Untukmu yang pergi atau dibawa pergi...

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 28 Juni 2016
Untukmu yang pergi atau dibawa pergi...

Hari-hari terakhir di bulan Ramadan seperti ini, hari-hari menjelang lebaran, orang-orang sibuk mempersiapkan diri untuk mudik: Sebuah ritual tahunan di mana kita merayakan kepulangan. 

Mereka yang merantau, jauh atau dekat, akan pulang ke rumah masing-masing untuk menemukan diri mereka sendiri: Dalam masa lalu di pangkuan ibu, di jendela kamar yang berdebu, di halaman belakang tempat mengubur rasa rindu, di jalan-jalan tempat dulu mereka menyusuri kedewasaan sambil menyanyikan lagu cinta atau elegi patah hati. 

Lihatlah dirimu sendiri. Seorang anak laki-laki yang ingin membuktikan sesuatu kepada keluarganya, teman-temannya, kekasihnya, kampung halamannya. Kau tahu hidup tak pernah gampang dan kadang-kadang tak menyenangkan. Seperti berjalan berputar-putar di trotoar kota besar, sementara asap knalpot kendaraan bermotor menyesaki ruang penciumanmu.

Tak ada pohon-pohon di sana, tidak seperti di desamu. Atau jika ada satu atau dua pohon di kota, pohon-pohon itu sudah kehilangan teduhnya… Seperti orang-orang yang telah kehilangan keramahannya. Seberapa besar rasa rindumu, kawan? Seberapa kuat kau ingin pulang? Seberapa kecil kau melihat dirimu sendiri di tengah arogansi kota yang raksasa? Seberapa jauh rumah telah kau tinggalkan?

Perhatikanlah bayangan dirimu di cermin itu. Sudahkah kau menjadi anak perempuan yang dewasa, seperti diharapkan kedua orangtuamu dulu? Kini kau sudah tahu bahwa jaraklah yang menebalkan rindu, menempa cinta, membuatmu menjadi lebih dewasa dan bijaksana.

Kau yang pergi atau dibawa pergi seseorang… Ketahuilah, kau telah meninggalkan sebuah lubang di hati ayah dan ibumu. Mereka yang meyayangimu sejak kecil, mereka yang selalu menganggapmu sebagai seorang putri, mereka yang bersabar dengan semua sikap dan sifatmu, mereka yang mungkin pernah kaubenci karena kau pikir tak bisa mengerti apa maumu. Cairkanlah semua amarah yang menggumpal di hatimu, cairkanlah semua rasa rindu, cairkanlah rasa apapun yang mengental di dadamu… Mengalirlah ke lubang yang kau tinggalkan di dada ayah dan ibumu itu. Pulanglah.

Hidup seluruhnya adalah tentang kepulangan ke rumah masing-masing, bukan? Siapapun kita… Sekretaris, penjaga toko, buruh, insinyur, guru, arsitek, pedagang, pengusaha, ibu rumah tangga, jiwa-jiwa yang tak pernah lelah… Kita semua hidup dan berusaha untuk mencari jalan pulang ke rumah masing-masing.

Rumah adalah tempat bertolak sekaligus bersauh. Jika tak ada yang bisa menahan kita untuk pergi mengejar mimpi-mimpi, tak ada yang boleh menahan kita untuk pulang menuntaskan rasa rindu.

 

23 Ramadhan 1437 H

FAHD PAHDEPIE

 

*Gambar diambil dari sini.