Untuk Mereka yang Melulu Mengira Terorisme adalah Konspirasi Yahudi

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Lainnya
dipublikasikan 05 Juli 2016
Untuk Mereka yang Melulu Mengira Terorisme adalah Konspirasi Yahudi

Pagi ini, sebuah bom meledak di gerbang Mapolresta Solo. Pelaku bom bunuh diri tewas dan seorang polisi terluka. Belum jelas siapa pelaku atau dalang di balik aksi teror tersebut. Tetapi teror, seperti terjadi di manapun, bukan bertujuan menjatuhkan korban. Teror dilakukann untuk menciptakan ketakutan dan kepanikan di tengah masyarakat.
 
Lalu, apa yang mereka inginkan dari ketakutan dan kepanikan yang tercipta? Mereka ingin pengakuan, rekognisi, mereka ingin dunia mengira bahwa mereka kuat dan bisa menciptakan distabilitas di tengah masyarakat. Dengan begitu, mereka punya posisi politik tertentu.
 
Itu jugalah yang diinginkan ISIS atau kelompok teroris lainnya di seluruh dunia. Mengapa ISIS membom sebuah airport di Turki? Mereka ingin menciptakan ketakutan. Mengapa mereka membom sebuah festival Ramadan di Baghdad, Irak? Mereka ingin masyarakat panik dan takut untuk berkumpul. Mengapa bom diarahkan ke Masjid Nabawi? Mereka ingin umat Islam di seluruh dunia marah dan panik. Mereka ingin dunia mengakui bahwa mereka kuat. They want political recognition!
 
Jika tujuan mereka adalah 'pengakuan politik', jelaslah bahwa yang mereka inginkan adalah kekuasaan. Dan kekuasaan (power), seperti kita tahu, bisa berbentuk apa saja: Wilayah, uang, sumber daya alam, dan lainnya.
 
Lalu di manakah letak agama dalam aksi-aksi mereka? ISIS, misalnya, apakah mereka memang mewakili kelompok Islam tertentu? Tidak. Teroris sesungguhnya tak pernah punya agama. Tak ada agama manapun di dunia ini yang mengajarkan kehancuran dan kerusakan, apalagi dengan membunuh manusia lain. Jika mereka memang beragama, mungkin satu-satunya agama mereka adalah ketakutan. Maka jika ada kelompok teroris yang mengatasnamakan agama tertentu, mengutip Mark Jurgensmeyer, ia hanyalah faktor insidental (incidental factor) yang sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik di mana kelompok itu muncul.
 
Sayangnya, sebagian orang masih dengan mudah mengira bahwa agama adalah faktor utama yang melandasi terorisme. Ketika membicarakan kelompok teroris ISIS, misalnya, titikberat pembicaraan justru lebih sering pada 'Islam'-nya daripada terorismenya. Bahkan kita yang berdebat tentangnya, lebih sering mendebatkan apakah mereka bagian dari Islam atau bukan, alih-alih membicarakan tindakan mereka yang benar-benar keji dan biadab. Bagi saya, jelas mereka tidak mewakili Islam dan sama sekali bukan muslim.
 
Lebih lanjut lagi, sebagian orang juga mencari-cari 'kambing hitam' ideologi lain untuk disalahkan. Bahwa ini sebenarnya kerja kelompok-kelompok anti-Islam untuk melemahkan Islam lah, bahwa ini bagian dari konspirasi Yahudi lah, bahwa ini kerja orang-orang Barat lah (yang sebenarnya sudah tak relevan lagi memilah-milah dunia jadi Timur dan Barat, Utara dan Selatan, because we are now a united citizen of the world). Ah, kita yang malas mencari tahu memang ingin mudahnya saja. Dan cara paling mudah adalah menyalahkan pihak lain, bukan?
 
Tahukah cara paling efektif untuk melawan dan mengalahkan para teroris? Tunjukkan bahwa kita tidak takut pada mereka. Tunjukkan bahwa kita tidak panik. Tunjukkan bahwa kita bisa bersatu untuk melawan mereka. Jangan berikan pengakuan politik apapun kepada mereka.
 
Apakah kita boleh marah? Tentu saja boleh. Marah berbeda dengan takut dan panik. Kepada mereka yang telah berani mengusik ketenangan kita dalam menjalankan Ibadah di bulan suci Ramadan, marahlah. Kepada mereka yang berani mendekati tempat persemayaman Nabi dan berencana menghancurkan masjid yang dibuat oleh tangan Nabi sendiri, marahlah. Kepada mereka yang berusaha membuat keonaran di kota suci, marahlah. Kepada mereka yang telah membunuh nyawa saudara-saudara kita secara keji, marahlah. Marahlah hingga mereka tahu seberapa kuat sebenarnya kita jika bersatu, marahlah hingga mereka menggigil ketakutan, marahlah hingga mereka tak berani lagi mempermainkan dan mengolok-olok nama Tuhan!
 
 
30 Ramadan 1437 H
 
FAHD PAHDEPIE


  • Dicky Armando
    Dicky Armando
    1 tahun yang lalu.
    Bagi yang memahami bahwa ISIS itu bukanlah Islam, tentu tidak masalah. Sayangnya, banyak di luar sana yang beranggapan bahwa ISIS itu mencerminkan Islam, dan ini merupakan anggapan yang benar-benar sesat.
    Sekarang, selain untuk mendapat pengakuan politik, mereka sekaligus mencoreng citra Islam, dengan cara memakai atau membawa atribut yang sekilas mirip Islam, ya, hanya mirip.
    Pertanyaannya, di dunia ini siapa yang kira-kira yang mau repot-repot mencoreng citra Islam?
    Wallahu'alam.

    • Lihat 3 Respon

  • agus geisha
    agus geisha
    1 tahun yang lalu.
    Kang Fahd, saya kok tidak menemukan hubungan antara judul dengan isi tulisan ya.