Kita Hanya Akan Dipertemukan dengan Apa-apa yang Kita Cari

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Renungan
dipublikasikan 16 September 2016
Kita Hanya Akan Dipertemukan dengan Apa-apa yang Kita Cari

 Suatu kali Buya Hamka didatangi seorang laki-laki yang mengungkapkan keheranannya tentang tanah suci, “Masya Allah, Buya,” ujar laki-laki itu bersemangat, “Sungguh tidak sangka. Ternyata di Mekkah juga ada pelacur!”

Buya Hamka tampak tenang menanggapi keheranan si penanya yang menggebu-gebu itu, sambil menjawab, “Saya baru pulang dari Los Angeles dan New York,” sahut Buya Hamka, “Masya Allah, di sana tidak ada pelacur.”

Si penanya mengerutkan dahinya dan merasa tidak percaya pada apa yang baru saja dikatakan Buya Hamka, “Ah, tidak mungkin, Buya!” Jawabnya, “Di Mekkah saja ada pelacur. Di Amerika Serikat pasti lebih banyak lagi.” 

Buya Hamka mengangguk tenang, “Kita memang hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari,” jawabnya. 

Penggalan cerita di atas mengingatkan saya pada sebuah maksim dalam new tought philosophy yang diberi nama law of attraction atau hukum ketertarikan, “like attarcts like” bahwa hal-hal baik hanya akan menarik hal-hal baik lainnya. Hukum ini mendasarkan dirinya pada keyakinan bahwa manusia dengan pikiran dan perasaannya terbentuk dari sebuah energi murni, yang perubahannya sangat dipengaruhi oleh hal-hal lain yang mendekat kepadanya.

Saya tertarik untuk menggarisbawahi kalimat Buya Hamka yang terakhir, “Kita hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari”. Bagi saya, ini merupakan jawaban singkat dan sederhana yang sebenarnya memiliki pengertian yang kompleks. Berefleksi dari cerita di atas, Buya Hamka seolah ingin mengatakan bahwa ia tak menemukan pekerja seks komersial selama berada di New York dan LA karena tak mencarinya. PSK-PSK New York dan LA boleh jadi ada di kota itu, tetapi tak ada di sekeliling eksistensi Buya selama ada sana. Di sini Buya sedang ingin mengatakan bahwa ada atau tiadanya sesuatu sangat berhubungan dengan relasi (hubngan) kita terhadap sesuatu tersebut.

Di Mekkah boleh jadi ada pelacuran, tetapi ‘ada’ atau ‘tidak’-nya pelacuran itu bagi seorang individu tergantung bagaimana individu itu menghubungkan diri terhadapnya. Pengetahuan, di sini, menjadi kuncinya. Terang sekali bahwa Buya Hamka memilih untuk tidak tahu dan tidak mencari tahu tentang pelacuran di Mekkah… Sehingga ia tak bisa menemukan pelacuran di sana, sama seperti ia tak bisa menemukan para PSK di LA dan New York.

Apakah Tuhan itu ada? Selama kita tidak meletakkan ‘relasi’ dalam pertanyaan itu, maka ada atau tidak adanya Tuhan akan selalu bisa diperdebatkan. Tetapi, jika kita mempertimbangkan relasi sebagai salah satu syarat eksistensi, maka ada atau tiadanya Tuhan tergantung ada atau tiadanya relasi kita terhadap Tuhan. Terlepas dari apapun definisi kita tentang Tuhan, tentu saja. Meminjam cara pandang Buya Hamka: Bagi mereka yang mencari Tuhan, tuhan itu ada. Bagi mereka yang tidak mencari Tuhan, maka Tuhan tidak ada. Sebab kita hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari.

Saya jadi ingat sebuah buku yang sempat membuat heboh di tahun 2000-an berjudul The Secret, ditulis oleh Rhonda Byrne. Teori yang ditawarkan Bryne tentang kebahagiaan dan kesuksesan banyak terinspirasi dari hukum ketertarikan (law of attraction) yang saya jelaskan tadi. Bahwa kebahagiaan dan kesuksesan sangat bergantung pada cara kita mendekatinya… Apakah kita benar-benar menginginkannya dan mencarinya atau tidak? Apakah kita berhasil mengarahkan pikiran dan perasaan kita untuk mendekatinya? Jika ya, maka kita akan suskses dan bahagia. Jika tidak, maka kita tak akan sukses dan bahagia. Sebab kita hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari.

Hidup kita tidak ditentukan oleh serangkaian peristiwa kebetulan, tetapi diarahkan oleh sejumlah keputusan yang kita buat. Saya percaya bahwa kebahagiaan, kesedihan, kekecewaan, kemalangan, dan segala hal yang ada dalam hidup kita berasal dari keputusan-keputusan itu… Terkadang kita menyadari keputusan-keputusan itu, tapi terkadang juga tidak.

Semua keputusan yang kita ambil adalah hasil akhir dari proses yang terjadi dalam pikiran dan perasaan kita. Proses itu bisa cepat, bisa juga lambat. Tetapi yang namanya ‘proses’, ia pasti melalui sebuah sistem yang inheren dalam diri kita: Sistem akal dan rasa kita. Sistem itu terbangun dari berbagai hal yang pernah menimpa diri kita, semua yang pernah kita alami, dan segala yang pernah kita pelajari.

Jika kita memutuskan untuk mencari kebahagiaan, maka semua tindakan kita akan mengarah ke sana. Di sanalah kita akan merasa alam (segala yang di luar diri) membantu kita, seperti kata Bryne bahwa semesta akan mendukung! Jika kita memutuskan untuk tidak mencari kebahagiaan atau kesuksesan, semesta pun tak akan mendukung, sebab kita pun akan cenderung tidak memiliki sikap dan keputusan-keputusan yang akan mengarahkan diri kita pada sukses dan bahagia itu.

Jadi, apakah kita akan menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain? Apakah hidup berumah tangga dan pernikahan kita akan langgeng dan bahagia? Apakah karir kita akan sukses? Apakah kita akan bisa melewati semua ujian dan tantangan dalam hidup ini dengan baik? Semua tergantung cara kita mendekati semua itu. Kita hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari.

Pertanyaan terakhir, apa yang Anda cari dalam hidup ini?

 

Pamulang, 16 September 2016

FAHD PAHDEPIE

 

*Gambar diambil dari sini.


  • meyta fitrianingrum
    meyta fitrianingrum
    11 bulan yang lalu.
    Jadi kalau menurut mas fahd bagaimana, kalau kita belum menemukan apa yang kita cari (seseorang,lagi lagi jodoh ) apakah ada yang salah dengan cara berfikir, cara mengambil keputusan atau bagaimana?
    senang rasaya bisa bertukar pendapat dengan mas fahd

  • Muhammad Fatkhul Aziz
    Muhammad Fatkhul Aziz
    11 bulan yang lalu.
    Pernah bertemu sekali, dengan orang yang dicari selama ini.
    Yah... walaupun akhirnya dia harus pergi dari dunia ini lebih dulu.
    So, time to find the true one.

  • Agoy Tama
    Agoy Tama
    11 bulan yang lalu.
    mantap!

  • Kartini F. Astuti
    Kartini F. Astuti
    11 bulan yang lalu.
    Entah kenapa ini jadi terngiang, "Sebab kita hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari. Sebab kita hanya akan... Sebab..."

  • desy febrianti
    desy febrianti
    11 bulan yang lalu.
    Hidup kita tidak ditentukan oleh serangkaian peristiwa kebetulan, tetapi diarahkan oleh serangkaian keputusan yang kita buat.. --> Apa ini artinya kita melupakan ketentuanNya? bukankah pengambilan keputusan kita bukan murni hasil pemikiran kita? tapi ada ijin Allah disana?

    • Lihat 4 Respon