Bagian 5: Lanugo

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Project
dipublikasikan 11 Agustus 2016
Rahim: Semesta Sebelum Dunia

Rahim: Semesta Sebelum Dunia


Novel ini pernah diterbitkan oleh GoodFaith (2009), juga pernah diterbitkan dengan judul 'Semesta Sebelum Dunia' (NouraBooks, 2013). Cover: Ragillia Rachmayuni Ilustrasi: Adrianne Yuanita

Kategori Fiksi Umum

28.5 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian 5: Lanugo

“Selamat siang!” Katamu.

“Selamat siang!” Kata Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki.

Ikan Mas itu menjual berbagai macam makanan berkualitas tinggi yang kelihatannya sangat lezat dan mengundang selera. Melihat berbagai macam jenis makanan lezat dari seluruh dunia terhidang di depan matamu, tentu saja kau menjadi lapar. Semua makanan ada, kecuali Ikan Mas!

“Kau mau makan apa, Tuan Bayi yang Botak?”

“Apa saja yang kau rekomendasikan sebagai masakan andalanmu?”

“Aku punya banyak. Tapi yang paling kurekomendasikan, tentu saja, Paralea!” kata Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki dengan yakin dan mantap. Ia mengucapkan kata Paralea dengan aksen yang unik. Sepertinya lidahnya agak bergoyang: Pa-raaalllleee-aaa.

“Makanan apa itu?”

“Paralea adalah makanan yang hebat, Tuan Bayi yang Botak. Aku menemukan resepnya setelah bertahun-tahun. Aku dibantu juga oleh seorang sahabatku yang berprofesi sebagai ilmuwan, namanya Jimi. Ia seekor tikus tanah. Sekali saja kau makan makanan ini, kau akan kenyang selama seminggu. Kau tak perlu makan apa-apa lagi. Tentu saja ini menghemat waktu makanmu selama seminggu. Kalau kau biasanya makan sehari tiga kali dan setiap kalinya menghabiskan waktu 1 jam. Kau bisa menghemat waktu hingga 3 jam per hari. Dikali 6 ditambah 2. Kau bisa menghemat waktu sampai 20 jam selama seminggu. Dan kau bisa mempergunakan waktu dua puluh jam itu untuk tidur, bukan?” Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki secara bersemangat menjelaskan semuanya.

“Aku tidak suka tidur. Lagipula, tidur terlalu banyak membuat kita lelah.” Katamu.

Kau melihat-lihat ke sekeliling. Kau berada di tempat yang aneh. Sebuah ruangan besar dan luas, semuanya berwarna putih. Di sana hanya ada sebuah meja panjang sekali dengan berbagai macam hidangan lezat yang mengundang selera. Dan sebuah meja lengkap dengan kompor dan alat-alat memasak yang cantik dan elegan.

“Tunggu dulu. Kau belum tahu satu hal,” kata Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki, “Bila kau tidur dalam rentang waktu di mana Paralea masih berefek di tubuhmu, yakni selama satu minggu, kau bisa memimpikan hal-hal yang sangat indah. Lebih indah daripada hal terindah yang bisa kau pikirkan!”

“Bukankah aku sedang bermimpi?” katamu, “Bagaimana aku bisa bermimpi dalam mimpi?”

“Ah! Kau bayi yang banyak bertanya!” Wajah Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki terlihat gusar. Ia agak tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaanmu.

“Apakah kau marah, Tuan Koki?”

“Tidak. Sudahlah. Aku hanya kesal.”

“Kesal kenapa?”

“Ah! Kau bertanya terus! Itulah yang membuatku kesal!”

“Maafkan aku,” katamu. “Tapi Tuan Koki kesal kenapa?” Kau tak pernah menyerah setiap kali mengajukan pertanyaan.

Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki akhirnya menyerah juga, “Selama karierku sebagai koki profesional aku hanya pernah dua kali diperlakukan seperti ini. Pertama oleh istriku yang selalu tak bisa menghargai semua pekerjaanku. Di matanya, semua yang aku lakukan selalu kurang istimewa. Sampai aku capek harus membuktikan apalagi padanya.” Ada air mata yang menggenang di matanya, lihatlah, “Kedua, seseorang yang kini berada di hadapanku. Orang lain biasanya langsung tertarik dan mencicipi masakanku. Tapi kau banyak bertanya. Seolah ragu pada hasil karya seni agungku, kau ragu pada masakanku.” Ia benar-benar terlihat sangat sedih menghadapi kenyataan ini.

“Tidak, tidak, aku tidak bermaksud begitu, Tuan Koki. Baiklah. Aku ingin mencicipi Paralea itu. Tetapi, sebelumnya tolong beritahu aku makanan seperti apa Parelea ini?”

“Ya baiklah…” Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki tampak benar-benar menyerah, “Paralea ini adalah bubur khusus yang terdiri dari beberapa jenis sayuran, biji-bijian dan beberapa rempah. Ada bayam, chickpea, wortel, jagung, sawi, seledri, kacang tanah, lada, ketumbar, garam, gula, sari buah jeruk, pandan, dan vanila. Dimasak jadi satu dengan formula rahasia yang ditemukan temanku Jimi Si Tikus Tanah. Paralea harus dimasak secara hati-hati dan teliti sampai semuanya matang sempurna dan memberikan sensasi rasa yang tak terlupakan. Kau akan ketagihan. Paralea benar-benar hasil karya seni agungku yang paling agung, agung, agung, agung! Aku jamin!” Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki tampak benar-benar bersemangat ketika menjelaskan Paralea.

“Baiklah. Beri aku satu mangkuk kecil. Meski aku tak terlalu mengerti apa yang kau jelaskan.”

“Kau tak perlu mengerti dulu untuk bisa merasakan sesuatu, Tuan Bayi yang Botak. Kau hanya perlu merasakannya. Itu cukup. Kau hanya perlu mengalaminya. Kadang, untuk beberapa hal, kita memang tak perlu mengerti terlebih dahulu.“

Lalu semangkuk Paralea tersaji di hadapanmu. Benar saja kata Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki itu. Baru mencium baunya saja, kau sudah merasakan kelezatannya. Lalu kau menghirup bau itu jauh lebih dalam, jauh lebih dalam, jauh lebih dalam dari sebelumnya—

Aaaahhhh...

“Astaga! Baunya lezat sekali, Tuan Koki!” katamu.

“Tentu! Akulah kokinya. Silakan dicicipi.” Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki tampak menggerak-gerakkan kedua alisnya ke atas dan ke bawah. Senyumnya lebar. Ia menepuk-tepuk dadanya.

Lalu kau mulai makan sesendok pertama, kedua, ...kelima, kesepuluh, sampai seluruh Paralea di mangkuk itu habis. Tak bersisa sedikitpun. Lalu kau minta semangkuk lagi. Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki menambahkan satu mangkuk lagi. Dan kau makan lagi sampai habis. Lalu kau minta lagi, habis lagi, dan Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki tersenyum puas penuh kemenangan.

“Boleh aku minta satu mangkuk lagi, Tuan Koki?”

“Tidak, tidak. Tidak boleh! Kau sudah makan sangat banyak. Aku sangat tidak menganjurkan kau menambah Paralea lagi.”

“Kenapa?”

”Paralea akan hancur. Rasa akan hancur.”

”Kenapa?”

”Ah! Pokoknya tidak!”

”Persepsi akan hancur.”

”Kenapa?”

”Ah! Kau banyak bertanya. Pikiran bukan segala-galanya.”

”Kenapa?”

Tuan Koki tampak menyerah dengan serangan ’kenapa’-mu, “Rasa adalah persepsi, Tuan Bayi yang Botak. Ia memiliki batasnya sendiri. Dalam ukuran tertentu ia bisa menjadi enak, tetapi dalam ukuran yang lain ia bisa jadi sangat tidak enak. Begitu juga Paralea. Sampai batas tertentu Paralea adalah makanan yang sangat lezat—barangkali paling lezat di Alam Rahim—tetapi bila kau memakannya terlalu banyak, Paralea akan menjadi sangat tidak enak. Bahkan kau akan merasa mual atas suapan-suapan sebelumnya yang kau telan, saking tidak enaknya. Ah, demikianlah, segala yang berlebihan selalu buruk. Ekspresi Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki tampak lucu.

Kau mengangguk pelan. Lalu kau berkata pada Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki, “Ya, kau benar, Tuan Koki. Aku telah banyak makan. Sampai-sampai dalam perutku, aku melihat semua makanan yang pernah kutelan. Termasuk Paralea yang banyak tadi. Kau benar bahwa pada batas tertentu rasa itu akan kehilangan nilainya sendiri. Terima kasih sudah mengingatkanku.”

“Terima kasih juga sudah mencicipi makananku.”

“Sama-sama, masakanmu sungguh lezat!”

Kau ingat mimpi itu? Mimpi yang kau alami ketika kau berusia lima setengah bulan dalam kandungan. Ya, ya, memang tidak sepenuhnya begitu. Beberapa bagian memang kutambah-tambahi. Baiklah, aku mengaku salah. Aku telah melanggar aturan khusus nomor 63 pasal C: Jika kau mencoba kelihatan pandai di mata orang lain, kadang-kadang kau harus menjauh dari kebenaran. Maafkan aku. Tetapi, kali ini aku tak bohong: aku hanya ingin menggambarkan bahwa kurang lebih itulah yang terjadi di mimpimu ketika kau berusia lima setengah bulan dalam kandungan ibumu.

***

Hingga saat ini, kau telah tumbuh cukup besar untuk mengembangkan sistem saraf dan otot-otot yang memungkinkanmu untuk bergerak di dalam rahim ibumu. Kau bisa bergerak sangat aktif sejak sekarang. Bahkan terlalu aktif. Karena masih sangat kecil, kau biasa berenang naik turun di kantung amniotik ibumu—serta dalam posisi apa pun dan kapanpun.

Meskipun paru-paru dan sistem pencernaanmu belum sempurna dan kau belum bisa mempertahankan panas tubuhmu dengan baik, kau sudah berkembang dengan sangat baik dan mulai memiliki banyak kemampuan ini—

Organ seks. Kau sudah memilikinya pada usia ini, bahkan cukup sempurna dan “siap”. Sebelumnya aku juga tak menyangka bahwa organ seks sudah disiapkan sejak masa-masa awal perkembangan tubuhmu seperti sekarang ini. Aku kira, organ seks hanya sudah siap ketika kita sudah dewasa, ternyata aku keliru. Sebab di usia seperti ini, skotrum anak laki-laki sepertimu sudah sempurna. Artinya, kau sudah “siap”.

Eh, meskipun kau bukan anak perempuan, tetapi kalau kau ingin tahu, pada usia yang sama, vagina anak perempuan mulai membentuk rongga dan ovariumnya mengandung sekitar 7 juta sel telur—yang akan terus berkurang sampai berjumlah 2 juta saat bayi-bayi perempuan ini dilahirkan. Dan pada saat mereka mengalami pubertas, tahukah kau berapa jumlah sel telur yang mereka miliki? Mereka memiliki 200.000-500.000 sel telur dan melepaskan 400-500 di antaranya pada saat mereka dewasa—sekitar satu setiap bulan setiap kali mereka mengalami menstruasi hingga kelak mereka menopause[1].

Verniks. Ini adalah kelenjar kulit yang berbentuk lapisan mirip lilin. Gunanya untuk menjaga kelenturan kulitmu. Dengan memiliki verniks, kau tak perlu khawatir terluka akibat gesekan atau gerakan-gerakan tertentu yang bisa membahayakanmu. Kau memiliki semacam lapisan pelindung mirip lilin yang membuatmu leluasa bergerak.

Kau juga sudah mampu membedakan rasa. Kau bisa membedakan mana rasa yang manis, pahit, asam, dan seterusnya. Kelak, ini akan menjadi indera penting dalam kehidupanmu yang akan membawamu menjelajahi berbagai sensasi rasa. Tapi ingat, rasa punya batas tertentu, seperti kata Ikan Mas yang Bekerja Sebagai Koki dalam mimpimu itu!

Sentuhan. Kulitmu kini sensitif terhadap sentuhan dan kau akan bergerak untuk merespon tekanan apa pun pada perut Ibumu. Kau ingat kejadian malam tadi, saat ayahmu menepuk-tepuk perut ibumu, kau mulai bisa merespon ’tekanan-tekanan’ itu. Kau membalasnya dengan memberikan sebuah ’tendangan’ yang membuat mereka berdua tertawa.

Meski masih tersembunyi dalam gusimu, calon-calon gigi sudah terbentuk—terutama gigi susu. Sementara itu, detak jantungmu kini bisa didengar dengan stetoskop yang tidak terlalu peka sekalipun.

Di atas semua itu, kau mulai membangun sistem pertahanan dirimu. Sebuah pembungkus mulai terbentuk di sekitar saraf-saraf tulang belakang untuk melindungimu dari kerusakan. Kau juga memiliki sistem kekebalan tubuh primitifmu sendiri—yang akan membantumu melindungi diri dari infeksi.

Sementara itu, untuk memproduksi panas tubuh dan mempertahankan suhu, kau memerlukan jaringan lemak khusus. Ini disediakan oleh jaringan yang disebut “lemak cokelat”. Kini lemak cokelat mulai menumpuk di beberapa area tubuhmu seperti leher, dada, dan selangkangan—dan akan terus berlangsung hingga kurang lebih sembilan bulan kau berada dalam kandungan Ibumu. Itu artinya, kemampuanmu mempertahankan panas tubuh yang didukung oleh ketersediaan lemak cokelat memang dibutuhkan terus sampai kau “siap” dan “kuat” untuk terlahir ke dunia.

Itulah sebabnya mengapa bayi-bayi yang lahir prematur begitu lemah. Ketika mereka lahir terlalu cepat dari waktu semestinya, mereka tidak punya sistem pertahanan yang bisa mempertahankan kestabilan suhu tubuh mereka agar tetap hangat. Sebab mereka tidak punya cukup banyak waktu yang memadai untuk menumpuk lemak cokelat agar membungkus bagian-bagian tertentu yang rawan. Itulah sebabnya mengapa bayi-bayi yang terlahir prematur selalu perlu “dihangatkan” atau dijaga kestabilan suhu tubuhnya di sebuah mesin bernama inkubator—sampai mereka cukup kuat dan siap.

Coba kau terka tebakanku, saat kau kedinginan, mengapa daerah-daerah seperti lekukan leher, ketiak, atau selangkanganmu jauh lebih hangat dibandingkan daerah-daerah tubuhmu yang lain?

Kau tak bisa menerkanya? Karena kau punya cukup banyak lemak cokelat yang menumpuk di sana!

Selain itu, tubuhmu juga diselubungi bulu-bulu halus yang disebut lanugo. Tidak ada yang tahu persis apa fungsinya. Ini masih misterius. Bahkan mereka, para dokter, masih menelitinya hingga sekarang. Tetapi, ini bocoran dariku saja, asal kau tahu, lanugo ini merupakan fitur rahasia yang diberikan kerajaan Alam Rahim untuk benar-benar melindungi kestabilan suhu tubuhmu, juga untuk menahan verniks pelindung agar tetap berada pada tempatnya.

Tanpa lanugo, mungkin kau akan mati kedinginan di Alam Rahim… Karena kadang-kadang suhu di Alam Rahim sangat dingin… Ini semacam mantel bulu yang menghangatkanmu saat udara dingin menyerang. Sebab, ketika kau masih dalam kandungan, sebaik dan seperhatian apa pun ayah dan ibumu, mereka tetap tak bisa memakaikanmu mantel berbulu!

Tetapi tak masalah, kau kan sudah punya lanugo. Itu lebih dari cukup!

(Bersambung)

 

[1] Menopause adalah fase di mana seorang perempuanperempuanperempuan sudah tidak lagi mengalami siklus menstruasi.


  • Fadhillah Ummul
    Fadhillah Ummul
    1 tahun yang lalu.
    Assalamualaikum Bang Fahd... saya mau bertanya apakah ada tempat rekomendasi untuk membeli buku 'Menatap punngung Muhammad' atau 'Seribu Malam Untuk Muhammad'... berhubung buku terbitan lama saya agak sulit mencarinya di makassar maupun online.. apakah ada rekomendasi dari Bang Fahd.. Mohon Bantuannya.... saya ingin sekali membacanya....

  • Cute Nurul Azizah
    Cute Nurul Azizah
    1 tahun yang lalu.
    Inspirasi.co ini blm ada app nya ya kang