Pelajaran Berharga dari Tukang Bubur

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 10 Agustus 2016
Pelajaran Berharga dari Tukang Bubur

 
Kadang-kadang, persepsi adalah sebuah perangkap. Dan tafsir kita terhadap sesuatu sering keliru-keliru.
 
Ini kisah nyata. Dan saya mengalaminya sendiri.
 
Suatu hari di tahun 2008 saya pulang ke rumah orangtua saya di Bandung setelah menyelesaikan kuliah di Jogja. Dengan intelektualisme dan kepongahan khas seorang sarjana muda, saya memandang nyinyir seorang penjual bubur ayam yang biasa mangkal kira-kira 150 meter dari rumah orangtua saya. Pasalnya, 'tukang bubur ayam' itu sudah berjualan di sana sejak saya SD! sejak saya membeli bubur ayamnya dengan harga Rp. 300 hingga ketika itu Rp. 3.000.
 
"Tukang bubur ayam itu nggak maju-maju, ya!?" Protes saya dengan nada yang agak meremehkan. "Coba dia berpikir sedikit, mungkin dia sudah jadi apa sekarang."
 
Suatu ketika saya berkesempatan membeli bubur ayamnya lagi. Saya berjalan dengan langkah tegap yang sombong. Saya membeli bubur ayam dan menyerahkan uang Rp. 5.000. "Buburnya tiga ribu, yang dua ribu tambahin aja ayamnya dan bumbunya!" Ujar saya. Sang penjual bubur mengangguk perlahan, lalu dengan cekatan menyiapkan pesanan saya.
 
Sambil memerhatikannya, dalam hati saya masih terus bertanya-tanya: Apa yang ada di pikiran Bapak ini sehingga dia tak mau mengerjakan hal lain yang lebih bisa membuatnya sejahtera? Kok susah banget move on dan tetap jadi penjual bubur ayam  selama bertahun-tahun?
 
Pesanan saya akhirnya selesai. Di sanalah saya memberanikan diri untuk bertanya, "Dari saya SD, Bapak masih aja jualan bubur. Nggak bosen, Pak?" Saya berusaha menanyakannya sambil bercanda. Takut membuatnya tersinggung.
 
Tak disangka, jawaban pedagang bubur itu begitu menyentakkan saya. Dia mengawalinya dengan senyuman, "Usaha mah ngeureuyeuh weh," jawabnya dalam bahasa Sunda. Ikhtiar itu yang penting dilakukan, meski pelan yang penting konsisten. Begitu kira-kira terjemahannya.
 
"Tapi, kan harus ada kemajuan?" Kejar saya.
 
"Diam di tempat juga bukan berarti tidak maju." Jawabnya lagi. Masih dengan bahasa Sunda. Cicing ogé sanes teu maju-maju.
 
Saya mengernyitkan dahi. Masih bingung dengan semuanya sebelum penjual bubur itu menjelaskan lebih jauh lagi.
 
"Katingalina weh dagang bubur di dieu-didieu wae," katanya, kelihatannya saja jualan bubur di sini di-sini saja, "Tapi rejeki sudah diatur oleh Allah jika kita terus berusaha. Alhamdulillah rumah sudah ada dua, yang satu dikontrakkan. Anak saya dua-duanya kuliah dengan biaya sendiri. Sekarang mah lagi nabung pengen naik haji," lanjutnya santai.
 
Saya terdiam.
 
Sejak saat itu, ada yang hancur dalam diri saya: Kesombogan. Ada yang meleleh dalam kepala saya: Keangkuhan. Sejak saat itu saya bertaubat untuk tak lagi memandang orang sebelah mata, tak lagi menilai orang dari apa yang saya lihat sekadar di permukaannya.
 
Demikianlah, kadang-kadang, persepsi adalah sebuah perangkap. Dan tafsir kita terhadap sesuatu sering keliru-keliru.
 
 
Jakarta, 10 Agustus 2016
 
FAHD PAHDEPIE
 


  • Dani Kaizen
    Dani Kaizen
    11 bulan yang lalu.
    @Fahd Pahdepie, kereeeennnnn.....
    .
    .
    Saya suka kalimat yg ini => Sejak saat itu, ada yang hancur dalam diri saya : Kesombongan.........dan seterusnya......
    .
    (ternyata tulisan di inspirasi.co sekarang gak bisa di copas ya?)

  • NUR RACHMAH WAHIDAH
    NUR RACHMAH WAHIDAH
    11 bulan yang lalu.
    kalimat yang pas " ini kisah nyata dan saya mengalaminya sendiri"
    ~ya saya mengalaminya dgn profesi sang ayah berjualan bubur~

  • Choke J.S
    Choke J.S
    11 bulan yang lalu.
    awesome...kadang memang kita gak bisa menilai kulitnya doang ya mas...

  • Fahrial Fauzi
    Fahrial Fauzi
    11 bulan yang lalu.
    Memang terkadang kita sering lupa untuk bersyukur, dan kita selalu melihat sesuatu berdasarkan kaca mata kita saja.. ya kl tdk merasa kurang ya merasa lebih dari org2..

  • Vera 
    Vera 
    11 bulan yang lalu.
    Subhanallah