Bagian 4: Gerak

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Lainnya
dipublikasikan 09 Agustus 2016
Rahim: Semesta Sebelum Dunia

Rahim: Semesta Sebelum Dunia


Novel ini pernah diterbitkan oleh GoodFaith (2009), juga pernah diterbitkan dengan judul 'Semesta Sebelum Dunia' (NouraBooks, 2013). Cover: Ragillia Rachmayuni Ilustrasi: Adrianne Yuanita

Kategori Fiksi Umum

27.6 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian 4: Gerak

Halo, apa kabarmu hari ini? Sudah siap mendengar ceritaku lagi?

Baiklah, itu memang lebih baik, selesaikan dulu urusan-urusan kecil yang mengganggumu. Aku akan sabar menunggumu di sini. Jangan membiasakan diri jadi orang yang menunda-nunda pekerjaan. Sebab, sesuatu yang kau tunda akan menggumpalkan kekuatan untuk memburumu tanpa ampun!

Bayangkan kau yang biasa menunda banyak hal, banyak pekerjaan, seraya berkata, ‘Nanti saja, deh!’ atau ‘Nanti dulu, deh!’. Apakah kelak, ketika banjir bandang, atau tanah longsor, atau badai tsunami, atau angin topan sudah di depan matamu kau akan masih bisa berkata, ‘Nanti saja, deh!’ atau ‘Nanti dulu, deh!’? Banjir bandang, badai tsunami, angin topan, bahkan lebih dari sekadar dapat menggumpalkan kekuatan yang akan memburumu tanpa ampun: Mereka bisa saja membunuhmu, melenyapkan nyawamu!

Baiklah, selesaikan dulu pekerjaanmu. Aku akan sabar menunggumu di sini.

***

Hey, cepat sekali? Sudah?

Rupanya kau sudah tak sabar ingin mendengarkan ceritaku selanjutnya, ya? Baiklah, tunggu, tunggu. Sebagai seorang Pengabar Berita profesional, aku harus mempersiapkan diriku demi performa terbaik. Berikan aku segelas air putih. Aku ingin minum dulu.

Terima kasih. Ini lebih baik. Sekarang, betulkan dulu posisi dudukmu. Biar kau nyaman mendengarkan ceritaku…

Ya, ya, begitu. Itu lebih baik. Mari kita mulai.

Sejak tadi, aku memperhatikan semua gerak-gerikmu. Kau tampaknya cukup gesit dan cekatan. Aku melihat bagaimana kau tadi melakukan beberapa pekerjaan sekaligus dalam sebuah kesatuan gerak yang mengesankan. Aku bahkan iri tak bisa selincah kamu, tubuhku terlalu tambun dan gerakanku terlalu lambat. Aku sering diejek dalam pelajaran olah raga di sekolah dulu. Kau mungkin sebaliknya, melihat gerakanmu, sejujurnya aku iri padamu.

Ngomong-ngomong soal gerak, apa yang akan kuceritakan juga berhubungan dengan gerak. Ini tentang perkembanganmu di Alam Rahim ketika kau baru berusia sekitar 17 minggu. Ketika itu, kau sudah menjadi bayi yang lincah. Kau mulai gemar menyentakkan tubuhmu, menekukkan lengan dan kakimu, serta menggerakkan kepalamu. Kau mulai aktif: kau mulai mencipta gerak!

Di luar sana, tentu saja ibumu kaget! Ia sebenarnya sedang tidur ketika kau menggerakkan tungkai kakimu yang masih lemah itu. Tetapi perempuan hamil memang mengalami peningkatan sensitivitas yang luar biasa pesat! Ia bisa merasakan semuanya. Bahkan ketika kau membuat gerakkan paling halus sekalipun. Dan bagi ibumu, gerakanmu tadi, sungguh menyentakkannya.

Ibumu langsung terbangun. Memeriksa perutnya. Menatapnya baik-baik dan mengelus-elus permukaannya. Mulanya ia terlihat agak cemas. Tetapi ketika kau memberi satu tendangan kecil lagi—ia tersenyum lebar.

“Selamat pagi, anakku sayang…” kata ibumu dengan suara yang lembut.

Dengarlah, ibumu menyapamu. Kau tahu, perempuan hamil yang bangun tidur dan langsung tersenyum, menurutku, selalu terlihat sangat cantik. Seperti juga ibumu. Banyak sebab yang membuat seorang perempuan hamil, ketika ia bangun pagi dan terbelalak kaget kemudian mempersembahkan senyumannya, selalu terlihat cantik. Cantik yang kumaksud di sini tentu saja bukan yang bersifat fisik. Entah kenapa, cantik yang kumaksud—ketika menatap seorang ibu hamil yang bangun pagi dan langsung tersenyum—benar-benar terasa sampai ke dalam hati. Orang bilang, kecantikan yang terasa sampai dalam hati adalah kecantikan sejati.

Apakah kau setuju?

Apa? Bagaimana dengan kecantikan fisik? Kalau soal kecantikan fisik, jangan kau tanyakan lagi. Bagiku, Maria istriku, perempuan dengan kulit pucat seputih salju dari Muara Sikka, Simpang Tiga, Kota Ura, dialah yang paling cantik sedunia. Tak ada yang mengalahkannya. Ia tak ada duanya!

***

Andai saat itu kau bisa melihat ibumu; Saat ia tersenyum lebar sambil mengusap-usap perutnya yang membuncit itu—sambil mencandaimu dalam gumam-gumam yang menggemaskan. Bertaruhlah denganku, kau tak mungkin sekalipun berniat melukai perasaannya! Bertaruhlah denganku, jika pada saat itu kau bisa melihatnya dan menyadarinya seperti aku melihatnya dan menyadarinya, jangankan menyakitinya, berniatpun kau tak akan! Percayalah, ibumu adalah perempuan yang cantik, sampai terasa ke dalam hati.

Mari kuberitahu. Ibumu begitu cantik dalam balutan daster hijau yang manis. Itu oleh-oleh dari ayahmu ketika ia bertugas ke luar kota sekitar enam bulan yang lalu. Rambutnya yang panjang diikat ke atas—beberapa helai rambutnya terjurai ke keningnya. Wajahnya memang agak berminyak, tetapi ia tetap terlihat bersih. Dan kau tahu, senyum itu, senyum yang begitu hangat dan tulus, tetap menghiasi wajahnya. Seolah kebahagiaan paling besar sedang ia peluk selama-lamanya di perutnya sendiri—dan dia bisa membelainya kapan saja; Seperti pagi ini.

“Ayah… Ayah… kesini, deh… Anak kita mau ngajak main nih! Dia nendang-nendang perut Ibu, lho!”

Dan ayahmu segera menghampiri Ibumu dengan lari-lari kecil yang penuh semangat. “Oh, ya? Mana? Mana?” katanya.

“Sini, deh, pegang perut aku!”

“Anakku sayang… ini Ayah… bagaimana kabar kamu di sana?”

Sesaat kemudian, tak ada reaksi apa pun. Ibumu tertawa lepas.

“Hahaha… dia belum kenal kali sama ayahnya.”

Ayahmu cemberut. “Awas lho, nggak tak kasih jajan nanti kalo udah gede!” Ayahmu mulai menebar ancaman. Bibirnya manyun.

Tak lama kemudian, kau bergerak lagi. “Aduh, Yah, si dede-nya nendang-nendang aku lagi. Pegang, deh!”

Ayahmu menyerah pada rasa kesalnya, dan memegang perut Ibumu sekali lagi. Lalu, tak lama kemudian, kau bergerak sekali lagi. Mengentakkan kakimu. Dan…

“Bu, si dede-nya gerak! Aku barusan ngerasain! Beneran!” Air muka ayahmu tiba-tiba berubah senang.

“Iya, Yah, aku juga ngerasain.”

“Sayang, sayang, sayang… Ini Ayah, Sayang… Kamu lagi apa di sana? Kamu udah bangun, ya? Mau sarapan apa? Mau sarapan bareng Ayah, nggak?”

Ayah dan ibumu tertawa lepas. Ada matahari baru pagi itu. Matahari yang lain. Matahari yang bagi mereka begitu cerah: Kau!

*** 

Hingga usia 17 minggu kehidupanmu di Alam Rahim, semua organ utama tubuhmu telah terbentuk dan ususmu telah masuk di dalam rongga perut. Kau mulai tumbuh dan matang. Sejak memasuki minggu ke-11 atau 12 kau sudah dapat dikenali sebagai manusia. Kepalamu, tanganmu, kakimu, tubuhmu, semua menunjukkan itu. Kini, kau memiliki nama baru: janin. Kau bukan lagi embrio!

Kepalamu sangat besar jika dibandingkan dengan seluruh tubuhmu. Hingga berusaia 17 minggu, besar kepalamu kira-kira sepertiga dari keseluruhan panjang tubuhmu. Matamu sudah terbentuk hampir sempurna, meski kelopak matamu masih terus berkembang dan tetap menutup. Profil wajahmu juga telah lengkap terbentuk. Batang tubuhmu mulai lurus dan jaringan tulang serta rusuk pertamamu muncul. Kau sudah memiliki kuku pada ujung jari-jari tangan dan kakimu. Dan yang paling menggemaskan: rambutmu mulai tumbuh! Meski masih berupa rambut-rambut halus.

Jantungmu berdetak 110-160 kali setiap menitnya, bayangkan saja kecepatannya! Sistem sirkulasinya juga terus berkembang. Kau juga sudah mulai makan; kau menelan cairan ketuban dan mengeluarkannya sebagai urin. Refleks menghisapmu juga mulai stabil—kau mengerucutkan bibir, menolehkan kepala, dan mengerutkan dahi. Tapi yang paling istimewa: di usia ini pula organ luar kelaminmu sudah mulai tumbuh dan para dokter sudah dapat menyatakan apa jenis kelaminmu melalui pemindaian ultrasonografi.

“Lihatlah hasil USG-nya, Pak, Bu… Bayi Anda berdua laki-laki!” Dokter menunjukkan hasil foto ultrasonografi-nya.

“Laki-laki, dok?” Ayahmu memastikannya sekai lagi.

“Betul, Pak. Laki-laki. Ini lihat, monas kecilnya. Lucu banget, ya? Ia akan menjadi junior penerus Anda, Pak.” kata dokter sambil tersenyum.

Ayahmu tersenyum lebar sambil menatap Ibumu.

“Berarti, Mikal?” bisik Ibumu sambil tersenyum. Manikkan alis matanya.

“M-i-k-a-l...” bisik Ayahmu, balas tersenyum. Ia begitu ekspresif ketika mengeja namamu.

“Biar bayinya kuat, ibu harus banyak makan makanan yang bergizi, ya? Jangan lupa juga minum yang banyak dan makan buah-buahan. Sayurannya juga diperbanyak.” Kata dokter.

“Iya, dok. Istri saya agak males makan sejak dia hamil, nih. Katanya semua makanan jadi enggak enak!” Ayahmu menyela.

“Iya, makanya kondisi kesehatan Ibu juga agak kurang stabil, Pak,” kata Dokter, “Ibu dibantu dengan susu untuk ibu hamil, ya? Untuk menambah asupan protein-nya. Biar bayinya sehat.”

Ibumu mengangguk setuju.

“Kalau Ibu sakit, kasian bayinya juga, kan, Bu? Asupan gizinya nanti kurang baik.” kata dokter. Tersenyum.

“Iya, Dok.” Ibumu meyakinkan bahwa saran dokter akan dijalankannya dengan baik.

***

Di kehidupan Alam Rahim, pada usiamu seperti ini, kau sudah mulai bisa bermimpi. Mimpi yang kau alami tidak jauh berbeda dengan mimpi-mimpimu di kehidupanmu sekarang. Bedanya, mimpi di Alam Rahim terasa jauh lebih nyata daripada mimpi di Alam Dunia.

Misalnya saat kau bermimpi memasuki sebuah hutan dan dikejar seekor harimau, kau akan seperti benar-benar dikejar seekor harimau sungguhan! Atau saat kau bermimpi berbincang-bincang dengan seorang badut penjaga sungai madu, kau seperti benar-benar menemuinya! Bahkan ketika badut penjaga sungai madu itu memberimu segelas madu-sungai, kau seperti benar-benar merasakannya!

Ingatkah saat kau bermimpi bertemu dengan seekor kucing yang bisa berbicara? Bagimu, pada saat itu, kau terasa benar-benar bertemu seekor kucing. Ini kucing yang berbeda dengan kucing yang biasa kau temui di duniamu yang sekarang, sebab kucing ini berjalan dengan dua kaki dan bisa berbicara. Entah kau yang bisa berbahasa kucing atau kucing itu yang bisa berbahasa manusia. Tetapi yang jelas: kalian bisa mengobrol!

Waktu itu, tiba-tiba kau berada di sebuah jalan yang di tepi kiri dan kanannya dijejeri toko roti berwarna-warni. Ada toko roti A, toko roti B, C, D…, Z. Lalu semakin kau menyusuri jalan itu dan mengeja nama-nama toko roti dari A sampai Z, kau menemukan toko roti A.1, lalu toko roti A.2, dan seterusnya sampai toko roti A.10. Lalu kau mulai menemukan toko roti B.1 sampai 10—begitupun dengan toko roti C.1, C.4, sampai 10. Dan seolah tak ada ujungnya...

Ini agak membuatmu pusing. Kau juga bingung karena hanya ada satu jalan di sana. Dunia sepertinya merupakan bentangan jalan raya besar yang di tepi kiri dan kanannya dijejeri toko-toko roti yang berbentuk dan berwarna sama namun memiliki kode yang berbeda-beda. Bagimu, pilihannya hanya ada dua; terus berjalan atau pulang? Saat kau coba berjalan mundur dan sampai di toko roti A tempatmu pertama kali berdiri tadi, dan kau meneruskan jalan mundur, ternyata kau menemukan toko roti A negatif 1, lalu A negatif 2 sampai A negatif 10, begitu seterusnya—hal yang sama terjadi juga dengan huruf-huruf lainnya.

Ah, kau benar-benar dibikin pusing! Kau semakin kebingungan dengan jalan ini. Apa yang harus kulakukan? Katamu dalam hati. Lalu kau memutuskan untuk diam saja. Diam saja sampai semua kode tidak lagi terlihat dan yang ada tinggal toko-toko roti yang sama yang berjejer seolah tak berujung.

Tiba-tiba, dari diujung jalan, kau melihat seekor kucing bertopi berjalan mendekatimu… berjalan… berjalan... terus mendekatimu… hingga kalian berhadapan dan bertemu.

“Hai, kau! Tuan Bayi yang Botak!” Kata kucing itu sambil tersenyum.

Kau tampak kaget. “Halo Tuan Kucing yang Bisa Berbicara!”

Tuan Kucing melepaskan topinya, mempersembahkan sebuah gerakan khidmat penuh penghormatan padamu. Kau membalasnya dengan membungkukkan setengah badanmu.

“Sedang apa kau duduk di sini, Tuan Bayi yang Botak?”

“Entahlah, aku kebingungan, Tuan Kucing yang Bisa Berbicara.”

“Kebingungan kenapa?”

“Sejak tadi aku berjalan dari blok A hingga Blok C.10, aku tak menemukan apa-apa kecuali jalanan yang sepi dan jajaran toko roti yang sama.”

“Oh, ya? Lalu kau memutuskan untuk berhenti di sana dan kembali lagi ke sini?”

“Ya, Tuan Kucing yang Bisa Berbicara, aku bingung! Aku merasa bahwa yang kulakukan sama saja. Langkahku sia-sia. Semua yang kutemui hanya pengulangan dari satu hal yang pernah kulakukan sebelumnya. Semacam rutinitas yang benar-benar membosankan!”

“Hoho. Kau ternyata bayi lelaki yang mudah putus asa, Tuan Bayi yang Botak. Aku berasal dari sisi kota yang lain di mana toko-toko permen berjejer dari blok D negatif 10 sampai blok K.10. Kau tahu, jajaran toko roti berakhir di blok D.10. Setelah itu kau akan menemukan jajaran toko pakaian. Lalu jajaran toko elektronik. Ternyata, kau hanya bayi lelaki yang mudah putus asa, Tuan Bayi yang Botak. Padahal, bila kau meneruskan langkahmu hingga beberapa blok lagi, kau akan menemukan sesuatu yang baru! Kau akan lepas dari jajaran toko kue ini. Sayang kau terlalu cepat menyerah dan putus asa.” Tuang Kucing menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Begitukah?”

“Ya, sebab aku berasal dari sisi kota yang lain di mana toko-toko permen berjejer dari blok D negatif 10 sampai blok K.10 dan itu terletak setelah jejeran blok-blok toko elektronik! Tentu aku tidak sekadar bicara, Tuan Bayi yang Botak.”

“Anda mau ke mana sekarang, Tuan Kucing yang Bisa Berbicara?”

“Aku mau pergi membeli buah, sekitar 100 blok perjalanan dari sini.”

“Boleh aku ikut?”

“Kenapa kau ingin ikut? Memangnya kau mau kemana?”

“Aku tidak tahu.”

Aha! Itulah salahmu, Tuan Bayi yang Botak. Pertama-tama, dalam melakukan perjalanan, tentukan dulu ke mana arah tujuanmu. Lalu ketika kau mengambil langkah pertama, lakukan terus sampai langkahmu selesai tanpa menyerah.”

“Apakah semua orang benar-benar tahu ke mana mereka pergi?”

“Ya, ya, memang tidak semua orang benar-benar tahu kemana mereka pergi. Tapi, jangan jadi bagian dari ‘semua orang’, jadilah dirimu sendiri. Tentukanlah ke mana kau ingin pergi.”

“Meski perjalanannya tak menyenangkan seperti yang kualami tadi?”

“Menempuh sebuah perjalanan untuk mencapai tujuan tertentu yang benar-benar ingin segera kaucapai tak pernah terasa menyenangkan, Tuan Bayi yang Botak! Ia akan benar-benar terasa lama dan membosankan. Tapi itulah tantangannya. Itu akan terasa berbeda saat kau pulang. Bukankah saat kau memutar balik arahmu tadi semuanya terasa lebih cepat—lebih dekat? Itu sama dengan ketika kau ingin pergi ke suatu tempat yang belum pernah kau tuju, menempuh perjalanan pertama untuk mencapainya selalu jauh lebih lama dibanding ketika kau kembali ke tempat di mana kau bermula.”

“Oh, iya. Begitu. Lalu aku harus bagaimana, ya, Tuan Kucing yang Bisa Berbicara?”

“Pertama-tama, kau ingin ke mana?”

“Aku ingin membeli permen.”

“Baiklah, yang harus kau lakukan. Berjalanlah terus tanpa berpikir mundur. Lakukan tanpa putus asa. Jajaran toko permen terletak kira-kira 134 blok dari sini. Sekali lagi, jangan berpikir mundur. Sebab orang yang berpikir mundur tak akan pernah mencapai tujuannya!”

“Ya, terima kasih, Tuan Kucing yang Bisa Berbicara.”

“Sama-sama, Tuan Bayi yang Botak.”

Sambil berlalu, Kucing itu mengatakan satu kalimat yang tak akan pernah kau lupakan selama berada di Alam Rahim, kalimat yang sangat penting, “Jangan berfokus pada dari mana kau berangkat, berfokuslah pada tujuan ke mana kau akan pergi. Orang-orang selalu berpikir dari mana mereka berasal, tanpa pernah berpikir ke mana mereka akan pergi.”

Kau ingat mimpi itu? Itu mimpi yang kau alami ketika kau berusia sekitar 17 minggu di Alam Rahim. Kucing itu juga pernah menemuiku saat aku berada di Alam Rahim dan bermimpi—saat itu usiaku menginjak 18 minggu. Kucing yang sama, mimpi yang sama. Bedanya, kami bertemu di jajaran toko lilin. Dan kami berbincang-bincang soal ’memberi dan mendapatkan lebih’. Bagi Tuan Kucing yang Bisa Berbicara: memberi adalah mendapatkan lebih.

Mulanya aku tak setuju. Tetapi tiba-tiba seluruh lampu dan penerangan di daerah itu padam. Dan Tuan Kucing yang Bisa Berbicara menyalakan lilinya dengan korek api yang ia bawa.

Kau tahu? Ia menunjukkan sesuatu yang dahsyat padaku!

“Memberi adalah mendapatkan lebih,” katanya. Aku masih tak mengerti sambil menggenggam lilinku yang tak menyala. Lalu dia berkata, “Lihatlah aku hanya punya satu cahaya lilin,” katanya, “Tetapi ketika aku membagi apinya kepada lilinmu...,” sambungnya sambil mendekatkan api lilinnya ke sumbu lilinku, lilinku kemudian menyala, “Aku jadi punya dua cahaya lilin yang lebih terang dari sekadar satu cahaya lilin saja sebelumnya. Demikianlah, memberi adalah mendapatkan lebih!”

Aku terdiam. Yang dia katakan benar. Memberi adalah mendapatkan lebih. Kalimat itu kupegang sampai sekarang. Sampai aku terlahir ke dunia dan saat ini mengobrol denganmu. Tentu saja, karena keyakinan itu, aku tidak pernah merasa rugi berbagi apa pun denganmu, sebab memberi adalah mendapatkan lebih!

Termasuk membagi cerita ini padamu, meskipun merupakan bagian dari tugasku, tetapi aku ingin membagi ilmuku tentang Alam Rahim padamu—agar kau tahu dan mengerti. Apakah aku akan mendapatkan lebih? Tentu. Apa itu? Nah, itu yang aku tak tahu.

***

Hei, hei, mari kita lanjutkan lagi cerita kita. Ah, sebentar, aku minum dulu.

Ehem... Ya, begitulah, secara biologis kau terus tumbuh dan berkembang—secara psikologis, spiritual dan mental kau juga terus dibekali dengan banyak pengalaman Alam Rahim yang kau alami. Kau semakin mengalami kematangan.

Sejak saat ini, kau akan terus bergantung pada plasenta untuk makanan, oksigen, dan pembersihan zat-zat, hingga kelak kau dilahirkan dan memiliki satu sistem formasi sel darah yang akan mendukung hidupmu di luar rahim. Mendekati akhir bulan ini, hati dan limpamu sedang terus berkembang dan mulai memproduksi darah.

Di saat yang bersamaan, plasenta berkembang dengan sangat cepat, memastikan jaringan yang kaya pembuluh darah untuk menyediakan zat gizi penting bagimu. Inilah sebabnya mengapa dokter tadi menyarankan ibumu untuk menjaga kesehatannya dengan baik—menjaga kualitas asupan makanan dan gizinya dengan baik. Kini, lapisan-lapisan itu menebal dan membesar hingga chorion dan selaput-selaput menutupi seluruh permukaan dalam rahim ibumu.

Tali pusarmu sekarang telah matang dengan sempurna dan tersusun atas tiga jalinan pembuluh darah yang terbungkus lemak. Pembuluh vena ibumu yang besar mengantarkan nutrisi dan darah yang kaya oksigen kepadamu—sementara dua arteri yang lebih kecil membawa produk buangan dan darah miskin oksigen darimu untuk kembali ke plasenta. Tali pusar melingkar seperti per karena pembungkusnya lebih panjang dari pembuluh darahnya. Ini membuatmu memiliki ruang yang cukup besar untuk bergerak kesana-kemari tanpa risiko merusak tali kehidupan.

Begitulah, tubuhmu terus menerus tumbuh dan berkembang semakin matang. Di saat yang bersamaan, kau menikmati berbagai sensasi mimpimu di Alam Rahim; Selain Tuan Kucing yang Bisa Berbicara, kau juga menemui yang lainnya; seperti Rubah Berkacamata Tembus Pandang, Polisi Bermata Sepuluh, atau Tukang Sapu Taman Kota yang Baik Hati… Semakin banyak yang kau temui, semakin banyak hal baru yang kau dapatkan. Seperti semakin banyak yang kau lihat, semakin banyak yang kau ketahui…


  • Fadhillah Ummul
    Fadhillah Ummul
    1 tahun yang lalu.
    Assalamualaikum Bang Fahd... saya mau bertanya apakah ada tempat rekomendasi untuk membeli buku 'Menatap punngung Muhammad' atau 'Seribu Malam Untuk Muhammad'... berhubung buku terbitan lama saya agak sulit mencarinya di makassar maupun online.. apakah ada rekomendasi dari Bang Fahd.. Mohon Bantuannya.... saya ingin sekali membacanya....

  • Ibad Nafisah
    Ibad Nafisah
    1 tahun yang lalu.
    paling suka part ini diantara part sebelumnya, karena ceritanya penuh pesaaaann...