Bagian 1: Cerita

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Lainnya
dipublikasikan 08 Agustus 2016
Rahim: Semesta Sebelum Dunia

Rahim: Semesta Sebelum Dunia


Novel ini pernah diterbitkan oleh GoodFaith (2009), juga pernah diterbitkan dengan judul 'Semesta Sebelum Dunia' (NouraBooks, 2013). Cover: Ragillia Rachmayuni Ilustrasi: Adrianne Yuanita

Kategori Fiksi Umum

27.1 K Hak Cipta Terlindungi
Bagian 1: Cerita

Selalu ada cerita yang menyertai janin yang tumbuh di dalam rahim seorang perempuan. Rahim, dari sedikit sekali uraian ilmiah tentangnya, sesungguhunya adalah sebuah misteri yang amat besar. Semesta yang seolah-olah memiliki kehidupannya sendiri.

Layaknya sebuah dunia yang memungkinkan sebuah kehidupan berjalan sebagaimana mestinya, rahim memiliki hampir semuanya. Sebuah sistem dan mekanisme yang entah bagaimana disusun dan dirancang sedemikian rupa sehingga seorang bayi bisa tumbuh dan “hidup” di sana—dari sel telur yang dibuahi sperma, menjadi segumpal darah, menjadi janin, menjadi bayi yang memiliki seluruh kelengkapan yang dipersyaratkan “hidup”: napas, detak jantung, gerak, aliran darah, metabolisme, pertumbuhan, semuanya.

Ya, begitu memang, segalanya selalu bermula dari sebuah cerita. Begitu juga dengan rahim dalam perut seorang perempuan dan bayi yang bertumbuh di sana—selalu ada cerita yang menyertainya. 

***

Di sebuah stasiun tua, seorang perempuan muda resah menunggu kedatangan suaminya. Sudah tiga jam ia menunggu di sana, tetapi kereta jurusan Surabaya-Jakarta itu tak kunjung tiba. Di muka palang ia menunggu kereta itu datang dan berhenti. Sementara hari begitu terik, udara kota tengah panas, dan itu membuatnya cepat gerah. Bedaknya telah luntur sejak tadi, dan kini wajahnya berminyak. Sekali lagi ia mengelapkan tisu ke dahinya yang berkeringat.

Petugas stasiun meniup peluit panjang, seperti tiga atau empat kali sebelumnya. Sekali lagi perempuan itu menaruh harapan. Mudah-mudahan inilah kereta yang ia tunggu-tunggu. Petugas lain mengumumkan sebuah berita dari corong stasiun. Dan perempuan itu sekali lagi harus merasa kecewa.

Bukan ini, bisiknya dalam hati. Sebuah kereta barang kemudian melintas. Kereta yang kelelahan dengan setiap gerbong yang sarat beban. Beberapa detik kemudian, kereta itu melambat dan berhenti. Kemudian mendengus kencang. Sejumlah penumpang gelap melompat dari balik gerbong. Petugas keamanan belingsatan.

Selang beberapa menit, kereta itu mendengus kembali. Roda kereta menjerit menjilat rel, petugas stasiun melambaikan ‘salam perpisahan’. Sekali lagi, perempuan itu menaruh harapan. Semoga setelah ini, bisiknya penuh harap. Kali ini ia melemparkan tisunya yang sudah kumal, semacam membuang sial.

Ia merapikan pakaiannya, membetulkan ikatan rambutnya. Sampai sebuah pengumuman berteriak lagi dari corong stasiun.

Kali ini kabar gembira, inilah kereta yang ia tunggu-tunggu. Ia sudah benar-benar tak sabar. Sejak suaminya ditugaskan di Surabaya tiga bulan lalu, mereka belum pernah sekalipun bertemu. Dan ini kepulangan pertama. Banyak cerita yang ia simpan, banyak cerita yang tak sabar segera ingin ia bagikan. Tanpa sadar ia senyum-senyum sendiri, dadanya berdebar, tangannya berkeringat.

Sebuah kereta datang, klaksonnya nyaring, gerbongnya melambat…

Setelah kereta berhenti, matanya segera mencari sosok suaminya yang begitu ia rindukan. Penumpangnya banyak sekali. Ia periksa satu per satu laki-laki yang turun dari gerbong kereta. Hingga ia melihat topi itu. Sebuah topi hitam bergambar red eagle yang ia hadiahkan saat ulang tahun suaminya tahun lalu. Ia ingin berteriak memanggil nama suaminya, tetapi tertahan. Suaranya tercekat ditenggorokan. Ia memilih berlari, menyongsong tubuh suaminya yang kelihatan jauh lebih kurus.

“Mas!” Perempuan itu melepas rasa rindunya yang menggumpal di dadanya, setengah berteriak, setelah hanya berjarak beberapa meter. Ia mempersembahkan senyumnya yang lebar. Si suami yang juga sedang mencari-cari keberadaan istrinya terkesiap. Ia segera menoleh dan mencari sumber suara. Dan akhirnya mereka bertemu.

Pertemuan yang indah, ciuman dan pelukan.

Sepanjang perjalanan pulang, keduanya tersenyum-senyum. Sesekali mereka bersitatap. Lalu saling melempar senyum lagi. Perempuan itu tersipu malu, ia tertawa kecil sambil memalingkan wajahnya.

”Aku kangen, Mas.” Bisik perempuan itu manja.

”Kangen apa?” Jawab suaminya sambil mengerling nakal.

”Ya, kangen Mas lah...” Si perempuan menepuk lengan suaminya.

“Mas juga kangen.” Jawab suaminya. Tersenyum.

Mereka berjalan melintasi toko-toko di sepanjang stasiun, bergandengan tangan.

“Mas, minggu lalu aku baru periksa dari dokter, lho.” Kata si perempuan agak ragu, ia menahan senyum di bibirnya.

“Eh, memangnya kamu kenapa, Dik? Kamu sakit apa?”

“Hmmmmm… Coba tebak.” Kata perempuan itu dengan mimik agak menggoda.

“Kanapa, sih?” Tanya suaminya sekali lagi dengan nada lebih tegas.

“Aku hamil, Mas.” Jawab si perempuan. Senyumnya mengembang.

Si suami tampak dingin, ia diam saja, tak menunjukkan reaksi apa pun. Kedua pangkal alisnya bertemu. Perempuan itu tampak bingung dengan reaksi suaminya.

“Mas, aku hamil. Ini anakmu, Mas.” Kata si perempuan sekali lagi.

“Kita kan sudah sepakat nggak akan punya anak dulu, Dik!” Beberapa saat kemudian si suami tampak kecewa, dengan nada sedikit marah.

“Tapi aku kan kepengin punya anak, Mas!” Kata si perempuan. Ia mulai menyadari suaminya tak menganggap kehamilannya sebagai kabar gembira.

“Kamu kan ikut program KB, bagaimana mungkin kamu hamil?”

“Sebenarnya, pil KB-nya selalu aku buang, Mas. Nggak pernah aku minum! Aku pengin punya anak, Mas!”

“Kamu apa-apaan, sih! Aku belum siap punya anak! Titik! Jadi istri kok ngambil keputusan seenak udel-nya sendiri? Lagipula, kita kan sudah sepakat!” Suara si suami agak meninggi. Ia benar-benar marah.

Seperti ada gada yang dipukulkan ke dada perempuan itu. Tiba-tiba ada sesak yang memenuhi dadanya, dan ia tak bisa menahan air matanya. “Tapi aku pengin puya anak, Mas…” Bisik perempuan itu, lirih.

“Jangan-jangan itu bukan anakku!” Mata si suami mendelik tajam, penuh curiga, “Kita kan sudah tiga bulan nggak ketemu, otomatis aku tidak bercampur denganmu!”

“Mas!” Perempuan itu sedikit membentak. “Jaga omongan kamu! Kamu pikir aku selingkuh? Jaga omongan kamu, Mas! Tidak, demi tuhan, ini anakmu!”

“Aku tidak percaya! Bagaimana kamu meyakinkan aku bahwa yang kamu kandung itu anakku?” Si suami balas membentak.

Perempuan itu terdiam. Kepalanya menggeleng. Dadanya berguncang. Ia ingin tidak mendengarkan apa yang baru saja diucapkan suaminya, tetapi kata-kata telah terlontar dan ia harus menghirupnya sebagai napas paling pahit di dadanya. Ada kekecewaan yang menggumpal di matanya. Bibirnya bergetar. Air matanya terus meluncur di tebing pipinya.

“Ini anakmu, Mas…” Perempuan itu sekali lagi berusaha meyakinkan suaminya. “Ini anakmu…” Katanya sekali lagi dalam suara yang lebih lemah. Bergetar.

Si suami terdiam beberapa saat. Sementara perempuan itu terus menangis.

“Aku tidak peduli! Gugurkan kandungan itu!” Si suami akhirnya mengambil keputusan, setengah berteriak. “Aku belum siap punya anak! Aku masih fokus pada karirku! Gugurkan kandungan itu, atau kita berpisah!”

Seperti menyambut petir dengan daun telinganya, mendengar kata-kata suaminya, perempuan itu terguncang luar biasa. Tangisnya pecah lebih keras.

***

Di tempat lain, saat malam merambati waktu, beberapa ratus kilometer dari tempat perempuan itu menangis, seorang pria tua berbisik pada bayangannya dalam cermin, andai aku dikaruniai seorang anak, katanya lirih.

Sekali lagi pria tua itu melihat dirinya di cermin. Digerak-gerakkannya lengannya yang kaku, jari-jarinya yang kebas. Ia kecewa melihat dirinya sendiri. Berpuluh-puluh tahun ia sudah menikah, tetapi tak kunjung dikaruniai seorang anak—hingga kini usianya sudah lanjut, sebuah penyakit berbahaya bersarang di tubuhnya, dan maut mulai mengintainya.

Ia melihat ke sekeliling; rumahnya yang besar, hartanya yang berlimpah, perusahaannya, investasinya, rasanya semua yang ia kejar dan kumpulkan selama ini tak ada artinya lagi. Ia hanya ingin seorang anak. Seseorang yang ingin ia cintai sampai mati, seseorang yang akan berdiri di samping pusaranya, membacakan kata-kata perpisahan di depan rekan-rekan dan handai taulan yang menghadiri upacara pemakamannya, dan menggumamkan sebuah doa penuh cinta untuknya.

Diam-diam, ia semakin kecewa pada dirinya sendiri. Mengapa aku tak pernah bisa? Ia bertanya dalam hatinya.

Setelah beberapa saat, pria tua itu kembali duduk terkulai di kursi rodanya. Matanya benar-benar kecewa. Ia menghela napas panjang. Beberapa bulan terakhir, ia harus duduk di kursi itu, berjalan-jalan hanya di sekitar rumah, dengan tubuh yang semakin hari-semakin ringkih.

Di atas kursi roda itu, ia tampak menghitung. Sudah empat puluh delapan tahun sejak aku menikah, katanya, mengapa Tuhan tak memberiku seorang anak? Dan kali ini ia tersenyum. Senyum yang sinis. Ia ingat suatu hari ia pernah berdoa, Tuhan, kau boleh ambil semua yang kupunya, aku hanya ingin menukarnya dengan seorang anak, laki-laki atau perempuan sama saja, tolong kabulkan doaku.

Suara-suara dari jalanan di sekitar rumahnya menyelusup ke dalam ruangan tempatnya bercermin; ada petikan gitar, klakson mobil, dan deru knalpot bocor yang terdengar menjauh. Ia mendekati jendela dan melihat ke luar. Poster festival ulang tahun kota terbang perlahan ditiup angin, penjaga malam memetik gitar sambil bernyanyi di ujung jalan, toko bunga yang tutup, sepasang laki-laki dan perempuan berjalan bergandengan tangan menyusuri jalan. Tapi yang paling menarik perhatiannya: seorang ayah yang menuntun putrinya.

Berbahagialah kalian yang dikaruniai keturunan, katanya cemburu.

Ini hari keenam puluh sejak ia mendengar kabar buruk itu, bahwa penyakit di tubuhnya tak bisa disembuhkan lagi. Seorang dokter mengabarkannya dengan wajah yang lesu bahwa usianya hanya akan bertahan setidaknya empat bulan kedepan. Dan kini, dua bulan sudah lewat, waktu hidupnya hanya tersisa dua purnama saja. Pria tua itu tersenyum—mengenang wajah dokternya yang pucat.

Di bawah keremangan cahaya, ia melihat bayang-bayang tiang listrik rebah di punggung jalan. Sebuah mobil terparkir sudah dua hari dua malam di tepi jalan dekat Lumiere, sebuah toko lampu milik orang Perancis. Penjaga malam di toko itu seorang ayah dengan dua orang putri dan seorang putra, tetapi sesungguhnya ia tak pernah menyayangi putra-putrinya. Nampaknya begitu. Putri pertamanya ia kawinkan dengan seorang bandar judi setelah ia terlilit utang puluhan juta, putri keduanya menghilang dari rumah sejak tiga tahun lalu tetapi ia tak pernah mencarinya, dan anak laki-lakinya—yang paling kecil—ia biarkan menjadi brandal jalanan.

Mungkinkah Tuhan tak adil, katanya dalam hati, mengapa Tuhan memberikan anak-anak pada begitu banyak orang yang menyia-nyiakannya, sementara padaku yang menginginkannya sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu Ia begitu pelit?

Semalaman ia merenungkan semuanya. Apa salahnya pada Tuhan? Mengapa Tuhan setega ini tak memberinya keturunan, bahkan hingga kini ketika maut tak lama lagi akan menjemputnya. Ia dan istrinya sudah mengupayakan banyak hal. Ia sudah melakukan segalanya. Tapi Tuhan tak kunjung percaya padanya.

Ia benar-benar tak mengerti, apa rencana Tuhan tentang semua ini; mengapa pasangan-pasangan muda yang melakukan hubungan suami-istri secara terlarang bisa dengan mudah mendapati perempuannya terlambat datang bulan dan positif hamil—lalu mereka memilih menggugurkan kandungannya, lagi dan lagi, sementara dirinya yang berpuluh-puluh tahun berusaha membuat istrinya hamil tak pernah berhasil? Ia benar-benar tak mengerti, ribuan bayi diaborsi setiap hari di seluruh dunia karena kehadirannya yang tak diinginkan orang tuanya, mengapa Tuhan tak membiarkan satu bayi saja hadir di rahim istrinya?

Di televisi, di koran, di majalah, di mana-mana, ia mendengar bayi yang dibuang, anak-anak yang diterlantarkan, mengapa Tuhan begitu saja membiarkan anak-anak yang tak berdosa mengalami penderitaan yang disebabkan dosa orang tuanya? Sementara padaku, pikirnya, yang benar-benar merindukan dan menantikan kehadiran seorang anak, mengapa Tuhan tak memberi kesempatan?

Menit demi menit berlalu, dan kehidupan mulai tumbuh di dalam dan di luar rumahnya. Lampu kamar mandi mulai menyala, dan kran air terbuka. Derit pintu kamar utama. Lalu istrinya keluar dengan mata yang masih sipit dalam balutan piyama jingga.

Istrinya tersenyum padanya. Rak-rak buku mulai memenuhi ruangan setelah cahaya menerobos menembus tingkap kaca; jaket yang tersampir di kursi, tumpahan tinta di karpet cokelat, CD-CD yang berserakan.

“Selamat pagi, Sayang.” Sapa istrinya, lembut.

Ia membalasnya dengan senyum. Ditatapnya istrinya yang sudah makin tua, perempuan yang juga merindukan seorang anak di dekapannya. Ia tahu istrinya jauh lebih bersedih daripada dirinya, ia tentu saja merindukan seorang bayi menggeliat di rahim sucinya. Ia tahu. Ia bisa melihat kesedihan itu dari mata istrinya setiap kali mereka membincangkan masalah ini.

Di luar, jalanan mulai ramai. Suara tukang sayur dan derit roda gerobaknya. Gonggongan anjing dan kicau burung tetangga. Klakson

mobil bersahutan. Kota mulai menemukan ritme ekonominya: ibu-ibu

bertransaksi, tawar-menawar. Anak sekolah menyeberang jalan. Seorang lelaki terlihat gusar dan marah pada dirinya sendiri setelah ia melupakan tugas penting dari kantornya, belum sempat terselesaikan. Kehidupan mulai ramai, dan waktu terus berjalan.

Ia melihat ke arah toko bunga. Seorang perempuan setengah baya turun dari mobil dan membeli sekuntum bunga sambil tersenyum bahagia. Bunga yang cantik, hadiah ulang tahun untuk suaminya, batinnya menebak. Di ujung jalan, lelaki pengantar koran akhirnya datang dan dimarahi pelanggannya yang kecewa. Anak laki-laki mencium tangan ayahnya sebelum naik mobil jemputan sekolah. Lalu melambaikan tangannya dengan senyuman. “Hati-hati, Nak! Baik-baik di sekolah!” Teriak sang ayah.

Sekali lagi, ada yang bergetar di hatinya. Semacam kerinduan yang mengguncangkan. 

***

Jauh sekali, jauh dari rumah itu, jauh dari kota itu, cahaya matahari mulai membaca poster-poster dan jadwal kereta di stasiun yang gelap dan lembab. Seorang masinis berjalan lunglai menuju lokomotifnya, dan menarik tuas setelah peluit yang lemas dibunyikan. Dentang lonceng stasiun. Klakson kereta berteriak, bunyi mesin bergemuruh.

Setelah kereta melewati terowongan, pucuk-pucuk gunung mulai terlihat bermandikan cahaya. Gemericik air sungai, batu kali yang hitam, seorang lelaki yang memeriksa tangkapan ikannya, anak-anak sekolah melambaikan tangan ke arah kereta.

Di gerbong kereta kelas bisnis, sebuah percakapan lembut mengawali pagi.

“Sayang, kapan, ya, kamu hamil?”

“Nggak tahu, Sayang, tapi aku belum haid juga, nih. Sudah terlambat enam belas hari.”

 “Oh, ya? Mudah-mudahan jadi, deh…”

“Iya, mudah-mudahan, ya… Kita berdoa sama-sama aja, ya, Sayang?”

“Pasti dong…”

Inilah cerita tentang ayah dan ibumu. Beberapa bulan setelah pernikahan mereka, dan kamu yang diam-diam menyalakan kehidupan di rahim suci ibumu…

 


  • Fadhillah Ummul
    Fadhillah Ummul
    11 bulan yang lalu.
    Assalamualaikum Bang Fahd... saya mau bertanya apakah ada tempat rekomendasi untuk membeli buku 'Menatap punngung Muhammad' atau 'Seribu Malam Untuk Muhammad'... berhubung buku terbitan lama saya agak sulit mencarinya di makassar maupun online.. apakah ada rekomendasi dari Bang Fahd.. Mohon Bantuannya.... saya ingin sekali membacanya....

  • Muhammad Ariqy Raihan
    Muhammad Ariqy Raihan
    12 bulan yang lalu.
    Dalam sekali cerita ini :')

    terima kasih juga sudah mampir ke project Sang Kehilangan saya mas

  • Balqis Syaifia
    Balqis Syaifia
    1 tahun yang lalu.
    Ini bagian favorit saya:')
    Terimakasih kang udah upload one of your best novel, saya sangat terinspirasi dan mencintai setiap kata yang kau tulis dalam novel-novelmu salam untuk teh rizqa, kalky, dan kemi, yaaa

  • Meita Novia
    Meita Novia
    1 tahun yang lalu.
    Sudah lama ingin baca novel ini, baru baca resensinya aja dan lihat video-nya d FB tapi belum sempat beli. hehe.. terima kasih yah, sudah di upload. Jadi saya bisa baca gratis..

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Mmm... Ini novel Bang Fahd ya?
    Novel pertama dari Bang Fahd yg sempat saya baca.

    Terima kasih sudah upload di sini, menambah khasanah literasi.

    Salam