Bagian 10: Ibu

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Project
dipublikasikan 05 September 2016
Rahim: Semesta Sebelum Dunia

Rahim: Semesta Sebelum Dunia


Novel ini pernah diterbitkan oleh GoodFaith (2009), juga pernah diterbitkan dengan judul 'Semesta Sebelum Dunia' (NouraBooks, 2013). Cover: Ragillia Rachmayuni Ilustrasi: Adrianne Yuanita

Kategori Fiksi Umum

28.2 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian 10: Ibu

Baiklah, sebelum kita memulai semuanya, aku sarankan kau terlebih dahulu membenarkan posisi dudukmu. Buatlah dirimu senyaman mungkin. Aku akan menceritakan hal yang sangat penting dan cukup panjang. Setidaknya kau mesti duduk dengan punggung yang tegak karena aku akan menyampaikan kepadamu sebuah cerita sedih…

Inilah salah satu alasan terpenting mengapa Pengabar Berita dari Alam Rahim sepertiku ditugaskan ke Alam Dunia. Inilah salah satu alasan terpenting mengapa mesti ada tim elit Satuan Tugas Pengembalian Kepercayaan dan Sakralitas Alam Rahim. Salah satu alasan penting itu adalah para ibu; para perempuan pemilik rahim, tempat di mana Alam Rahim mungkin berjalan sebagaimana mestinya.

Kau tahu, belakangan banyak sekali anak-anak yang tak menghargai ibunya. Anak-anak yang tak menyayangi ibunya. Anak-anak yang sama sekali lupa bahwa mereka pernah meminjam setengah nyawa ibunya ketika hidup selama sembilan bulan di dalam kandungan ibunya.

Entah virus apa yang menyerang pikiran mereka, mematikan perasaan mereka. Saat mereka beranjak dewasa dan memiliki kehidupannya sendiri secara penuh, mereka seperti melupakan semuanya; bahwa ibulah yang membantu mereka sampai ke Alam Dunia, bahwa ibulah yang merelakan tubuhnya kau tumpangi selama kurang lebih sembilan bulan sebelum kau dilahirkan, bahwa ibulah yang mempertaruhkan nyawanya ketika kau harus datang ke Alam Dunia.

Ah, entah virus apa yang menyerang pikiran mereka, mematikan perasaan mereka. Anak-anak itu, saat mereka tumbuh dewasa dan memiliki kehidupannya sendiri secara penuh, mereka berani membentak ibu mereka dengan kemarahan yang menyakitkan. Bahkan lebih dari itu, mereka memukul atau melakukan hal lain yang tidak pantas hingga membuat para ibu menangis dengan bibir yang menggigil—dengan hati yang perih terluka.

Asal kau tahu, anak-anak semacam itu adalah anak-anak yang setiap hari dikutuk di Alam Rahim. Seluruh Kerajaan Alam Rahim mendoakan mereka agar segala hal yang buruk menimpa dan segala hal yang baik dijauhkan darinya. Lebih dari itu, Kerajaan Alam Rahim bahkan memiliki sebuah kuil khusus yang menampung air mata dan kesedihan para ibu yang dilukai anak-anaknya… Namanya, Kuil Kesedihan Alam Rahim.

Kalau Ibumu menangis karenamu, dan air matanya menetes sampai ke Kuil Kesedihan Alam Rahim, sebagian malaikat menyelinap pada butiran-butiran air matanya. Lalu butiran-butiran air mata itu akan menjadi kristal cahaya yang membuat sebagian malaikat yang lain merasa silau dan marah kepadamu. Dan tersebab kemarahan para malaikat adalah kemarahan yang suci, Raja Semesta tidak akan melarang mereka tatkala menutup segala pintu kebaikan untukmu. Bahkan bila kemarahan mereka sampai pada puncaknya, kau akan menjadi seseorang yang sangat menderita di Alam Dunia dan di Alam-alam berikutnya yang akan kau jalani. Terjadilah, maka terjadilah: pintu surga tertutup selamanya bagimu!

Itulah sebabnya, di Kuil Kesedihan Alam Rahim hanya ada satu hukum yang berlaku: jangan pernah membuat Ibumu sakit hati dan menangis karenamu, kecuali kau punya cukup keberanian untuk membuat Raja Semesta naik pitam dan murka pada seluruh hidupmu!

Ibumu adalah ibunda seluruh Kerajaan Alam Rahim. Maka ketika ada seorang anak yang durhaka pada ibunya, mungkin saja ibunya memang rela dan memaafkan kesalahannya. Tetapi tidak bagi para penghuni Kerajaan Alam Rahim. Karena meskipun Ibumu akan senantiasa memaafkanmu, tetapi setiap pemaafannya atas kesalahanmu akan digenggam erat-erat oleh para penghuni Kerajaan Alam Rahim untuk kelak mereka usulkan pada Raja Semesta agar menjadi suluh nerakamu. Sebab, Ibumu adalah ibunda seluruh Kerajaan Alam Rahim. Bila kau menyakitinya, berarti kau melukai perasaan seluruh penghuni Kerajaan Alam Rahim—tanpa kecuali.

Betapa tidak, mereka menyaksikan semuanya! Saat pertama kali kau masih menjadi embrio, menjadi janin, menjadi seorang bayi yang melakukan segalanya di rahim ibumu; Kau bergerak kesana-kemari di rahim suci ibumu, meminum cairan dari air ketubannya, menendang dan memukul dinding rahimnya dari dalam, membuatnya kesakitan dan kadang-kadang harus terjaga tiba-tiba ketika ia sedang tertidur. Ia mengorbankan hampir segalanya untukmu, bahkan nyawanya, agar kau, anaknya yang sangat ia cintai, bisa tumbuh sempurna menjadi bayi yang sehat dan terpenuhi segala kebutuhannya.

Maka, apabila suatu hari saat kau sudah besar kau berani menyakitinya dan membuatnya menangis sedih karenamu, betapa sedih seluruh penghuni Kerajaan Alam Rahim yang selama ini menyaksikan pertumbuhanmu di rahim ibumu. Betapa terpukul hati mereka. Betapa kecewa. Gerangan virus jahat macam apakah yang merasuki otakmu dan membutakan hatimu?

            “Yah, anak kita sudah delapan bulan, lho! Sebentar lagi dia akan lahir ke dunia. Sudah saatnya kita menyiapkan sebuah nama untuknya, kan?” Kata ibumu.

            “Tentu saja.” Kata ayahmu yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. “Kira-kira siapa namanya, ya, Bu?” Beberapa saat kemudian ayahmu menghentikan pekerjaannya.

            “Mikal? Seperti rencana kita semula?” Ibumu ingat sebuah nama yang pernah diusulkan Ayahmu.

            “Hmmmm… Aku sudah nyiapin nama itu sejak masih kuliah, sih. Tapi, Ibu setuju nggak kalau namanya Mikal?”

            “Ibu juga suka, kok. Namanya unik. Jarang aja gitu yang pake nama itu.”

            “Setuju!” Ayahmu memasang wajah gembira dengan ekspresi yang agak berlebihan sambil mengacungkan tangannya.

            Ibumu tertawa kecil sambil memegangi perutnya yang kian membesar. Matanya menyipit.

            Setelah beberapa saat, ibumu mengajukan pertanyaan lanjutan, “Nama lengkapnya?”       

            “Ada usul?” Tanya ayahmu.

            “Ibu nggak tahu, Yah. Belum tahu. Yang penting apa saja yang terbaik untuk anak kita.”

            “Ya, yang terbaik. Ayah juga mau yang terbaik untuk anak kita donk!” Balas ayahmu sambil tersenyum. “Nanti kita pikirin sama-sama, ya?”

Kau tahu, bila kau diberi kesempatan untuk mengikuti seluruh gerak-gerik ibumu ketika mengandungmu, melihat seluruh sketsa hidup yang ia jalani bersamamu di perutnya, kuyakinkan kepadamu bahwa ia melakukan segala hal yang terbaik yang ia bisa lakukan untuk menjagamu, merawatmu, memberikan segala yang terbaik untukmu.

Bila sedikit saja ia merasa ada yang salah dengan perkembanganmu di dalam rahimnya, ia akan sangat panik dan gelisah. “Apa kandungan saya baik-baik saja, dok? Bayi saya tidak kenapa-kenapa kan? Apa yang harus saya lakukan?” Ya, ia menjadi mudah sekali panik dan gelisah. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu—sekecil apa pun itu.

Lalu, ketika dokter atau seseorang menyarankannya untuk melakukan sesuatu atau memakan sesuatu, misalnya saran untuk melakukan gerakan-gerakan tertentu atau memakan buah-buahan tertentu agar pertumbuhanmu di dalam rahim terjamin kebaikannya dan kelahiranmu kelak menjadi lancar, ibumu akan sepenuh hati melakukan semuanya—bahkan kadang-kadang, karena begitu bersemangat dan segalanya jadi tampak berlebihan.

Tetapi itulah ibumu, ibunda darah dagingmu. Perempuan yang rela memberikan semua miliknya yang terbaik hanya untukmu. Perempuan yang rela melakukan apa saja dan mengorbankan apa saja untuk segala kebaikanmu.

Bila kau diberi kesempatan untuk mengikuti seluruh gerak-gerik Ibumu ketika mengandungmu, seluruh sikap dan tindakannya, melihat seluruh sketsa hidup yang ia jalani bersamamu di perutnya—kuyakinkan kepadamu bahwa jangankan kau berani menyakitinya atau membuatnya menangis, mengecewakannya pun tak!

Andai kau melihat seluruh sketsa itu dan mengerti…

Pada hari-hari menjelang kelahiranmu, ia akan menjadi sangat sibuk pada banyak hal. Ia meminta ayahmu, dan anggota keluarga lainnya untuk menyiapkan ini-itu untuk segala keperluan untukmu. Bahkan sejak beberapa bulan sebelumnya, bersama dengan ayahmu, ia sudah menyiapkan tempat tidurmu yang terbaik, pakaianmu yang paling indah, dan segala keperluan yang kelak mungkin kau perlukan. Segalanya sudah siap bahkan sebelum kau lahir… Ibumu menyiapkan semuanya, melakukan apa pun yang terbaik yang ia bisa untuk menyambut kehadiranmu di dekapannya…

Lalu ketika ia mengalami kontraksi, detik-detik menjelang kelahiranmu, wajahnya tampak pucat diselimuti rasa gelisah dan khawatir. Ada rasa sakit yang mendesak-desak dari dalam perutnya. Rasa sakit yang sekuat tenaga ia tahan hingga keluar semua keringat besarnya. Ia tentu saja menginginkan proses persalinannya berjalan lancar dan baik-baik saja, tetapi ia tetap tak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Sedikit saja kesalahan terjadi dalam proses peralihanmu dari Alam Rahim ke Alam Dunia, mungkin ia akan tiada atau ia tak bisa mendekapmu lagi untuk selama-lamanya.

Di atas semua itu, pucat wajahnya sebenarnya dikarenakan rasa sakit yang mendesak-desak dari perutnya. Rasa sakit yang teramat. Sakit seperti ketika jantung diremas dan nyawa akan dicabut. Sakit hingga ke ubun-ubun kepalanya. Ya, sebab kau sudah mendesak-desak ingin keluar. Dan rasa sakit itu benar-benar tak tertanggungkan.

Maka ketika ia disandarkan di sebuah pembaringan khusus di rumah sakit, ketika dokter memintanya untuk menarik napas dalam-dalam, melepaskannya, mendorong dan mengejan, ia benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa takut dan kekawatirannya tentang keselamatanmu. Dalam jerit pita suaranya yang terjepit, air matanya meleleh menerjuni tebing pipinya. Ia memang kelelahan dan kesakitan luar biasa, tetapi apa pun akan ia lakukan untuk segala kebaikanmu—agar kau bisa lahir dengan selamat dan sempurna.

Dan ketika kelak kau lahir dan mempersembahkan tangisan pertamamu… Ibumu benar-benar tak bisa menahan banjir air matanya. Dalam wajah yang tampak kelelahan luar biasa setelah menahan mahasakit yang begitu nyeri hingga ke ulu hati, ia menatapmu penuh kasih dan tersenyum penuh kebahagiaan. “Anakku,” katanya dalam hati, “Terima kasih sudah memberiku perjalanan dan pengalaman yang mengubah hidupku, hidup kita berdua. Kini aku telah menjadi seorang ibu, dan kaulah anakku yang sangat kucintai—sepenuh hidupku.” Saat kau tiba, kalian berdua tak lagi menjadi manusia yang sama. Dialah ibumu, ibunda darah dagingmu, dan kaulah kecintaannya yang paling ia tunggu.

Lalu saat kau diserahkan pada pelukan ibumu, kau yang menangis keras karena merasa kehilangan sesuatu, merasakan lagi getar itu, detak itu, kehangatan itu, yang selama sembilan bulan hidupmu di dalam rahimnya seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dirimu—dari hidupmu. Lalu kau pun terdiam, merasakan kehangatan dan ketenangan itu, dan mata Ibumu yang teduh dan penuh kasih menatapmu dalam-dalam… “Kaulah,” kata Ibumu dalam hatinya, “Pangeran kecilku, kecintaanku, yang paling kucintai.” Dan segaris senyum melengkung manis di bibirnya yang puitis.

Lalu waktu membawa kalian berdua pada pengalaman-pengalaman suci yang menjadi tonggak penting perjalanan hidupmu berikutnya; Saat kau disusui olehnya, saat kau dimandikan olehnya, saat kau gelisah dan tak bisa tidur lalu ia mendendangkan sebuah lagu untukmu, saat kau terluka tetapi dia yang diserang rasa sakit, saat kau terjatuh dan berdarah tetapi ia yang menangis—sebab kau adalah kecintaannya, anugerah terindah yang akan selalui ia sayangi sampai mati.

Ingatkah saat ia mengajarimu sesuatu? Memaki sepatu atau memotong kuku? Ingatkah saat ia memarahimu tetapi selalu meminta maaf setelahnya? Ingatkah saat ia mengangkat tubuhmu tinggi-tinggi, memutarkan badannya, dan berkata… “Pangeranku, pangeranku, Ibu mencintaimu. Apakah kau mencintaiku?” Dan kau tertawa kecil menggemaskan.

Waktu cepat berlalu, dan kau pun beranjak besar, lalu ia mengantarkanmu untuk pertama kalinya berangkat sekolah… Setelah menyiapkan seluruh perlengkapan yang kau butuhkan, memakaikan pakaian seragam pertamamu, menyisirkan rambutmu, dan menyuapi sarapan pagimu.

Saat kau berkelahi di sekolah, Ibumu memarahimu dan mengingatkanmu agar kau menjadi anak yang baik… “Sayangku, bila kau terluka, akulah yang berdarah,” katanya, “Apakah kau ingin Ibu kesakitan?” Lalu kau menggelengkan kepalamu sambil berjanji tak akan mengulanginya lagi. Dan dialah ibu kandungmu, ibunda kehidupanmu, yang selalu mempersembahkan senyumnya yang paling indah dan tulus—senyum yang menenangkan dan membuatmu nyaman…

Dialah Ibumu, ibunda darah dagingmu. Dialah ibu kandungmu, ibunda kehidupanmu. Lalu, yang selalu membuatku heran, mengapa setelah kau dewasa dan merasa bisa mengurusi kehidupanmu sendiri kau akan melupakan semuanya? Melupakan segala kebaikan hati dan pengorbanannya? Dan kau berani memarahinya, membuatnya menangis dan bersedih, mengecewakan hatinya dan melukainya? Gerangan virus jahat macam apakah yang merasuki pikiranmu, membutakan hatimu?

Ketika kau sudah beranjak dewasa dan dia masih terlalu memperhatikan ini-itu tentangmu, mengapa kau berani membentaknya? “Iya, Bu! Aku kan sudah besar!” Katamu. Aku tak mengerti. Sungguh-sungguh tak mengerti. Bahkan kau membuatnya terus-menerus khawatir saat menunggumu pulang dari suatu tempat, kemudian dengan alasan yang tak masuk akal kau melanggar semua janjimu pada ibumu, lalu saat dia mengingatkanmu, memintamu segera pulang karena ia begitu mengkhawatirkanmu, bahkan kau berani mengumpatnya, “Dasar cerewet!” Katamu dalam hati, “Aku sudah besar!”

Memangnya kenapa kalau kau sudah besar? Aku tak mengerti. Sungguh-sungguh tak mengerti. Apalagi ketika kau memutuskan untuk pergi, meninggalkan ibumu dalam waktu yang cukup lama, untuk meneruskan hidupmu sendiri. Jangankan menghubunginya atau memberinya kabar, mengingatnya pun kau tak! Padahal ia selalu menunggumu, dengan debar rindu di muka pintu, “Sedang apa kau di sana, anakku sayang?” Bisiknya lirih.

Dan saat ia tua dan tak berdaya, kau membiarkannya sendiri dan kesepian—karena kau pikir kau sibuk dengan tugas-tugas dan pekerjaanmu. Saat ia sakit, kau memang memintanya untuk ke dokter, tetapi kau lupa bahwa yang paling ia inginkan untuk kesembuhannya sebenarnya adalah senyummu. Bukan dokter atau obat-obat yang menyebalkan itu. Ia ingin kau tersenyum tulus padanya, seperti saat kau kecil, senyum yang ia rindukan sejak lama untuk terbit di wajahmu lagi—untuknya…

Aku tak mengerti. Sungguh-sungguh tak mengerti. Memangnya kenapa kalau kau sudah besar? Dia tetap Ibumu, sejauh apa pun kau pergi, sebesar apa pun kau tumbuh, dialah ibunda darah dagingmu, ibu bagi kehidupanmu.

Ah. Andai kau melihat seluruh sketsa itu dan mengerti…

***

Setiap kali menyampaikan cerita ini aku selalu merasa berat dan menangis. Kuakui ini bagian terberat bagi seorang Pengabar Berita dari Alam Rahim. Tetapi semua ini harus kulakukan. Ini tugasku. Kini, banyak orang yang menyia-nyiakan ibunya, melukai perasaannya, membuatnya kecewa dan bersedih. Bahkan yang lebih parah, beberapa di antara mereka tidak mengakui ibunya! Inilah yang membuat Raja Alam Rahim geram dan memutuskan membentuk Satuan Tugas Pengembalian Kepercayaan dan Sakralitas Alam Rahim—agar mereka tahu dan mengerti bahwa yang mereka lakukan keliru dan membuat para penghuni Kerajaan Alam Rahim kecewa luar biasa.

Kau ingin tahu mengapa kami sangat mengagungkan dan memuliakan para ibu, ibunda seluruh Kerajaan Alam Rahim? Mengapa kami sampai membuatkan Kuil Kesedihan Alam Rahim untuk setiap butir air mata dan rasa sakit di hatinya?

Dulu sekali, sebelum Kuil Kesedihan Alam Rahim dibangun, ada sebuah legenda suci yang begitu terkenal di Alam Rahim tentang kasih sayang seorang ibu. Kisah ini terjadi di sebuah tempat bernama Kepingan Senja Alam Rahim. Di sana, sebelum kisah ini terjadi, para bayi tidak menghormati ibunya. Mereka bahkan memarahinya dan membentaknya dengan penuh kebencian. Dengan alasan yang sungguh-sungguh tak bisa dimengerti.

Di Kepingan Senja Alam Rahim ada sebuah tradisi kuno, semacam kebiasaan untuk membuang orang-orang lanjut usia ke tengah Hutan Belantara Alam Rahim [1] yang dipenuhi binatang-binatang buas. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dan dianggap hanya merepotkan saja, dibawa ke tengah hutan yang lebat untuk dibuang dan ditinggalkan di sana—sampai nasib melenyapkannya…

Alkisah, ada seorang anak yang membawa ibunya yang sudah tua dan tidak berdaya untuk dibuang ke tengah hutan. Ibu ini sudah tua dan tidak berdaya. Bagi anaknya, keberadaannya hanya merepotkan dan membuatnya malu.

Si Anak menggendong ibunya ke tengah hutan dengan penuh kebencian. Hutan yang lebat dan berbahaya. “Kau perempuan tua yang tak berguna,” bisik anak itu dalam hati, “Hanya merepotkan dan membuatku malu saja!” Sepanjang perjalanan, si ibu hanya terdiam sambil terus-menerus mematahkan ranting-ranting kecil di sepanjang jalan.

Sesampainya di tengah hutan rimba yang lebat dan berbahaya, si anak tersenyum penuh kemenangan. Seseorang yang selama ini merepotkan dan membuatnya malu segera akan hilang dan terbuang, pikirnya.

“Kita sudah sampai, Bu.” Katanya dingin. “Aku akan meninggalkanmu di sini.”

Si ibu mengangguk lemah.

Diam-diam ada perasaan sedih menyelinap di hati si anak ketika mengucapkan kalimat terakhirnya. Entah mengapa ia menjadi setega ini kepada ibunya sendiri.

Si ibu mengangguk pelan, lalu dengan tatapan penuh kasih ia berkata, “Nak, Ibu sangat mencintai dan mengasihimu. Kaulah kecintaanku, yang akan kusayangi sampai aku mati. Sejak kau kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang Ibu miliki dengan tulus—sejauh yang Ibu bisa. Hingga detik ini, Ibu selalu menyayangi dan mencintaimu. Dan untuk semua itu, Ibu tak akan meminta balasan apa pun, tak sedikit pun darimu. Kaulah kecintaanku, dan aku memberikan semuanya secara tulus.”

Si anak berusaha menahan dirinya, ia berusaha membuang sedikit pun perasaan yang membuatnya iba. Ia memalingkan wajahnya.

“Pergilah, Nak.” kata si ibu dengan suara yang berat dan hampir terisak, “Ibu tidak ingin kau tersesat saat kau pulang nanti dan mendapat celaka di jalan. Hutan adalah tempat berbahaya yang selalu menakutkan, banyak hal yang mungkin terjadi di sini, binatang buas atau racun tumbuhan berbahaya. Maka, sepanjang perjalanan tadi, Ibu mematahkan ranting-ranting kecil ini,” si ibu memperlihatkan ranting-ranting di genggamannya, si anak menatapnya dengan diselungkupi rasa heran, “Aku melakukannya agar setiap pohon yang kupatahkan rantingnya bisa kau jadikan petunjuk yang akan membawamu pulang dengan selamat.”

Setelah mendengar kata-kata terakhir ibunya, si anak menatap wajah ibunya yang tua dan keriput. Ada sesuatu yang hadir di antara dirinya dan ibunya, hingga ia tak bisa menahan tangisnya lagi. Hatinya seolah hancur, mengapa ia begitu tega membuang dan melukai ibu yang begitu mencintainya?             Lututnya ambruk ke tanah, dan ia bersujud sambil menangis meraung-raung di kaki ibunya. Sejak saat itu, ia bersumpah untuk merawat ibunya sampai mati. Dengan segala yang terbaik yang ia miliki.  

Mendengar kisah itu, Raja Kerajaan Alam Rahim geram sekaligus terharu, lalu ia memerintahkan seluruh penghuni kerajaan Alam Rahim untuk membangun sebuah kuil kesedihan para ibu. Itu tadi, Kuil Kesedihan Alam Rahim.

Di kuil itu semua orang berdoa untuk kebaikan para ibu, mereka memujinya sepanjang hari. Dan mengutuk anak-anak yang melukai perasaan ibunya dan membuat para ibu menangis. Seperti pernah kukatakan, kalau ibumu menangis karenamu, dan air matanya menetes sampai ke Kuil Kesedihan Alam Rahim, sebagian malaikat menyelinap pada butiran-butiran air matanya. Lalu butiran-butiran air mata itu akan menjadi kristal cahaya yang membuat sebagian malaikat yang lain merasa silau dan marah kepadamu. Dan kemarahan para malaikat adalah kemarahan yang suci, sehingga Raja Semesta tidak melarang mereka tatkala menutup segala pintu kebaikan untukmu.

***

Jadi, inilah kisah itu. Kisah tentang ibumu yang harus kau cintai sampai kapan pun. Sebab dialah ibumu, ibunda yang mengandungmu, melahirkanmu, merawatmu, dan selalu menyayangimu dengan tulus dan penuh kasih.

Tundukkanlah wajahmu di hadapannya, bungkukkanlah badanmu, raihlah punggung tangannya, ciumlah dalam-dalam sampai cintanya terasa di hatimu… Lalu kenangkanlah segala hal yang pernah kau lalui bersamanya, hiruplah wewangian cintanya, dan katakanlah, “Ibuku, tentang sikapku, tentang salahku, tentang sifatku, dan segala hal dalam hidupku yang bersinggungan denganmu, terima kasih dan maaf. Kaulah kecintaanku, perempuan yang akan kusayangi sampai aku mati.”

Bila kau sudah lama tak menemuinya. Pulanglah. Duduklah di hadapannya. Dekatkanlah lututmu dengan lututnya. Letakan telapak tanganmu di paha-paha sucinya. Lalu tataplah matanya dalam-dalam… Reguklah kesyahduan kasih sayangnya… Rasakanlah hingga merasuk ke dalam hatimu, jauh lebih dalam, jauh lebih dalam…

…sebelum dia pergi untuk selama-lamanya…

 

(Bersambung)

----

[1] Kisah ini, tentang seorang anak yang membuang ibunya ke tengah hutan, terinspirasi dari sebuah legenda Jepang. Kisah serupa sudah tersebar dengan berbagai macam versi penulisan di Internet. 


  • Fadhillah Ummul
    Fadhillah Ummul
    1 tahun yang lalu.
    Assalamualaikum Bang Fahd... saya mau bertanya apakah ada tempat rekomendasi untuk membeli buku 'Menatap punngung Muhammad' atau 'Seribu Malam Untuk Muhammad'... berhubung buku terbitan lama saya agak sulit mencarinya di makassar maupun online.. apakah ada rekomendasi dari Bang Fahd.. Mohon Bantuannya.... saya ingin sekali membacanya....

  • Kurniawan Gunadi
    Kurniawan Gunadi
    1 tahun yang lalu.

  • Harmawati 
    Harmawati 
    1 tahun yang lalu.
    Nangis bacanya