Bagian 9: Waktu

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Project
dipublikasikan 24 Agustus 2016
Rahim: Semesta Sebelum Dunia

Rahim: Semesta Sebelum Dunia


Novel ini pernah diterbitkan oleh GoodFaith (2009), juga pernah diterbitkan dengan judul 'Semesta Sebelum Dunia' (NouraBooks, 2013). Cover: Ragillia Rachmayuni Ilustrasi: Adrianne Yuanita

Kategori Fiksi Umum

27.6 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian 9: Waktu

23.328.000 + 1.123.200 + 18.000 + 1.920 + 45 = 24.471.165 detik

 Profesor itu melakukan perhitungan yang serius di depan matamu. Setelah menemukan jumlah dari seluruh perhitungannya, 24.471.165 detik, ia lalu menggaris bawahi angka itu dan memintamu untuk mencatatnya.

“Inilah keseluruhan waktu yang kau punyai selama berada di Alam Rahim. Itu setara dengan 9 bulan, 13 hari, 5 jam, 32 menit, 45 detik. Pergunakan seluruh waktumu baik-baik. Jangan sampai boros. Setiap tiga hari kau akan diperiksa petugas khusus dari Kementrian Waktu Kerajaan Alam Rahim yang akan mengaudit penggunaan waktumu. Jangan sampai boros. Pergunakan waktu sebaik-baiknya.”

Kau hanya mengangguk, tetapi belum sepenuhnya mengerti.

“Setiap satu detik yang kau sia-siakan akan merugikan dirimu sendiri.” Profesor itu menambahkan, “Sebab kau kehilangan banyak kesempatan untuk mengetahui, memahami, dan mengalami banyak hal di Alam Rahim. Jangan buang-buang waktu, jangan boros pada waktu!”

“Dan menurut perhitunganku, bayi ini banyak membuang-buang waktunya, Tuan Profesor!” Tiba-tiba seekor kelinci yang mengenakan setelan jas berwarna ungu dan berkacamata berkata dengan sinis ke arahmu.

Kau agak terkejut dituduh demikian. “Rasanya aku tidak. Aku melakukan hal-hal positif selama ini. Bagaimana kau bisa menuduhku banyak membuang waktu?”

“Bisa kau perlihatkan perhitungannya, Tuan Auditor?” kata Profesor Waktu, dingin.

“Baiklah.” Kelinci iu mulai melakukan perhitungannya. Dan tak lama ia menyelesaikannya.

Tidur: 5.678.233 detik

Melamun: 1.567.444 detik

Menendang & memukul ibu: 2.223.167 detik

Makan: 3.789.666 detik

Mencari tahu rahasia: 797.000 detik

Mengobrol: 344.286 detik

Keseluruhan: 14.399.796 detik

“Lihatlah, untuk menendang dan memukul ibu saja kau menghabiskan waktu 2.223.167 detik! Waktu terbanyak juga kau habiskan untuk tidur dan melamun, itu 7.245.677 detik! Kau sungguh boros!”

“Ya, ya, jangan begini. Aku harap kau segera memperbaikinya.” kata Profesor Waktu.

“Baik, Tuan Profesor.”

“Baguslah. Asal kau tahu, 1 detik di Alam Rahim setara dengan 1 menit di Alam Dunia. Itu berarti banyak. Bila kau menghabiskan waktu 1 menit, artinya kau membuang waktumu 1 jam. Kalau kau membuang waktu 1 jam, artinya kau membuang waktumu 60 jam! Itu setara dengan 2,5 hari! Bila kau menghabiskan waktumu seharian, misalnya hanya untuk tidur dan menendang-nendang ibu, kau sudah membuang banyak sekali waktu yang berharga! Jangan boros terhadap waktu! Banyak sekali yang harus kau pelajari dan waktumu semakin sempit menuju kelahiran.”

“Memangnya kenapa kalau aku tidur saja sambil menunggu waktu kelahiran?” Tanyamu.

“Itu sangat memalukan! Di saat bayi-bayi lain bekerja keras untuk mengerti dan memahami banyak hal—mengisi waktu mereka dengan pengalaman-pengalaman berharga, hanya bayi bodoh yang menghabiskan waktunya hanya untuk tidur, melamun, atau menendang-nendang ibunya!” Profesor Waktu terlihat gusar—

“Baiklah… Maafkan aku. Aku janji tidak akan begitu lagi.”

“Ya, baguslah. Setiap kali sel dalam tubuhmu bertumbuh seiring berjalannya waktu, jangan biarkan hati dan pikiranmu kosong. Kecuali kau hanya ingin tumbuh menjadi seseorang yang tanpa ’isi’. Seseorang yang hanya tahu makan, minum, tidur, dan bersenang-senang, sementara waktu terus berkurang dan dia tidak bertambah pandai atau bertambah bijak, dia adalah seseorang yang sama sekali tidak menghargai pemberian Raja Semesta. Kita tidak diciptakan hanya untuk makan, tidur, dan bersenang-senang, kan?” kata Profesor Waktu.

Kau mengangguk setuju.

“Jangan buang-buang waktu. Jangan boros terhadap waktu. Kau tahu, bahkan Raja Semesta bersumpah demi waktu. Jangan sampai kau tak menghargainya. Tak menghargai waktu sama saja dengan tak menghargai Raja Semesta!” Kata Profesor Waktu sekali lagi, “Setiap waktu berjalan dan modal waktumu yang 24.471.165 detik itu berkurang, tubuhmu tumbuh menjadi semakin sempurna sampai kau siap menjadi seorang manusia di Alam Dunia. Tapi kau juga harus menumbuhkan kecerdasan berpikir dan kebijaksanaan bertindak. Kalau tubuh perlu diberi makan, hati-pikiran-jiwa-mu juga perlu diberi makan. Lakukanlah hal-hal yang berarti… Misalnya, belajar tentang apa saja.”

Kelinci Auditor menyeringai. Ia terlihat sangat bangga pada dirinya sendiri. “Waktu itu penting, waktu itu penting,” kata si kelinci, “jangan buang-buang waktu. Tanpa waktu tak akan ada kehidupan!”

Di Alam Rahim, waktu berjalan unik. Seperti kata Profesor Waktu, 1 detik di Alam Rahim adalah 1 menit di Alam dunia. Itulah sebabnya mengapa para manusia di Alam Dunia, termasuk ayah dan ibumu, termasuk para dokter, mengira kau tumbuh sangat cepat. Padahal, ya itulah rahasianya, 1 detik di Alam Rahim sama dengan 1 menit di Alam Dunia.

Seseorang memiliki jatah hidup di Alam Rahim rata-rata 9 bulan, atau sekitar 23.328.000 detik. Ada yang lebih ada yang kurang, tergantung bagaimana rekening waktu mereka tertulis di Buku Besar. Jadi, kalau 1 detik di Alam Rahim sama dengan 1 menit di Alam Dunia, jatah hidup seseorang di Alam Rahim setara dengan 1.399.680.000 detik… Itu sama dengan 16.200 hari, atau 540 bulan, atau 45 tahun! Lama juga, ya? Namun, hubungan waktu terjadi secara ajaib dan misterius sehingga meskipun sebenarnya berbeda “lama” dan “sebentar” di Alam Rahim dan Alam Dunia, keduanya bisa saling berhubungan…

Lalu, apa saja yang kau lakukan selama 45 tahun di Alam Rahim? Banyak sekali, tentunya. Kau mengalami banyak hal, belajar banyak hal. Terutama, kau bertumbuh…

Kini, usiamu memasuki minggu ke-33 di Alam Rahim... Bulan ini, perubahan besar terjadi pada sistem saraf dalam tubuhmu. Otakmu tumbuh semakin besar—untuk masuk ke dalam tengkorak, otak harus melipat dan mengerut sehingga terlihat seperti walnut—dan sel-sel otak serta sirkuit sarafmu terhubung sempurna dan aktif.

Sejak sekarang, kau bisa melakukan segala hal yang bisa dilakukan manusia: Kau bisa mengerti bahasa-bahasa yang kau dengar dari luar rahim, kau mengenali dan mengingat beberapa hal tentang ibu, ayah, keluarga, dan segala hal di sekelilingmu…

Lapisan lemak pelindung juga mulai terbentuk di sekitar serat-serat saraf, sama seperti lapisan yang sebelumnya terbentuk di sekitar saraf tulang belakangmu. Lapisan lemak ini terus berkembang hingga awal masa dewasa. Berkat lapisan ini, impuls saraf bisa bergerak lebih cepat dan kini kau mampu menjalani proses belajar dan bergerak secara lebih kompleks.

Semuanya memang terlihat cepat, ya itu tadi, karena 1 detik di Alam Rahim sama dengan 1 menit di Alam Dunia. Alam Rahim adalah alam yang sangat menakjubkan. Entah mekanisme seperti apa yang diciptakan Raja Semesta di sini. Tapi, ini benar-benar luar biasa. 

***

Kau mulai bersiap untuk kelahiran. Jika dilahirkan prematur pada saat-saat ini, kau memiliki peluang bertahan hidup yang sangat baik. Meskipun kau mungkin akan mengalami masalah pernapasan dan sulit menjaga diri agar tetap hangat… Bagaimanapun, ini belum waktunya kau lahir ke Alam Dunia… Sebab, di masa-masa ini kau seharusnya mengumpulkan sejumlah lemak di bawah kulitmu, sehingga kulit mulai halus, tidak lagi keriput, dan lebih berisi. Inilah kelak yang akan menjaga suhu tubuhmu agar tetap hangat.

Kau masih ingat lapisan misterius bernama lanugo yang pernah kuceritakan? Lapisan lanugo-mu yang tebal akan berkurang menjadi hanya sebuah tanda di punggung dan bahumu. Membran yang mengunci dan melindungi matamu saat tumbuh akan mencapai fungsi penuh mulai awal bulan ini. Metamu mulai terbentuk penuh dan kelopaknya sudah terpisah sehingga matamu sudah bisa membuka.

Apa yang kau lihat? Ya, air… Di hadapanmu hanya air… Itu cairan amniotik tempatmu selama ini bersemayam dalam kandungan ibumu. Inilah hebatnya, di Alam Rahim, kau bahkan bisa melihat dalam air! Kemampuan yang akan segera hilang beberapa saat setelah kau terlahir ke Alam Dunia.


  • Fadhillah Ummul
    Fadhillah Ummul
    1 tahun yang lalu.
    Assalamualaikum Bang Fahd... saya mau bertanya apakah ada tempat rekomendasi untuk membeli buku 'Menatap punngung Muhammad' atau 'Seribu Malam Untuk Muhammad'... berhubung buku terbitan lama saya agak sulit mencarinya di makassar maupun online.. apakah ada rekomendasi dari Bang Fahd.. Mohon Bantuannya.... saya ingin sekali membacanya....