Bagian 2: Fetus

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Lainnya
dipublikasikan 08 Agustus 2016
Rahim: Semesta Sebelum Dunia

Rahim: Semesta Sebelum Dunia


Novel ini pernah diterbitkan oleh GoodFaith (2009), juga pernah diterbitkan dengan judul 'Semesta Sebelum Dunia' (NouraBooks, 2013). Cover: Ragillia Rachmayuni Ilustrasi: Adrianne Yuanita

Kategori Fiksi Umum

28.5 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian 2: Fetus

Waktu kau baru berusia empat minggu dalam rahim ibumu, mungkin kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saat itu sebuah mekanisme pembentukan tubuh baru saja dimulai. Mungkin kau masih berada di sebuah Stasiun Penantian, seperti seseorang yang menunggu kereta yang akan mengantarkanmu ke rumah. Ya, ‘rumah’, tempat ‘diri’-mu kelak bersemayam dan menjadi seseorang yang ‘hidup’.

Aku pernah membaca sebuah buku berjudul Sacred Pregnancy and Birth, di sana diceritakan bagaimana tubuh seorang bayi mulai terbentuk dalam rahim ibunya pada enam minggu pertamanya. Orang yang menulis buku ini seorang dokter, seorang yang tentunya akan lebih kau percayai di duniamu yang sekarang jika berbicara mengenai masalah yang berhubungan dengan ini. Mungkin kau agak sulit mempercayaiku, aku hanya seorang Pengabar Berita dari Alam Rahim—pekerjaan yang mungkin tak populer di duniamu yang sekarang. Atau jangan-jangan kau bahkan belum pernah mendengarnya?

Ya, memang, belakangan sedikit sekali orang yang mengerjakan tugas itu. Tetapi aku adalah salah satunya. Pekerjaan lain yang sejenis: Pengabar Berita dari Alam Roh. Yang ini mungkin lebih sering kau dengar. Mereka lebih populer di duniamu yang sekarang. Dengan berbagai macam titel, yang paling populer: dukun, paranormal atau cenayang. Tapi aku lebih senang dengan titel berdasarkan jenis pekerjaanku sendiri: Pengabar Berita dari Alam Rahim. Tapi, kamu cukup memanggil namaku: Dakka.

Kembali pada buku yang pernah kubaca tadi (meskipun sebagai Pengabar Berita dari Alam Rahim sebenarnya aku tak perlu membaca buku atau merujuk pada seorang dokter untuk mengisahkan semua ini, karena sebenarnya aku lebih tahu daripada para dokter. Tetapi agar kau percaya, karena kau lebih ‘menerima’ apa pun yang dikatakan para dokter—meskipun sebenarnya kau tak begitu mengerti apa yang mereka katakan), di sana diceritakan bahwa pada enam minggu pertama sel telur yang telah dibuahi berubah menjadi sebuah gumpalan sel-sel yang dikenal sebagai blastocyst. Itu bahasa kedokterannya.

Aku memang sengaja menggunakan bahasa ilmiah-kedokteran. Agak sulit memang. Tapi biar kau percaya saja. Bukankah kau lebih menyukai dan mempercayai bahasa-bahasa asing yang bahkan kau sendiri tak mengerti? Bahasa-bahasa itu, memang berkesan intelektual, meski sebenarnya tidak menggambarkan kenyataan yang sebenarnya. Tapi, sudahlah, toh seorang Pengabar Berita dari Alam Rahim sepertiku juga perlu mengikuti perkembangan zaman dan mengikuti selera kliennya.

Baiklah, kuteruskan dulu ceritanya. Gumpalan sel-sel tadi kemudian mulai menempel dan membenamkan diri ke lapisan rahim ibumu. Inilah saat pertama kalinya kamu dengan ibumu akan mengalami ‘hidup bersama’—hingga sekitar delapan bulan kedepan.

Peristiwa ini tentu saja tak pernah kau ingat, sebab saat itu kau masih hanya berbentuk ‘gumpalan sel’. Hidup masih begitu abstrak di sini, tetapi inilah monumen pertama hidupmu di Alam Rahim, saat kau menjadi semacam ‘gumpalan’ dan siap menjalani kehidupanmu di rahim suci ibumu.  

***

Hoho. Kenapa kau terlihat begitu kebingungan? Oh, ya. Ya. Ya. Aku tahu. Aku belum memperkenalkan siapa diriku. Baiklah, sebelum aku berbicara panjang lebar, akan kuperkenalkan diriku terlebih dahulu.

Seperti kuberitahukan padamu tadi, namaku Dakka. Nama lengkapku, Dakka Madakka. Usia kita barangkali tak jauh berbeda. Aku berasal dari suatu tempat di mana matahari terbit agak terlambat tiga puluh lima detik dari tempatmu dan terbenam lebih cepat tiga ratus lima puluh detik dari tempatmu—itu terletak di bayang-bayang sebelah utara kota tempat tinggalmu. Di mana kambing-kambing betina memiliki lebih banyak susu dibandingkan kambing-kambing betina di kotamu. Sebuah tempat bernama Ura. Barangkali kau pernah mendengarnya, barangkali juga tidak. Tapi bukan itu soalnya, yang terpenting adalah bahwa aku seorang Pengabar Berita dari Alam Rahim. Alam Rahim, kau tentu pernah mendengarnya: sebuah tempat di mana setiap orang pernah ke sana tetapi melupakannya.

Saat ini, Alam Rahim sedang mengalami krisis hebat. Ini diakibatkan oleh perkembangan dunia modern dengan pelbagai penemuan ilmiah tentang ’rahim’—yang dipahami secara kerdil hanya sebagai salah satu ’organ reproduksi perempuan’. Ketika rahim hanya dianggap sekedar organ, atau kelengkapan sistem reproduksi seorang perempuan, semuanya berbahaya bagi kami penghuni Kerajaan Alam Rahim.

Demikianlah, saat ini manusia tak lagi percaya pada eksistensi “Alam Rahim”, sebagai sebuah mekanisme kehidupan lengkap dengan sistem dan subsistemnya. Karena menganggap ‘rahim’ hanya sebuah organ, manusia modern mengira bahwa saat bayi-bayi dikandung di rahim para ibu, tak ada kehidupan apa pun yang terjadi di sana. Bagi mereka, Alam Rahim itu tak pernah ada—dan apa yang terjadi dalam rahim hanyalah ’fase-fase perkembangan biologis’ seorang calon anak manusia sebelum mereka dilahirkan. Oh, ini benar-benar mengkhawatirkan, ini krisis yang hebat, oh, ini sebuah kekeliruan besar!

Asal kau tahu, ada kehidupan unik di dalam rahim seorang ibu yang mengandung. Kehidupan yang bahkan lebih nyaman dan lebih menyenangkan daripada kehidupanmu di dunia yang sekarang. Kau memang tak mungkin mengingatnya. Sebab sebelum bayi-bayi dilahirkan ke dunia, mereka harus melewati terowongan Vaghana yang dipenuhi cairan kental yang membuat seluruh ingatanmu terhapus. Kau tak akan ingat lagi apa yang terjadi di Alam Rahim—apa pun yang pernah kau alami dan lewati di sana.

Mengabarkan apa yang terjadi di Alam Rahim sesungguhnya memang sebuah pelanggaran, sebagaimana termaktub dalam aturan Kerajaan Semesta Nomor. 43 tentang Kerahasiaan Alam Rahim. Ia semestinya tetap gaib dan misteri. Tetapi, saat ini, pemerintah Kerajaan Alam Rahim menganggap pengabaran ini penting untuk dilakukan. Sebab, ketidakpercayaan masyarakat modern terhadap Alam Rahim sungguh sangat mengkhawatirkan. Mereka bahkan meniadakannya.

Belakangan, di Kerajaan Semesta yang terbagi atas lima wilayah—Alam Roh, Alam Rahim, Alam Dunia, Alam Pasca-Dunia, dan Alam Abadi—diberlakukan sistem otonomi kewilayahan. Sistem kekuasaan yang sebelumnya bersifat sentralistik di Kerajaan Semesta, kini didesentralisasi ke wilayah-wilayah otonom masing-masing. Maka, dalam menyelesaikan masalah krisis kepercayaan yang akut terhadap Alam Rahim dari para manusia modern tadi, Raja Alam Rahim—yang saat ini berkuasa—mengeluarkan Surat Keputusan No. 89.799-XXII tahun 2,3 M tentang pembentukan Satuan Tugas Pengembalian Kepercayaan dan Sakralitas Alam Rahim. Ini mengamandemen aturan sebelumnya, artinya sekarang Alah Rahim boleh diceritakan!

Tidak semua orang bisa termasuk dalam Satgas Pengembalian Kepercayaan dan Sakralitas Alam Rahim ini. Hanya mereka yang terpilih yang bisa masuk ke dalam tim elit ini. Dan aku salah satu di antaranya. Dakka Madakka dari Ura. Orang khusus yang mendapatkan mandat khusus dari pemerintah Kerajaan Alam Rahim untuk melaksanakan tugas mulia ini.

Pada dasarnya aku orang biasa sepertimu. Seseorang yang memiliki ayah dan ibu. Memiliki keluarga dan tempat tinggal. Bedanya, aku utusan khusus. Ah, bagaimana, ya, menjelaskannya?

Begini, aku berhasil melewati terowongan Vaghana tanpa lupa. Aku memang diizinkan untuk tidak lupa. Sebab, sebelum melewati terowongan itu, kerajaan sudah memberiku ramuan khusus penangkal cairan lupa yang berada di sekeliling terowongan Vaghana. Dan kini, di sinilah aku, membawa tugas khusus yang mulia untuk mengembalikan kepercayaan dan sakralitas Alam Rahim di mata manusia.

Dan aku memulai proyek besar ini darimu. Seseorang yang kupilih secara acak di antara miliaran orang yang tinggal di Alam Dunia. Kenapa kamu? Ah, bagaimana, ya, menjelaskannya? Aku juga tak benar-benar tahu. 

*** 

Kembali ke topik pembicaraan kita tadi, apa yang terjadi padamu saat kau baru berusia enam minggu dalam kandungan Ibumu. Setelah blastocyst tertanam di lapisan rahim ibumu, embrio mulai menghasilkan zat-zat kimia yang memiliki dua fungsi.

Pertama, memberi sinyal pada tubuh Ibumu bahwa embrio tersebut telah hadir dan ini memicu perubahan-perubahan dalam tubuh ibumu: (1) siklus ovulasi ibumu berhenti, ini saat ibumu tak lagi mengalami menstruasi. Kau mengerti, kan? (2) lendir pada mulut rahim Ibumu menebal, ini biasanya ditandai dengan rasa mual di pagi atau sore hari, (3) dinding rahim melunak dan payudara ibumu membesar. Kedua, sistem kekebalan tubuh ibumu ditekan sehingga embriomu tidak diperlakukan sebagai benda asing yang ditolak.

Inilah fase saat kau memberitahu pada ibumu, “Ibu, aku ada di sini!” Lalu Ibumu mulai merasa mual dan bergegas menuju toilet… Ya, ya, sudahlah, kau tahu sendiri kan bagaimana suara ibumu kalau berusaha memuntahkan sesuatu? Sudahlah, agak menjijikan membahasnya di sini.

Lalu ayahmu akan gelisah dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada ibumu. Memang, beberapa ayah lain kadang-kadang terlalu cuek, tapi mudah-mudahan ayahmu adalah tipe ayah yang antusias sekaligus khawatir saat melihat ibumu muntah-muntah. Kurang lebih, inilah percakapan yang akan terjadi—

“Sayang, kamu kenapa? Masuk angin?” Ayahmu bertanya heran sambil mengurut pundak Ibumu.

“Enggak tahu, Mas. Perasaannya mual, gitu… Aku nggak tahan. Badanku lemes banget dari tadi pagi.” Ibumu benar-benar terlihat pucat dan lemah.

“Kamu sakit, Sayang? Jangan-jangan kamu hamil, sayang?” Mata ayahmu berbinar; Inilah kabar gembira yang benar-benar sedang ia tunggu.

“Nggak tahu sih, Mas. Tapi badanku emang nggak enak banget. Lemeeesss banget bawaannya. Perutku mual-mual juga sejak pagi tadi…”

“Kalau gitu nanti sore kita ke dokter, ya, Sayang?”

“Iya, Mas.”

Dan kau yang masih berbentuk embrio berupa blastocyst di dalam sana terus-menerus memaksimalkan kemampuan pertamamu: membuat Ibumu mual melulu. Hingga ibu dan ayahmu mendengarkan hasil diagnosis dokter—

“Istrinya nggak kenapa-kenapa, kok, Pak.” kata dokter sambil tersenyum. ”Ini biasa, kok.” lanjutnya.

“Biasa gimana, dok?” Ayahmu kelihatan agak bingung.

“Baru menikah, ya? Belum punya anak?”

“Iya, dok. Belum.”

“Oalah, pantesan. Selamat, ya, Pak, istrinya hamil. Baru empat minggu.” kata dokter sambil tersenyum.

Lalu ayahmu menatap ibumu. Ibumu tersenyum malu-malu. Ayahmu tersenyum lebih lebar. Dibalas senyum malu-malu lagi oleh Ibumu. Ayahmu tersenyum lebih lebar lagi. Dan kamu, di dalam sana, yang masih berupa ’gumpalan’, lagi-lagi berusaha membuktikan kehadiranmu; Ibumu merasakan sesuatu bereaksi di perutnya dan membuatnya mual lagi, ia memejamkan matanya, menutup mulutnya dengan tangan kirinya…

”Kenapa? Mual lagi?” kata ayahmu.

Ibumu mengangguk. Tersenyum.

“Sekali lagi selamat, ya, Pak. Ibu Positif.” kata dokter. Lalu ia terlihat serius mengamati sebuah kalender berbentuk lingkaran yang bisa diputar kesana-kemari. Tak lama, ia mengangkat wajahnya lagi dan tersenyum ke arah ayah dan ibumu, “Perkiraan kelahirannya sekitar akhir bulan November atau awal bulan Desember, ya, Pak. Mungkin sekitar tanggal 3-5 Desember.”

Ayahmu mengangguk dengan senyuman yang benar-benar tak bisa ia tahan.

“Ibu, kita lihat dulu ya di USG, silakan ke pembaringan.” kata dokter kepada Ibumu, lalu ia meminta asistennya untuk menyiapkan pembaringan.

Ibumu mengangguk.

“Bapak bisa lihat dari monitor ini, ya, Pak.” kata suster pada ayahmu sambil menunjuk sebuah layar monitor berukuran 17 inchi. Ibumu beserta dokter dan suster menghilang di balik tirai pembaringan.

Lalu layar monitor menyala. Ada sebuah ruang gelap yang seolah-olah diberi sinar keemasan… Dan ruang gelap itu kemudian berubah menjadi berwarna kuning kecoklatan. Ayahmu segera mengetahui bahwa ‘ruang’ itulah rahim ibumu—beberapa bagian masih terlihat agak gelap dan ada semacam rongga-rongga di sana. Tanpa sadar, ayahmu senyum-senyum sendiri. Sampai dokter mengatakan sesuatu—

“Pak, ini ya calon bayinya, yang berbentuk gumpalan di bagian kanan atas yang agak kehitaman ini.” Katanya sambil menunjuk sebuah gumpalan kecil kehitaman di layar monitor, ukurannya kira kira sebesar dua ruas jari telunjuk, “Bentuknya masih gumpalan seperti ini karena usianya juga baru sekitar empat atau lima minggu.” Lanjutnya.

Ayahmu tak bisa menahan senyumnya yang melebar, ia mengangguk-angguk penuh kebahagiaan. Itu anakku, itu anakku, bisik ayahmu dalam hati. Ada perasaan senang sekaligus khawatir yang dirasakannya—ini karena ia begitu bahagia sekaligus gugup mendapati dirinya sendiri akan segera menjadi seorang ayah.

Demikianlah, ayah dan ibumu senang bukan main. Kau anak pertama mereka, bukan? Kini, mereka sudah mengetahui keberadaanmu. Sejak saat itu, dengan perasaan senang, mereka melalui hari-hari mempersiapkan kelahiranmu di dunia. 

***

Di dalam rahim ibumu, kini kau sedang menabiri dirimu dengan semacam kepompong pelindung yang mengelilingi embrio. Kepompong ini merupakan awal dari plasenta[1] dan sistem pendukung tempat embrio tersebut akan tumbuh; kantung amniotik (kantung berair tempat embrio itu akan mengapung) dan chorion (bantalan pengaman di sekitar kantung amniotik). Chorion menumbuhkan proyeksi-proyeksi mirip jari, yaitu serabut chronic (chronic villi), yang digunakan oleh kepompong tersebut untuk membenamkan diri dalam lapisan rahim.

Ya, ya, kini kau sudah mulai menjalani hari-hari pertamamu di Alam Rahim. Agak sulit memang menjalani hari-hari pertama. Banyak gangguan dari sana-sini. Mungkin kau yang tak kuat, atau ibumu yang tak kuat. “Hati-hati ya, Bu, banyak istirahat saja. Jangan terlalu capek. Hingga usia empat bulan kehamilan, segalanya masih rentan. Semoga semuanya baik-baik saja.” Begitu pesan dokter. Kalian berdua memang sedang berusaha saling menyesuaikan diri untuk saling menguatkan.

Hari-hari pertama ini barangkali seperti hari-hari pertamamu di sekolah. Banyak hambatan, juga penyesuaian-penyesuaian. Tetapi kelak kau akan tahu betapa menyenangkannya melewati hari-hari pertamamu ini. Hari-hari yang menjadi tonggak awal di mana kehidupanmu di Alam rahim baru saja dimulai.

Kau tahu, di hari-hari pertamamu ini kau sudah dibekali banyak. Susunan saraf tulang belakang sudah mulai terlihat di sana, membentuk garis gelap di bagian belakang embriomu. Kau juga sudah dibekali jantung—ah, jantungmu bahkan juga sudah berdetak! Mengikuti irama detak jantung ibumu. Deg… deg… deg… kau dengar itu? Mungkin saat ini memang belum bisa didengar oleh ibumu, tetapi pemindai ultrasonografi sudah bisa melacaknya. Jantungmu yang berdetak sekarang? Asal kau tahu, jantung itu, yang kau rasakan detaknya sekarang, ia bahkan sudah berdetak sejak akhir minggu keempat kau berada di Alam Rahim—di rahim ibumu!

 “Halo, Halo, Mak, Mak, Neneng hamil, Mak! Neneng hamil!” Itu suara ibumu yang kegirangan ketika menelpon memberi kabar pada nenekmu.

Dari balik telepon, dengan suara agak serak nenekmu mengucapkan rasa syukurnya berkali-kali, “Neneng, Emak seneng banget ngedengernya! Berapa bulan, Neng? Sudah ke dokter?”

“Sudah, Mak. Baru satu bulan, Mak! Doain Neneng, ya, Mak!”

“Ih, iya atuh, Neneng… Emak pasti doain segala yang terbaik buat Neneng…”

“Salam juga buat Bapak, ya, Mak!”

“Iya, nanti Emak sampaikan salamnya. Bapakmu sedang ke kantor pos. Dia pasti senang sekali mendengar Neneng sudah hamil. Bapak udah lama nunggu-nunggu cucu dari Neneng.”

“Iya, Mak. Tolong sampaikan ke Bapak, ya, Mak. Mohon Neneng juga didoakan…”

“Iya, pasti atuh, nanti Emak sampaikan. Bapakmu juga pasti mendoakan segala yang terbaik buat Neneng dan calon cucunya. Neneng jangan terlalu capek, ya. Banyak makan buah-buahan dan sayur-sayuran atuh.”

Lihatlah, bahkan sejak hari-hari pertama kehadiranmu, mereka begitu bahagia. Semua orang dikabari. Teman kantor ayahmu, teman bermain bulu tangkisnya, teman rondanya, semua diberitahu. Sementara ibumu, hampir segala hal ia kaitkan dengan kehamilannya… Hampir segala hal ia persiapkan untukmu… dan hampir di semua tempat dan di setiap waktu, pada siapa saja, ia selalu berkata, “Saya sedang hamil, lho!” Sambil mengulum senyum bahagianya.

Dan kau? Kelak pada minggu kedelapan dan sembilan, kau tak lagi disebut sebagai embrio. Kau mulai tumbuh dan berubah. Para dokter menyebutmu fetus, bahasa latin: yang muda.

:::::

Sebelum kita lanjutkan cerita tentang kehidupanmu di Alam Rahim, aku ingin memberitahumu sesuatu. Ada sebuah surat yang pernah ditulis ayahmu ketika kau baru berusia sekitar empat minggu di rahim ibumu. Inilah surat itu, bacalah baik-baik.

 ...untukmu yang membangun rumah di rahim istriku

Aku kira kau anak kecil pertama yang membangun rumah di rahim istriku, menyusun batu demi batu mendirikan tembok dengan kapur semen sambil bernyanyi—dan kau baru berusia empat minggu.

Aku sungguh-sungguh mengikuti bagaimana kau menyusun batu-batu itu dengan rapi. Dan aku kira kau anak kecil biasa yang sedang membangun rumah di rahim istriku, tapi aku keliru, karena kau ternyata membangun rumah dengan sungguh-sungguh—tidak seperti anak-anak kebanyakan. Paling tidak, aku keliru karena kau adalah anak kecil yang berbeda dari anak-anak lainnya. Kau membangun rumah di rahim istriku sambil bernyanyi, dan kau melakukannya dengan sungguh-sungguh—sesemangat ayahku yang mendirikan rumah dua tingkat dengan tiang-tiang yang kuat.

Saat kau selesai mendirikan tembok dan mengecatnya dengan warna merah bergambar dirimu, kau mulai menyusun genting untuk atap. Aku tak mengerti mengapa kau perlu atap di rahim istriku. Paling tidak, aku tak yakin mengapa kau melakukannya. Tapi kau memang bukan anak kecil biasa yang sedang membangun rumah di rahim istriku, kau melakukannya dengan sungguh-sungguh. Seperti ayahku yang membangun rumah dua tingkat lengkap dengan atap.

Kadang aku mengherani diriku sendiri mengapa aku menjadi lelaki yang mudah berhenti saat melakukan sesuatu. Dan sekarang aku dikepung pertanyaan yang berasal dari dalam diriku sendiri: Mengapa aku tidak seperti kamu, yang selalu sungguh-sungguh dan ceria?

Izinkanlah aku bertanya, dari mana sebenarnya kau datang? Saat kau baru mulai membuat fondasi di rahim istriku, dan ia tahu ada sesuatu yang terjadi dalam dirinya, ia begitu senang menyambut kedatanganmu. Ia mengizinkanmu begitu saja saat kau mendirikan sebuah rumah di dalam dirinya, menyusun batu-batu mendirikan tembok merah bergambar dirimu. Kau tahu, bertahun-tahun yang lalu, saat aku datang dan merayunya untuk kubangun sebuah rumah di dalam dirinya—ia tak langsung bergembira dan menerimanya seperti saat menerimamu. Butuh waktu cukup lama untukku hingga ia bersedia merelakan aku menyusun batu-batu mendirikan tembok di salah satu bagian di dalam dirinya.

Mungkin itu bedanya: kau datang tiba-tiba dan langsung saja membangun rumah tanpa basa-basi, menyusun batu-batu mendirikan tembok dengan semen sambil bernyanyi. Dan dia senang bukan main mendapati dirimu di dalam dirinya, dia tersenyum setiap hari, bernyanyi gembira, dan mulai memanggilmu dengan sebutan ‘sayang’. Sungguh, kau bukan anak kecil biasa yang membangun rumah di rahim istriku. Ini terlalu cepat, dari mana sebenarnya kau datang, padahal aku butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan panggilan ’sayang’.

Saat kau selesai membuat atap, di suatu pagi, tiba-tiba aku mendapati istriku menjadi seseorang yang berbeda. Aku merasakan perhatiannya sebagian besar beralih dari diriku pada dirimu. Ia lebih sering menyapamu daripada menyapaku. Ia lebih sering berdoa untukmu daripada untukku. Dan aku semakin mengherani diriku sendiri: Apakah ada yang salah dengan diriku? Mengapa begitu cepat kau bisa menaklukkan hatinya dan mulai menyisihkanku, padahal usiamu baru empat minggu.

Lalu seketika aku dilanda rasa cemburu. tetapi ini rasa cemburu yang berbeda. Seolah-olah aku menerima begitu saja kenyataan ini, bahwa kau lebih hebat dariku. Dan ini kali pertama aku membiarkan istriku jatuh cinta lagi pada seseorang selain diriku; seseorang yang nampaknya tak pernah peduli bahwa dirinya telah memenangi sebuah persaingan atas diriku, seseorang yang terus bernyanyi—sambil memasang pintu dan jendela-jendela di rahim istriku.

Kau terus saja bernyanyi saat menata lemari baru, tempat tidur baru, meja dan lampu. Kau juga memasang sebuah cermin untuk mematut diri. Dan istriku membiarkan semuanya. Ia bahkan memintaku mengurangi biaya ini-itu agar kau bisa memenuhi keperluanmu yang lain. Aku benar-benar tak mengerti dengan dirimu, kau baru berusia empat minggu tetapi kau sudah butuh jam tangan, kacamata, mesin jahit, bahkan kau meminta istriku memasang teve kabel dengan saluran khusus anak-anak yang bernyanyi sepanjang hari.

Kadang-kadang aku bertengkar dengan istriku, karena kau telah mengambil hampir semua milikku, bahkan malam-malamku. Tetapi sesungguhnya itu pertengkaran kecil, aku hanya ingin memintanya menyampaikan sebuah pesan kepadamu: rumah saja sudah cukup, dan isinya sudah kaumiliki juga seperti tempat tidur dan lampu baca; jangan membuat cerobong asap di sana, jangan membuat istriku harus merasa mual setiap pagi dan malam, karena kau ingin menyalakan api. Meskipun ia tak akan merasa keberatan, kumohon, jangan lakukan itu. Dan aku akan merelakan semuanya meskipun kau akan mengambil apa saja segala milikku.

Engkau tahu, anakku, kau adalah anak kecil pertama yang membangun rumah di rahim istriku, menyusun batu demi batu mendirikan kehidupanmu yang baru di rahim istriku. Tentang istriku, meski sebenarnya aku merasa benar-benar cemburu padamu, aku rela kau merebut hatinya, menyita sebagian besar perhatiannya. Aku hanya memberimu satu syarat: mulai saat ini, kau harus memanggilku ‘Ayah’.

 :::::

 

[1] Plasenta adalah sebuah pabrik hormon yang memompa keluar hormon-hormon, seperti human chronic gonadotrophin (hCG).

(Bersambung)


  • Fadhillah Ummul
    Fadhillah Ummul
    1 tahun yang lalu.
    Assalamualaikum Bang Fahd... saya mau bertanya apakah ada tempat rekomendasi untuk membeli buku 'Menatap punngung Muhammad' atau 'Seribu Malam Untuk Muhammad'... berhubung buku terbitan lama saya agak sulit mencarinya di makassar maupun online.. apakah ada rekomendasi dari Bang Fahd.. Mohon Bantuannya.... saya ingin sekali membacanya....

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 tahun yang lalu.
    Saya gak kuasa menahan haru membaca bagian ini, terutama surat dari Ayah, benar-benar menyentuh :')
    Keren banget, Bang Fahd ...! (y)

  • Resty Yustia Syauta
    Resty Yustia Syauta
    1 tahun yang lalu.
    Kereeennnn

  • Ibad Nafisah
    Ibad Nafisah
    1 tahun yang lalu.
    Aaaahh, ini Keceeeee

  • Sara Loko
    Sara Loko
    1 tahun yang lalu.
    aku terharu :')