Jangan Remehkan Puasa Anak-anak

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 23 Juni 2016
Jangan Remehkan Puasa Anak-anak

Suatu hari saya mengobrol dengan Rizqa mengenai apakah anak pertama kami, Kalky, yang masih berusia lima tahun perlu berpuasa hingga tamat atau tidak.

“Tidak perlu,” argumen saya. “Kasihan, masih lima setengah tahun, kan?”

“Tapi kalau dianya mau nggak apa-apa, dong?” Sergah Rizqa.

Saya berpikir sejenak. “Kalau buka di siang hari, sama saja nggak puasa, kan? Toh batal-batal juga. Nggak ada pahalanya. Jadi nggak usah dipaksa.” Jawab saya.

Rizqa menggelengkan kepala. “Soal pahala, hanya Allah yang tahu. Kita nggak boleh mendahului Allah. Toh, kita juga nggak maksa Kalky untuk puasa. Kita hanya perlu mendidiknya agar ia tahu apa dan bagaimana puasa itu.”

Saya terdiam. Lebih tepatnya tertohok. Saya dan Rizqa memang dibesarkan dengan cara berbeda dalam mendekati puasa oleh orangtua masing-masing kami. Sewaktu saya kecil, orangtua saya cenderung membebaskan saya untuk berpuasa atau tidak, cenderung longgar. Hingga saya baru bisa menamatkan puasa di kelas enam SD. Berbeda dengan saya, Rizqa sudah tamat puasa sejak TK! Keluarganya memang lebih ketat dalam mendidik anak berpuasa.

“Aku puasa saat sudah mengerti mengapa aku harus berpuasa. Aku berpuasa tanpa paksaan.” Saya berusaha membela metode orangtua saya.

Rizqa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Dulu aku juga nggak merasa terpaksa atau dipaksa, kok. Malah senang bisa berpuasa." 

Di titik itu, kami harus menegosiasikan cara kami sendiri untuk mendidik anak-anak kami berpuasa. Mungkin paduan dari keduanya. Hingga sampailah saya pada refleksi ini—

Salah satu yang sering kita lupakan dan lewatkan di bulan puasa adalah momen ketika kita bisa belajar beragama dari anak-anak. Mereka, meskipun di usia yang belum wajib untuk berpuasa, tetap bersemangat dan rela menjalani semuanya. Saat sahur, mereka ikut bangun meski masih terkantuk-kantuk. Sepanjang siang, mereka berusaha untuk tidak batal puasa meski entah berapa kali menongok jam atau bertanya berapa lama lagi waktu berbuka. Lalu setelah waktu berbuka tiba, selepas menyantap makanan-makanan yang mereka simpan-simpan di siang harinya, mereka begitu bersemangat untuk berangkat tarawih bersama teman-temannya. Mereka menyambut dan menjalani bulan ini dengan penuh keriangan, rasa ingin tahu, juga antusiasme yang mengagumkan.

Sayanngnya, kita sering menganggap remeh semangat dan usaha mereka untuk berpuasa. Kita sering mengatakan pada diri sendiri atau orang lain yang cengeng dengan mengatakan, "ah, puasanya kayak anak-anak!". Anehnya, para ustad juga sering salah sangka ketika menggambarkan puasa yang kurang maksimal, yang hanya menahan haus dan lapar, sebagai "puasa anak-anak". Padahal bayangkan semangat dan cara anak-anak ini berpuasa. Dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, juga ibadah yang sebenarnya barangkali belum wajib bagi mereka, anak-anak itu tetap menjalankan puasa tanpa menghitung-hitung dan mempertanyakan apa-apa.

Mungkin itu yang bisa kita pelajari dari mereka: Beragama dengan penuh semangat, keriangan, rasa ingin tahu, tetapi sekaligus ketaatan. Hal-hal yang belum diketahui memang layak untuk dipertanyakan, sebagai penanda bagi semangat mencari ilmu. Tetapi bukan untuk selau bertanya tentang "mengapa agama harus begini dan mengapa tidak begitu", bukan pula tentang mencari dan menemukan pembenaran-pembenaran bagi ibadah yang dilakukan atau menyusun apologi untuk kemalasan-kemalasan yang memuakkan.

Tentang semua itu, mungkin kita perlu berterima kasih kepada anak-anak kita. Peluk dan ciumlah mereka. Semoga mereka terus mengajarkan dan menginspirasi kita untuk meniti tangga ke surga... Dan tentu saja, semoga mereka semua kelak menjadi ahli-ahli surga— 

Hari ini, saya memerhatikan Kalky yang sedang menonton tayangan kartun kesukaannya. Ia sedang berpuasa. Puasa gaya Kalky, tentu saja. Puasa yang setiap lima atau sepuluh menit sekali membuatnya bertanya kepada saya atau Rizqa, “Boleh makan es potong nggak?” Lalu kami menggelengkan kepala. “Kapan dong? Jam 12?” Kami hanya tersenyum. Lalu dia menuju kulkas, membuka bagian bawahnya dan menyorongkan wajahnya ke dalam… “Hmmm… Enak, dingiiiin…”

 

FAHD PAHDEPIE

Penulis buku Rumah Tangga, Jodoh, dan Sehidup Sesurga


Foto: Kalky dan Kemi. Lensed by @rizqaabidin