Bagian 6: Jeda

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Project
dipublikasikan 13 Agustus 2016
Rahim: Semesta Sebelum Dunia

Rahim: Semesta Sebelum Dunia


Novel ini pernah diterbitkan oleh GoodFaith (2009), juga pernah diterbitkan dengan judul 'Semesta Sebelum Dunia' (NouraBooks, 2013). Cover: Ragillia Rachmayuni Ilustrasi: Adrianne Yuanita

Kategori Fiksi Umum

28.5 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian 6: Jeda

Seorang bayi dibekali ratusan miliar neuron di dalam sel otaknya. Hampir merupakan jumlah terbanyak dari yang akan seseorang miliki selama hidupnya. Setiap neuron terhubung dengan neuron lainnya melalui sebuah sambungan yang disebut sinaps.

Miliaran neuron membangun hubungan dengan milyaran neuron lainnya—hingga pada akhirnya seseorang akan memiliki lebih dari 1015 sambungan neuron dalam otaknya—kalau ditulis nol-nya itu setara dengan: 1.000.000.000.000.000. Jumlah yang mungkin saja melebihi banyaknya bintang di galaksi!

Kita bahkan belum menghitung sel lainnya yang terdapat di bagian tubuh manusia, kita belum menghitung gen—satuan DNA—yang dalam setiap sel tubuh manusia terdapat sekurangnya 50.000 informasi genetik yang unik. Bila dalam tubuh manusia terdapat miliaran sel, miliaran rantai DNA yang bahkan bila dibentangkan panjangnya melebihi luas galaksi, dan bila dalam satuan terkecil sel tubuh kita Raja Semesta menitipkan satu saja ilmu tentang hidup… Sesungguhnya, tentang hidup, sejak awal kita sudah diajarkan segalanya!

Itu saja, deh. Hari ini aku tidak ingin berbicara panjang lebar. Aku sedang bertengkar dengan istriku. Hatiku remuk dan perasaanku kacau balau. Pikiranku juga jadi tidak keruan. Kau pernah mengalaminya, bukan?

Ya, ya, perempuan memang begitu. Dan semua orang memberi nasihat yang sama sepertimu: bersabarlah. Tapi, bersabar saja tidak cukup. Ia tetap membuat hatiku remuk dan perasaanku kacau balau. Pikiranku juga jadi tidak keruan.

Aku heran, dari mana datangnya pikiran yang tidak keruan? Aku heran mengapa perasaan perempuan sulit sekali ditebak? Baru saja kemarin dia sangat baik hati dan penuh pengertian padaku, “Dakka, Sayang. Mau makan apa malam ini, biar kubuatkan untukmu…” Katanya. Tetapi pagi-pagi sekali ketika dia bangun, dia sudah marah-marah dan berkata-kata yang membuat hatiku hancur dan perasaanku kacau balau.

“Untuk apa kau bekerja siang-malam pergi kesana-kemari tapi tak mendapatkan penghasilan apa pun?” Ia membentak, ini kedua kali setelah terakhir kali dia membentakku pada tiga tahun lalu setelah aku tak sengaja menghilangkan cincin pernikahanku. “Pengabar Berita dari Alam Rahim?” Ia tertawa mengejekku, “Kau lebih baik jadi pedagang roti atau buah. Itu lebih baik daripada pekerjaan yang tak jelas itu!”

“Tapi ini tugas khusus, Sayang,” kataku.

“Aku tak peduli! Sejak kau mengambil pekerjaan itu, kau jadi tidak perhatian lagi padaku!” Ia pergi bergegas sambil membanting pintu.

Hatiku benar-benar hancur mendengarnya.

Aku benar-benar tidak mengerti. Mungkin kau, seseorang dengan lebih dari 1015 jalinan neuron di otakmu, bisa menjelaskannya padaku?

Hari ini aku sedang tidak ingin banyak bicara. Tidak.

***

Apa? Ya, ya, kau benar. Kau benar. Mengapa tak terpikirkan olehku, ya? Sepertinya yang dipermasalahkan oleh istriku memang bukan sepenuhnya tentang pekerjaanku. Saat ia berkata ‘Sejak kau mengambil pekerjaan itu, kau jadi tak perhatian lagi padaku’, aku seharusnya segera tahu dan mengerti bahwa masalahnya adalah ‘kau tak perhatian lagi padaku’ dan bukan pekerjaan ini yang salah. Kau benar.

Ah! Kau benar! Sebab, setahuku, Maria istriku adalah orang yang paling menghargai pekerjaanku daripada siapa pun. Makanya aku kaget, kenapa tiba-tiba dia jadi mempermasalahkan pekerjaanku?

Tapi, tetap saja, aku harus memohon maaf kepadamu karena malam ini aku sedang tak ingin berbicara panjang lebar. Aku sedang tak ingin membahas pekerjaanku dan Alam Rahim. Ketika aku pergi ke tempat ini, aku sudah menimbang-nimbang apakah pekerjaanku memang pekerjaan yang baik atau tidak, pekerjaan yang layak dipertimbangkan atau tidak. Kata-kata istriku pagi tadi benar-benar membuatku terpukul. Jadi sekali lagi, maafkan aku karena tak bisa menemanimu mengobrol malam ini.

Lagipula kita perlu jeda. Kau juga punya pekerjaan lain yang perlu diselesaikan, bukan? Dan aku, biarkan aku menata kembali hatiku dan menumbuhkan rasa percaya diriku. Mungkin aku juga perlu berbicara sekali lagi dengan istriku.

Tapi, tenanglah, aku tidak akan mangkir dari pekerjaanku, kok. Itu melanggar aturan khusus no. 36 tentang tindakan tidak profesional dan pelanggaran disiplin. Aku akan menuntaskan semua pekerjaanku dan menceritakan semuanya tentang kejadian di Alam Rahim kepadamu. Kita hanya mengulur waktu. Memberi jeda pada kegiatan kita berdua. Ini juga diatur dalam Peraturan Khusus tim elit Satgas Pengembalian Kepercayaan dan Sakralitas Alam Rahim, ini disebut reses. Peraturan No. 62.

Reses penting agar seorang Pengabar Berita dari Alam Rahim juga bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya yang lain. Terutama pekerjaan domestiknya sebagai individu. Aku kan punya kehidupan sendiri juga, aku juga punya persoalan yang harus diselesaikan. Aku harus selesai dulu dengan diriku sendiri sebelum sok tahu memberi pelajaran tentang ’kehidupan’ kepadamu.

Dan jeda membuat kita melihat ke dalam diri kita sendiri. Itu yang penting.

Selamat malam!

 

(Bersambung)


  • Fadhillah Ummul
    Fadhillah Ummul
    1 tahun yang lalu.
    Assalamualaikum Bang Fahd... saya mau bertanya apakah ada tempat rekomendasi untuk membeli buku 'Menatap punngung Muhammad' atau 'Seribu Malam Untuk Muhammad'... berhubung buku terbitan lama saya agak sulit mencarinya di makassar maupun online.. apakah ada rekomendasi dari Bang Fahd.. Mohon Bantuannya.... saya ingin sekali membacanya....

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 tahun yang lalu.
    Rangkaian 27 kata terakhir benar-benar mengesankan
    selalu suka karya-karyanya, Bang Fahd

  • Shanti Agustiani
    Shanti Agustiani
    1 tahun yang lalu.
    keren...!

  • Pepi Nuroniah
    Pepi Nuroniah
    1 tahun yang lalu.
    wahhhhh beneran kangen sama buku ini... buku ini yang buat saya ngefans sama om fhad.. jujur buku yg lainnya belum saya baca hihihihi