ditarik ke dua kubu. Tetapi jangan bayangkan dua kubu dalam diri saya ini berlawanan. Ini bukan tentang baik-buruk atau hitam-putih. Ini tentang good vs good yang selalu membawa saya pada situasi serba tak enak. 

Teman yang meminjam uang bisanya berangkat dari dua premis sederhana. Pertama, ia sedang berada dalam situasi sulit yang membutuhkan bantuan seorang teman—sebab teman adalah pilihan yang paling masuk akal dalam situasi seperti itu. Berbeda dengan meminta bantuan kepada saudara atau anggota keluarga, meminta bantuan kepada teman rasanya lebih simple dan bebas dari urusan diomongin atau hal-hal lainnya terkait gengsi dalam keluarga. Apalagi keluarga besar. Masalahnya, mengapa mereka memilih kita sebagai teman yang dimintai bantuan itu? Mungki premis kedua bisa menjelaskannya.

Kedua, orang yang hendak meminjam uang kepada kita biasanya hidup dalam persepsi yang keliru atau overestimate tentang hidup kita: Bahwa hidup kita serba kecukupan bahkan berlebih—seolah kita tak punya kesulitan apapun. Teman yang akan meminjam uang kepada kita ini, entah mengapa menganggap segalanya gampang saja bagi kita. Padahal kenyataannya selalu tidak seperti itu. Mereka tidak tahu betapa kita pun bertarung dengan tantangan hidup kita masing-masing, berusaha memilah dan memilih mana yang prioritas dan mana yang bukan. 

Berdasarkan dua pertimbangan itulah seorang teman (entah mengapa biasanya teman lama, atau justru yang tak terlalu dekat dengan kita) menghubungi kita dengan maksud meminjam uang. Bagaimana prosesnya? Biasanya mereka akan memulai percakapan dengan basa-basi yang benar-benar basi. Lalu mulai mengeluarkan sebuah kalimat sakti… “Emm… Aku ada sesuatu yang perlu disampaikan. Sebenernya nggak enak sih…”

Mendengar kalimat itu, kita sudah tahu arah pembicaraannya. Tapi entah kenapa kita juga seolah punya mesin penjawab otomatis di kepala kita, “Nggak apa-apa. Emang kenapa?” Dan… Bingo! Teman kita akan mengatakan maksud yang sesunggunya, bahwa ia berniat meminjam sejumlah uang. Lalu bercerita mengenai latar belakangnya, juga janjinya seberapa cepat uang itu akan dikembalikan lagi.

Kita yang terjebak dalam situasi dilematis akan menanyakan lebih lanjut tentang berapa uang yang hendak dipinjam, kapan dikembalikan, dan seterusnya… Meski dalam hati kita sedang bingung mau meminjamkannya atau tidak (jika uangnya memang ada, atau jika kita tergerak mendengarkan alasan teman kita yang membutuhkan pinjaman itu). Di sinilah dilema good vs good yang saya ceritakan di atas terjadi.

Good yang pertama mengatakan kepada kita: Masak saat teman butuh bantuan kita kita tak membantunya? Bagaimana jika di saat lain kita yang butuh bantuan dari teman yang lain—atau bahkan dari teman yang hendak meminjam uang ini? Bagaimana kalau seandainya, karena tidak kita bantu, masalah yang ia hadapi semakin berat? Tegakah kita membuat teman berada dalam masalah yang berat?

Tetapi kita juga punya Good yang kedua. Good yang kedua ini mengatakan: Kita juga punya prioritas lain, lebih baik dahulukan kebutuhan yang telah kita prioritaskan—dari pada nanti kita yang justru bermasalah? Apakah kalau kita pinjamkan uang, itu akan jadi solusi untuk masalah teman kita, sebab bukankah banyak hubungan pertemanan harus berakhir karena masalah-masalah seperti ini? Bagaimana kalau setelah kita pinjamkan uang ia justru terjebak pada masalah yang lebih besar lagi dan sekaligus tak dapat mengembalikan uang yang dipinjamnya?

Saya punya tips yang sudah saya praktekkan lama untuk menghadapi dilemma good vs good saat teman meminjam uang seperti ini.

Pertama, jika kita memang tak bisa membantunya, katakan sedari awal bahwa kita tak bisa membantunya. Katakan sejujurnya. Jangan memberinya harapan. Sebagai teman, kita bisa menawarkan bantuan lainnya selain uang. Mungkin itu bisa membantu.

Kedua, jika kita memang sedang mampu untuk meminjamkannya uang, jangan pernah meminjamkan uang dengan nilai yang sama seperti yang dimintanya. Saya memegang prinsip orangtua saya, jika ada orang yang meminjammu uang dan kamu ingin memberinya, berikan hanya setengahnya saja. Sebab itulah kemampuan sebenarnya yang dimiliki orang itu untuk mengembalikannya. Menurut saya, selalu tawarkan 50%-nya adalah pilihan yang baik.

Ketiga, jika kita memang sedang mampu dan mau meminjamkan uang kita, sepakati mekanisme pencairannya dan mekanisme pengembaliannya. Ini penting. Misalnya, kita akan pinjamkan tetapi uangnya ditransfer (sehingga kita punya catatan resminya berupa bukti transfer). Pengembaliannya juga perlu diatur, misalnya buat jangka waktu, termin, atau lainnya. Ini akan saling memudahkan si peminjam dan yang dipinjami. Upayakan semuanya tercatat. Jika teman kita tidak keberatan, buat surat pernyataan atau kesepakatan yang ditandatangani. 

Keempat, ini yang menurut saya penting, katakan prinsip kita apa adanya di depan. Jika kita bukan tipe orang yang biasa meminjamkan uang, karena banyak alasan, katakan saja bahwa kita tak bisa membantunya meminjamkan uang. Tawarkan saja bantuan dalam bentuk lain. Toh, kita juga tetap bisa membantu yang sifatnya memberi, kan? Atau jika kita tipe orang yang oke-oke saja dipinjami uang tetapi membutuhkan semacam jaminan atau pegangan, katakan saja apa adanya.

Sejauh ini, empat hal itu saya lakukan. Tapi, begitulah… Tipe teman berbeda-beda. Dan saya sudah mengalami banyak pengalaman berbeda-beda pula dalam situasi ‘teman meminjam uang ini’, dari yang baik sampai yang tak ingin terulang lagi. Namun, bagaimanapun, saat teman meminjam uang, dilema good vs good itu selalu ada… 

Bagaimana dengan Anda?

 

Pamulang, 16 September 2016 

FAHD PAHDEPIE

Gambar dipinjam dari sini.


  • Mochamad Syahrizal
    Mochamad Syahrizal
    1 tahun yang lalu.
    Ketika seorang teman meminjam uang kepada saya, seolah antara aku dan dia sedang bermain permainan yang bernama "Social Engineering" .. Kami seolah bermain drama dengan improvisasi tingkat dewa .. dengan argumen-argumen paling kuat .. Intinya bagaimana caranya menang tanpa mendikte secara langsung perasaan hati .. #Curhat

  • Fitri Fauziah Ahmaru
    Fitri Fauziah Ahmaru
    1 tahun yang lalu.
    selalu uang, seringnya uang yang menjadi penyebab keretakan pertemanan. kalau saya, jika kita ada di posisi peminjam dan teman kita tak kunjung membayar pinjamannya, yang pertama tentu tanyakan secara pribadi dan beri jangka waktu, jika berkali-kali diberikan kesempatan namun tak kunjung mengembalikan maka, sebaik-baiknya adalah mengikhlaskan dan mendoakannya . pertemanan lebih berharga daripada uang.

    dan ketika ada di posisi peminjam, maka kita harus berusaha menepati janji kita. karena teman kita baik, telah membantu kita.

  • Hilmi Robiuddin
    Hilmi Robiuddin
    1 tahun yang lalu.
    Kalau tips agar temen mau segera ngembaliin uang yg dipinjem ada nggak? Hehehe...