Yang Bisa Kita Pelajari dari Polemik Mario Teguh dan Ario Kiswinar

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Tokoh
dipublikasikan 11 September 2016
Yang Bisa Kita Pelajari dari Polemik Mario Teguh dan Ario Kiswinar

Izinkan saya ikut memberi pendapat mengenai polemik antara Mario Teguh dan Ario Kiswinar. Di tengah perdebatan mengenai status ayah-anak di antara mereka, di tengah hiruk pikuk dukungan dan caci-maki terhadap mereka berdua serta orang-orang di sekelilingnya, izinkan saya memberikan perspektif yang lain: Bahwa kadang-kadang kita tak perlu mencari ‘siapa’ yang salah dan lebih baik berusaha menemukan ‘apa’ yang salah.

Mencari ‘siapa’ yang salah biasanya lebih mudah daripada menemukan ‘apa’ yang salah. Tes DNA yang ditawarkan Mario Teguh, jika dilaksanakan di ruang yang netral, akan dengan mudah memberi kita jawaban ‘siapa’ yang salah dalam kasus ini. Tetapi, dalam hemat saya, tes DNA tak akan memberikan jalan keluar yang baik. Setelah kita tahu siapa yang salah, apakah semuanya akan berubah menjadi baik? Bagi saya, tidak. Siapapun nanti yang terbukti tidak bersalah tak akan menyelamatkan kapal yang terlanjur bocor dan siap karam di tengah laut lepas! Persepsi orang tentang Mario Teguh sudah terlanjur berubah, kita tahu, simpati dan pandangan orang terhadap Ario Kiswinar juga akan menemukan bentuknya sendiri.

Mario Teguh dalam sebuah wawancara klarifikasinya di Kompas TV mengutip dengan tepat kalimat Imam Ali, bahwa penjelasan apapun tak akan berguna bagi sahabatmu karena mereka mencintaimu dan tak akan berguna bagi musuhmu karena mereka membencimu. Tetapi Pak Mario lupa meletakkan nasihat Imam Ali itu pada konteks yang paling tepat, bahwa kebijaksanaan tak mungkin ditemukan dari tuduhan atau pembelaan-pembelaan apapun. Kebijaksanaan justru terletak pada kemampuan kita melampaui tuduhan dan pembelaan-pembelaan itu.

Di sini, tentu saja, tes DNA tak akan menjadi ujung dari persoalan ini. Apakah setelah hasil tes keluar dan fakta menunjukkan siapa Ario Kiswinar sebenarnya maka masalah akan berakhir? Tentu tidak. Bahkan sebelum tes DNA itu dilakukan pun, masalah-masalah lain pelan-pelan bermunculan, bukan? Menguak sisi lain dari masa lalu Mario Teguh dan Ario Kiswinar, bahkan melibatkan keluarga besar mereka dan—dugaan saya—akan lebih luas lagi. Memang begitu naturnya, upaya untuk menemukan siapa yang salah dalam sebuah persoalan, seraya membersihkan diri dan menangkis tuduhan-tuduhan, hanya akan membuat masalah menjadi lebih rumit lagi. 

Bagi Mario Teguh dan Ario Kiswinar, serta keluarga besar mereka, sampai pada satu kesimpulan yang memperjelas kasus ini mungkin merupakan sesuatu yang penting dan perlu ditempuh. Dari sana mereka akan bisa menentukan sikap dan langkah selanjutnya. Tetapi bagi kita, publik yang terlanjur kepo dan terjerumus untuk terpaksa tahu ‘masalah internal keluarga’ itu, tak lagi penting siapa yang salah di antara Mario atau Ario. Seandainya ada hal yang perlu kita tahu, kita perlu tahu ‘apa’ yang salah dari semua ini… Sehingga dari sana kita bisa mengambil hikmah untuk kita jadikan pelajaran dalah kehidupan kita masing-masing.

Kisah Mario dan Ario memberi tahu kita bahwa menusia berjalan dengan tragedi dalam hidupnya masing-masing. Kita jadi tahu bahwa Mario Teguh yang tampak sempurna ternyata memiliki kekurangan dan masa lalu yang berat. Bahwa hidupnya tak semudah nasihat-nasihat yang dibagikannya selama ini. Bahwa manusia memiliki batas dan ruang gelapnya masing-masing…

Setiap orang suci punya masa lalu, setiap pendosa punya masa depan. Saya selalu menyukai nasihat Oscar Wilde itu. Nasihat yang selalu menyadarkan saya bahwa kita tak boleh menilai seseorang hanya dari apa yang kita lihat sekarang saja... Kita tak boleh mengira bahwa orang suci tak pernah punya cela, sama seperti tak boleh berkesimpulan bahwa pendosa tak mungkin berbuat baik baik di kemudian hari.

Adalah niscaya seseorang punya sisi gelapnya masing-masing. Tak ada satupun manusia yang tumbuh tanpa pernah melakukan satupun kesalahan dalam hidupnya, bukan? Apalagi jika kita ingat bahwa manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Bahkan, konon, dosa dan kesalahanlah yang menandai progresi kehidupan kita. Tanpa dosa dan kesalahan manusia tak akan bergerak dan menemukan pemaknaan-pemaknaan baru… Mungkin itu juga yang menjadi fondasi bagi kesimpulan Goenawan Mohammad, bahwa hidup manusia ditumbuhkan dari najis dan dosa.

‘Apa’ yang salah dari drama yang disajikan Mario dan Ario adalah bahwa hubungan keluarga dan rumah tangga merupakan sesuatu yang rumit dan tak pernah bisa diselesaikan dengan lari dari masalah itu. Apapun yang sebenarnya terjadi puluhan tahun yang lalu, semua kisah di seputar drama dan tragedi ini memberi tahu kita bahwa ‘ada yang belum selesai’ di antara mereka. Tentang tuduhan perselingkuhan, tentang status anak, tentang perceraian, hingga hubungan dengan keluarga besar pasca-pernikahan berikutnya.

Seandainya mereka bisa mendinginkan kepala dan duduk bersama untuk mencari jalan keluar bagi masalah-masalah itu—tanpa perlu melibatkan publik dalam mencari siapa yang salah—maka mungkin masalah-masalah itu akan menemukan jalan keluar yang lebih baik, lebih bijaksana, dan lebih mendamaikan serta memberi keberkahan bagi mereka samua. Alih-alih saling melemparkan tuduhan dan memasang benteng pembelaan masing-masing.

Sekarang, buat kita, paling tidak ada tiga hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa ini. Pertama, kasus ini memberi tahu kita bahwa kita perlu memberi ruang kecewa ketika berhadapan dengan seseorang yang kita kagumi—siapapun orang itu. Kita perlu sepenuhnya menyadari bahwa tak ada satupun manusia biasa yang sempurna dan tanpa cela di dunia ini. Ruang kecewa itu akan memberi kita pengertian ketika kita mendapati orang yang kita kagumi melakukan kesalahan-kesalahan. Saya selalu suka nasihat ini: Jangan mencintai apapun dan siapapun 100%, sebab kita harus memberi ruang sisa agar cinta itu masih bisa tumbuh… Ruang itu juga berfungsi untuk menoleransi perasaan saat kita dikecewakan.

Kedua, bahwa pernikahan bukan hanya tentang menyatukan dua hati dan dua individu. Pernikahan adalah tentang menyatukan dua keluarga—dengan berbagai konsekuensi dan kondisi yang inheren di dalamnya. Penyatuan dua keluarga ini dalam tradisi Nusantara disebut besanan atau besan. Konon, kata ini berasal dari Bahasa Arab, baytaani yang berarti ‘dua rumah’ atau ‘dua keluarga’. Masalah yang dihadapi keluarga inti Mario Teguh yang sekarang, yang bersamanya mungkin saja attached keluarga besar istri keduanya, dengan keluarga besarnya sendiri patut diduga bermula dari tidak selesainya penyatuan baytaan ini. Di sini, mungkin kita perlu menengok keluarga kita sendiri, memperbaiki apa yang belum baik, menuntaskan apa-apa yang belum selesai.

Ketiga, hubungan ayah dan anak bukanlah semata hubungan darah belaka. Jika Mario Teguh memang menyayangi Ario Kiswinar, siapapun dan bagaimanapun dia, sebenarnya tak akan mengubah status ayah-anak mereka. Mario akan tetap bisa menyayanginya, bahkan jika kasih sayangnya itu tak ‘berbalas’ sekalipun. Kehormatan dan keluhuran pribadi Mario Teguh tak akan sedikitpun tercoreng atau terendahkan jika ia tetap menyayangi Ario—bagaimanapun ia. Atau paling tidak, jika Mario tak bisa menyayangi Ario sebagai anak, ia tetap bisa menyayanginya sebagai manusia, bukan? Namun, dalam kasus Pak Mario dan Ario Kiswinar, tentu perlu mempertimbangkan dimensi lain juga. Alasan Pak Mario, jika benar, juga perlu dihargai dan kita layak berempati kepadanya. 

Akhirnya, tampaknya kasus ini masih akan terus bergulir dan penyelesaiannya masih membutuhkan waktu yang cukup panjang. Tulisan saya ini tak sedikitpun berpretensi menyalahkan atau mendukung salah satu pihak, juga tak berusaha memberikan nasihat atau solusi bagi permasalahan mereka. Tulisan ini hanyalah sebuah refleksi… Cara saya melihat persoalan ini. Cara seorang individu yang terlanjur terpapar urusan keluarga orang lain dan terpaksa perlu memiliki sikap tersendiri tentangnya… Maka inilah yang saya pilih. Bagi saya, betapa sayang dan sia-sianya waktu kita yang terpaksa mengikuti masalah ini di berbagai media jika kita tak berhasil memungut satu-dua hikmah dari sana.

Besok umat Muslim di seluruh penjuru dunia akan merayakan Hari Raya Idul Adha, sebuah momen sakral untuk memperingati keluhuran dan keagungan cinta sepasang ayah dan anak bernama Ibrahim AS dan Ismail AS. Jika kita mencari model hubungan ayah dan anak seperti apa yang perlu kita tiru, mungkin Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tak ada bandingannya. Anak seperti apa kira-kira yang rela mengorbankan dirinya (dalam pengertian yang sesungguhnya) untuk memenuhi keagungan nubuat ayahnya… Cinta dan kasih sayang ayah seperti apa kira-kira yang berhasil mendidik dan membentuk anak semacam itu?

 

Pamulang, 11 September 2016

FAHD PAHDEPIE 


  • Embun Pagi
    Embun Pagi
    10 bulan yang lalu.
    "Jangan mencintai apapun dan siapapun 100%" sepakat banget. Karena menulis adalah cara kita menasehati diri sendiri. Maka stop mem blow up pasangan bahkan anak2 kita terlalu berlebihan.

  • F. Nurul Istiqamah
    F. Nurul Istiqamah
    10 bulan yang lalu.
    terharu bacanya, Kang. semoga tulisan ini bisa menginsyafi kita --aku, bahwa bukan soal siapa yang salah tapi apa yang salah, lalu kemudian menyikapi dengan bijak paparan informasi di sekitar kita.

  • Kartini F. Astuti
    Kartini F. Astuti
    10 bulan yang lalu.
    Jernih dan mencerahkan, Kang. Terlebih saat Kang Fahd mengkorelasikan kasus ini dengan nubuat Ibrahim.

  • Uhty Zhu
    Uhty Zhu
    10 bulan yang lalu.
    Setelah baca tulisan Kak Fahd, tiba2 teringat sesuatu yg 'sangat biasa' namun jarang sekali disadari.. Mario Teguh yg tampak sempurna ternyata memiliki masa lalu yg berat.. Bagi saya, justru jika Mario Teguh hanya memiliki masa lalu yg berat, bagaimana mungkin dia bisa begitu menginspirasi dengan kalimat2 dan pemikirannya? Bukankah pengalaman akan jadi guru paling baik? Yah, walaupun pengalaman org lain bisa juga kita jadikan referensi.. Namun setelah kita jatuh, kita pasti tahu bagaimana memantapkan langkah untuk berlari dan berhati2 untuk tidak terjatuh lagi.. Mungkin, Mario Teguh muda, tidak sedewasa sekarang untuk mengatasi problem itu dulu.. Dan sudah terlanjur terluka untuk bisa mengerti dan memahaminya sekarang.. Tentu sy sepakat, urusan yg mengikutsertakan publik tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah dengan mutlak.. Sejak isu ini mencuat, sy yakin karir Mario Teguh sudah tamat.. Walaupun dia bisa bangkit, sinarnya tak akan secemerlang sebelumnya.. Namun diluar itu, semoga masalah ayah dan anak ini bisa diselesaikan dengan damai.. Mengingat seorang anak yg mendambakan kasih seorang ayah ini begitu menyayat hati, entah ayah kandung atau bukan, sosok ayah bagi si Ario adalah Mario Teguh.. Kita juga perlu mengambil pelajaran dari kisah ini.. Salam Baik..

  • Shanti Agustiani
    Shanti Agustiani
    10 bulan yang lalu.
    he he he..terima kasih udah share renungannya bang fahd... tahu aja kalu kami ikutan kepo...