Bagian 8: Sirkus

Bagian 8: Sirkus

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Project
dipublikasikan 19 Agustus 2016
Rahim: Semesta Sebelum Dunia

Rahim: Semesta Sebelum Dunia


Novel ini pernah diterbitkan oleh GoodFaith (2009), juga pernah diterbitkan dengan judul 'Semesta Sebelum Dunia' (NouraBooks, 2013). Cover: Ragillia Rachmayuni Ilustrasi: Adrianne Yuanita

Kategori Fiksi Umum

31.7 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian 8: Sirkus

Di Alam Rahim, ada sebuah makanan rahasia yang kalau diracik oleh Menteri Khusus Urusan Mimpi Kerajaan Alam Rahim dan kau memakannya akan (a) menyebabkan tidur, dan juga (b) membawa bayi yang tidur ke manapun dia mau. Semacam teleportasi tradisional yang diperkenalkan secara turun-temurun di kerajaan Alam Rahim. Dan dengan keterampilan tertentu, seseorang bisa memilih agar terbangun di suatu tempat.

Dulu sekali waktu aku masih tinggal di Alam Rahim, aku pernah memakannya dan tertidur. Sebelumnya aku merencanakan ingin bangun di Bulan. Tetapi karena salah hitung, dan karena imajinasiku kurang baik, aku justru terbangun di Sisi Gelap Bulan. Dengan piyama yang tipis dan bergambar kura-kura, aku menggigil kedinginan setibanya di sana. Demikianlah, Bulan adalah sebuah tempat yang beriklim dingin. Tetapi Sisi Gelap Bulan lebih dingin lagi! Lebih dingin dari yang mampu kau bayangkan tentang tempat yang sangat dingin. Asal kau tahu, ketika mendarat di sana, aku kedinginan setengah mati!

Seperti dugaanmu, Sisi Gelap Bulan adalah tempat yang sangat gelap. Hampir tak ada cahaya di sana. Kecuali cahaya kecil yang datang dari kerlap-kerlip bintang dari kejauhan. Suasananya jadi sangat mencekam, dan sejujurnya aku ketakutan. Lagi pula, perlu waktu sekitar 4-6 jam sebelum kau terbangun dari tidur dan kembali ke tempatmu semula.

Selama sekitar 4-6 jam berada di Sisi Gelap Bulan, aku tak menemui siapa pun. Aku hanya duduk sendirian dan menatap bintang-bintang. Untuk membunuh rasa takut dan bosan, aku menghitungnya—sambil kedinginan tentus aja.

Ternyata jumlah bintang banyak sekali. Terakhir sebelum aku terbangun, jumlahnya berhasil kuhitung adalah 375.632.189. Dan sebenarnya masih banyak lagi. Aku bertanya dalam hatiku, “Untuk apa Raja Semesta menciptakan bintang-bintang sebanyak itu?”

Apakah kau pernah menghitung bintang-bintang? Kira-kira siapa, ya, yang tinggal di sana? Apakah di atas bintang-bintang itu ada kehidupan seperti kehidupan yang kita jalani di Alam Dunia? Apakah di sana ada Alam Rahim? Apakah di sana ada Pengabar Berita dari Alam Rahim lain sepertiku? Ah, hidup ini sungguh misterius. Terlalu banyak yang tak kita ketahui.

Oh ya, aku juga bertanya waktu itu, sebelum efek makanan rahasia yang diracik oleh Menteri Khusus Urusan Mimpi Kerajaan Alam Rahim berakhir dan aku terbangun, apakah Raja Semesta tidak kerepotan mengurusi 375.632.189 bintang dan bahkan lebih itu?

Ya, ya, baiklah, baiklah… Aku kan hanya ingin bercerita tentang pengalamanku. Kau juga mesti tahu beberapa hal tentang diriku, bukan? Baiklah, baiklah, aku akan kembali pada tugasku.

Maksudku dengan menceritakan pengalamanku itu, aku ingin mengembalikan ingatanmu tentang makanan rahasia yang diracik oleh Menteri Khusus Urusan Mimpi Kerajaan Alam Rahim. Apakah kau masih mengingatnya? Bukankah kau juga pernah mencicipinya, ketika usiamu 30 minggu dalam kandungan ibumu?

Apa rahasia makanan rahasia itu? Biarkanlah yang rahasia tetap menjadi rahasia, tak usah terlalu ingin banyak tahu pada hal-hal yang begini. Kadang-kadang yang rahasia harus tetap ada agar hidup jadi lebih menarik. Bukankah kalau seluruh rahasia terbuka hidup sudah tak menarik lagi untuk dijalani? Misalnya ketika kau tahu apa yang akan terjadi besok, bukankah hidup jadi tidak menarik lagi? Apa artinya meneruskan masa kini bila seseorang telah melihat masa depan? Anggap saja makanan rahasia itu terbuat dari kepingan batu planet, ekor komet, dan bubuk dari sisa-sisa bintang yang jatuh. Sisanya biarkan ia tetap menjadi rahasia. Dan ikuti saja ceritaku.

Waktu itu kau memakannya dan tentu saja kau tertidur. Sebelumnya kau merencanakan ingin terbangun di sebuah pertunjukan sirkus. Namun, karena permintaanmu tak terlalu jelas, kau tak menyebutkan ‘aku ingin langsung berada di depan panggung sirkus dan menyaksikan pertunjukannya’, kau tiba-tiba terbangun di sebuah labirin yang pintu keluarnya adalah pintu masuk pertunjukan sirkus. Inilah kelemahan makanan rahasia yang ajaib itu, ia kadang-kadang meleset kalau kita tak menyebutkan permintaannya secara spesifik.

Ya, tapi begitulah kenyataannya. Kau harus keluar dari labirin itu untuk masuk ke pertunjukan sirkus. Bayangkanlah seseorang yang baru bangun dari tidur nyenyak dan, tiba-tiba berada di sebuah labirin!

Pasti membingungkan! Tapi, di hadapanmu ada sebuah papan besar yang bertuliskan: MATIKAN MATAMU, NYALAKAN HATIMU. Beberapa langkah dari tempatmu berdiri, seorang perempuan cantik yang buta sedang duduk tenang di salah satu kelokan terdekat.

“Selamat siang, Nona.” Ketika sampai di hadapan perempuan itu, kau menyalaminya dengan hormat.

“Selamat siang,” perempuan itu tersenyum, ”Panggil saja aku Aynu,” katanya.

“Baiklah, Aynu. Sedang apa kau di sini? Apakah kau juga ingin pergi menonton pertunjukan sirkus?”

 “Oh, tidak. Tidak. Aku penunjuk jalan. Aku bagian dari penyelenggara pertunjukan sirkus. Kadang-kadang tidak semua orang bisa sampai ke tempat pertunjukan tepat pada waktunya, mereka kesulitan menemukan jalan keluar dari labirin ini. Mereka tidak mengikuti petunjuk, dan beberapa orang kadang perlu penunjuk jalan.”

“Petunjuk?”

“Matikan matamu, nyalakan hatimu. Itu petunjuknya.”

“Oh, ya, papan itu. Aku ingat.” Kau merasa sangat aneh melihat Aynu. Bagaimana mungkin perempuan buta jadi penunjuk jalan?

“Sejujurnya, aku tidak mengerti petunjuknya. Ada banyak kelokan di sini. Kiri atau kanan. Seharusnya petunjuk jalan berbunyi lebih jelas. Kiri atau kanan. Jalan terus atau ‘salah jalan’. Aku tidak mengerti petunjuknya. Bisa-bisa aku juga terlambat sampai di pertunjukan sirkus!”

“Tidak, selama kau percaya pada hatimu.”

“Maksudmu?”

“Matikan matamu, nyalakan hatimu.”

“Aku tidak mengerti. Tapi, ngomong-ngomong, bagaimana mungkin orang buta jadi penunjuk jalan?” Akhirnya, karena tak kuat, kau lemparkan juga pertanyaan itu.

Aynu tertawa kecil. “Tak semua jalan yang terlihat akan membawamu pada jalan yang benar. Kadang jalan yang benar adalah jalan yang tak terlihat oleh matamu. Jangan biarkan matamu yang memutuskan kemana kau akan pergi, biarkanlah hatimu yang memutuskan kemana kau ingin pergi. Penampakan adalah kilasan dari yang tidak jelas.” Aynu menjawab pertanyaanmu seperti membaca sebuah teks. Mungkin ia menghapalnya, pikirmu.

“Jadi, jalan mana yang jelas akan mengantarkanku ke pertunjukan sirkus?”

“Mau kuantarkan?” Aynu menawarkan diri.

“Sebelum enam jam-ku berakhir. Rasanya itu lebih baik. Lagipula, sudah lama aku ingin menonton sirkus!”

Kalian mulai berjalan di lorong-lorong labirin.     Aynu ternyata adalah seorang penunjuk jalan yang sangat berpengalaman. Ia sangat tahu jalan-jalan rahasia yang dengan cepat bisa mengantarkanmu ke tempat pertunjukkan sirkus.

“Kau benar, Aynu, tak semua jalan yang kita lihat akan mengantarkan kita ke tempat yang ingin kita tuju.”

“Ya, pergilah ke mana hati membawamu. Lagipula aku sudah lama menjadi seorang penunjuk jalan, jadi aku sudah hapal sih.” Aynu tertawa kecil.

“Tapi tetap saja kau tak bisa melihat!”

“Labirin sengaja di buat dengan seribu kelokan yang dirancang dengan satu tujuan, yaitu menyesatkan kita. Atau paling tidak, membuat waktu kita terbuang.”

“Jadi untuk apa penyelenggara sirkus membuat labirin untuk mencapai pintu masuk pertunjukkan?”

“Sebab, bagi kami, sirkus bukan sekadar pertunjukan. Sirkus adalah seni. Miniatur keajaiban gerak tubuh yang dianugerahkan Raja Semesta pada makhluknya. Melihat Sirkus seharusnya juga melihat keagungan di balik gerak. Melihat siapa yang menciptakan dan memiliki seluruh gerak. Dan semuanya harus dilihat dengan hati. Bukan hanya dengan mata. Maka kami membuat labirin.”

“Masuk akal juga, tapi kenapa kalian tetap mempekerjakan seorang penunjuk jalan sepertimu? Bukankah itu percuma saja?”

“Memang, sih, tapi belakangan kami mengalami kerugian. Sebab setelah kami memasang labirin, jadi sedikit sekali orang yang datang. Tiket tidak laku dan banyak bangku kosong di setiap jam pertunjukan. Penyelenggara menderita kerugian dan tak mampu lagi membayar para seniman sirkus. Jadi sejak beberapa bulan terakhir, penyelenggara memutuskan mempekerjakan penunjuk jalan. Syaratnya, (a) harus buta dan (b) harus memberikan penjelasan pada setiap pengunjung tentang ‘matikan matamu, nyalakan hatimu’. Makanya aku menghapalnya. Ya, seperti yang kulakukan selama perjalanan tadi.” Aynu tertawa lagi. Mungkin dia hobi tertawa.

Ah, Rupanya benar, katamu dalam hati, Aynu menghapal teks yang bagus tadi. “Oh begitu, ya?” Katamu, ”Kalau begitu aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu.”

“Ini sudah tugasku. Selamat menonton pertunjukan. Matikan matamu, nyalakan hatimu.” Kata Aynu sambil tersenyum. Kali ini dia tidak tertawa.

“Baiklah, selamat sore.” Ternyata hari sudah sore ketika kau hendak berpisah dengan Aynu.

“Selamat sore.” Jawab Aynu dengan ramah. Dan dia tidak tertawa lagi.

Selama di labirin, kau menghabiskan waktu 8.146 detik, itu setara dengan 2 jam 15 menit 46 detik. Jadi waktumu yang tersisa adalah 13.454 detik atau sekitar 3 jam 44 menit 16 detik. Kau menonton pertunjukkan sirkus setengah mengantuk karena kelelahan. Lucu juga, ya, kau mengantuk dalam mimpi. Itu hanya bisa terjadi dalam mimpi di Alam Rahim!

Tapi, meskipun kau menonton pertunjukan dengan setengah mengantuk, kau tetap memperhatikan keseluruhan pertunjukan. Kau melihat bagaimana pria gendut bisa begitu lentur menekuk semua bagian tubuhnya. Kau melihat bagaimana seekor gajah kurus berjalan melewati seutas kawat sepanjang 50 meter. Kau melihat banyak hal yang istimewa dan luar biasa di sana. Dan yang terpenting, kau juga mengingat semua pesan Aynu: nyalakan hatimu. Yang terpenting dari semua yang kau lihat adalah mengerti dan memahami makna di balik semuanya, bukan?

Dan kau mulai bertanya-tanya: ketika tubuhku bergerak, dunia bergerak, semesta bergerak—apakah hidup semacam pertunjukan sirkus yang harus dilihat oleh hati yang menyala? Apakah melihat hidup harus dibarengi dengan keinginan menemukan keagungan di balik seluruh gerak? Melihat siapa yang menciptakan dan memiliki seluruh gerak?

***

Di usiamu yang ke-30 minggu di dalam kandungan ibumu, atau sekitar tujuh bulan, tubuhmu sudah sangat besar sehingga dokter yang memeriksamu bisa mengetahui posisi dan cara berbaringmu di dalam kantung amniotik ibumu.

Inilah bulan terakhir kau bisa ‘berakrobat’ dan bermain ‘sirkus’ di dalam perut ibumu. Karena tubuhmu sudah sangat besar, kau tidak bisa seperti dulu lagi, apa lagi seperti saat kau masih berusia sekitar 17 minggu, saat kau masih bisa berenang dalam kantung amniotik ibumu!

Kini, kau hanya memiliki sedikit ruang untuk bergerak dan mungkin akan lebih sedikit bergerak. Kau akan bergoyang-goyang tidak nyaman jika ibumu berada dalam posisi yang tidak nyaman untukmu.

Bagaimana kau bergerak dalam perut ibumu selama ini? Kau menendang, mendorong, memukul, mengerutkan tubuh, ‘bersalto’, dan Ibumu semakin sering merasakan pergerakanmu. Kau terus bergerak seiring dengan pertumbuhanmu dan kau berada pada masa yang paling aktif antara minggu ke-30 dan 32. Seorang bayi pada umumnya bergerak sebanyak 200 kali per hari pada minggu ke-20, dan mengalami peningkatan hingga 375 kali pada minggu ke-32, tetapi jumlah gerakan di sekitar minggu ke-32 bisa bervariasi dari 100 hingga 700 gerakan.

Bayangkan saja reaksi ibumu. Tak jarang gerakanmu membuatnya kesakitan, bahkan sangat kesakitan. Tetapi itulah hebatnya para ibu, mereka bahkan memberikan setengah nyawanya untukmu selama kau berada di Alam Rahim! Aku rasa, poin ini juga penting dilihat oleh hatimu… Seperti pesan Aynu Gadis Buta Penunjuk Jalan saat kau hendak menonton ‘sirkus’ gerak dirimu sendiri: matikan matamu, nyalakan hatimu!

(Bersambung)

 


  • Fadhillah Ummul
    Fadhillah Ummul
    1 tahun yang lalu.
    Assalamualaikum Bang Fahd... saya mau bertanya apakah ada tempat rekomendasi untuk membeli buku 'Menatap punngung Muhammad' atau 'Seribu Malam Untuk Muhammad'... berhubung buku terbitan lama saya agak sulit mencarinya di makassar maupun online.. apakah ada rekomendasi dari Bang Fahd.. Mohon Bantuannya.... saya ingin sekali membacanya....

  • Ibad Nafisah
    Ibad Nafisah
    1 tahun yang lalu.
    mereka bahkan memberikan setengah nyawanya untukmu selama kau berada di alam rahim, dan semua disadari ketika kita telah menjadi seorang ibu... I Love U Mom,