Bagian 7: Mendengarkan

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Project
dipublikasikan 16 Agustus 2016
Rahim: Semesta Sebelum Dunia

Rahim: Semesta Sebelum Dunia


Novel ini pernah diterbitkan oleh GoodFaith (2009), juga pernah diterbitkan dengan judul 'Semesta Sebelum Dunia' (NouraBooks, 2013). Cover: Ragillia Rachmayuni Ilustrasi: Adrianne Yuanita

Kategori Fiksi Umum

26.7 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian 7: Mendengarkan

Inilah salah satu kemampuan luar biasa yang akan pernah kau miliki selama hidup: mendengarkan.

Ketika kau berusia 22 minggu di Alam Rahim, organ telingamu sudah terbentuk dan kemampuan mendengarmu sudah berkembang. Bahkan lebih hebat dan lebih peka daripada kemampuan mendengarmu nanti di Alam Dunia.

Kau bisa mendengar suara darah mengalir dalam pembuluh darah dan detak jantung ibumu. Kau juga bisa mendengar suara perutnya yang keroncongan. Tentu saja karena kau ada di dalam sana. Tapi, kau bisa mendengar suara dari luar rahim juga. Sejak saat ini, kau sudah mampu merespon suara, ritme dan melodi. Saat ibu atau ayahmu berbicara, kau sudah bisa mendengarnya dan mulai mengenalinya.

“Ehhhheeeemmmm…” Dengar, itu suara ayahmu yang berdehem.

“Hattttchiiii…” Dan itu suara Ibumu yang bersin.

“Cuacanya sedang buruk, ya, Bu?”

“Iya, Yah, Ibu juga jadi bersin-bersin begini.”

“Hujan di luar lebat sekali, Bu.” (Kau dengar suara itu? Suara yang bergemuruh sejak tadi itu? Ternyata di luar hujan!)

“Apa kabar anak kita?”

“Dia kayaknya kedinginan, kayak Ibunya.” Ibumu tertawa kecil.

“Aduh kasihan, Dede kedinginan?” kata Ayahmu sambil mengusap-usap perut Ibumu. “Sini Ayah peluk…” kata Ayahmu sambil tertawa.

“Ih, Ayah, mau meluk Dede atau mau meluk Ibunya sih?” Ibumu menggoda.

Ayahmu tertawa.

Dengar baik-baik, itu suara ayahmu. Kau bahkan sudah mengenalinya sejak kau masih berada di Alam Rahim. Ya, begitulah. Jika seorang ayah rutin bicara pada bayinya saat mereka masih berada dalam kandungan, sang bayi sudah mulai mengenalinya dan ada semacam ikatan misterius yang terbentuk di antara mereka berdua.

Begitu lahir, seorang bayi akan langsung bisa mengenali suara sang ayah meski dalam ruangan penuh orang sekalipun. Ia akan merespon secara emosional—misalnya jika ia sedang gelisah, ia akan berhenti menangis saat mendengar ayahnya bicara dan menjadi tenang.

Jadi, untuk para ayah, jika anakmu tak begitu mendengar kata-katamu, hmmmm…. mungkin kau jarang menyapanya ketika mereka masih berada dalam kandungan… Mungkin saja, kan?

Jangan tanya bagaimana kau mengenali suara ibumu. Jangankan suaranya, kau bahkan bisa mendengar aliran darahnya dan begitu mengenalinya. Kau bahkan bisa merasakan bagaimana ia gelisah, takut, marah, bahagia, sedih, dan apa pun itu. Tentu saja. Dalam lelucon kami di Alam Rahim, kau bahkan meminjam setengah nyawanya ketika kau hidup di dalam perutnya!

***

Di usia 24 minggu dalam kandungan ibumu, kau bahkan mampu mendengar frekuensi suara yang tak bisa didengar manusia saat mereka sudah dewasa—ketika mereka hidup di Alam Dunia. Kau bisa mendengar suara pada frekuensi yang sangat rendah. Bahkan jika sumber suaranya berasal dari jarak yang cukup jauh sekalipun… Dengarlah, ini suara musik yang indah…

 

Yehudi Menuhin, Paganini
Joseph Joachim, Hungarian Dance #1
Wolfgang Amadeus Mozart, Piano Sonata In A

 

Ini musik-musik yang indah. Tapi kau suka yang terakhir, Wolfgang Amadeus Mozart, kau bergerak-gerak seirama dengan suara musiknya ketika mendengarkannya. Kau terus bergerak memberikan respon atas apa yang kau dengar. Seolah ada sesuatu yang menjalari sel-sel dalam tubuhmu, mengalir dari kepala hingga ke ujung kaki, merasuki otakmu dan menggetarkan sambungan-sambungan sinaps di sana.

Kau terus bergerak hingga seseorang dengan rambut pirang dan panjang mendekatimu. Pakaiannya lucu. Seperti jubah merah yang kaku hingga lutut, bagian belakangnya agak lebih panjang. Ia juga memakai semacam syal di lehernya. Tatapannya tajam. Alisnya tebal.

“Kau suka musikku?” kata lelaki itu.

“Musik yang mana, ya?” katamu.

“Itu, lho, yang tada-dada-dada-didam di kepalamu!”

“Oh, musik yang itu. Ya, aku suka. Memangnya itu musikmu?”

“Ya, akulah komposernya. Perkenalkan, namaku Amadeus, aku seorang musisi, lho!” Amadeus memperkenalkan dirinya dengan penuh percaya diri.

“Wow, hebat! Senang berkenalan denganmu, Tuan Musisi. Aku seorang... Eh... Eh.. Aku... Aku hanya seorang bayi.” Kau agak kelihatan minder ketika memperkenalkan dirimu.

“Pada mulanya semua musisi juga seorang bayi, kok...” candanya.

“Oh, ya?”

“Ya, semua orang pada mulanya adalah seorang bayi. Presiden, dokter, pilot, musisi, semuanya pernah menjadi bayi!”

“Wow! Jadi nanti aku bisa jadi musisi juga?”

“Tentu saja. Tak ada yang bisa melarangmu. Tak ada yang bisa menghentikanmu. Kecuali jika kau menghentikan dirimu sendiri. Banyak orang mengira cita-citanya dihambat, tapi sebenarnya tak ada yang bisa menghambat cita-cita kita kecuali diri kita sendiri. Mereka yang merasa cita-citanya terhambat karena orang lain sebenarnya sedang secara aktif turut serta menghambat diri mereka sendiri.”

“Wow! Jadi aku bisa menjadi musisi?” Kau tampak begitu bersemangat ingin menjadi seorang musisi.

“Tak ada yang bisa menghentikanmu!” Amadeus menunjukmu dengan gaya yang khas.

“Bagaimana caranya?” katamu.

“Mudah saja,” kata Amadeus, “Mulailah dari dalam dirimu.”

“Maksudnya?”

“Sebelum menciptakan sebuah musik, aku biasanya sudah mendengarnya terlebih dahulu dalam diriku. Entah dari mana tepatnya. Mungkin dari salah satu tempat di dalam sini,” Amadeus menunjuk ke arah dadanya, “Kurasa begitu. Aku seperti dituntun oleh suara-suara misterius yang berbunyi dari dalam diriku, tada-dada-dada-didam, lalu aku menciptakan beberapa komposisi… Seperti yang pernah kau dengar, tada-dada-dada-didam itu!”

“Bagaimana mungkin kau bisa mendengar sesuatu dari dalam dirimu?” Kau tampak kebingungan. Mencoba mencari jawabannya dari sorot mata Amadeus yang tajam.

“Tuan Bayi yang Botak, tentang mendengarkan, apakah yang sebenarnya kau ketahui?”

“Ya mendengarkan saja. Seperti saat mendengarkan suara burung berkicau. Atau saat mendengar bunyi hujan. Atau ketika seseorang mengajak kita bicara atau bernyanyi. Atau tada-dada-dada-didam tadi.”

Amadeus terkekeh. Ia tertawa agak lama sampai harus memegang perutnya.

“Kenapa Anda tertawa, Tuan Musisi?”

Amadeus terbatuk-batuk. Ia masih tertawa. Lalu setelah beberapa saat, tawanya mereda.

“Ah, ah, ah, tidak. Maaf. Aku hanya ingin tertawa.”

“Tidak ada yang lucu!” Katamu, agak tersinggung. Kau memperhatikan sekelilingmu. Lampu kuning di sudut jalan berkedip-kedip.

“Ah, maafkan aku, maafkan aku. Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu.” Kata Amadeus.

“Syarat pertama menjadi musisi adalah tahu apa itu ‘mendengarkan’?”

“Ya itu tadi! Kan sudah kujawab!”

Wajah Amadeus memerah. Ia terlihat menahan tawanya. “Itu mendengar, bukan mendengarkan. Aku kan bertanya apa itu men-de-ngar-kan?”

“Memangnya berbeda antara mendengar dan mendengarkan?” Kau tampak bingung.

“Tentu saja,” kata Amadeus.

“Aku tak menyangka keduanya berbeda. Kukira sama saja,” katamu.

“Bahkan mendengar, sebenarnya bukan hanya soal ‘menangkap suara’ dengan organ telinga.” kata Amadeus. “Bahkan seseorang yang tuli juga bisa mendengar, lho!” Lanjutnya.

“Bagaimana bisa? Tidak mungkin!” Kau protes pada pernyataan Amadeus.

“Mendengar adalah bukan tentang menangkap suara-suara dengan telingamu, lebih dari itu, mendengar adalah menangkap sesuatu-di-balik-suara—sesuatu yang kadang-kadang tak bisa benar-benar ditangkap bahkan oleh mereka yang mampu mendengar suara-suara secara sempurna.”

“Maksudmu?” Katamu dengan sebelah alis terangkat. Oh, ya, alismu juga sudah mulai tumbuh!

“Ya itu tadi, kadang-kadang seorang yang tuli justru jauh lebih bisa mendengar daripada orang yang normal. Setiap hari kita mendengar suara-suara, apa saja—tapi kita juga sering kali gagap menangkap hal penting di balik suara-suara itu. Apakah ketika kau mendengar suara ‘aku minta tolong!’ yang penting adalah suaranya? Tidak. Yang penting adalah makna di balik suara itu. Bahwa kau harus bergerak dan menolong. Bahwa seseorang sedang kesulitan dan memerlukan bantuan.

”Contoh lainnya, apakah ketika kau mendengar seekor burung berkicau artinya ia hanya berkicau? Tidak. Kau harus tahu bahwa dia sedang memberitahukan keberadaannya pada seluruh dunia. Bahwa ia hidup. Bahwa ia memiliki hak untuk hidup dan turut menikmati anugerah yang diberikan Raja Semesta.

Inilah hal-penting-di-balik-suara; suara adalah bentuk lain dari cinta dan kasih sayang Raja Semesta. Bukankah kita lebih sering gagal menangkap ‘yang-di-balik- suara’ sebagai hal penting yang seharusnya kita tangkap? Telinga hanyalah antena untuk menangkap cinta yang dikirim pemilik Hidup agar maknanya menjadi pijar yang membuat hidup kita bercahaya. Itulah mengapa kukatakan sebenarnya orang tuli juga bisa mendengar. Dengan keterbatasan pendengarannya, bahkan seseorang yang tuli bisa menangkap cinta dan kasih sayang Raja Semesta di balik suara-suara yang samar.”

Kau tampak masih kebingungan dengan apa yang diterangkan Amadeus secara panjang lebar. Kau harus mencernanya terlebih dahulu. Tetapi pada beberapa hal kau setuju dengan apa yang ia katakan. Lampu kuning di sudut jalan sudah mati.

“Kadang-kadang aku berpikir,” kata Amadeus memecah lamunanmu, “Betapa bodohnya kita yang mampu mendengar suara-suara dengan sempurna, tetapi selalu gagal menangkap hikmah, pelajaran, dan cinta dari balik suara-suara itu.”

Kau mengangguk-angguk. “Jadi itu, ya, syarat menjadi musisi?” Katamu.

“Ya, itulah syarat utamanya. Banyak musisi yang tidak memenuhi syarat itu tetapi nekad menjadi musisi. Jadinya, musik yang mereka hasilkan tak bermakna apa-apa. Hanya suara-suara saja. Sebab mereka tak bisa menangkap cinta dari suara-suara, mereka juga tak bisa menyertakan cinta pada suara-suara yang mereka hasilkan.”

“Ya, musik-musik yang kudengar juga tidak semuanya indah. Beberapa di antaranya justru membuatku pusing.”

“Betul sekali. Yang indah terasa sampai ke dalam hati.”

“Ya. Yang indah terasa sampai ke dalam hati. Eh, ngomong-ngomong, lalu apa itu men-de-ngar-kan?”

“Oh ya, aku sampai lupa. Mendengarkan adalah tingkat selanjutnya dari mendengar. Mendengarkan adalah menangkap makna dan cinta dari balik suara-suara secara intens dan penuh penghayatan. Dengarkan makna-makna di balik suara sampai kau benar-benar menyadarinya, sampai meresap ke dalam hati. Di sanalah kau bisa mendengar suara-suara memantul dan keluar dari dalam dirimu menjadi sesuatu yang jauh lebih indah lagi… tada-dada-dada-didam…

“Oh jadi begitu, ya, makanya kau bisa mendengar suara-suara indah dari dalam dirimu sendiri?”

“Ya, karena sebenarnya tugas musisi adalah menyebarkan keindahan dan cinta melalui suara-suara. Dan kau tahu, cinta pada mulanya selalu tentang mendengarkan: ibu yang mendengarkan anaknya, anak yang mendengarkan orang tuanya, pasangan yang saling mendengarkan, Raja Semesta yang mendengarkan doa-doa umatnya, manusia yang mendengarkan pesan dan cinta tuhannya. Pertama-tama, mencintai adalah tentang mendengarkan!”

“Wow! Aku semakin ingin menjadi musisi!”

Amadeus tersenyum lebar. “Bagus. Jadilah penyebar cinta!”

“Aku ingin menjadi penyebar cinta yang musisi!”

Amadeus tiba-tiba terlihat akan pergi. Ia beberapa kali melihat arloji yang ia gantungkan di lehernya. Wajahnya jadi gelisah.

“Ada apa, Tuan Musisi? Kau mau pergi?”

“Ya, aku sampai lupa. Aku seharusnya menghadiri sebuah resital setengah jam yang lalu. Tetapi aku malah asyik mengobrol denganmu.”

“Apa artinya resital?”

“Semacam pertunjukan kecil. Aku bermain musik, dan orang-orang mendengarkannya.”

“Wow! Keren! Aku ingin jadi musisi! Aku mau ke resital juga!”

Amadeus tersenyum melihat kau begitu bersemangat.

“Oh, ya, maafkan membuatmu lupa waktu.” Kau jadi merasa bersalah.

“Tidak, tidak, itu bukan salahmu. Lagipula aku bahagia bisa mengobrol denganmu.”

“Terima kasih, Tuan.”

“Baiklah. Aku akan pergi. Tapi sebelum aku pergi, aku ingin memberitahukan satu hal lagi padamu.”

“Apa itu?”

“Suara, nyanyian, musik, gunung, pantai, langit, padang pasir, laut, yang membuat mereka indah sesungguhnya hal yang tidak kelihatan. Matahari juga tak bisa ditatap langsung oleh mata, tetapi yang membuatnya indah bukan hal yang bisa ditatap langsung oleh mata, kan? Selalu ada sesuatu. Sesuatu yang misterius tetapi sangat bermakna. Itulah yang harus kau temukan… Keindahan bukanlah yang kau dengar atau lihat. Keindahan adalah yang kau rasakan. Jauh sampai ke dalam hati.”

Kau terpaku pada kata-kata terakhir Amadeus. Banyak orang luar biasa di Alam Rahim, pikirmu. Lalu Amadeus terlihat bergegas pergi.

“Selamat tinggal,” katanya, “Sampai berjumpa lagi!”

“Selamat tinggal,” katamu, “Terima kasih!”

***

Kau semakin tinggi dan kuat serta gerakanmu semakin kompleks. Kau juga menunjukkan tanda-tanda sensitivitas, kewaspadaan, dan intelegensia. Tentu saja karena kau sudah mengalami banyak hal di Alam Rahim. Lebih banyak daripada yang kau pikirkan. Sampai di sini, semoga kau sudah bisa mengerti mengapa aku menjadi anggota satuan elit Pengabar Berita dari Alam Rahim, banyak hal indah yang orang-orang lupakan dari Alam Rahim!

Kini kau sudah 26 minggu berada di Alam Rahim, sejak pertama kali kau dinyatakan memiliki “hak hidup” di sini oleh Raja Semesta. Meski masih merah dan kurus, tapi dalam waktu singkat kau akan menambah berat badanmu. Kulitmu mungkin terlihat keriput, ini karena kau belum banyak memiliki lemak tubuh untuk mengisinya. Tubuhmu tumbuh lebih cepat dari kepalamu dan pada akhir bulan ini proporsinya akan sama dengan bayi baru lahir. Tangan dan kakimu memiliki jumlah otot normal, kaki dan tubuhmu proporsional serta pusat tulangnya akan mulai mengeras. Garis-garis sudah mulai muncul pada telapak tanganmu.

Sel-sel otak yang akan kau gunakan untuk berpikir secara sadar, kini mulai matang, dan kau mulai bisa mengingat dan mempelajari sesuatu.

(Bersambung)

 


  • Fadhillah Ummul
    Fadhillah Ummul
    11 bulan yang lalu.
    Assalamualaikum Bang Fahd... saya mau bertanya apakah ada tempat rekomendasi untuk membeli buku 'Menatap punngung Muhammad' atau 'Seribu Malam Untuk Muhammad'... berhubung buku terbitan lama saya agak sulit mencarinya di makassar maupun online.. apakah ada rekomendasi dari Bang Fahd.. Mohon Bantuannya.... saya ingin sekali membacanya....

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    11 bulan yang lalu.
    Keren semuaaaa ....
    seandainya kita benar-benar bisa mengingat apa yang kita lalui di alam rahim, mungkin kita bisa menjalani hidup dengan lebih bijaksana ....

  • Shanti Agustiani
    Shanti Agustiani
    1 tahun yang lalu.
    Keindahan bukanlah yang kau dengar atau lihat. Keindahan kau rasakan. Jauh sampai ke dalam hati....