Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 15 Agustus 2016   10:11 WIB
Jika Engkau Pernah Berpikir Untuk Bercerai...

Dua hari yang lalu saya menuliskan kalimat ini di status Facebook saya, “Jika kau ingin bahagia dalam sebulan, nikahi orang yang kau cintai. Jika engkau ingin berbahagia untuk selama-lamanya, bahagiakan orang yang kau nikahi.”

Hingga hari ini, status itu sudah disukai lebih dari 2,700 kali dan dibagikan ratusan orang. Meski di kolom komentar ada beberapa orang yang bertanya-tanya dan tak sependapat, saya kira lebih banyak yang relate dengan kalimat yang saya tuliskan itu. Karena satu dan lain alasan, tentu saja.

Saya menuliskan kalimat itu sungguh-sungguh. Pernikahan memang tak pernah menjadi sesuatu yang mudah dan biasa-biasa saja. Jika Anda mencari kebahagiaan dengan menikah, mungkin Anda salah… Pernikahan hanya akan memberikan Anda kebahagiaan yang pendek. Konon, seminggu atau paling lama sebulan saja… sepanjang bulan madu. Setelah itu, segalanya jadi berat dan kurang menyenangkan.

Tiba-tiba Anda sadar bahwa pasangan yang Anda nikahi memiliki banyak kekurangan. Lalu ketika kalian saling komplain soal ini atau itu, kalian merasa memiliki banyak ketidakcocokan. Banyak pengantin baru yang sebelumnya saling kenal bertanya-tanya, “Setelah menikah, kok jadi sering berantem, ya?” Memang begitu kenyataannya. Belum lagi pernikahan memberi kita tanggung jawab lebih, kewajiban lebih, beban lebih, masalah lebih…

Demikianlah, pernikahan tak pernah sesederhana tentang melegalkan hubungan badan, bukan? Jika itu yang Anda cari, mungkin Anda akan mendapatkannya. Tetapi, jika Anda mencari kebahagiaan melalui pernikahan, Anda harus memikirkannya dua kali.

Satu-satunya cara untuk menciptakan sebuah pernikahan yang bahagia adalah dengan menjalin ‘cinta yang sadar’. Cinta yang sadar adalah cinta yang mengerti bahwa segalanya tidak akan berjalan mulus-mulus saja, bahwa saling mengerti adalah formula terbaik untuk saling menerima, bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Mencintai secara sadar adalah ketika kita mengatakan kepada pasangan sah kita, “Aku mencintaimu dengan cara berhenti mengandaikan semua hal baik yang tak ada pada dirimu dan memaafkan semua hal buruk yang ada pada dirimu.”

Memang pernikahan bukan jawaban untuk masalah kebahagiaan. Menikah adalah jawaban untuk masalah keberkahan. Jika Anda ingin hidup berkah, maka menikahlah. Tetapi jika Anda ingin pernikahan yang bahagia, pernikahan yang langgeng, bahagiakanlah orang yang Anda nikahi. But this is not a simple task, for sure.

Sebelumnya tulisan ini akan saya beri judul “Sebelum Engkau Memutuskan Untuk Bercerai…”. Alasannya? Sederhana saja, karena banyak orang yang gagal mengerti bahwa kebahagiaan dalam pernikahan adalah sesuatu yang mesti diperjuangkan bersama-sama. Bahwa pernikahan memang tak pernah menjadi ‘cara gampang’ untuk berbahagia.

Suatu hari di tahun 2014, saya berdiskusi panjang dengan seorang teman dekat yang telah bercerai dengan istrinya setahun sebelumnya. Saya masih ingat percakapan itu karena pengakuan teman saya begitu menyentakkan. Tunggu, apakah ia menyesali keputusannya? Tentu saja, itu hal yang biasa dialami pasangan manapun yang bercerai, bukan? Tetapi, lebih dari itu, teman saya memiliki sebentuk perasaan lain. Kurang lebih, waktu itu ia mengatakan, “Aku rindu mantan istriku.”

Saya mengernyitkan dahi, “Apa yang kamu rindukan darinya?”

Ia tersenyum getir, ada tawa yang tak terdengar di balik getar suaranya. Kemudian ia menggelengkan kepala. “Enggak. Tiba-tiba teringat cerita yang pernah sama-sama kami upayakan,” katanya, “Kupikir semuanya akan lebih indah setelah bercerai, tetapi ternyata sendiri juga tidak mudah untuk melanjutkan semua cerita ini.”

Saya terdiam dan menepuk-nepuk pundaknya, “Semua pasti ada hikmahnya.” Saya berusaha menghiburnya.

Kali ini ia betulan tertawa. “Dalam kasus-kasus seperti ini, hikmah selalu datang bersama penyesalan. Setelah semuanya terlambat!” Ia menghela nafas, “Aku nggak apa-apa kok, cuma sedang rindu.”

“Aku turut prihatin dengan kegagalan pernikahanmu.” Ujar saya. Tiba-tiba merasa janggal dengan kalimat sendiri.

Ia menggelengkan kepala. “Tidak ada pernikahan yang gagal,” katanya, “Kami gagal saling membahagiakan. Kami gagal mempercayai harapan kami sendiri. Kami gagal untuk terus berusaha membahagiakan satu sama lain.” Ia terdiam beberapa saat, “Anyway, aku telah merelakannya. Dia sudah punya calon suami lagi. Aku tak berani merebutnya kembali. Jalan kami sudah tak bertemu.”  

Saya tersenyum kepadanya. Sebelum ia memberi saya sebuah nasihat yang kuat—

“Kamu penulis. Sampaikan ini kepada sebanya mungkin orang,” katanya, “Apapun yang terjadi, perceraian semestinya jadi jalan terakhir ketika semua upaya untuk saling membahagiakan sudah dikerjakan. Jangan membuat keputusan ketika marah. Jangan sekalipun kehilangan rasa percaya untuk bahagia. Atau suatu hari, ketika kalian tak lagi bersilang jalan, rasa rindu akan membunuhmu pelan-pelan.”

Sejak saat itu, saya selalu mencari cara bagaimana agar bisa menyebarkan pesan teman saya itu kepada sebanyak mungkin orang. Bagaimana agar saya bisa menyampaikannya dengan cara yang tak menggurui… Mungkin inilah saatnya. Inilah cara saya untuk menyampaikannya kepada banyak orang.

Mudah-mudahan tulisan ini menjadi semacam ‘tempat berhenti’ bagi siapapun yang sedang bergulat dengan satu pertanyaan mengenai perceraian. Mudah-mudahan tulisan ini menjadi semacam kolam kecil untuk menggenangkan semua rencana untuk berhenti percaya bahwa pernikahan yang bahagia selalu bisa diwujudkan… Selama ia diperjuangkan. Sebelum kelak rindu membunuhmu pelan-pelan di tiang gantung penyesalan. Jika semua itu terjadi, tak ada orang yang bisa menyelamatkanmu. Sebab rindu semacam itu tak bisa disembuhkan oleh kata-kata bijak macam apapun! 

Akhirnya, izinkan saya menuliskan kalimat ini lagi sebagai penutup. Kalimat yang mungkin akan lebih berbunyi dari pertama kali Anda pernah membacanya, “Jika kau ingin bahagia dalam sebulan, nikahi orang yang kau cintai. Jika engkau ingin berbahagia untuk selama-lamanya, bahagiakan orang yang kau nikahi.”

  

Jakarta, 15 Agustus 2016

 

FAHD PAHDEPIE

Penulis Buku Sehidup Sesurga (GagasMedia, 2016)

 

Karya : Fahd Pahdepie