Bagian 3: Permulaan

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Lainnya
dipublikasikan 08 Agustus 2016
Rahim: Semesta Sebelum Dunia

Rahim: Semesta Sebelum Dunia


Novel ini pernah diterbitkan oleh GoodFaith (2009), juga pernah diterbitkan dengan judul 'Semesta Sebelum Dunia' (NouraBooks, 2013). Cover: Ragillia Rachmayuni Ilustrasi: Adrianne Yuanita

Kategori Fiksi Umum

28.5 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian 3: Permulaan

Jika kau melihat seorang gadis cantik berkulit putih melintas di perempatan Muara Sikka di utara Simpang Tiga, di kota Ura, itu istriku. Ia perempuan cantik dengan kulit pucat seputih salju.

Jangan kaget begitu! Aku memang berkulit hitam, tapi dengan kecanggihan otakku aku bisa menaklukkan hati Maria, istriku, kembang kota Ura yang cantik dengan kulit pucat seputih salju. Apalagi setelah ia tahu bahwa aku merupakan anggota tim elit Satgas Pengembalian Kepercayaan dan Sakralitas Alam Rahim: ah, ia semakin jatuh cinta padaku.

Aku juga sangat mencintainya. Bukan hanya karena ia cantik dengan kulit pucat seputih salju, tetapi karena ia sangat baik hati kepadaku. Dialah orang pertama yang mempercayai semua omonganku. Dialah orang pertama yang percaya tugas dan pekerjaanku sebagai Pengabar Berita dari Alam Rahim.

Lalu, apa warna kulitmu?

Hei, hei, tak usah repot-repot memperhatikan lenganmu begitu. Biar kubantu mendeskripsikan warna kulitumu. Sebentar, begini, hmmmm…. Lihatlah, warna kulitmu cukup bagus. Kau tidak putih, tetapi juga tidak hitam, kau agak cokelat. Kau di tengah-tengah konfigurasi apik ketiga warna itu. Aku suka warna kulitmu. Kau terlihat eksotik. Maaf kalau aku keliru.

Belakangan, penglihatanku memang agak terganggu. Kau tahu, warna kulit ditentukan berdasarkan pigmen dominan yang ada di tubuhmu. Dan itu dimulai sejak kau memasuki usia sepuluh minggu hidupmu di Alam Rahim.

Kalau kau melihat dirimu sendiri dengan kacamata pemindai ultrasonografi, di usiamu yang memasuki sepuluh minggu dalam kandungan ibumu, kau akan mulai melihat bagaimana tubuhmu mulai memiliki ’warna’. Hijau, biru, sian, ungu, hitam, putih, salem, itu warna-warna yang mungkin kau lihat berpendar di tubuhmu. Ya, aneh memang. Tapi ketika kau melepaskan kacamata pemindai ultrasonografi itu, kau akan melihat warna yang lain di tubuhmu: merah. Tidak merah betul memang, ini seperti warna kulit yang agak transparan dan kemerahan. Seperti saat kau melihat ubur-ubur berwarna merah muda. Itulah warna permulaanmu, saat tubuhmu mulai terbentuk—saat profil wajah serta bentuk kaki dan tanganmu mulai berkembang.

Ini memang waktu perkembangan yang sangat cepat dan kritis dari hidupmu di Alam Rahim—ukuran tubuhmu berkembang sangat cepat jadi empat kali lipat lebih besar dari bentukmu yang semula. Bayangkan saja jika itu terjadi sekarang. Misalnya berat badanmu sekarang 50 kg dan tinggimu 160 cm. Alam Rahim adalah ’penghemat waktu’ yang ajaib, ia memungkinkanmu mengalami pertumbuhan super cepat hingga empat kali lipat dalam waktu hanya dua minggu—bayangkan tiba-tiba kau jadi seberat 200 kg dan setinggi 640 cm hanya dalam waktu dua minggu!

Ya, itulah yang terjadi di Alam Rahim: ketika embriomu terbaring di tengah kepompong plasenta dan masih berukuran sangat kecil, ia dengan sangat cepat berkembang, sel-selnya terus berubah untuk membuat struktur-struktur baru.

Lalu, kira-kira, apa yang terjadi di luar sana sementara tubuhmu mengalami pertumbuhan yang sangat cepat? Apa yang ayah dan ibumu bicarakan?

“Mas, kira-kira nanti anak kita laki-laki atau perempuan, ya?” Ibumu sepertinya tak sabar ingin tahu apa jenis kelaminmu.

“Hmmm, laki-laki atau perempuan, ya? Feeling-ku sih laki-laki, deh!” kata ayahmu sambil tersenyum.

“Kira-kira mau dikasih nama siapa ya kalau anak kita laki-laki?”

“Hehe… Siapa, ya, Sayang? Kalau laki-laki aku pengin ada nama ‘Mikal’-nya.”

“Hihi… Bagus juga, Mas. Terus, kalau anaknya perempuan, namanya siapa?”

“Belum kepikiran sih... Aha! Gimana kalau Mikaila?” Kata ayahmu sambil nyengir.

“Eh, lucu juga Mikaila.” Ibumu balas nyengir.

Mereka berdua tertawa lepas.

Ayahmu memeluk ibumu dari belakang. Perut Ibumu mulai membesar. Kini, ayahmu punya kebiasaan baru: ya itu dia, memeluk Ibumu dari belakang. Ayahmu juga suka mengusap-usap perut Ibumu. Sambil iseng bertanya, “Halo di sana, Mikal atau Mikaila, apa kabar, Sayang?” Ya, pertanyaan itu buatmu. Tapi, sayang sekali, kau belum memiliki respon atas kejadian apa pun dari luar—kau hanya baru memiliki refleks sederhana, kemampuan merespon sentuhan, namun masih dengan gerakan yang sangat lemah dan belum bisa dirasakan oleh ibumu.

“Sayang, sekarang jangan panggil aku ‘Mas’, dong… Kita kan bakal jadi ayah dan ibu.” Ayahmu mulai terkena ’sindrom calon ayah’.

“Terus, panggil apa dong?”

“Ya, panggil Ayah gitu, atau Papa. Nanti kamu dipanggil Ibu atau Mama, gitu…”

“Hmmmm…, dari sekarang gitu?”

“Iya dong… Biar nanti udah terbiasa sama panggilan itu.”

“Ayah aja deh…” sahut Ibumu, “Papa kesannya kayak orang kaya. Kalo ‘Papa’ biasanya juga sibuk, kayak tetangga kita itu.” Ibumu tertawa kecil.

“Oke. Siap, Bu!” kata Ayahmu sambil menegakkan badannya. “Aku siap menjadi ayah.” katanya sambil menepuk dada.

“Eh, aku dipanggil ibu aja, ya?”

“Iya dong, biar pas, ayah kan sama ibu.” sahut Ayahmu.

“Iya, Ayah… sekarang Ayah beliin susu buat Ibu ya…” Ibumu mulai menggoda.

 “Siap, Bu!” kata Ayahmu sambil mengangkat tangannya membuat salam hormat—a la militer.

“Ih, apaan sih, A-y-a-h…” Kata-kata ibumu semakin menggoda ayahmu. 

Lihatlah, mereka menjadi pasangan yang sangat berbahagia yang bersiap menyambut kedatanganmu. Mereka mulai membiasakan panggilan baru mereka: ayah dan ibu.

Setiap pagi, ayahmu menggantikan beberapa tugas seperti memasak nasi atau mencuci piring. Ia juga menyemangati ibumu agar rajin berolah raga. Dan ayahmu—ia mulai pulang kantor lebih cepat.

Seiring perubahanmu yang sangat cepat di dalam perut ibumu, perubahan cepat juga terjadi di luar. Banyak hal yang berubah, tetapi kehamilan dan pertumbuhanmu di Alam Rahim… membuatnya lebih cepat lagi…

Tapi, di atas semua pertumbuhan biologis yang cepat yang terjadi pada tubuhmu di rahim ibu, juga perubahan yang cepat pada ibu dan ayahmu, sebenarnya ada hal lain yang lebih penting terjadi…

***

Kau ingat saat kuceritakan bahwa kau seperti seseorang yang sedang menunggu keberangkatan kereta di sebuah Stasiun Penantian? Kini, genap ketika kau berusia empat bulan dalam kandungan Ibumu, keretamu sudah datang. Dan kau harus bersiap-siap pergi dari sana. Ini perjalanan penting rohmu menuju tubuhmu.

Kau akan diantarkan melalui sebuah mekanisme alamiah yang aku juga tak mengerti bagaimana harus menjelaskannya padamu. Ini diluar wilayah kerja seorang Pengabar Berita dari Alam Rahim—itu wilayah kerja Pengabar Berita dari Alam Roh. Tapi setahuku, kau memang diberangkatkan dari sana. Barangkali memakai kereta super cepat yang akan mengantarkanmu ’pulang’ ke tubuhmu yang semakin berkembang.

Konon, ini disebut Perjalanan Peralihan. Kau yang sebelumnya hidup di Alam Roh secara penuh (aku tidak tahu apa yang sehari-hari kau lakukan di sana—tanyakan saja kepada para Pengabar Berita dari Alam Roh), akan berpindah menuju kehidupan baru di Alam Rahim.

Konon, sebelum pergi, Raja Semesta, melalui otoritasnya di Kerajaan Alam Roh memberimu beberapa pertanyaan sebagai syarat sebelum kau diberangkatkan. Kira-kira begini isi tanya jawab kalian—

Seseorang yang bertanya (Ia adalah perwakilan otoritas Kerajaan Semesta. Menurut sebuah versi yang kudengar, ia adalah seorang Pria Tua yang Membawa Sebuah Buku Besar!): Apakah kau akan bersaksi bahwa Alam Roh itu ada?

Kau: Ya, aku bersaksi. Kau kelihatan agak ragu, kau bahkan menjawabnya dengan nada yang sangat tidak serius.

Seseorang yang bertanya: Tolonglah agak lebih serius menjawabnya! Ia agak membentak, dengan suara yang agak tinggi.

Kau: Ya, ya, Tuan. Aku bersaksi bahwa aku pernah hidup di Alam Roh. Kau yang agak gugup berusaha meyakinkan.

Seseorang yang bertanya: Ah! Itu lebih baik. Lebih meyakinkan. Pria Tua yang Membawa Buku Besar tersenyum lebar.

Kau: Lalu, kemana s-a-y-a akan berangkat, Tuan? Kau berusaha sebisa mungkin agar terdengar lebih sopan.

Seseorang yang bertanya: Ke Alam Rahim, menuju rahim seorang perempuan.

Kau: Siapakah perempuan itu, Tuan?

Seseorang yang bertanya: Kelak, dialah akan menjadi ibumu. Biasanya ibu adalah orang yang baik dan penuh perhatian. Ia akan menjadi seseorang yang paling kau cintai di seluruh dunia. Meski tidak semua ibu begitu. Tapi, di dalam dirimu, bagaimanapun, kau tetap akan mencintainya.

Kau: Maksud Tuan? Aku tak mengerti. Memangnya ada ibu yang jahat dan tidak perhatian pada anaknya?

Seseorang yang bertanya: Ya, begitulah. Pada beberapa kasus dalam perkembangan Alam Dunia akhir-akhir ini, mulai banyak ibu semacam itu. Entah apa yang terjadi. Kini beberapa ibu tidak lagi seperti dulu. Mulai banyak di antara mereka yang jahat dan tidak bertanggung jawab. Mereka menelantarkan anak-anak mereka sendiri. Bahkan ada yang membuangnya. Sampai-sampai membunuhnya! Wajah Pria Tua yang Membawa Buku Besar menjadi kelihatan lesu, ia tampak sangat kecewa.

Kau: Lalu, seperti apa ibuku, Tuan?

Seseorang yang bertanya: Itu rahasia, Nak. Kau sudah tertulis di Buku Besar. Semuanya sudah tertulis di Buku Besar; siapa ibumu, di mana kau lahir, dan seterusnya. Tapi, itu rahasia. Aku tak boleh mengatakannya.

Kau: Bocorkanlah sedikit saja, Tuan. Apakah ibuku baik? Itu saja.

Seseorang yang bertanya: Itu rahasia, Nak. Aku tak boleh membocorkannya. Bisa-bisa aku dihukum kalau membocorkannya. Bisa-bisa aku kehilangan pekerjaanku dan tak diampuni selama-lamanya. Oh tidak, ampunilah aku. Ampunilah aku, Raja Semesta! Pria Tua yang Membawa Buku Besar tampak begitu khawatir kalau-kalau ia tak bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

Kau: Baiklah. Kau tampak agak kecewa, tetapi kau juga tak bisa apa-apa. Lagi pula Pria Tua yang Membawa Buku Besar hanya menjalankan tugasnya.

Seseorang yang bertanya: Ada satu lagi pertanyaan. Pria tua yang Membawa Buku Besar teringat sesuatu.

Kau: Apa itu?

Seseorang yang bertanya: Ini pertanyaan serius. Meskipun kelak kau akan lupa pertanyaan ini dan kau juga akan lupa pernah menjawabnya, kau akan terus diingatkan melalui Buku Kecil di Alam Dunia. Buku Kecil adalah semacam rangkuman dari Buku Besar. Apa kau siap mendengarkan pertanyaannya? Pria Tua yang Membawa Buku Besar meyakinkan bahwa kau akan mendengarkan sebuah pertanyaan yang sangat serius.

Kau: Ya, aku siap, Tuan. Tanyakan saja. Aku siap. Dan aku akan menjawabnya.

Seseorang yang bertanya: Apakah kau mengakui bahwa Raja Semesta adalah rajamu? Dan kau akan patuh pada semua aturan Kerajaan Semesta—selama-lamanya?

Kau: Hmmmmm… ternyata pertanyaannya sulit.

Seseorang yang bertanya: Ah! Pria Tua yang Membawa Buku Besar tampak kecewa.

Kau: Kenapa?

Seseorang yang bertanya: Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang akan menjadi dasar pertimbangan kau akan diberangkatkan ke Alam Rahim atau tidak. Bila jawabanmu ‘ya’, kami akan mempertimbangkanmu untuk berangkat. Bila jawabanmu ‘tidak’, kau akan menjalani masa pendidikan tambahan di Alam Roh tentang Kerajaan Semesta. Sampai kau siap dan menjawab ‘ya’.

Kau: Oh, tidak-tidak. Aku tidak mau berlama-lama lagi di sini. Cukup membosankan sudah menunggu lama. Baiklah: ya, aku mengakui bahwa Raja Semesta adalah rajaku. Dan aku akan patuh pada semua aturan Kerajaan Semesta.

Seseorang yang bertanya: Ah!

Kau: Kenapa lagi, Tuan?

Seseorang yang bertanya: Kau tidak serius.

Kau: Aku serius, Tuan.

Seseorang yang bertanya: Ah!

Kau: ... Demi Raja Semesta!

Seseorang yang bertanya: Baiklah. Bagus, kalau begitu. Pria Tua yang Membawa Buku Besar tampak bahagia dengan jawaban terakhirku. Ia mengangguk-angguk. Jenggotnya bergoyang-goyang. Tapi, kau tampak murung. Apa yang kau pikirkan? Apakah kau hawatir berkhianat pada janjimu sendiri?

Seseorang yang bertanya: Sekarang, silahkan menuju lorong A. Keretamu sudah menunggu di jalur 3. Keretamu berwarna merah. Jangan salah pilih. Selamat menikmati perjalanan panjang. Ini baru permulaan. Kau akan sampai di Alam Rahim dalam waktu kurang lebih 1 mikrohari. 1 Mikrohari, itu sekitar seperseribu hari waktu normal. Jaga kesehatanmu baik-baik, Nak. Semoga kau menikmati perjalananmu.

Kau mengangguk, meninggalkan Pria Tua yang Membawa Buku Besar sambil berjalan menuju lorong A. Ada yang kau simpan dalam hatimu. Sebuah pertanyaan dan kegalauan. Apakah kau sungguh-sunggu bisa menjalankan semua kesaksianmu dan semua yang sudah kau janjikan pada Pria Tua yang Membawa Buku Besar?

Seseorang yang bertanya: Tenanglah. Nanti kau akan diingatkan melalui Buku Kecil di Alam Dunia. Nikmati saja perjalanannya. Rupanya Pria Tua yang Membawa Buku Besar tahu apa yang sedang kau pikirkan.

Kau pun menuju jalur tiga, naik kereta merah jurusan Alam Rahim. Kau bertanya-tanya, kira-kira tubuhmu seperti apa, ya?

***

Kira-kira tubuhmu seperti apa, ya? Itu pertanyaan bagus. Akan kujelaskan sebelum rohmu sampai di Alam Rahim. Ini sudah masuk lagi ke wilayah kekuasaan Pengabar Berita dari Alam Rahim. Ini sudah tugasku. Sebuah kehormatan bagiku bisa menceritakannya kepadamu.

Dalam tabung yang nantinya akan menjadi otak dan susunan saraf tulang belakangmu, sel-sel berlipat ganda dalam kecepatan luar biasa, kemudian bergerak ke daerah tempat mereka menjadi aktif. Sel-sel saraf yang akan membentuk otak berjalan sepanjang koridor yang telah disusun oleh sel-sel glial—semacam sel-sel perekat yang akan membangun struktur otakmu.

Sel glial ini memungkinkan sel-sel saraf untuk bergerak dan saling terhubung satu sama lain, dan menjadi lebih aktif lagi, sampai memiliki kemampuan yang cukup memadai untuk kebutuhan pembangunan otakmu.

Lalu, kepalamu tumbuh dengan cepat untuk mengimbangi pertumbuhan otak yang juga sangat cepat membesar. Kau tahu, dalam masa-masa seperti ini, kau adalah makhluk dengan kepala yang sangat besar! Sungguh tidak proporsional. Ukuran kepalamu bisa dua kali lebih besar dari ukuran tubuhmu. Memang sih struktur tubuh yang lain belum berkembang. Tapi, oh, kepalamu sungguh besar! Oh, kau bayi berkepala besar!

Kau masih menikmati perjalanan dalam kereta jurusan Alam Roh-Alam Rahim. Aku tak tahu persis apa yang sungguh-sungguh terjadi di sana. Tapi, sebelum kau sampai, mari kita lihat dulu perkembangan apa yang terjadi pada bagian tubuhmu yang lain—

Kulitmu sekarang sudah mulai berkembang ke dua lapisan, dan kelenjar keringat serta kelenjar sebasea[1] mulai terbentuk. Rambut mulai tumbuh dari folikel-folikel rambut sehingga kulitmu menjadi berbulu halus. Dan di dalam tubuhmu, semua organ besar berkembang. Jantung mencapai bentuk akhirnya dan berdetak dengan kuat. Perut, hati, limpa, usus, dan usus buntu terus berkembang. Usus menjadi sangat panjang dan berbentuk lingkaran, sistem sirkulasinya stabil, dan kebanyakan otot mencapai bentuk akhirnya.

Di bawah kulit wajahmu, sebuah struktur tulang primitif berkembang dan kini tulang-tulang itu mulai melebur jadi satu. Salah satu dari tulang-tulang itu mengarah ke bawah di antara mata dan berakhir di kedua sisi lubang hidung—kemudian membentuk hidungmu dan bagian pertengahan bibir atas. Dua lagi tumbuh di bawah mulut, bergabung untuk membentuk bibir bawah dan dagu. Pada mata, sudah terdapat sejumlah pigmen yang tertutup dan terpisah sangat jauh. Bagian luar telinga mulai terbentuk dan pucuk-pucuk pengecap mulai berkembang. Pucuk-pucuk gigi dan semua gigi susu sudah berada di tempatnya.

Kau hampir sampai di Alam Rahim, sebentar lagi kau akan memasuki tubuhmu sendiri. Di luar sana, ayah, ibu, kakek, nenek, dan keluargamu sedang mempersiapkan sebuah “upacara penyambutan”. Mereka menggelar semacam acara doa bersama untuk menyambut kedatanganmu. Ini usiamu di bulan keempat sejak kau berada dalam kandungan Ibumu. Sejak sel sperma Ayahmu membuahi sel telur Ibumu dan berhasil.

Andai saja kau sudah bisa mendengar, di luar sana, hiruk-pikuk orang-orang yang diundang ke acara doa bersama itu begitu penuh kebahagiaan. Orang-orang memberikan ucapan selamat dan rasa bahagia mereka kepada keluargamu, dan keluargamu membalasnya dengan memberikan sebuah bingkisan tanda terima kasih.

Kira-kira mereka tahu tidak, ya, tentang apa yang sedang terjadi denganmu di dalam?

Lengan dan tungkai embrionikmu mulai berkembang. Pergelangan tangan dan jari-jari tangan muncul pada pucuk lengan, meski belum terlalu sempurna. Lengan mulai membengkok pada siku, bantalan peraba terbentuk pada ujung jari tangan. Pucuk kaki mulai menonjol—kemudian berkembang membentuk tiga bagian yang jelas: paha, betis, dan telapak. Jari-jari kakimu juga mulai muncul, tumbuh keluar di bagian ujung, meski belum terlalu sempurna.

Dan akhirnya, kau pun tiba di Alam Rahim. Diiringi senandung cinta orang-orang yang menyambutmu di luar sana dengan doa. Nyanyian, doa-doa, bunyi tetabuhan—semua melebur jadi satu menyambutmu dengan ucapan ’selamat datang’. Cinta, ya, cinta, begitu banyak mengelilingi hidupmu, apakah kau bisa merasakannya?

Tiba-tiba kau mulai merasakannya: tubuhmu sendiri. Kau tampak kebingungan entah bagaimana Hidup[2] memberikanmu detak jantung, aliran darah, dan gerak. Aku juga tak terlalu mengerti dan tak ingin mempersoalkannya. Aku juga takjub, seperti kau yang terkaget-kaget mulai merasakan “bentuk” tubuhmu di Alam Rahim. Katamu: Bagaimana semua ini terjadi padaku? Bagaimana Hidup melakukannya? Ah, aku juga tak tahu.

Ya, begitu saja. Entah di mana keretanya. Entah kapan kau diturunkan. Entah kapan peluitnya berbunyi dan kereta itu melesat lagi. Dalam waktu sepersekian dari sepersekian detik, tiba-tiba kau sudah berada dalam rahim ibumu. Ya, ibumu. Kau belum tahu bagaimana rupanya, siapa namanya, apakah dia baik atau tidak, bukan?

Lalu kau mulai memanggil ingatanmu dari Alam Roh; Ibu biasanya mempunyai suami: Ayah. Kau juga belum tahu bagaimana rupanya, siapa namanya, apakah dia ayah yang baik atau tidak, kan? Kau bahkan tak tahu apakah Ayahmu ada atau tidak. Menurut kabar yang tersebar di tempat tunggu Stasiun Penantian di Alam Roh, belakangan ini bayi-bayi terlahir tanpa ayah. Ini bukan seperti Yesus Putra Maria; mereka sebenarnya memiliki ayah, tetapi beberapa ayah tak bertanggung jawab dan lari sebelum anak mereka lahir. Ah!

Ini rahim yang sudah ditentukan oleh Buku Besar yang ditulis sendiri oleh Raja Semesta. Kau tak bisa memilih terlahir dari rahim yang mana, dari keluarga yang mana. Kau hanya mengikuti kemana Hidup membawamu pergi. Dan sekarang, kau sampai di sini. Di rahim ini. Merasakan bagaimana ibumu bergerak. Mencari-cari dan memastikan apakah ayahmu adalah ayah yang bertanggung jawab atau tidak... Dan kau memberi gerak pertamamu yang terasa oleh ibumu di luar sana—

“Aaw…, eh, Yah! Bayinya bergerak! Aku ngerasain barusan!” ibumu berteriak. Ayahmu segera memeriksa perut ibumu. Nenekmu tertawa bahagia. Kakekmu sibuk berdoa.

...dari sini, kehidupan baru saja dimulai…


(Bersambung) 

 

----

[1] Kelenjar yang memproduksi minyak.

[2] Kata “Hidup” (dengan huruf besar) merujuk pada sebuah konsep Hidup dengan segala sistem dan subsistemnya, baik yang bersifat nyata maupun gaib—kata Hidup ini merujuk pada salah satu nama dari Causa Prima, misalnya dalam bahasa Arab Al-Hayyu (Yang Maha Hidup). Di bagian lain ada kata “hidup “ (dengan huruf kecil) hanya menunjukkan sebuah konsep yang seluruh gejalanya disebut ‘kehidupan’.


  • Fadhillah Ummul
    Fadhillah Ummul
    1 tahun yang lalu.
    Assalamualaikum Bang Fahd... saya mau bertanya apakah ada tempat rekomendasi untuk membeli buku 'Menatap punngung Muhammad' atau 'Seribu Malam Untuk Muhammad'... berhubung buku terbitan lama saya agak sulit mencarinya di makassar maupun online.. apakah ada rekomendasi dari Bang Fahd.. Mohon Bantuannya.... saya ingin sekali membacanya....

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 tahun yang lalu.
    Baca cerita ini membuat saya tanpa sadar membayangkan tentang diri saya sendiri ketika berada di rahim ibu ... semacam flashback yang bikin saya merinding. Ternyata semuanya begitu luar biasa ....